Share

4

Penulis: Fatmah Azzahra
last update Tanggal publikasi: 2026-06-01 21:45:07

"Kita sudah hampir sampai, Nyonya. Tapi sepertinya mobil tidak bisa masuk sampai ke depan pagar rumah," ucap Pak Yanto memecah keheningan, sambil memelankan laju sedan hitam ini.

"Kenapa tidak bisa masuk, Pak Yanto?" tanyaku heran.

"Itu di depan gang ada galian pipa saluran air dari kelurahan, Nyonya. Jalanannya ditutup separuh. Jadi saya hanya bisa mengantar sampai ujung gang saja. Nyonya tidak keberatan berjalan kaki sedikit ke dalam, bukan?"

"Oh, ada galian ya. Tidak apa-apa, Pak. Saya jalan kaki saja dari depan. Terima kasih banyak ya, Pak."

"Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya. Tapi ingat pesan Tuan Muda tadi, ya. Nyonya harus langsung masuk ke dalam rumah, mengunci pintu rapat-rapat, dan segera beristirahat total."

"Tentu saja saya ingat, Pak. Saya juga merasa sangat mengantuk. Bapak bisa langsung kembali ke kantor sekarang."

"Baik, Nyonya. Kalau untuk urusan besok pagi, jadwalnya masih tetap sama, kan?”

"Iya, Pak, jadwalnya tidak berubah. Jangan sampai terlambat ya, Pak. Saya permisi turun dulu."

Aku membuka pintu mobil, melangkah keluar menembus teriknya matahari siang. Setelah memastikan mobil Pak Yanto melaju menjauh dan menghilang di belokan, aku segera menyusuri gang sempit menuju rumah kontrakanku.

Tepat saat aku mendorong pagar besi yang berderit pelan, Bi Ningsih, tetangga sebelah yang biasa kumintai tolong menjaga rumah jika aku pergi, muncul dari pintu samping halamannya.

"Loh, Neng Sarah sudah pulang? Kok tumben siang begini sudah kembali? Bukannya tadi pagi bilang mau fitting gaun pengantin sampai sore?" sapa Bi Ningsih sambil memegang sapu lidi.

"Iya, Bi Ningsih. Urusannya ternyata selesai jauh lebih cepat dari perkiraan awalku," jawabku seraya tersenyum tipis, menutupi rasa mual yang mendadak mengaduk perutku.

"Gaunnya muat kan, Neng? Pasti Neng Sarah cantik sekali pakai baju pengantin mahal begitu. Pak Aditya pasti sampai tidak berkedip melihatnya nanti di pelaminan, ya kan?" goda Bi Ningsih dengan tawa renyah.

"Muat kok, Bi. Semuanya pas. Cuma tinggal merapikan sedikit saja di bagian bawahnya."

"Syukurlah kalau begitu. Eh, tapi tunggu dulu..." Bi Ningsih memicingkan matanya, memajukan wajahnya menatapku dengan saksama. "Wajah Neng Sarah kok pucat begitu, seperti mayat hidup? Bibirnya juga putih pucat. Neng sakit, ya?"

"Saya tidak apa-apa, Bi. Cuma agak kelelahan saja karena kurang tidur semalaman mikirin kondisi Ibu di rumah sakit."

"Jangan dianggap sepele lho, Non. Pernikahan Neng kan tinggal seminggu lagi. Coba sini Bibi buatkan teh manis hangat atau wedang jahe supaya badannya enakan. Mau, ya?"

"Sama sekali tidak usah, Bi. Saya sungguh tidak apa-apa. Saya cuma butuh tidur siang sebentar. Kepala saya agak pusing karena macet parah tadi."

"Beneran tidak apa-apa, Neng? Nanti kalau Pak Aditya tiba-tiba datang berkunjung mengecek dan melihat calon istrinya sakit begini, beliau pasti marah besar karena Bibi dianggap tidak becus menjaga tetangganya."

"Tidak akan ada yang memarahi Bibi. Mas Aditya sedang sibuk rapat dengan klien penting dari Jepang di kantornya, jadi dia tidak akan kemari hari ini. Bibi pulang saja ke sebelah, ya. Biar saya kunci pintunya dari dalam sekarang."

"Ya sudah kalau Neng Sarah maunya begitu. Bibi pamit pulang, ya. Ingat lho, kalau butuh apa-apa, teriak saja dari jendela kamar. Nanti Bibi langsung lari ke sini."

