Beranda / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 2. Tetanggaku Si Streamer

Share

Bab 2. Tetanggaku Si Streamer

Penulis: Galaxybimasakti
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-06 16:09:58

Aku buru-buru memakai celana dalam dan celana yang agak panjang longgar untuk menutupi bagian bawahku.

“Tidur lah, jangan bikin malu!” gerutuku kesal.

Setelah memakai baju yang lebih normal dan mengusap keringat di dahiku, aku kembali ke depan dan membuka pintu apartemenku. Wanita itu masih ada di sana.

“Maaf, Mbak. Tadi Mbak mau minta tolong apa ya?” tanyaku lagi, sambil mengatur napas dan gestur yang senormal mungkin. Sesekali aku menggaruk kepala belakangku untuk membuang rasa canggung, meskipun tidak ada rasa gatal.

“Anu … Kran di kamar mandi saya macet, gak bisa keluar airnya. Bisa tolong benerin nggak? Saya tinggal sendirian soalnya, nggak tahu caranya,” katanya dengan nada yang terdengar agak aneh di telingaku.

Suaranya seperti agak … mendesah?

Tapi aku berusaha bersikap biasa.

“Oh … boleh, saya ambil peralatan dulu ya,” kataku, lalu buru-buru masuk lagi mengambil beberapa peralatan.

“Sumpah kenapa dia mirip banget sama cewek OF itu ya? Apa jangan-jangan itu dia?” gumamku sendiri sambil mencari kotak perkakasku, sesekali aku berdiri sambil menggaruk kepalaku.

Setelah mendapat kotak perkakasku, aku kembali ke hadapan wanita itu. “Ayo, di mana unitnya, Mbak?”

“Unit saya yang nomor 704, Mas,” jawabnya dengan nada lega, lalu menuntunku menuju apartemennya.

Aku berjalan di belakang wanita itu sambil memperhatikan lekuk tubuhnya yang benar-benar mirip dengan wanita di video itu.

‘Ah udahlah, jangan mikirin itu terus!’ gumamku dalam hati.

“Di sini, Mas,” kata wanita itu sambil membuka pintu apartemennya. “Krannya yang di kamar mandi, tadi tiba-tiba macet. Saya coba otak-atik sendiri, malah nyemprot ke saya airnya, sekarang macet lagi.” 

Aku mengangguk, melangkah masuk ke apartemennya yang hanya berjarak satu unit dari tempatku.

Namun, begitu aku masuk dan melihat ruang tamu apartemen wanita itu, seketika aku terdiam.

Ruangan ini benar-benar mirip dengan ruangan yang ada di video wanita OF itu!

Dinding putih polos dengan poster film lama yang sama, sedikit pudar di sudut. Sofa merah di tengah ruangan yang sedikit usang, tapi masih terlihat nyaman, persis seperti yang kulihat di layar ponselku. 

Di samping sofa, ada meja kecil dengan lampu tidur yang memancarkan cahaya kuning redup, menciptakan suasana hangat namun intim. Bahkan cermin besar di sudut ruangan itu ada, memantulkan bayangannya yang berdiri di dekatku.

Jantungku berdegup lebih kencang. Ini terlalu mirip untuk sekadar kebetulan.

Aku menatap wanita itu sekilas, mencocokkan sosok wanita di video itu.

‘Gila, ini beneran cewek itu gak sih?’ gumamku dalam hati penuh kebingungan.

Ketika aku masih dipenuhi kebingungan, wanita itu tiba-tiba menunjukkan kran wastafel di kamar mandi. Airnya hanya menetes pelan.

“Di situ, Mas,” katanya sambil menatapku sekilas.

Aku buru-buru menghapus pikiranku yang sebelumnya. Berusaha fokus pada masalah wanita itu sekarang.

“Oh … iya, Mbak. Permisi ya, Mbak.” Aku berjalan ke dalam kamar mandi itu, sedikit membungkuk untuk memeriksa saluran kran di bagian bawah.

Namun, saat aku sedang memeriksa saluran kran itu, tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang hangat dan kenyal menempel di lenganku.

Sontak aku langsung menoleh dan terkejut ketika melihat wanita itu ikut berjongkok di sebelahku. Tubuhnya terasa agak menekan lenganku hingga jelas hangatnya dada kenyal itu terasa di lenganku. Wajahnya sedikit maju, tepat di sampingku.

“Jadi, ini kenapa macet ya, Mas? Aku nggak ngerti soal beginian,” kata wanita itu tiba-tiba, suaranya terdengar menggoda dan sedikit ada desahan yang kudengar tepat di depan telingaku.

Glek!

Seketika aku terpaku.

“Mas?” panggil wanita itu karena aku malah diam.

“Eh … I–iya, Mbak.” Aku langsung mundur untuk mengambil sedikit jarak dengan wanita itu.

Ya Tuhan, cobaan macam apa ini.

“Jadi, itu krannya kenapa ya?” tanya wanita itu lagi sambil berusaha menempelkan tubuhnya padaku.

