Share

3

Penulis: Fatmah Azzahra
last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 20:17:27

"Angkat saja teleponnya, Mas Aditya. Siapa tahu itu panggilan darurat yang sangat penting dari kolegamu," ujarku pelan, sengaja memecah kecanggungan yang terasa kian mencekik leher.

"Biar saja berdering sampai mati. Sama sekali tidak ada hal yang jauh lebih penting daripada menyelesaikan pembicaraan serius kita saat ini," jawab Aditya kaku, menatapku dengan sorot mata mengintimidasi.

"Tapi layar ponselmu terus menyala, Mas. Tolong angkatlah sebentar! Mungkin saja rekan kerjamu sedang membutuhkan keputusan yang sangat cepat darimu," paksaku merayu.

Aditya mendengus kasar dengan raut wajah kesal. "Baiklah, sebentar. Tetap berdiri tegak di posisimu, jangan berani beranjak satu langkah pun dariku."

"Iya, Mas."

Aditya segera menggeser layar ponsel cerdasnya. "Ada apa, Bara? Kenapa kamu berani sekali mengganggu waktu pribadiku di luar jam operasional kantor?"

Suara dari seberang telepon terdengar begitu samar namun penuh dengan nada kepanikan yang kentara.

"Mohon maafkan kelancangan saya, Pak Aditya. Ini sungguh kabar yang sangat mendesak. Tuan Tanakami rupanya sudah tiba di lobi utama perusahaan kita sekarang juga."

"Apa katamu? Tuan Tanakami dari Jepang sudah tiba di kantor secepat ini? Bukankah jadwal pertemuan kita berdua seharusnya masih tersisa tiga puluh menit lagi?" bentak Aditya lantang, membuat urat-urat di lehernya menonjol keluar karena menahan emosi.

"..."

"Sialan! Kenapa kamu dan timmu tidak becus mengatur jadwal sepenting ini? Kenapa perubahannya tidak dilaporkan kepadaku lebih awal? Kamu tahu betul bahwa proyek kolaborasi ini bernilai triliunan rupiah, bukan?"

"..."

"Sekarang dengarkan instruksiku baik-baik, Bara. Tahan dia di sana dengan cara apapun. Bawa dia menuju ruang VIP lantai atas dan suguhkan teh hijau atau anggur merah terbaik yang kita miliki di dalam brankas. Aku akan segera meluncur ke kantor detik ini juga. Jangan sampai Tuan Tanakami merasa tidak dihargai sedikitpun! Apa kamu paham?"

"..."

"Bagus. Bereskan semuanya, aku berangkat sekarang." Aditya memutus panggilan tersebut dengan gerakan kasar, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku dalam jas hitamnya.

"Mas harus segera pergi ke kantor sekarang juga?" tanyaku dengan nada lembut, sengaja berpura-pura menampakkan raut kecewa yang mendalam di wajahku.

"Ya, Sarah. Klien bisnisku yang sangat penting dari Jepang secara mendadak datang lebih awal ke kantorku. Mas sama sekali tidak bisa membiarkan kontrak senilai triliunan ini melayang begitu saja hanya karena sebuah keterlambatan," jelas Aditya dengan nada suara baritonnya yang masih terdengar sedikit meninggi akibat amarah.

"Tidak apa-apa, Mas Aditya. Pergilah menyusul sekarang juga. Urusan pekerjaanmu jauh lebih penting."

"Kamu sungguh tidak merasa marah karena Mas secara sepihak membatalkan niat untuk mengantarmu pulang hari ini?"

"Tentu saja tidak ada, Mas. Mas bekerja keras banting tulang untuk kelancaran masa depan kita berdua juga, kan? Lagipula, aku bisa mandiri untuk pulang ke rumah ibuku."

"Jangan gila, Sarah! Mas sama sekali tidak akan pernah membiarkan calon istri Mas berkeliaran menaiki kendaraan umum sendirian di jalanan ibu kota yang keras ini."

"Lalu aku harus pulang naik apa ke rumah, Mas? Aku kebetulan tidak membawa mobilku hari ini."

"Kamu tenang saja. Pak Yanto akan mengantarmu sampai ke depan pintu rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun."

"Pak Yanto? Memangnya Pak Yanto membawa mobil yang mana dari tadi? Bukankah sejak berangkat kita hanya berdua saja?”

"Dia sudah menunggumu dengan mobil operasional kantorku di seberang jalan sana. Mas memang selalu menyuruhnya untuk menguntit mobil kita dari belakang sejak tadi pagi."

"Mas menyuruhnya terus mengikuti kendaraan kita secara diam-diam dari arah belakang? Untuk apa repot-repot melakukan hal semacam itu, Mas?"

