Share

5

last update publish date: 2026-06-02 09:35:56

Udara di dalam kamarku mendadak terasa sedingin es.

Wajah Aditya mengeras, rahangnya terkatup rapat dengan otot yang menonjol jelas di bawah kulitnya. Tatapannya begitu masam dan menusuk, menyiratkan kemarahan luar biasa yang sengaja ditahan.

Seringai tipis yang tadi sempat menghiasi bibirnya kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh gurat gelap yang membuat nyaliku menciut drastis.

"Jawab pertanyaanku sekarang juga, Sarah! Kenapa aku harus repot-repot mendobrak pintu depan rumahmu hanya untuk menemukanmu tak sadarkan diri di lantai?!" bentak Aditya.

Suara baritonnya menggema keras, memantul di dinding kamarku yang sempit dan pengap.

"Aku ... aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi padaku, Mas," cicitku dengan suara bergetar hebat.

Aku meremas ujung selimut. "Tadi aku hanya berniat untuk tidur siang sejenak, lalu kepalaku tiba-tiba terasa pusing luar biasa."

"Hanya pusing biasa lalu ambruk tak berdaya seperti mayat? Kamu pikir aku pria bodoh yang bisa kau tipu mentah-mentah dengan alasan murahan seperti itu?!" cecarnya tanpa ampun, mencondongkan tubuhnya semakin dekat hingga aku bisa mencium dengan jelas aroma mint dan tembakau dari embusan napasnya.

Aku menelan ludah.

Rentetan pertanyaan sebenarnya berdesakan kuat di ujung lidahku.

Bagaimana kamu bisa ada di sini secepat ini?

Bukankah kamu sedang mengadakan rapat sangat penting dengan Tuan Tanakami dari Jepang?

Kenapa kamu sampai rela membatalkan kontrak bernilai triliunan rupiah itu hanya untuk menyusulku ke kontrakan kumuh ini?

Namun, tak satu pun dari pertanyaan itu berani kusuarkan dari mmulutku

Menatap raut wajahnya yang sehitam awan badai saat ini, insting bertahan hidupku berteriak sangat keras memperingatkan agar aku diam.

Satu kata yang salah terucap, pria di hadapanku ini pasti akan meledak dan menghancurkan segalanya.

"Pak Yanto melapor dengan sangat jelas padaku bahwa kamu turun dari mobilnya dengan keadaan sangat sehat dan segar bugar. Dia bahkan melihatmu mengobrol santai dengan tetanggamu di depan pagar!" Aditya kembali bersuara, nadanya kini turun satu oktaf namun jauh lebih mengintimidasi nyaliku.

"Lalu kenapa dalam hitungan menit kamu tiba-tiba mengunci pintu dari dalam, memasang gerendel besinya, dan berakhir pingsan di lantai kamarmu sendiri dengan wajah penuh keringat dingin?"

"Itulah kebenarannya, Mas. Aku sungguh kepanasan saat berjalan kaki masuk ke dalam gang tadi. Begitu sampai di dalam rumah, pandanganku tiba-tiba berkunang-kunang hebat. Aku buru-buru mengunci pintu karena teringat pesan tegas Mas Adit agar aku selalu waspada di rumah. Setelah itu, semuanya mendadak menjadi gelap gulita. Aku bersumpah tidak berbohong sedikitpun padamu," ucapku setengah memelas, memaksakan sebulir air mata jatuh meluncur di pipi untuk meyakinkannya.

Aditya mendengus sangat kasar.

Ia bangkit berdiri dari tepi ranjang, lalu berkacak pinggang menatapku tajam dari atas. Tangan kanannya mengusap wajahnya sendiri dengan gerakan frustrasi.

"Kamu tahu betapa paniknya perasaanku saat Bi Ningsih tiba-tiba meneleponku dengan suara histeris?"

Aku tersentak pelan mendengar ucapannya. Bi Ningsih yang meneleponnya?

"Tetanggamu yang cerewet itu merasa sangat curiga karena rumahmu mendadak sepi seperti kuburan, padahal kamu baru saja pulang dengan wajah pucat pasi."

"Dia menggedor jendelamu berkali-kali dari luar tapi tidak ada sahutan sama sekali darimu. Karena dia kebetulan memegang kartu nama pribadiku, dia langsung berinisiatif menghubungiku detik itu juga!" jelas Aditya tajam, seolah bisa membaca dengan mudah raut kebingungan di mataku.

"Aku sampai harus meninggalkan Tuan Tanakami begitu saja di lobi perusahaanku, memacu mobilku seperti orang gila membelah kemacetan ibu kota, hanya demi mendobrak pintu sialan itu untuk menyelamatkanmu!"

