Home / Romansa / Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI / Bagian 2 - Tubuh yang Mengingat Luka

Share

Bagian 2 - Tubuh yang Mengingat Luka

last update publish date: 2026-05-29 23:08:32

"Sayang, kenapa tanganmu gemetar dan terasa sangat dingin? Apa kamu sakit?" tanya Aditya lagi. Suaranya terdengar berat, menuntut jawaban pasti.

Langkahku terhenti di ambang pintu butik. Aku menunduk, menatap tautan tangan kami. Benar kata Aditya, jemariku terasa sedingin es. Tanganku bergetar hebat di dalam genggamannya.

Sejenak, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya karena kelelahan. Namun, di lubuk hatiku, aku tahu kebenarannya. Ini alarm pertahanan dari tubuhku sendiri. Jejak trauma meronta dalam diam. Tubuhku mengingat jelas rasa sakit dan siksaan yang pria ini torehkan di masa lalu.

"Aku ... aku cuma sedikit gugup, Mas," jawabku berbohong, berusaha terdengar tenang.

"Gugup? Sampai gemetar dan sedingin es begini? Kamu yakin tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari Mas?" cecar Aditya dengan sorot mata menyipit tajam.

"Tentu saja tidak ada rahasia yang kusembunyikan, Mas. Aku hanya kepikiran soal pernikahan kita minggu depan. Semua calon pengantin pasti merasakan cemas menjelang hari H, kan?" balasku lembut, memerankan wanita tak berdaya dengan sempurna.

"Hanya itu? Mas perhatikan sejak tadi kamu lebih banyak diam. Tidak biasanya kamu secuek ini saat Mas datang menemuimu."

"Aku benar-benar lelah, Mas. Semalaman aku kurang tidur karena menjaga Ibu di rumah sakit. Kepalaku rasanya ringan sekali, jadi mungkin badanku bereaksi seperti ini. Maaf ya, Mas, kalau sikapku di dalam butik tadi agak menyebalkan dan membuatmu bingung."

Aku harus bersikap semanis mungkin sekarang. Kupaksakan otot-otot wajahku melunak, merangkai sebuah senyuman palsu yang dulu selalu kuberikan padanya. Aku mempererat genggaman tanganku pada jarinya, seolah mencari ketenangan dari sana. Padahal, rasanya persis seperti menggenggam bara api. Aku tidak boleh hancur sekarang demi ibuku.

"Ibu sudah ada perawat khusus yang menjaga di rumah sakit. Untuk apa kamu memaksakan diri begadang menemaninya? Penampilan dan kesehatanmu adalah cerminan diriku di depan rekan bisnisku nanti. Mas tidak mau mereka melihat pengantin wanita yang pucat pasi bak mayat hidup."

"Iya, Mas. Aku paham maksudmu. Mulai besok aku berjanji akan lebih banyak istirahat di rumah. Terima kasih karena Mas sudah memperhatikan kesehatanku dengan detail."

"Baguslah kalau kamu cepat mengerti apa yang Mas mau. Oh ya, bagaimana dengan urusan sisa tagihan rumah sakit? Apa semuanya sudah terselesaikan tanpa kendala?"

"Sudah, Mas. Tagihan bulan ini sudah kuterima tadi pagi. Tapi, nominalnya ternyata sedikit bertambah karena ada biaya obat-obatan baru dari dokter."

"Kamu tenang saja. Siapa lagi pria yang bisa mengurus semuanya kalau bukan calon suamimu ini? Tagihan tersebut akan segera Mas lunasi sore ini juga. Mas juga sudah setuju menanggung penuh biaya dokter spesialis bedah dari Singapura khusus untuk merawat ibumu."

"Terima kasih banyak, Mas. Aku sungguh tidak tahu bagaimana cara membalas seluruh kebaikanmu padaku selama ini. Tanpa bantuan dana dari Mas, aku mungkin sudah lama menyerah dengan keadaan Ibu."

Tanganku semakin berkeringat dingin mendengar ucapannya. Pria ini secara terang-terangan menggunakan uang dan pengobatan ibuku sebagai alat untuk mengikat leherku. Dulu aku menganggapnya sebagai pahlawan, namun kini aku sadar betul bahwa itu adalah harga mahal dari perbudakan seumur hidup yang menantiku kelak.

