Home / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 20. Salon Mbak Dini

Share

Bab 20. Salon Mbak Dini

last update Last Updated: 2025-08-17 21:51:52

“Gak tahu, Mbak. Aku juga baru lihat,” kataku, sambil menatapnya.

Sebelum kami masuk lift, Mbak Dini masih melihat ke arah pria itu berjalan.

“Bim, kok dia kayaknya ke arah unit kita ya. Apa jangan-jangan ke tempat Nadira?” katanya tiba-tiba, nada suaranya penuh rasa ingin tahu.

“Oh, gak tahu, Mbak. Soalnya saya juga jarang ngobrol sama penghuni di sini,” kataku, berusaha netral.

“Oh iya ya, kamu kan kerja tiap hari. Eh, tapi cowok emang gak suka ngegosip, sih." Mbak Dini terkekeh kecil. “Atau mungkin dia orang tuanya Nadira ya?”

“Bisa jadi sih itu,” jawabku sambil mengangguk.

Namun, ketika kami akhirnya masuk ke lift, aku tiba-tiba teringat cerita Nadira, jika ada pria paruh baya yang terus mengganggunya, apakah pria tadi yang Nadira maksud?

Tapi aku tidak bisa menyimpulkannya begitu saja, aku juga tidak bisa menuduh sembarangan.

Lift sampai di lantai dasar, dan kami berjalan menuju depan apartemen. Udara malam Jakarta terasa pengap, meski lampu-lampu jalanan membuat suasana sedikit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 193. Keramahan yang membingungkan

    Pintu unit apartemenku tertutup rapat di belakangku. Aku segera menyandarkan punggung pada daun pintu, memejamkan mata erat-erat. Rasa bersalah karena telah mengkhianati Sabrina dengan Jeni semalam masih terasa seperti duri yang menusuk ulu hati. Namun, di atas segalanya, pertanyaan besar itu masih menghantui: Kenapa aku bisa kehilangan kendali seperti itu?Aku melangkah menuju dapur, mengambil segelas air dingin dan menegaknya sampai habis. Mataku tertuju pada kotak makanan kosong pemberian Mbak Wina (perempuan yang memberiku makanan kemarin) yang kutaruh di atas meja kemarin.Kecurigaanku memuncak. Karena tidak biasanya aku seperti ini, aku tahu batas kemampuan tubuhku. Libido yang meledak-ledak kemarin bukan sekadar nafsu biasa, itu terasa seperti didorong oleh sesuatu yang bersifat kimiawi."Apa mungkin Mbak Wina mencampurkan sesuatu?" gumamku sinis.Aku segera bersiap untuk keluar sebentar, bermaksud mencari udara segar dan mungkin mencari laboratorium untuk mengecek sisa residu

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 192. Desahan di tengah malam

    Tangannya terus menelusuri tubuhku, membuat gairahku semakin bangkit. Aku merasakan pusing yang luar biasa di kepalaku, namun rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhku jauh lebih mendominasi. Di sampingku Jeni, gadis yang baru kutolong tadimenatapku dengan tatapan yang lapar.Melihatku hanya diam dan tidak memberikan perlawanan, Jeni semakin berani. Jemarinya yang lentur mulai menyentuh kancing kemeja biru gelapku.Satu per satu, kancing itu terlepas. Aku merasakannya, aku menyadarinya, namun syaraf-syarafku seolah telah dikhianati oleh otakku sendiri.Dalam hati kecilku, aku ingin berteriak dan pergi dari sana, namun hormon yang meledak-ledak di dalam tubuhku berkata lain. Aku membiarkannya."Kamu tahu, Bima?" bisik Jeni, suaranya terdengar serak di telingaku. "Aku sudah lama mengikutimu di Tok-Tok. Aku salah satu followers-mu yang paling setia."Ia menghentikan gerakannya sejenak untuk menatap dadaku yang kini terekspos. "Aku selalu mengagumimu. Aku sangat suka melihat tubuhmu di

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 191. Hasrat yang terperangkap