"Tentu saja ini murni demi menjaga keamananmu, Sayang. Mas sama sekali tidak ingin hal buruk terjadi padamu."

Aditya lalu melambaikan sebelah tangannya ke arah luar kaca butik dengan gestur memerintah. "Pak Yanto! Cepat kemari sekarang!"

Seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam sopir safari berlari tergopoh-gopoh menghampiri tempat kami berdiri. "Siap, Tuan!"

"Tinggalkan urusan pengawalan mobilku di belakang. Sekarang juga, antarkan Nyonya Sarah kembali ke rumahnya, hati-hati. Ingat baik-baik pesanku, langsung menuju ke rumah, jangan pernah berani mampir ke tempat lain tanpa izinku."

"Siap, laksanakan, Tuan. Saya akan memastikan dengan nyawa saya bahwa Nyonya Sarah tiba di rumah dengan aman."

"Dan kamu, Sarah," Aditya memutar tubuhnya lalu menatap manik mataku begitu lekat. "Dengarkan ucapan Mas baik-baik. Sesampainya di rumah nanti, langsung masuk ke kamarmu dan beristirahatlah yang cukup. Kunci pintunya rapat-rapat. Paham kamu?"

"Iya, aku paham, Mas. Mas Aditya tolong hati-hatilah di jalan, jangan ngebut, ya."

"Bagus. Mas pergi dulu." Aditya membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan langkah lebar yang angkuh.

"Silakan masuk ke dalam mobil, Nyonya," ujar Pak Yanto ramah seraya membukakan pintu penumpang.

"Terima kasih, Pak Yanto. Maaf ya, saya hari ini jadi merepotkan Bapak siang-siang begini," balasku tersenyum hangat.

"Oh, sama sekali tidak merepotkan, Nyonya. Sudah menjadi tugas saya," jawab Pak Yanto seraya melajukan kendaraan.

"Ngomong-ngomong soal tadi, Bapak sudah berapa lama menunggu sendirian di luar butik? Pasti rasanya bosan sekali ya, Pak?"

"Lumayan lama, Nyonya. Sejak awal Tuan dan Nyonya melangkah masuk ke dalam butik. Tapi sungguh saya sama sekali tidak bosan Nyonya."

"Berarti setiap kali saya keluar berdua saja dengan Mas Aditya, Pak Yanto selalu setia ditugaskan mengawal kami berdua secara diam-diam?" tanyaku halus seraya memancing.

"Wah, bukan diam-diam layaknya mata-mata maksudnya, Non. Tuan Muda itu tipikal pria yang bersikap protektif, terlebih lagi kepada orang-orang terdekatnya. Terutama masalah penjagaan untuk Nyonya Sarah, beliau menerapkannya sangat ketat."

"Protektif sekali ya, Pak. Wah, pantas saja keamanan saya selalu terjamin seratus persen. Ngomong-ngomong, sebagai sopir pribadi yang paling diandalkan, Pak Yanto pastinya hafal seluruh jadwal Mas Aditya setiap harinya, kan?"

"Tentu saja. Kalau untuk urusan hari ini, setelah Tuan Muda selesai berdiskusi dengan Tuan Tanakami di kantor, Beliau masih menyisakan jadwal jamuan makan malam bisnis hingga larut malam nanti."

"Sampai larut malam sekali pulangnya? Biasanya jamuan super penting seperti itu diadakan di restoran mana, Pak Yanto?"

"Biasanya selalu diadakan secara eksklusif di hotel milik beliau sendiri, Non. Jadi Nyonya tidak usah menaruh curiga beliau akan bertingkah aneh-aneh di luar sana. Oh ya, besok pagi-pagi sekali Bapak ada jadwal penerbangan bisnis ke kota Surabaya."

"Penerbangan mendadak ke kota Surabaya? Berapa hari kira-kira Mas Aditya mengurus bisnisnya di Surabaya, Pak?"

"Sekitar tiga hari penuh beliau di sana, Nyonya."

Aku berusaha keras menyembunyikan getar kebahagiaan yang tiba-tiba menyusup ke seluruh aliran darahku.

Kabar dari Pak Yanto barusan seolah menjadi alunan melodi terindah dari surga yang menyapa telingaku. Inilah celah paling berharga.

Tiga hari adalah batas waktu emasku.

Rentang waktu itu lebih dari cukup untuk menyusun strategi yang matang.

Memindahkan Ibu secara diam-diam dari rumah sakit, lalu secepat kilat menghilang tanpa meninggalkan jejak, sebelum undangan pernikahan terkutuk itu disebar luaskan.