"Iya, Bi. Terima kasih banyak atas perhatiannya, ya."

Aku berdiri mematung di teras, menunggu Bi Ningsih berbalik dan masuk ke halaman rumahnya. Setelah keadaan aman, aku segera melangkah masuk ke dalam rumah, mengunci pintu depan dengan dua putaran penuh, bahkan sengaja memasang gerendel besinya kuat-kuat.

Namun, begitu aku membalikkan badan menghadap ruang tamu yang kosong, pertahananku hancur tak bersisa.

Tubuhku merosot tak berdaya ke lantai ubin yang dingin. Napasku langsung memburu tajam, tersengal-sengal mencari pasokan oksigen. Jantungku berdetak sangat brutal hingga tulang rusukku rasanya mau patah seketika.

"Ya Tuhan... hah... hah..." rintihku dengan suara bergetar, meremas dada kiriku sekuat tenaga.

Rasa takut yang mencekik itu meledak tanpa aba-aba. Trauma kelam dari masa depan yang telah kualami menghantam kesadaranku secara bertubi-tubi.

Bayangan tangan besar Aditya yang mencekik leherku, suara sabuk kulit yang menghantam punggungku di malam pertama kami, dan tawanya yang menggema memekakkan telinga saat aku memohon ampun, semuanya berputar liar di dalam kepalaku bagaikan kaset rusak yang tak bisa dihentikan.

"Sakit ... sakit sekali ..." desisku pelan, menggigit bibir bawahku keras-keras agar isak tangisku tidak meledak.

Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku merangkak perlahan melintasi ruang tamu menuju kamarku. Sesampainya di tepi ranjang, aku menarik tasku secara serampangan hingga seluruh isinya berhamburan ke lantai. Kuraih ponselku dengan kedua belah tangan yang bergetar sangat hebat.

"Aku tidak boleh menghubungi Mas Adit. Jangan pernah! Pria brengsek itu justru monster yang akan membunuhku pelan-pelan! Aku juga tidak bisa melapor polisi sekarang, mereka pasti mengira aku wanita gila karena melaporkan pembunuhan yang belum terjadi," racauku pada diriku sendiri di tengah isak tangis.

Otakku berputar putus asa mencari jalan keluar. Aku butuh bantuan segera. Aku butuh seseorang yang mengerti kondisi mentalku saat ini sebelum aku benar-benar kehilangan kewarasan.

"Dokter Hilman! Benar, Dokter Hilman!" seruku dengan suara parau yang tertahan.

Di kehidupanku sebelumnya, dialah satu-satunya orang yang peduli dengan penderitaanku. Dia yang menolongku kabur dari Aditya, meskipun pada akhirnya usaha itu gagal karena nyawa ibuku berasa di tangan mereka.

"Aku harus meneleponnya sekarang juga. Aku harus minta obat penenang darinya. Ayo, Sarah, ingat! Berapa nomor ponsel Dokter Hilman?" gumamku panik seraya menekan paksa layar ponsel yang menyala terang.

Jariku gemetar di atas tombol angka layar sentuh itu. "Kosong delapan satu dua ... lalu berapa selanjutnya?"

Kepalaku mendadak berdenyut sangat hebat. Rasa sakit yang tajam menusuk pelipisku bak ditusuk ratusan paku panas dalam satu waktu. Pandanganku mulai berputar.

"Akh! Kosong delapan satu dua ... sembilan ... sialan! Kenapa aku bisa lupa kelanjutannya?!"

Aku memukul sisi kepalaku dengan telapak tangan, memaksa otakku untuk menggali sisa memori dari tiga tahun yang lalu.

"Ayo ingat, otak bodoh! Ayo ingat sekarang juga! Tujuh ... tiga ... ah, bukan! Bukan itu angkanya!" teriakku frustrasi pada diriku sendiri.

Setiap kali aku memaksakan diri untuk memanggil deretan angka itu, bayangan mengerikan saat Aditya menampar wajahku hingga sudut bibirku robek justru menyeruak kencang, menutupi semua ingatanku yang lain. Rasa mual di perutku semakin tak tertahankan. Asam lambungku seolah naik meremas tenggorokan.

"Tolong ... kepalaku ... sakit sekali ... Tuhan, tolong aku!"

Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku. Pandanganku perlahan mulai mengabur.

"Dokter Hilman ... tolong aku!" lirihku sangat menyedihkan dengan sisa napas terakhir.