Aku menelan ludah, berusaha menetralkan gemuruh amarah dan rasa mual di perutku.

"Kamu tidak perlu repot memikirkan cara membalas kebaikanku, sayang. Cukup jadilah sosok istri yang penurut, setia, dan patuh pada setiap perkataan suamimu. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Mas bahagia."

"Aku pasti akan selalu berusaha menjadi istri yang baik dan penurut untukmu, Mas."

"Mas pegang teguh janjimu itu. Sekarang, cobalah tersenyum sedikit lebih lebar lagi untukku. Mas ingin melihat wajah calon istriku yang cantik ini tanpa beban pikiran apa pun."

"Aku sudah terus tersenyum sejak tadi, Mas. Apa senyumanku ini masih terlihat kurang tulus di matamu?"

"Sedikit kurang lepas. Tapi tidak apa-apa, Mas menganggap senyum kaku itu murni karena kamu memang sedang kelelahan. Nanti setelah kita resmi menikah dan tinggal di rumah baru kita, kamu tidak perlu lagi memikirkan hal-hal berat. Tugasmu di sana hanyalah melayani Mas dengan baik setiap saat."

"Tentu saja, Mas. Aku berjanji akan menjadi nyonya rumah yang membanggakan untuk rumah baru kita kelak. Aku akan memastikan semua keperluanmu terpenuhi dengan sempurna."

"Itu baru calon istriku yang pintar. Sekarang, ayo kita naik ke mobil. Mas akan mengantarmu pulang terlebih dahulu sebelum Mas pergi menuju tempat pertemuan bisnis. Kamu bisa menyempatkan diri untuk memejamkan mata di perjalanan nanti."

"Terima kasih atas perhatianmu, Mas. Aku minta maaf karena pada akhirnya aku malah merepotkanmu di sela jadwal kerjamu yang padat hari ini."

"Sama sekali tidak jadi masalah. Untuk calon istriku, Mas selalu bisa meluangkan waktu. Tapi, tolong tunggu sebentar, Sarah."

Langkahku seketika terhenti tepat saat tanganku hendak menarik gagang pintu mobil. Aditya menahan bahuku dengan cengkeraman kuat, lalu memutar tubuhku perlahan agar kembali menghadapnya.

Manik matanya menatapku sangat intens, menyiratkan dengan jelas bahwa ada sesuatu yang belum tuntas di antara kami. Wajahnya menunduk tajam, mengikis jarak hingga aku bisa merasakan hembusan napas hangatnya yang menerpa puncak kepalaku.

Jantungku kembali berpacu liar karena ketakutan.

"Ya, Mas? Ada apa lagi sekarang? Bukankah Mas bilang sedang terburu-buru untuk segera menghadiri rapat penting itu?" tanyaku dengan suara yang kubuat sepolos mungkin.

"Sebenarnya sedari tadi ada satu hal aneh yang terus mengganggu pikiran Mas. Sesuatu yang terasa sangat ganjil dari caramu berbicara dan menatap Mas sejak kita berada di ruang ganti butik tadi."

"Ganjil bagaimana maksudnya, Mas? Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu dengan rinci? Aku benar-benar hanya merasa tidak enak badan karena terlalu memforsir diri."

"Bukan tentang kondisi kesehatan fisikmu. Ini murni tentang sorot matamu padaku. Ada kilatan yang sungguh berbeda dari biasanya. Mas hanya ingin bertanya secara jujur padamu dari hati ke hati sekarang juga. Apa kamu tidak sedang berusaha menyembunyikan sebuah ketakutan tertentu dariku?"

"Ketakutan apa maksud Mas? Masa laluku hanya dipenuhi oleh Ibu dan rentetan pekerjaanku saja. Sama sekali tidak ada rahasia yang kusembunyikan. Kalaupun ada rasa takut, aku hanya takut kelak aku tidak bisa menjadi sosok istri yang sempurna untuk mendampingimu."