Sementara itu, aku juga berusaha menghindar agar wanita itu tidak sepenuhnya menempelkan tubuhnya kepadaku. Bisa gawat kalau seperti itu terus!

“Ini kemungkinan katupnya yang bermasalah, Mbak” jawabku berusaha tenang.

Aku putar kran itu dengan obeng, berusaha mengabaikan kehadirannya yang terlalu dekat.

Namun, tiba-tiba air menyembur dari kran dengan kencang, mengenai kami berdua.

“Aduh!” Aku mundur beberapa langkah, kaos dan celanaku kuyup. 

“Ah!” Wanita itu terkesiap karena ikut terkena semburan air.

Mataku tak lepas dari tanktop putih miliknya yang basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan lekuk buah dadanya dengan jelas. Bahkan bra renda di baliknya terlihat samar-samar.

Tapi, buru-buru kualihkan pandangan.

"Sial, apa-apaan ini," batinku, jantungku berdegup tak karuan. Aku segera menutup kran agar airnya berhenti menyembur. 

"Duh maaf, Mas. Aku lupa menutup saluran utamanya, jadinya basah deh," katanya, suaranya genit, sambil menarik tanktopnya sedikit, seolah sengaja memperlihatkan buah dadanya padaku 

Aku menelan ludah dengan susah payah. Meskipun aku tidak melihatnya secara langsung, ekor mataku jelas bisa melihat apa yang dia lakukan!

“I–iya, gak apa-apa, Mbak,” jawabku terbata, lalu berusaha kembali fokus pada kran itu.

Namun, tiba-tiba wanita itu menyentuh lenganku dan berkata, “Mas aku cariin baju ganti ya? Kayaknya aku punya kaos agak besar.”

Aku buru-buru menggelengkan kepala. “Nggak usah, Mbak. Ini udah mau selesai kok, saya bisa langsung pulang aja.”

Wanita itu tampak tidak menyerah, “Ih jangan gitu, Mas. Kan ini belum selesai beneran, kalau ternyata lama gimana? Nanti Mas masuk angin loh.”

“Nggak kok, Mbak. Ini gak parah rusakya,” kataku sambil berusaha fokus mencari sesuatu yang menyumbat saluran kran itu. Sekilas aku melirik wanita itu dan berkata, “Mending Mbak aja yang ganti baju biar gak masuk angin.”

“Hm ya udah deh kalau gitu,” kata wanita itu yang kemudian langsung berdiri melepas tanktopnya.

“Eh!” pekikku langsung membuang muka.

Dia benar-benar membuka tanktopnya di depanku!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 184. Kebenaran hidupk

    Aku terdiam, tenggorokanku terasa tersumbat. "Aku masih bingung, Om... maksudku, Ayah. Semua ini terlalu cepat.""Aku tahu. Kita punya banyak waktu untuk bicara nanti. Sekarang, ada seseorang yang menunggumu di bawah," ucap Om Adrian sambil tersenyum tipis.Aku turun ke lobi dengan perasaan yang campur aduk. Di sana, di dekat pintu keluar, berdiri Sabrina. Ia tidak lagi mengenakan masker atau topi. Ia berdiri dengan anggun, matanya berbinar saat melihatku."Kak Bima!" ia berlari dan memelukku di tengah keramaian lobi gedung. Kali ini, ia tidak perlu berpura-pura marah. Ia tidak perlu sembunyi."Semua sudah berakhir, Sab," bisikku di telinganya."Terima kasih sudah berjuang, Kak. Aku tahu Kakak orang baik," sahutnya sambil melepaskan pelukan dan menatapku dengan penuh cinta.Setelah badai di kantor notaris mereda dan Citra serta Laras digelandang oleh pihak kepolisian, suasana Jakarta terasa berbeda bagiku. Ketegangan yang selama ini mengikat pundakku perlahan mengendur, namun digantik

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 183. Permainan berakhir

    Pagi hari tiba dengan begitu cepat. Aku hanya tidur sekitar dua jam setelah keluar dari unit Laras. Tubuhku terasa berat, bukan karena kelelahan pasca-kontes, melainkan karena beban rahasia yang kini kusimpan di dalam tas ranselku yaitu map biru berisi dokumen asli milik Om Adrian.Tepat pukul tujuh pagi, sebuah kegaduhan terdengar dari koridor. Aku menempelkan telinga ke pintu."Bima! Bima, buka pintunya!" suara Laras terdengar melengking, penuh dengan nada panik yang tak terbendung. Gedoran di pintuku semakin keras.Aku menarik napas panjang, memasang wajah tanpa dosa, lalu membuka pintu. Laras berdiri di sana dengan rambut berantakan dan wajah pucat pasi. Ia masih mengenakan gaun tidur yang kulihat semalam, hanya ditutupi oleh outer tipis."Ada apa, Ras? Pagi-pagi sudah teriak," kataku dengan suara serak yang dibuat-buat."Dokumen itu... Map biru di lemariku... Kamu lihat, kan? Kamu yang mengambilnya, kan?!" Laras merangsek masuk, matanya liar mencari ke seluruh sudut ruang tamu ap

