Share

6

last update publish date: 2026-06-19 23:49:31

Cengkeraman tangan Aditya di rahangku terasa semakin mengerat, seolah ia bisa meremukkan tulang-tulang wajahku kapan saja ia mau.

Sepasang manik mata hitamnya berkilat tajam, menyorotkan amarah yang berpadu dengan rasa curiga yang teramat pekat.

"Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa kamu berani menyembunyikan kehamilan ini dariku?!" bentaknya lagi.

Suara baritonnya menggema hingga memekakkan telingaku.

"Mas ... sakit ... tolong lepaskan jarimu," rintihku dengan suara tercekik.

Air mata ketakutan yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah ruah membasahi punggung tangannya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan padaku, apa kamu sengaja merencanakan sesuatu yang busuk di belakangku? Kamu berniat menggugurkan anak ini secara diam-diam?!" cecar Aditya tanpa ampun, nadanya kian meninggi.

"Demi Tuhan, Mas! Aku sama sekali tidak tahu kalau aku sedang hamil!" jeritku dengan sisa tenaga, menatap tepat ke dalam matanya dengan raut wajah memelas.

"Aku bersumpah, Mas! Aku benar-benar tidak tahu ada janin di dalam perutku!"

Perlahan, tekanan jari-jemarinya di rahangku mulai mengendur, meski ia tidak sepenuhnya menarik tangannya menjauh. "Jangan berani membohongiku. Mana mungkin ada seorang wanita dewasa yang tidak sadar jika dirinya sedang mengandung, hm? Kamu pikir aku ini pria bodoh?"

"Aku sungguh tidak berbohong, Mas," isakku, membiarkan tubuhku bergetar hebat untuk meyakinkannya.

"Haidku memang tidak pernah teratur sejak Ibu divonis sakit parah. Kadang aku bisa tidak datang bulan selama dua bulan penuh hanya karena kelelahan dan stres memikirkan biaya rumah sakit. Bagaimana aku bisa curiga kalau aku sedang hamil?"

Aditya terdiam sejenak. Rahangnya masih menegang keras, mencoba mencari celah kebohongan di wajahku yang kini basah oleh air mata.

"Lalu kenapa kamu terus-terusan bersikap aneh sejak siang tadi? Kenapa kamu menatapku seolah aku ini monster yang akan menyakitimu?"

Aku buru-buru menggelengkan kepala, menyentuh lengan kekarnya dengan kedua tanganku yang gemetar.

Otakku berputar cepat, merangkai narasi manis yang paling masuk akal untuk meredam kecurigaannya.

"Aku bersikap seperti itu karena aku merasa sangat pusing dan mual di butik tadi, Mas. Tapi aku takut setengah mati kalau kamu akan marah besar jika aku tiba-tiba meminta pulang dan menunda fitting gaun pengantin kita. Aku cuma ingin terlihat cantik dan sempurna di matamu, di hari pernikahan kita kelak. Aku tidak mau mengecewakanmu."

"Jadi kamu sengaja memaksakan diri menahan sakit sampai wajahmu sepucat mayat tadi hanya demi sebuah gaun sialan?!" sergah Aditya. Nada suaranya terdengar sedikit mereda, meski auranya tetap sedingin es.

"Iya, Mas. Aku kira aku hanya masuk angin biasa karena kurang makan dan kelelahan begadang menjaga Ibu. Aku sungguh tidak tahu jika rasa mual dan pusing berlebihan itu ternyata karena ... karena ada bayi ini di perutku," balasku parau.

Kuusap perut rataku perlahan, berpura-pura menunjukkan binar haru yang kupaksakan.

"Mas, jika saja aku tahu aku sedang mengandung buah cinta kita, aku pasti akan menjadi orang pertama yang merayakannya bersamamu. Bukankah kehadiran anak ini adalah kabar paling bahagia untuk pernikahan kita?"

Taktikku rupanya berhasil.

Garis wajah Aditya yang semula kaku penuh amarah, kini perlahan melunak.

Sisa-sisa kemarahan di matanya memudar, digantikan oleh kilatan obsesi yang membuat bulu kudukku meremang ngeri.

Pria itu melepaskan rahangku sepenuhnya.

