Beranda / Urban / Rayuan Maut Para Tetanggaku / Bab 216. Hancurnya Sebuah Kesetiaan

Share

Bab 216. Hancurnya Sebuah Kesetiaan

Penulis: Galaxybimasakti
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-24 21:55:31

Napas Mbak Susi masih terdengar teratur di sampingku saat aku melirik jam dinding di kamarnya.

Pukul 04.15 pagi.

Sisa-sisa pergulatan panas semalam masih terasa di sekujur ototku yang lemas, namun logika tiba-tiba menghantamku seperti air es.

"Aku harus pergi sebelum subuh," bisikku pelan.

Aku bangkit dengan hati-hati agar tidak membangunkannya, memunguti pakaianku yang berceceran dari ruang tengah hingga kamar mandi.

Setelah berpakaian lengkap, aku memastikan koridor apartemen sepi sebelum me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 261. Menuju apartemen Adrian

    Kami pun duduk melingkar di ruang tamu. Aku menceritakan inti dari apa yang terjadi selama tiga bulan ini, meski aku tetap menyensor bagian-bagian mistis di desa agar tidak terdengar gila di telinga mereka."Bima, kamu tidak bisa terus di sini," kata Adrian dengan nada serius. "Aku punya apartemen pribadi yang cukup rahasia. Tidak ada yang tahu kepemilikannya selain aku. Besok kamu pindah ke sana. Aku akan siapkan pengawalan ketat di bawah radar. Tidak akan ada yang berani mencelakaimu lagi."Adrian mengerti jika ada Ardi disini, seolah-olah kami adalah teman. Aku memperhatikan Ardi yang terlihat kebingungan, mungkin dia heran kenapa Adrian begitu perhatian padaku.Aku sempat ragu. "Tapi, kalau aku pindah, mereka mungkin akan lebih mudah melacakku lewat koneksi mu.""Tidak akan," Adrian meyakinkanku, matanya menatapku tajam. "Kali ini aku sendiri yang akan mengurus keamanannya. Orang-orang yang mencelakaimu di rumah sakit itu... Aku akan usut sampai ke akar-akarnya. Aku tidak akan mem

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 260. Bertemu Adrian

    Pikiranku melayang sejenak pada perjuanganku di desa dan musuh-musuh yang menantiku di kota.Aku merasa setiap tetes keringat dan setiap desahan wanita ini memberiku energi tambahan untuk menghadapi apa pun di depan sana.Hampir dua jam berlalu, dan ruangan itu sudah penuh dengan aroma sisa pergumulan. Clarissa sudah dalam kondisi yang sangat mengenaskan namun tampak sangat puas.Dia terkulai lemas dengan mata mendelik nikmat di bawahku, menerima sisa-sisa tenaga liarku.Aku merasakan puncaknya sudah sangat dekat. Panas di nadiku mengumpul di ujung kejantanku, siap untuk diledakkan. Aku ingat, aku tidak boleh membuatnya hamil. Aku harus tetap memegang kendali."Siap-siap ya..." desisku.Aku menarik batangku keluar tepat saat ledakan itu terjadi. Aku tidak menyemburkannya di dalam rahim Clarissa.Dengan kontrol yang sangat presisi, aku arahkan semburan susu kentalku yang sangat banyak itu ke wajah dan buah dada Clarissa.Croottt! Croottt! Croottt!Cairanku yang putih kental dan sangat

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 259. Ketagihan

    Clarissa akhirnya bangkit dan memesankan taksi online untukku lewat ponselnya. Sebelum aku melangkah keluar, dia memegang tanganku."Bima, aku minta nomor ponsel kamu ya. Biar aku bisa hubungi kamu nanti," pintanya manja.Aku menghela napas. "Ponselku hilang saat kejadian beberapa bulan lalu, Clar. Sekarang aku benar-benar tidak punya alat komunikasi."Clarissa terbelalak. "Apa? Pantesan, oh jadi karena itu kamu jarang online lagi. Gini deh, besok kamu datang lagi ke sini jam satu siangan. Aku bakal belikan kamu ponsel baru, sekaligus kartu sim-nya. Pokoknya kami jangan nolak!"Aku mencoba menolaknya lagi, namun Clarissa memaksa dengan sangat gigih. Dia bilang itu adalah bagian dari kompensasi karena sudah menabrakku.Akhirnya, aku pun mengalah dan berjanji akan datang lagi besok siang. Aku merasa beruntung, bisa bertemu orang baik seperti dia.Walaupun orangnya memang agak "nakal", tapi setidaknya bisa aku manfaatkan untuk melampiaskan hasratku.Clarissa sempat memintaku memotong ram