    Aku menjatuhkan tubuhku di sofa apartemen dengan napas yang masih tidak beraturan. Langit-langit ruangan seolah berputar, namun bukan karena pusing, melainkan karena bayang-bayang yang terus menghantuiku.Sial. Kenapa pikiranku jadi sejauh ini? Wajah Sabrina yang berkeringat saat latihan tadi, lekuk tubuh Tante Diana yang bugar, hingga aroma sabun dari kulit lembap Mbak Susi... semuanya berputar-putar menciptakan imajinasi kotor yang tidak bisa kukendalikan."Ada apa denganku?" geramku sambil memukul bantal sofa. Aku selalu bangga dengan kontrol diriku sebagai seorang atlet. Tapi hari ini, aku merasa seperti remaja yang baru mengenal hormon.Berharap air dingin bisa membilas semua pikiran sampah ini, aku segera menuju kamar mandi. Kucuran air shower yang menusuk kulit sempat membuatku tenang sejenak. Namun, gairah itu tidak benar-benar padam, ia hanya bersembunyi di balik kesadaran tipisku.Setelah selesai mandi dan merasa lebih segar, sebuah ketukan kembali terdengar di pintu. Dengan

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 190. Gairah yang tiba-tiba muncul

    Setelah menghabiskan sarapan sehat pemberian Nenek Asih yang luar biasa lezat, aku merasa memiliki energi tambahan. Aku memutuskan untuk membereskan apartemen. Debu-debu sisa asap semalam aku bersihkan hingga lantai marmer itu mengilat kembali. Bagiku, kebersihan tempat tinggal adalah cerminan ketenangan pikiran, dan pagi ini aku butuh pikiran yang sangat tenang.Tepat saat aku sedang mengelap meja kerja, ponselku bergetar di atas sofa. Nama Sabrina muncul di layar."Halo, Sab?" sapaku."Kak Bima! Selamat pagi!" suara cerianya langsung memenuhi telingaku. "Kak, Papa tanya kapan Kakak bisa mulai melatih lagi di rumah? Papa bilang tubuhnya sudah mulai terasa kaku karena kelamaan libur gym. Kakak bisa datang hari ini?"Aku tersenyum. Tawaran ini adalah berkah di saat aku sedang mencari jalan untuk mandiri secara finansial. "Bisa, Sab. Kebetulan pagi ini jadwal Kakak kosong. Jam sembilan Kakak meluncur ke sana, ya?""Asyik! Aku tunggu ya, Kak. Kebetulan hari ini aku baru ada jadwal kuliah

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 189. Kebakaran tengah malam

    Malam telah larut, dan Jakarta mulai meredupkan bisingnya. Aku baru saja terlelap selama dua jam setelah kelelahan mengedit video konten pertamaku. Namun, di tengah lelapnya tidur, aku merasakan sesuatu yang tidak beres.Hidungku menangkap aroma yang sangat tidak asing yaitu bau sesuatu yang terbakar, tajam dan menyesakkan.Aku tersentak bangun. Jantungku berdegup kencang. Pikiran pertamaku adalah sabotase. Apakah Citra mengirim orang untuk membakar unitku?Aku segera melompat dari tempat tidur dan berlari menuju dapur. Nihil. Kompor mati, tidak ada kabel yang berasap. Namun, bau gosong itu semakin menyengat. Aku melangkah cepat menuju pintu keluar.Saat kubuka pintu apartemenku, lorong sudah mulai diselimuti kabut tipis berwarna kelabu. Aroma itu berasal dari unit di sebelah kanan, tepat di depan unitku.Tanpa membuang waktu, aku berlari ke pintu itu dan menggedornya dengan keras."Permisi! Ada orang di dalam? Kebakaran! Buka pintunya!" teriakku sekuat tenaga.Aku menempelkan telinga

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 188. Masalah semakin banyak

    Siang hari, suasana apartemenku tidak lagi sesunyi biasanya. Di atas meja ruang tamu, berserakan beberapa kotak yang baru saja tiba dari jasa pengiriman daring.Sebuah tripod yang kokoh, ring light berdiameter besar, serta mikrofon nirkabel yang disarankan oleh Ardi kini berada di hadapanku. Aku menatap benda-benda itu dengan perasaan campur aduk; antara ragu dan harapan yang membuncah.Uang tabunganku yang tersisa kugunakan untuk modal ini. Aku teringat kata-kata Ardi semalam: "Bim, orang nggak beli cuma karena otot lo gede, tapi karena mereka percaya sama cerita dan edukasi lo."Aku mulai merakit perlengkapan itu satu per satu. Fokusku hanya satu: Ibu dan Alisa. Aku tidak ingin lagi terjebak dalam dilema identitasku atau tawaran-tawaran yang terasa seperti utang budi. Aku ingin setiap rupiah yang kukirim ke Bandung adalah hasil keringatku sendiri, bukan dari saku pria yang masih harus menyembunyikan identitasku demi menjaga perasaan orang lain.Setelah semua alat siap, aku memutuska

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status