LOGIN"Mbak Rina, yakin mau turun di stasiun transit ini? Bukannya tiket Mbak tujuan akhirnya masih jauh di Yogyakarta?" tegur seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelahku. Ia menatapku dengan kening berkerut saat melihatku buru-buru menyandang ransel."Iya, Bu. Saya baru ingat ada urusan keluarga yang sangat mendadak di kota ini. Saya harus turun sekarang sebelum keretanya berangkat lagi," balasku cepat seraya memaksakan seulas senyum gugup."Oh, begitu. Hati-hati di jalan ya, Mbak. Wajah Mbak kelihatan pucat sekali, jangan lupa makan siang nanti.""Terima kasih banyak atas perhatiannya, Bu. Saya duluan, permisi," pamitku seraya melangkah tergesa menyusuri lorong gerbong.Aku harus melakukannya.Otakku baru saja memproses betapa berbahayanya posisiku saat ini. Aditya bukanlah pria sembarangan. Ia adalah monster dengan kekayaan dan kekuasaan tak terbatas. Jika aku tetap duduk manis di kereta eksekutif menuju Yogyakarta ini, para pen
Laju kereta eksekutif ini terasa begitu mulus membelah pinggiran ibu kota, berbanding terbalik dengan gemuruh hebat yang tengah mengacaukan dadaku. Tanganku yang sedingin es masih gemetar saat memasukkan sebuah kartu SIM baru yang sempat kubeli dari gerai kecil di dalam stasiun tadi.Aku harus bergerak cepat. Sebelum Aditya benar-benar mengunci semua aksesku, aku harus memastikan Ibu selamat.Begitu sinyal ponselku penuh, aku segera menekan deretan nomor ekstensi ruang rawat inap VVIP tempat Ibu dirawat. Nada sambung berbunyi tiga kali sebelum akhirnya diangkat."Halo, Suster Rini? Ini saya, Sarah," ucapku cepat dengan suara setengah berbisik agar tidak memancing perhatian penumpang lain."Mbak Sarah?! Ya Tuhan, akhirnya Mbak menelepon juga! Suster dari tadi sudah nyaris gila karena kebingungan mencari cara menghubungi Mbak!" Suara Suster Rini terdengar panik di seberang sana."Tenanglah dulu, Sus. Saya sekarang sudah berada di
Napas kasarku memburu cepat saat kakiku menuruni puluhan anak tangga darurat hotel. Sengatan matahari langsung menyambutku. Aku berlari kencang menuju jalan raya, melambaikan tangan dengan panik ke arah taksi yang melintas."Pak, tolong ke stasiun kereta pusat sekarang juga! Cepat, Pak!" seruku begitu berhasil menerobos masuk ke jok belakang.Sopir paruh baya itu menoleh dari kaca spion, matanya membelalak kaget. "Loh, Mbak ini kan pakai gaun pengantin mahal? Kok malah lari-larian sendirian keluar hotel begini, Mbak? Acara resepsi nikahannya di dalam sana gimana?""Tolong jangan banyak tanya dulu, Pak. Tolong jalan saja secepat mungkin menjauh dari hotel ini! Nyawa saya dan bayi saya sedang terancam jika ketahuan. Saya pasti akan membayar ongkos taksinya tiga kali lipat jika Bapak bisa mengemudi dengan cepat!" pintaku memelas, terus menoleh ke belakang kaca jendela."Waduh, iya, iya, Mbak! Ini saya injak gas dalam-dalam. Mbak tenang dulu
"Baiklah, Mas akan mengalah untuk malam ini," hembusan napas berat Aditya akhirnya memecah ketegangan yang sejak tadi mengudara di dalam kamarku. "Kamu boleh tinggal di sini satu malam lagi." "Terima kasih banyak, Mas Adit. Aku berjanji besok setelah dari rumah sakit, aku akan langsung mengemasi barangku dan pindah ke rumahmu," balasku cepat. Sengaja kutundukkan wajahku dalam-dalam agar pria di hadapanku ini tidak bisa melihat binar kelegaan, sekaligus kilatan kebohongan di mataku. "Tapi Mas punya satu syarat mutlak yang tidak bisa kamu tawar lagi, Sarah." Jari telunjuknya terangkat, menunjuk tepat di depan wajahku dengan gerakan memperingatkan. "Kamu harus benar-benar menjaga dirimu baik-baik malam ini. Ingat, ada nyawa penerusku di dalam perutmu sekarang. Jangan pernah melakukan hal-hal ceroboh yang bisa membahayakan kandunganmu." "Tentu saja aku akan menjaganya dengan nyawaku, Mas
Cengkeraman tangan Aditya di rahangku terasa semakin mengerat, seolah ia bisa meremukkan tulang-tulang wajahku kapan saja ia mau.Sepasang manik mata hitamnya berkilat tajam, menyorotkan amarah yang berpadu dengan rasa curiga yang teramat pekat."Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa kamu berani menyembunyikan kehamilan ini dariku?!" bentaknya lagi.Suara baritonnya menggema hingga memekakkan telingaku."Mas ... sakit ... tolong lepaskan jarimu," rintihku dengan suara tercekik.Air mata ketakutan yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah ruah membasahi punggung tangannya."Jangan mengalihkan pembicaraan! Katakan padaku, apa kamu sengaja merencanakan sesuatu yang busuk di belakangku? Kamu berniat menggugurkan anak ini secara diam-diam?!" cecar Aditya tanpa ampun, nadanya kian meninggi."Demi Tuhan, Mas! Aku sama sekali tidak tahu kalau aku sedang hamil!" jeritku dengan sisa tenaga, menatap tepat ke dalam matanya dengan raut wajah memelas."Aku bersumpah, Mas! Aku benar-benar ti
Udara di dalam kamarku mendadak terasa sedingin es.Wajah Aditya mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan otot yang menonjol jelas di bawah kulitnya. Tatapannya begitu masam dan menusuk, menyiratkan kemarahan luar biasa yang sengaja ditahan.Seringai tipis yang tadi sempat menghiasi bibirnya kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh gurat gelap yang membuat nyaliku menciut drastis."Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa aku harus repot-repot mendobrak pintu depan rumahmu hanya untuk menemukanmu tak sadarkan diri di lantai?!" bentak Aditya.Suara baritonnya menggema keras, memantul di dinding kamarku yang sempit dan pengap."Aku ... aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi padaku, Mas," cicitku dengan suara bergetar hebat.Aku meremas ujung selimut. "Tadi aku hanya berniat untuk tidur siang sejenak, lalu kepalaku tiba-tiba terasa pusing luar biasa.""Hanya pusing biasa lalu ambruk tak berdaya seperti mayat? Kamu pikir aku pria bodoh yang bisa kau tipu mentah-mentah dengan ala