Ponsel terlepas begitu saja dari jari-jariku yang mati rasa, menghantam lantai dengan suara berdebum pelan. Kegelapan seketika menyergap pandanganku, merenggut kesadaranku secara paksa dan membiarkanku jatuh tak sadarkan diri di atas dinginnya ubin kamar.

"Sarah? Sayang? Cepat buka matamu sekarang."

Sebuah suara bariton yang berat dan familier memanggil namaku. Ada usapan yang terasa kasar di kulit, namun penuh penekanan, menyentuh pipiku berulang kali.

"Enggh," erangku pelan. Kelopak mataku terasa sedemikian berat.

"Akhirnya kamu sadar juga, Sayang. Kamu benar-benar membuat Mas nyaris gila karena jantungan melihat kondisimu hari ini."

Mataku terbuka dengan sangat perlahan, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu kamar yang menyilaukan. Saat lensa mataku mulai fokus menangkap objek di depanku, napasku seakan tercekat di pangkal tenggorokan. Jantungku yang tadinya berdetak normal kini seolah berhenti memompa darah detik itu juga.

Tepat di tepi ranjangku, duduk sesosok pria berjas hitam yang dasinya sudah melonggar. Sorot matanya tajam bagai burung elang yang sedang mengunci mangsanya. Pria yang seharusnya tengah berada di kantornya.

"Mas ... Adit?" suaraku keluar sangat serak bak sebuah bisikan putus asa.

"Ya, ini Mas, Sayang," jawab Aditya dengan nada dingin yang menusuk tulang. Sudut bibirnya menyeringai tipis, menguarkan aura yang sangat mengerikan.

"Sekarang, tolong jelaskan pada Mas. Kenapa Mas harus mendobrak pintu depan rumah ini, hanya untuk menemukanmu tergeletak pingsan di lantai kamarmu sendiri dengan wajah sepucat mayat, hm?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Adit ini ... black flag tingkat akut
goodnovel comment avatar
Naumi Cantika
ampee pingsan gtuu sarahh....kasiannn diiaa .. beban beraty
goodnovel comment avatar
Maufy Izha
kasihan sarah... lanjut Thor...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 70

    [Sudut Pandang Sarah]Sinar matahari pagi menyelinap hangat, membawa harapan baru di safehouse pegunungan ini. Tepat pukul sepuluh, seorang dokter kandungan wanita berkebangsaan Swiss tiba bersama seorang perawat. Raditya benar-benar menepati janjinya untuk mendatangkan bantuan medis rahasia."Bagaimana keadaan janin saya, Dokter?" tanyaku dengan dada berdebar cemas. Layar USG portable menampilkan siluet kecil yang bergerak pelan di dalam rahimku."Ini sungguh sebuah keajaiban, Nyonya Sarah," dokter wanita itu tersenyum hangat menatapku. "Meskipun Anda memiliki riwayat pendarahan dan stres yang sangat ekstrim di minggu-minggu sebelumnya, bayi di dalam kandungan Anda berkembang dengan luar biasa baik.""Jadi, anak saya benar-benar sehat? Sama sekali tidak ada efek fatal dari malnutrisi kemarin?" ujarku memastikan, tak sanggup membendung air mata kebahagiaan yang mulai menggenang."Sangat sehat, dan detak jantungnya sangat kuat," jawab

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   BAB 69

    [Sudut Pandang Sarah]Tanganku yang bergetar hebat segera menarik selimut, mengubur ponsel satelit itu jauh di balik lipatan kain. Aku memaksakan otot wajahku untuk rileks, meski jantungku tengah berdentum brutal meronta-ronta di dalam sangkar dadaku.Langkah kaki Raditya terdengar begitu tenang. Pria itu meletakkan nampan kayu berisi secangkir teh chamomile yang mengepul hangat di atas nakas. Wajah tampannya yang identik dengan sang diktator itu memancarkan aura kelembutan yang selama ini selalu menjadi oase bagiku. Namun, entah mengapa, peringatan ibuku membuat setiap kelembutan itu kini terasa seperti ilusi optik yang mematikan."Sarah? Ada apa?" Raditya mengernyitkan keningnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatapku dengan raut kekhawatiran yang tampak begitu nyata dan tulus. Tangan besarnya terulur, menyentuh keningku dengan punggung jarinya. "Wajahmu mendadak sangat pucat, dan kau gemetar, Sayang. Apakah perutmu terasa sakit lagi? Atau suhu di