"Bapak kok bisa kebetulan tahu detail jadwal Mas Aditya," pujiku.

"Saya kan sopir pribadi merangkap asisten operasional lapangan juga, Nyonya,” balasnya.

"Lalu kalau besok pagi Mas Aditya pergi. Tugas Bapak apa, dong?"

"Tentu saja tugas saya beralih penuh untuk mengantar Nyonya. Ada pesan dari Beliau tadi pagi, bahwasanya selama beliau berada jauh di luar kota, saya harus terus menjaga dan mendampingi Nyonya Sarah selama dua puluh empat jam penuh."

"Dua puluh empat jam penuh tanpa jeda? Padahal saya hanyalah wanita rumahan biasa. Paling banter saya di kamar dan sesekali pergi ke rumah sakit untuk merawat Ibu."

"Sudah menjadi tugas dan tidak bisa diganggu sedikitpun, Nyonya. Saya sama sekali tidak berani melanggar perintahnya sedikitpun."

"Tapi, Pak Yanto, kalau sekiranya besok pagi saya harus segera berangkat menengok ke rumah sakit pagi-pagi buta, apa Pak Yanto merasa tidak keberatan menjemput saya tepat pukul enam pagi?"

"Jam enam pagi tepat, ya? Tentu saja tidak, Nyonya. Saya akan bersiap sedia satu jam lebih awal.”

"Syukurlah kalau Bapak sama sekali tidak keberatan. Besok pagi kita harus berangkat jam enam pagi dari rumah, ya. Saya ingin memberi kejutan spesial untuk Ibu di rumah sakit."

"Baik, Nyonya Sarah. Akan segera saya laksanakan semua pesannya dengan baik."

"Terima kasih banyak atas tumpangannya siang ini ya, Pak."

Aku perlahan menyandarkan punggungku, membiarkan keheningan menguasai ruang di dalam mobil. Namun dibalik sikap tenangku, pikiranku tengah berkecamuk sangat liar.

Pria tua yang duduk menyetir di depanku ini adalah mata dan telinganya Aditya. Aku harus mencari cara untuk mengelabuinya, jika aku ingin membawa Ibuku kabur dari neraka ini.

Rasa sakit dan siksaan kematian tragis dari kehidupan sebelumnya terus membayangi, melecut jiwaku untuk merengkuh kemerdekaan secepatnya.

Aku memejamkan mata perlahan, menyusun satu demi satu rencana pelarian yang harus berjalan sempurna tanpa celah esok hari.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   10

    "Mbak Rina, yakin mau turun di stasiun transit ini? Bukannya tiket Mbak tujuan akhirnya masih jauh di Yogyakarta?" tegur seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahku. Ia menatapku dengan kening berkerut saat melihatku buru-buru menyandang ransel."Iya, Bu. Saya baru ingat ada urusan keluarga yang sangat mendadak di kota ini. Saya harus turun sekarang sebelum keretanya berangkat lagi," balasku cepat seraya memaksakan seulas senyum gugup."Oh, begitu. Hati-hati di jalan ya, Mbak. Wajah Mbak kelihatan pucat sekali, jangan lupa makan siang nanti.""Terima kasih banyak atas perhatiannya, Bu. Saya duluan, permisi," pamitku seraya melangkah tergesa menyusuri lorong gerbong.Aku harus melakukannya.Otakku baru saja memproses betapa berbahayanya posisiku saat ini. Aditya bukanlah pria sembarangan. Ia adalah monster dengan kekayaan dan kekuasaan tak terbatas. Jika aku tetap duduk manis di kereta eksekutif menuju Yogyakarta ini, para pen

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   9

    Laju kereta eksekutif ini terasa begitu mulus membelah pinggiran ibu kota, berbanding terbalik dengan gemuruh hebat yang tengah mengacaukan dadaku. Tanganku yang sedingin es masih gemetar saat memasukkan sebuah kartu SIM baru yang sempat kubeli dari gerai kecil di dalam stasiun tadi.Aku harus bergerak cepat. Sebelum Aditya benar-benar mengunci semua aksesku, aku harus memastikan Ibu selamat.Begitu sinyal ponselku penuh, aku segera menekan deretan nomor ekstensi ruang rawat inap VVIP tempat Ibu dirawat. Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya diangkat."Halo, Suster Rini? Ini saya, Sarah," ucapku cepat dengan suara setengah berbisik agar tidak memancing perhatian penumpang lain."Mbak Sarah?! Ya Tuhan, akhirnya Mbak menelepon juga! Suster dari tadi sudah nyaris gila karena kebingungan mencari cara menghubungi Mbak!" Suara Suster Rini terdengar panik di seberang sana."Tenanglah dulu, Sus. Saya sekarang sudah berada di