"Bukan jenis ketakutan remeh seperti itu yang Mas maksudkan, Sarah. Mas merasa seolah-olah kamu sedang melihat bayangan sesosok monster mengerikan setiap kali kamu menatap wajah Mas hari ini. Katakan padaku sejujurnya, Sarah. Apa sebenarnya yang ...."

Kring! Kring! Kring!

Suara dering nyaring yang melengking dari saku jas hitam Aditya tiba-tiba memecah ketegangan di antara kami berdua.

Aditya sontak mendecak kesal, tulang rahangnya mengeras karena interupsi yang tidak tepat waktu tersebut.

Dengan gerakan kasar, ia merogoh ponsel pintarnya, berniat langsung mematikan panggilan yang mengganggu itu. Namun, ketika kedua matanya tak sengaja melihat deretan nama yang tertera di layar ponsel tersebut, gerakan tangannya seketika terhenti kaku di udara.

Ada raut pias yang melintas sesaat di wajahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Naumi Cantika
sipaaa cehh yang nelepon adityaa ituuu..Sarah jgn takut yaa
goodnovel comment avatar
Syifa ifa rsf
waahh keren cerita nya apakah ada kelanjutan selanjutnya siapa yg menelepo aditiya?
goodnovel comment avatar
bian cilla
jelas takut orang yg membuatnya menderita ada di depan matanya..mau pura2 biasa aja juga gak bisa trauma yg dialami Sarah bener2 nyata
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 70

    [Sudut Pandang Sarah]Sinar matahari pagi menyelinap hangat, membawa harapan baru di safehouse pegunungan ini. Tepat pukul sepuluh, seorang dokter kandungan wanita berkebangsaan Swiss tiba bersama seorang perawat. Raditya benar-benar menepati janjinya untuk mendatangkan bantuan medis rahasia."Bagaimana keadaan janin saya, Dokter?" tanyaku dengan dada berdebar cemas. Layar USG portable menampilkan siluet kecil yang bergerak pelan di dalam rahimku."Ini sungguh sebuah keajaiban, Nyonya Sarah," dokter wanita itu tersenyum hangat menatapku. "Meskipun Anda memiliki riwayat pendarahan dan stres yang sangat ekstrim di minggu-minggu sebelumnya, bayi di dalam kandungan Anda berkembang dengan luar biasa baik.""Jadi, anak saya benar-benar sehat? Sama sekali tidak ada efek fatal dari malnutrisi kemarin?" ujarku memastikan, tak sanggup membendung air mata kebahagiaan yang mulai menggenang."Sangat sehat, dan detak jantungnya sangat kuat," jawab

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   BAB 69

    [Sudut Pandang Sarah]Tanganku yang bergetar hebat segera menarik selimut, mengubur ponsel satelit itu jauh di balik lipatan kain. Aku memaksakan otot wajahku untuk rileks, meski jantungku tengah berdentum brutal meronta-ronta di dalam sangkar dadaku.Langkah kaki Raditya terdengar begitu tenang. Pria itu meletakkan nampan kayu berisi secangkir teh chamomile yang mengepul hangat di atas nakas. Wajah tampannya yang identik dengan sang diktator itu memancarkan aura kelembutan yang selama ini selalu menjadi oase bagiku. Namun, entah mengapa, peringatan ibuku membuat setiap kelembutan itu kini terasa seperti ilusi optik yang mematikan."Sarah? Ada apa?" Raditya mengernyitkan keningnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatapku dengan raut kekhawatiran yang tampak begitu nyata dan tulus. Tangan besarnya terulur, menyentuh keningku dengan punggung jarinya. "Wajahmu mendadak sangat pucat, dan kau gemetar, Sayang. Apakah perutmu terasa sakit lagi? Atau suhu di