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 68

    [Sudut Pandang Sarah]Bunyi nada putus dari ponsel satelit itu menggema di telingaku, menyisakan kebingungan dan teror yang mendadak menyusup ke pori-pori kulitku. Aku menatap layar hitam di pangkuanku dengan napas memburu."Sepertinya sinyalnya mengalami gangguan sesaat," ucap Raditya dengan suara lembut yang menenangkan. Ia mengusap bahuku, menatapku dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Kenyataan tentang kebohongan Aditya soal biaya rumah sakit itu pasti sangat memukulmu. Biar aku ambilkan segelas air hangat ke dapur agar kau bisa sedikit lebih rileks, ya?"Aku hanya mengangguk kaku, pikiranku masih berputar liar memproses jeritan histeris ibuku barusan. Raditya tersenyum tipis, lalu beranjak dari tepi ranjang dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu itu dengan pelan.Begitu Raditya menghilang dari pandangan, tanganku yang bergetar hebat langsung menyambar ponsel satelit tersebut. Aku segera menekan tombol panggil ulang ke nomo

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 67

    [Sudut Pandang Sarah]"Operasi ... tidak pernah ada?" suaraku tercekat, mengulangi kalimat Ibu dengan napas yang mendadak terasa begitu sesak. Mataku membelalak ngeri, menatap ponsel satelit di pangkuanku seakan benda hitam itu baru saja berubah menjadi ular berbisa."Iya, Nduk," isak Ibu semakin menjadi, suaranya terdengar begitu merana dan penuh penyesalan yang mendalam. "Malam itu Aditya mengaku semuanya sambil menangis memukul lantai seperti orang gila. Dia menyuap seluruh tim dokter spesialis di rumah sakit itu sejak awal! Sakit jantung Ibu memang ada, Sarah, tapi tidak pernah separah itu sampai-sampai harus dioperasi dengan biaya miliaran rupiah ke Singapura! Dia sengaja memalsukan rekam medis itu, membuat biayanya melambung tinggi tak masuk akal, hanya agar kamu merasa sangat putus asa dan terpaksa menerima lamarannya demi uang!"Udara di sekitarku seolah disedot habis. Kebenaran yang baru saja terungkap ini menghantam kewarasanku bagaikan goda

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   BAB 66

    [Sudut Pandang Sarah]Mendengar permohonanku yang diiringi isak tangis tertahan, Raditya tidak langsung menjawab. Ia menatapku lekat selama beberapa detik. Ada kehangatan luar biasa yang memancar dari manik mata kelamnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia merogoh saku sweaternya dan mengeluarkan sebuah ponsel satelit berwarna hitam pekat, berukuran sedikit lebih tebal dari ponsel pada umumnya."Aku sudah berjanji padamu, Sarah. Dan aku adalah pria yang akan selalu menepati janji," ucapnya dengan senyum yang sangat menenangkan. "Sistem enkripsi pada ponsel satelit ini memiliki tingkat keamanan militer. Kembaranku yang gila itu tidak akan pernah bisa melacak frekuensi kita dari benua ini."Tangan Raditya bergerak lincah menekan sederet angka sandi di layar. Ia mengaktifkan mode pengeras suara agar aku bisa mendengarnya dengan jelas, lalu meletakkan benda pipih itu dengan hati-hati tepat di atas pangkuanku.Nada sambung berbunyi dua kali se

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 65 Fajar Baru di Swiss

    [Sudut Pandang Sarah]Kelopak mataku perlahan terbuka, menyambut pendar cahaya keemasan yang terasa begitu hangat menyapu wajahku. Bukan lagi cahaya lampu neon putih rumah sakit yang menyilaukan dan terasa mengintimidasi. Melainkan, bias cahaya matahari pagi yang menembus lembut celah tirai kayu.Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Aroma kayu pinus dan seduhan teh chamomile seketika mengurai sisa-sisa ketegangan di sarafku. Aku tengah berbaring di atas ranjang berukuran besar dengan selimut bulu yang teramat tebal dan nyaman. Sebuah perapian menyala tenang di sudut ruangan, mengusir hawa beku khas pegunungan."Kau sudah bangun, Sayang? Bagaimana tidurmu semalaman?"Suara bariton yang lembut itu membuatku menoleh cepat ke arah pintu. Raditya melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu. Pria itu sudah tidak lagi memakai topeng silikon atau seragam dokter curiannya. Ia mengenakan sweater rajut berwarna krem yang membuatnya terlihat begitu hangat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status