Tangannya kini bergerak turun, menyentuh telapak tanganku yang bertengger di atas perut, lalu mengusapnya dengan kelembutan yang mematikan.

"Anak kita," gumam Aditya pelan, nyaris seperti sebuah bisikan bangga.

"Di dalam sini ada darah dagingku. Penerus utama keluarga Wardhana."

"Iya, Mas. Maafkan ibunya yang ceroboh ini, ya. Aku berjanji akan lebih berhati-hati lagi mulai sekarang," balasku dengan senyum bergetar, memerankan sosok wanita rapuh yang sangat bergantung padanya.

Di balik wajah patuhku, batinku menjerit frustasi.

Hatiku hancur lebur diiringi rasa sedih yang menyayat dada.

Bayi di dalam perutku ini adalah satu-satunya alasan mengapa di masa lalu aku rela bertahan di dalam neraka pernikahan Aditya.

Namun kini, sang monster justru telah mengetahui keberadaan bayiku jauh sebelum aku sempat melarikan diri.

Jika dulu ia hanya menganggapku sebagai boneka pemuas nafsu dan pajangan cantiknya, kini dengan adanya janin ini, ia pasti akan mengurungku dalam sangkar besi bertegangan tinggi.

Pengawasannya padaku akan berlipat ganda, dan kebebasanku akan direnggut tanpa sisa.

"Kamu memang sangat ceroboh, Sarah. Terlalu ceroboh," ucap Aditya tiba-tiba, menarikku dari lamunan.

Sorot matanya kembali menajam penuh dominasi. "Dan aku tidak akan membiarkan kecerobohanmu membahayakan nyawa anakku."

"M-maksudmu apa, Mas?" tanyaku gugup.

"Mulai detik ini, kamu tidak boleh lagi tinggal sendirian di rumah kontrakan kumuh ini. Malam ini juga, kamu harus pindah ke rumah utamaku," perintahnya mutlak tak terbantahkan.

"Apa? Malam ini juga?!" pekikku tertahan, nyaris kehilangan kendali atas kepanikanku. "Tapi, Mas ... bagaimana dengan barang-barangku? Pakaianku? Lalu bagaimana jika Ibu menanyakanku besok?"

"Persetan dengan barang-barang murahanmu itu! Aku bisa membelikanmu ratusan pakaian baru yang jauh lebih mahal malam ini juga!" bentak Aditya, sama sekali tidak menerima penolakan.

"Aku akan menempatkan lima pengawal pribadi khusus untuk mengawasimu. Tidak akan ada satupun lalat yang berani menyentuh kulitmu dan anakku."

"Mas, tolong jangan berlebihan. Aku kan cuma hamil muda, bukan sedang sakit parah yang butuh penjagaan seketat itu," rayuku memelas, berusaha menyentuh belas kasihnya yang mungkin tersisa.

"Lagipula, kata Pak Yanto besok pagi Mas harus terbang mengurus bisnis ke Surabaya, kan? Kalau aku disuruh pindah malam ini, aku malah akan kesepian sendirian di rumah besarmu yang asing itu tanpa kehadiranmu."

Aditya mendengus kasar. "Justru karena aku akan berada di luar kota selama beberapa hari, kamu harus berada di tempat yang paling aman. Rumahku dilengkapi sistem keamanan berlapis dan puluhan penjaga bersenjata. Kamu dan anakku akan sangat aman di sana saat aku tidak ada."

Sistem keamanan berlapis dan puluhan penjaga?

Jantungku seakan berhenti berdetak mendengarnya.

Jika malam ini aku menurut dan masuk ke dalam rumah mewahnya itu, aku tidak akan pernah bisa keluar lagi hidup-hidup.

Rencanaku akan mati berkalang tanah malam ini juga.

"Izinkan aku tinggal di sini satu malam lagi saja, Mas. Kumohon," pintaku dengan suara merintih, menggenggam erat jari-jarinya.

"Besok pagi-pagi sekali aku sudah berjanji pada Ibu untuk datang menjenguk dan menyuapinya sarapan di rumah sakit. Setelah urusan dengan Ibu selesai, aku berjanji akan langsung berkemas dan pindah ke rumahmu dengan diantar Pak Yanto. Boleh, ya, Mas?"