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 182. Nafsu tertahan Laras

    Pintu unit Laras tertutup dengan bunyi klik yang halus, namun bagiku suara itu terdengar seperti gerendel penjara. Aroma pengharum ruangan beraroma musk dan cendana langsung menyambutku, menciptakan atmosfer yang berat dan sensual.Laras tidak membuang waktu; ia segera berbalik dan menyandarkan tubuhnya pada pintu, menatapku dengan mata yang sayu namun penuh gairah."Suamiku baru saja mengabari, urusannya di luar kota memakan waktu lebih lama. Mungkin seminggu lagi baru pulang," bisik Laras dengan suara serak. "Jadi, malam ini hanya ada aku, kamu, dan piala kemenanganmu itu, Bima."Aku meletakkan tas olahragaku di lantai. "Kamu tampak sudah sangat siap, Ras," kataku, berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang meski jantungku berdegup kencang karena harus bersandiwara dalam situasi sedekat ini.Laras melangkah mendekat. Ia mengenakan lingerie sutra tipis yang nyaris tidak menyembunyikan lekuk tubuhnya. Tangannya yang lentur mulai menjalar ke dadaku, menelusuri garis otot pectoral yang

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 181. Lomba body kontes

    Akhirnya tiba saatnya, hari yang di tunggu-tunggu selama ini akhirnya tiba. Aku merasa gugup karena ini pertama kalinya aku mengikuti body kontes. Aku tidak berharap bisa menang, aku hanya mencari pengalaman.Gedung pertunjukan pusat kota itu sudah dipenuhi oleh riuh rendah penonton dan dentuman musik house yang membakar semangat. Aroma tanning cream dan minyak otot menyengat di area belakang panggung, tempat puluhan pria bertubuh atletis sedang melakukan persiapan terakhir.Di tengah hiruk-pikuk itu, aku berdiri diam, memejamkan mata sambil memompa otot bahuku menggunakan resistance band."Rileks, Bim. Ototmu sudah 'pecah' semua definisinya. Tinggal jaga mentalmu tetap tajam di atas panggung," Mas Putra berbisik sambil membantuku mengoleskan lapisan terakhir minyak agar otot-ototku tampak lebih tegas di bawah lampu sorot.Aku menarik napas panjang. Di balik tirai sana, aku tahu ada dua kelompok orang yang menungguku. Kelompok pertama adalah para "ular" yang ingin merayakan kemenangan

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 180. Ingin kembali membaik

    Saat ini aku akan kembali fokus latihan, sebentar lagi saatnya lomba body kontes tiba. Walaupun pikiranku tidak menentu, tapi aku harus tetap semangat.Saat ini aku lebih fokus untuk melakukan siaran live di tok-tok dari pada harus berurusan dengan wanita-wanita di apartemen ini. Sementara itu demi misi ini, aku tidak melatih Om Adit dan Sabrina untuk sementara waktu, sampai situasinya kembali aman.Lantai gym Mas Putra masih terasa dingin saat aku tiba pukul lima pagi. Suara besi yang beradu dan aroma karet dari lantai beban menjadi satu-satunya pelipur lara bagi batinku yang sedang berperang. Esok adalah hari di mana Body Contest tingkat nasional itu digelar ajang yang seharusnya menjadi puncak prestasiku, namun kini terasa seperti sebuah misi penebusan dosa."Fokus, Bim! Jangan biarkan beban di pikiranmu lebih berat dari beban di tanganmu!" seru Mas Putra, suaranya menggelegar di tengah kesunyian pagi.Aku sedang berada di tengah sesi leg day yang brutal. Beban leg press sudah menc

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 179. Permainan baru

    Pak Andri membawaku ke luar, menjauh dari kerumunan orang. Aku berdiri di hadapan Pak Andri, pria yang kini menjadi satu-satunya peganganku untuk mengungkap kebenaran. Amarahku yang tadinya meledak-ledak kini mulai mendingin, berganti dengan perhitungan yang dingin dan tajam."Kalau begitu aku akan segera bertindak, Om. Citra harus segera di hancurkan," kataku penuh amarah."Jangan dulu hancurkan sekarang. Kita tidak bisa menyerang mereka secara langsung, Bima," ucap Pak Andri pelan, suaranya tenang namun sarat akan pengalaman. "Citra bukan wanita sembarangan. Dia memiliki akses ke banyak hal, termasuk orang-orang yang bisa mencelakaimu dalam sekejap. Jika kau menggunakan rekaman itu sekarang, dia bisa berkelit atau bahkan melenyapkan bukti itu sebelum sampai ke tangan hukum."Aku mengepalkan tangan, menatap lantai marmer yang dingin. "Tapi Om, dia sudah menghancurkan hidupku. Dia membakar tempat kerjaku, dia menjebakku dengan uang, dan dia membuatku membenci ayah kandungku sendiri."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status