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   8

    Napas kasarku memburu cepat saat kakiku menuruni puluhan anak tangga darurat hotel. Sengatan matahari langsung menyambutku. Aku berlari kencang menuju jalan raya, melambaikan tangan dengan panik ke arah taksi yang melintas."Pak, tolong ke stasiun kereta pusat sekarang juga! Cepat, Pak!" seruku begitu berhasil menerobos masuk ke jok belakang.Sopir paruh baya itu menoleh dari kaca spion, matanya membelalak kaget. "Loh, Mbak ini kan pakai gaun pengantin mahal? Kok malah lari-larian sendirian keluar hotel begini, Mbak? Acara resepsi nikahannya di dalam sana gimana?""Tolong jangan banyak tanya dulu, Pak. Tolong jalan saja secepat mungkin menjauh dari hotel ini! Nyawa saya dan bayi saya sedang terancam jika ketahuan. Saya pasti akan membayar ongkos taksinya tiga kali lipat jika Bapak bisa mengemudi dengan cepat!" pintaku memelas, terus menoleh ke belakang kaca jendela."Waduh, iya, iya, Mbak! Ini saya injak gas dalam-dalam. Mbak tenang dulu

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   7

    "Baiklah, Mas akan mengalah untuk malam ini," hembusan napas berat Aditya akhirnya memecah ketegangan yang sejak tadi mengudara di dalam kamarku. "Kamu boleh tinggal di sini satu malam lagi." "Terima kasih banyak, Mas Adit. Aku berjanji besok setelah dari rumah sakit, aku akan langsung mengemasi barangku dan pindah ke rumahmu," balasku cepat. Sengaja kutundukkan wajahku dalam-dalam agar pria di hadapanku ini tidak bisa melihat binar kelegaan, sekaligus kilatan kebohongan di mataku. "Tapi Mas punya satu syarat mutlak yang tidak bisa kamu tawar lagi, Sarah." Jari telunjuknya terangkat, menunjuk tepat di depan wajahku dengan gerakan memperingatkan. "Kamu harus benar-benar menjaga dirimu baik-baik malam ini. Ingat, ada nyawa penerusku di dalam perutmu sekarang. Jangan pernah melakukan hal-hal ceroboh yang bisa membahayakan kandunganmu." "Tentu saja aku akan menjaganya dengan nyawaku, Mas

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   6

    Cengkeraman tangan Aditya di rahangku terasa semakin mengerat, seolah ia bisa meremukkan tulang-tulang wajahku kapan saja ia mau.Sepasang manik mata hitamnya berkilat tajam, menyorotkan amarah yang berpadu dengan rasa curiga yang teramat pekat."Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa kamu berani menyembunyikan kehamilan ini dariku?!" bentaknya lagi.Suara baritonnya menggema hingga memekakkan telingaku."Mas ... sakit ... tolong lepaskan jarimu," rintihku dengan suara tercekik.Air mata ketakutan yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah ruah membasahi punggung tangannya."Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan padaku, apa kamu sengaja merencanakan sesuatu yang busuk di belakangku? Kamu berniat menggugurkan anak ini secara diam-diam?!" cecar Aditya tanpa ampun, nadanya kian meninggi."Demi Tuhan, Mas! Aku sama sekali tidak tahu kalau aku sedang hamil!" jeritku dengan sisa tenaga, menatap tepat ke dalam matanya dengan raut wajah memelas."Aku bersumpah, Mas! Aku benar-benar ti

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   5

    Udara di dalam kamarku mendadak terasa sedingin es.Wajah Aditya mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan otot yang menonjol jelas di bawah kulitnya. Tatapannya begitu masam dan menusuk, menyiratkan kemarahan luar biasa yang sengaja ditahan.Seringai tipis yang tadi sempat menghiasi bibirnya kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh gurat gelap yang membuat nyaliku menciut drastis."Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa aku harus repot-repot mendobrak pintu depan rumahmu hanya untuk menemukanmu tak sadarkan diri di lantai?!" bentak Aditya.Suara baritonnya menggema keras, memantul di dinding kamarku yang sempit dan pengap."Aku ... aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi padaku, Mas," cicitku dengan suara bergetar hebat.Aku meremas ujung selimut. "Tadi aku hanya berniat untuk tidur siang sejenak, lalu kepalaku tiba-tiba terasa pusing luar biasa.""Hanya pusing biasa lalu ambruk tak berdaya seperti mayat? Kamu pikir aku pria bodoh yang bisa kau tipu mentah-mentah dengan ala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status