Aditya menyipitkan matanya, menimbang-nimbang permohonanku dengan tatapan curiga yang masih tersisa. "Kamu yakin bisa memastikan keselamatan anak kita malam ini tanpa pengawasanku secara langsung?"

"Tentu saja, Mas. Ada Bi Ningsih di sebelah yang bisa kupanggil kapan saja. Besok jam enam pagi, Pak Yanto juga sudah standby menjemputku di depan gang. Aku berjanji tidak akan melangkah keluar selangkah pun malam ini dari rumah ini. Aku akan langsung tidur setelah kamu pulang."

Keheningan yang mencekam kembali mengudara selama beberapa detik.

Aditya akhirnya menghela napas panjang, mengusap puncak kepalaku dengan posesif.

"Baiklah. Aku berikan kelonggaran untuk satu malam ini saja. Tapi ingat pesanku baik-baik, Sarah. Besok pagi setelah kamu selesai dari rumah sakit, hidupmu dan anak ini sepenuhnya berada di bawah kendaliku secara absolut."

"Tentu, Mas. Terima kasih banyak karena sudah mau mengerti," bisikku sambil menundukkan kepala.

Aditya mungkin berpikir ia telah menang telak menguasai seluruh jalan hidupku. Namun ia tidak tahu, di balik wajah menundukku, aku tengah merapatkan barisan gigi kuat-kuat.

Kepanikanku perlahan memudar, tergantikan oleh sebuah tekad nekat yang menyala sangat liar.

Aku tidak punya waktu tiga hari lagi.

Aku tidak bisa menunggu besok pagi.

Sangkar besiku sudah di depan mata dan siap ditutup rapat-rapat.

Apa pun risikonya, aku harus menyegerakan niatku.

Aku akan membawa ibuku kabur dari neraka ini malam ini juga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   10

    "Mbak Rina, yakin mau turun di stasiun transit ini? Bukannya tiket Mbak tujuan akhirnya masih jauh di Yogyakarta?" tegur seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahku. Ia menatapku dengan kening berkerut saat melihatku buru-buru menyandang ransel."Iya, Bu. Saya baru ingat ada urusan keluarga yang sangat mendadak di kota ini. Saya harus turun sekarang sebelum keretanya berangkat lagi," balasku cepat seraya memaksakan seulas senyum gugup."Oh, begitu. Hati-hati di jalan ya, Mbak. Wajah Mbak kelihatan pucat sekali, jangan lupa makan siang nanti.""Terima kasih banyak atas perhatiannya, Bu. Saya duluan, permisi," pamitku seraya melangkah tergesa menyusuri lorong gerbong.Aku harus melakukannya.Otakku baru saja memproses betapa berbahayanya posisiku saat ini. Aditya bukanlah pria sembarangan. Ia adalah monster dengan kekayaan dan kekuasaan tak terbatas. Jika aku tetap duduk manis di kereta eksekutif menuju Yogyakarta ini, para pen

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   9

    Laju kereta eksekutif ini terasa begitu mulus membelah pinggiran ibu kota, berbanding terbalik dengan gemuruh hebat yang tengah mengacaukan dadaku. Tanganku yang sedingin es masih gemetar saat memasukkan sebuah kartu SIM baru yang sempat kubeli dari gerai kecil di dalam stasiun tadi.Aku harus bergerak cepat. Sebelum Aditya benar-benar mengunci semua aksesku, aku harus memastikan Ibu selamat.Begitu sinyal ponselku penuh, aku segera menekan deretan nomor ekstensi ruang rawat inap VVIP tempat Ibu dirawat. Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya diangkat."Halo, Suster Rini? Ini saya, Sarah," ucapku cepat dengan suara setengah berbisik agar tidak memancing perhatian penumpang lain."Mbak Sarah?! Ya Tuhan, akhirnya Mbak menelepon juga! Suster dari tadi sudah nyaris gila karena kebingungan mencari cara menghubungi Mbak!" Suara Suster Rini terdengar panik di seberang sana."Tenanglah dulu, Sus. Saya sekarang sudah berada di