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 68

    [Sudut Pandang Sarah]Bunyi nada putus dari ponsel satelit itu menggema di telingaku, menyisakan kebingungan dan teror yang mendadak menyusup ke pori-pori kulitku. Aku menatap layar hitam di pangkuanku dengan napas memburu."Sepertinya sinyalnya mengalami gangguan sesaat," ucap Raditya dengan suara lembut yang menenangkan. Ia mengusap bahuku, menatapku dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Kenyataan tentang kebohongan Aditya soal biaya rumah sakit itu pasti sangat memukulmu. Biar aku ambilkan segelas air hangat ke dapur agar kau bisa sedikit lebih rileks, ya?"Aku hanya mengangguk kaku, pikiranku masih berputar liar memproses jeritan histeris ibuku barusan. Raditya tersenyum tipis, lalu beranjak dari tepi ranjang dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu itu dengan pelan.Begitu Raditya menghilang dari pandangan, tanganku yang bergetar hebat langsung menyambar ponsel satelit tersebut. Aku segera menekan tombol panggil ulang ke nomo

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 67

    [Sudut Pandang Sarah]"Operasi ... tidak pernah ada?" suaraku tercekat, mengulangi kalimat Ibu dengan napas yang mendadak terasa begitu sesak. Mataku membelalak ngeri, menatap ponsel satelit di pangkuanku seakan benda hitam itu baru saja berubah menjadi ular berbisa."Iya, Nduk," isak Ibu semakin menjadi, suaranya terdengar begitu merana dan penuh penyesalan yang mendalam. "Malam itu Aditya mengaku semuanya sambil menangis memukul lantai seperti orang gila. Dia menyuap seluruh tim dokter spesialis di rumah sakit itu sejak awal! Sakit jantung Ibu memang ada, Sarah, tapi tidak pernah separah itu sampai-sampai harus dioperasi dengan biaya miliaran rupiah ke Singapura! Dia sengaja memalsukan rekam medis itu, membuat biayanya melambung tinggi tak masuk akal, hanya agar kamu merasa sangat putus asa dan terpaksa menerima lamarannya demi uang!"Udara di sekitarku seolah disedot habis. Kebenaran yang baru saja terungkap ini menghantam kewarasanku bagaikan goda

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   BAB 66

    [Sudut Pandang Sarah]Mendengar permohonanku yang diiringi isak tangis tertahan, Raditya tidak langsung menjawab. Ia menatapku lekat selama beberapa detik. Ada kehangatan luar biasa yang memancar dari manik mata kelamnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia merogoh saku sweaternya dan mengeluarkan sebuah ponsel satelit berwarna hitam pekat, berukuran sedikit lebih tebal dari ponsel pada umumnya."Aku sudah berjanji padamu, Sarah. Dan aku adalah pria yang akan selalu menepati janji," ucapnya dengan senyum yang sangat menenangkan. "Sistem enkripsi pada ponsel satelit ini memiliki tingkat keamanan militer. Kembaranku yang gila itu tidak akan pernah bisa melacak frekuensi kita dari benua ini."Tangan Raditya bergerak lincah menekan sederet angka sandi di layar. Ia mengaktifkan mode pengeras suara agar aku bisa mendengarnya dengan jelas, lalu meletakkan benda pipih itu dengan hati-hati tepat di atas pangkuanku.Nada sambung berbunyi dua kali se

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 65 Fajar Baru di Swiss

    [Sudut Pandang Sarah]Kelopak mataku perlahan terbuka, menyambut pendar cahaya keemasan yang terasa begitu hangat menyapu wajahku. Bukan lagi cahaya lampu neon putih rumah sakit yang menyilaukan dan terasa mengintimidasi. Melainkan, bias cahaya matahari pagi yang menembus lembut celah tirai kayu.Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Aroma kayu pinus dan seduhan teh chamomile seketika mengurai sisa-sisa ketegangan di sarafku. Aku tengah berbaring di atas ranjang berukuran besar dengan selimut bulu yang teramat tebal dan nyaman. Sebuah perapian menyala tenang di sudut ruangan, mengusir hawa beku khas pegunungan."Kau sudah bangun, Sayang? Bagaimana tidurmu semalaman?"Suara bariton yang lembut itu membuatku menoleh cepat ke arah pintu. Raditya melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu. Pria itu sudah tidak lagi memakai topeng silikon atau seragam dokter curiannya. Ia mengenakan sweater rajut berwarna krem yang membuatnya terlihat begitu hangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status