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 258. Hasrat di apartemen mewah

    Aroma masakan Italia yang berkelas memenuhi restoran tempat Clarissa membawaku. Di bawah lampu kristal yang berpijar mewah, Clarissa tampak jauh lebih mempesona.Dia bukan wanita biasa; dari cara bicaranya yang lugas dan berwibawa, aku tahu dia terbiasa memimpin.Ternyata, dia adalah putri seorang pengusaha besar dan saat ini menjabat sebagai direktur di butik fesyen ternama miliknya sendiri.Sambil menyantap hidangan, aku mulai menceritakan sedikit tentang diriku. Aku mengaku sebagai seorang personal trainer gym dan konten kreator yang sedang mengambil masa jeda karena urusan pribadi yang mendesak.Aku sengaja tidak menyinggung soal kecelakaan, amnesia, apalagi soal "tugas" biologisku di desa antah-berantah itu."Tunggu dulu," Clarissa tiba-tiba memotong, matanya menyipit menatap wajahku di balik kumis dan jenggot lebat ini. "Nama kamu Bima Perwira? Konten kreator?"Aku mengangguk pelan."Iya benar, kamu tahu ternyata." kataku, tidak percaya.Clarissa dengan cepat merogoh ponsel pint

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 257. Tertabrak mobil

    Aku pun menceritakan tentang kemampuan baruku alat indra yang tajam, ilmu dalam yang membuat tubuhku sekeras baja, dan gerakan yang jauh lebih cepat dari manusia biasa. Aku bilang semua itu berkat latihan keras dari Kakek selama di desa, tanpa menyinggung soal bunga sakti atau ritual di hutan.Ardi menatapku tidak percaya, tapi setelah aku mendemonstrasikan dengan meremas sebuah kaleng soda hingga menjadi serpihan kecil hanya dengan dua jari, dia langsung pucat dan mengangguk setuju."Gila... lu beneran jadi manusia super, Bim.""Satu lagi, Di. Besok tolong bantu gue beli ponsel baru. Gue harus hubungi Ibu dan Alisa di kampung. Gue kangen banget, tapi gue belum berani pulang ke Bandung langsung. Risikonya terlalu besar buat mereka kalau musuh tahu gue masih hidup."Ardi mengangguk paham. "Siap. Besok pulang kantor gue anterin beli HP. Terus, gue juga bakal mampir ke apartemen lu dulu buat cek keadaan. Gue mau lihat apakah unit lu masih kosong atau udah ada yang nempati."Malam itu, ka

  • Rayuan Maut Para Tetanggaku   Bab 256. Cerita pada Ardi

    ​Aku tersenyum kecil di balik kumis tebalku. "Di... ini gue. Bima."Ardi terdiam. Dia menatapku dalam-dalam, memperhatikanku dengan seksama."Bima? Bima siapa? Maaf ya saya tidak kenal.""Bima Perwira. Tega banget lu sama temen sendiri lupa, gue pernah kerja di kantor arsitek sama lu juga. Masa lupa sama gua!"Mata Ardi membelalak. Helm di tangannya hampir jatuh. "Bim?! INI BENERAN LU?!"Ardi langsung memelukku erat. Suaranya bergetar. "Gila lu! Lu ke mana aja?! Gue kira kita gak akan ketemu lagi, gue seneng lu baik-baik saja."Dia segera membuka pagar rumahnya dan membawaku masuk. Begitu di dalam rumah, Ardi menyalakan televisi dan menunjukkan tumpukan koran.Ternyata benar, namaku masuk dalam daftar berita orang hilang selama tiga bulan terakhir. Ada foto-fotoku saat masih rapi, berita pencarian yang dihentikan karena tidak ada petunjuk, hingga selebaran yang ditempel Ardi sendiri di jalanan."Gue udah cari lu ke mana-mana, Bim. Katanya lu hilang di rumah sakit, ada yang bilang lu k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status