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   8

    Napas kasarku memburu cepat saat kakiku menuruni puluhan anak tangga darurat hotel. Sengatan matahari langsung menyambutku. Aku berlari kencang menuju jalan raya, melambaikan tangan dengan panik ke arah taksi yang melintas."Pak, tolong ke stasiun kereta pusat sekarang juga! Cepat, Pak!" seruku begitu berhasil menerobos masuk ke jok belakang.Sopir paruh baya itu menoleh dari kaca spion, matanya membelalak kaget. "Loh, Mbak ini kan pakai gaun pengantin mahal? Kok malah lari-larian sendirian keluar hotel begini, Mbak? Acara resepsi nikahannya di dalam sana gimana?""Tolong jangan banyak tanya dulu, Pak. Tolong jalan saja secepat mungkin menjauh dari hotel ini! Nyawa saya dan bayi saya sedang terancam jika ketahuan. Saya pasti akan membayar ongkos taksinya tiga kali lipat jika Bapak bisa mengemudi dengan cepat!" pintaku memelas, terus menoleh ke belakang kaca jendela."Waduh, iya, iya, Mbak! Ini saya injak gas dalam-dalam. Mbak tenang dulu

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   7

    "Baiklah, Mas akan mengalah untuk malam ini," hembusan napas berat Aditya akhirnya memecah ketegangan yang sejak tadi mengudara di dalam kamarku. "Kamu boleh tinggal di sini satu malam lagi." "Terima kasih banyak, Mas Adit. Aku berjanji besok setelah dari rumah sakit, aku akan langsung mengemasi barangku dan pindah ke rumahmu," balasku cepat. Sengaja kutundukkan wajahku dalam-dalam agar pria di hadapanku ini tidak bisa melihat binar kelegaan, sekaligus kilatan kebohongan di mataku. "Tapi Mas punya satu syarat mutlak yang tidak bisa kamu tawar lagi, Sarah." Jari telunjuknya terangkat, menunjuk tepat di depan wajahku dengan gerakan memperingatkan. "Kamu harus benar-benar menjaga dirimu baik-baik malam ini. Ingat, ada nyawa penerusku di dalam perutmu sekarang. Jangan pernah melakukan hal-hal ceroboh yang bisa membahayakan kandunganmu." "Tentu saja aku akan menjaganya dengan nyawaku, Mas

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   6

    Cengkeraman tangan Aditya di rahangku terasa semakin mengerat, seolah ia bisa meremukkan tulang-tulang wajahku kapan saja ia mau.Sepasang manik mata hitamnya berkilat tajam, menyorotkan amarah yang berpadu dengan rasa curiga yang teramat pekat."Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa kamu berani menyembunyikan kehamilan ini dariku?!" bentaknya lagi.Suara baritonnya menggema hingga memekakkan telingaku."Mas ... sakit ... tolong lepaskan jarimu," rintihku dengan suara tercekik.Air mata ketakutan yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah ruah membasahi punggung tangannya."Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan padaku, apa kamu sengaja merencanakan sesuatu yang busuk di belakangku? Kamu berniat menggugurkan anak ini secara diam-diam?!" cecar Aditya tanpa ampun, nadanya kian meninggi."Demi Tuhan, Mas! Aku sama sekali tidak tahu kalau aku sedang hamil!" jeritku dengan sisa tenaga, menatap tepat ke dalam matanya dengan raut wajah memelas."Aku bersumpah, Mas! Aku benar-benar ti

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   5

    Udara di dalam kamarku mendadak terasa sedingin es.Wajah Aditya mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan otot yang menonjol jelas di bawah kulitnya. Tatapannya begitu masam dan menusuk, menyiratkan kemarahan luar biasa yang sengaja ditahan.Seringai tipis yang tadi sempat menghiasi bibirnya kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh gurat gelap yang membuat nyaliku menciut drastis."Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa aku harus repot-repot mendobrak pintu depan rumahmu hanya untuk menemukanmu tak sadarkan diri di lantai?!" bentak Aditya.Suara baritonnya menggema keras, memantul di dinding kamarku yang sempit dan pengap."Aku ... aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi padaku, Mas," cicitku dengan suara bergetar hebat.Aku meremas ujung selimut. "Tadi aku hanya berniat untuk tidur siang sejenak, lalu kepalaku tiba-tiba terasa pusing luar biasa.""Hanya pusing biasa lalu ambruk tak berdaya seperti mayat? Kamu pikir aku pria bodoh yang bisa kau tipu mentah-mentah dengan ala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status