"Maafkan aku, Mas. Aku benar-benar minta maaf karena kecerobohanku sudah merusak pertemuan bisnis pentingmu hari ini," ucapku lirih, menundukkan kepala dalam-dalam.

Jantungku berdetak tak keruan di dalam rongga dada.

Fakta bahwa dia tanpa ragu mengabaikan tamu VIP-nya demi menyusulku kemari justru membuatku semakin ketakutan setengah mati.

Obsesinya padaku di kehidupan masa lalu ternyata masih sama gilanya, atau bahkan jauh lebih gila dari yang kuingat.

"Kata maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menebus kepanikan luar biasa yang kurasakan hari ini, Sarah," desisnya sangat dingin.

Ia kembali duduk di tepi ranjang, mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Tidak sampai menyakiti tulangku, tapi terlampau cukup untuk membuatku tak bisa berkutik sedikitpun.

"Lalu apa yang harus kulakukan agar Mas memaafkanku? Tolong jangan marah lagi, Mas. Kepalaku saat ini masih berdenyut sangat sakit," pintaku merintih pelan, sungguh-sungguh berharap ia mau melepaskan cengkeraman tangannya.

"Aku tidak akan pernah marah jika kamu mau berhenti bersikap penuh teka-teki sejak kita berada di butik tadi siang. Pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu sampai kondisi fisikmu hancur seperti ini, kan? Katakan padaku sekarang juga, siapa yang berani mengganggumu? Siapa bajingan yang berani menyakitimu di belakangku?!"

"Sama sekali tidak ada orang yang menggangguku, Mas Adit. Aku hanya terlalu memforsir diri dan lelah memikirkan jadwal operasi Ibu serta persiapan resepsi pernikahan kita. Aku mungkin juga kurang makan makanan yang bergizi akhir-akhir ini," elakku terus-menerus, berusaha gigih mempertahankan skenario palsu ini.

"Kurang makan yang bergizi?" Aditya membeo ucapanku dengan sebuah senyum miring yang sangat menyeramkan di wajah tampannya.

"Jadi menurut pembelaanmu barusan, kamu jatuh pingsan sampai nyaris kehilangan denyut nadi tadi murni karena kelelahan dan kurang asupan gizi?"

"Iya, Mas. Memangnya karena alasan apa lagi? Aku tidak punya riwayat penyakit berat apa pun seumur hidupku yang perlu kusembunyikan."

Aditya seketika terdiam seribu bahasa.

Manik mata kelamnya menatapku lekat-lekat, menelusuri setiap inci lekuk wajahku dengan tatapan menilai yang tajam.

Keheningan yang tiba-tiba melanda kamar ini terasa jauh lebih mencekik leher daripada teriakan amarahnya tadi.

Aku menahan napas saat jemari besarnya perlahan bergerak naik dari pergelangan tanganku, mengelus lenganku, lalu merayap naik menyentuh permukaan pipiku yang masih terasa dingin.

"Kamu ternyata pandai sekali merangkai kata-kata manis untuk menenangkanku, Sayang. Hampir saja aku memercayai semua omong kosong yang keluar dari bibirmu itu," bisiknya persis di depan wajahku.

"Omong kosong apa maksudmu, Mas? Aku berkata jujur sejujur-jujurnya padamu tanpa ada yang kututupi."

"Berhenti bermain-main denganku, Sarah!" bentaknya tiba-tiba mengejutkanku.

Ia menepis pipiku dengan kasar lalu mundur selangkah menjauhi ranjang.

Napasnya memburu sangat cepat.

"Kamu pikir aku akan membiarkanmu tergeletak nyaris mati begitu saja tanpa penanganan medis yang layak? Saat melihatmu tak sadarkan diri, aku langsung memanggil Dokter Frans, dokter pribadi kepercayaanku, untuk datang kemari dan memeriksamu secara menyeluruh dari ujung kepala sampai ujung kaki!"

Darah di seluruh aliran tubuhku seakan tersedot habis detik itu juga. Dokter Frans? Dokter pribadi keluarga Wardhana yang sangat teliti dan tidak bisa disuap itu baru saja memeriksaku saat aku pingsan tadi?

Kedua mataku membelalak ngeri tak terkendali.

Tubuhku seketika bergetar sangat hebat.

Rahasiaku!

Apakah Dokter Frans menemukan rahasia terbesarku?!

"Kenapa wajahmu kembali memucat pasi sekarang, hm? Takut kebohongan terbesarmu akhirnya terbongkar di depanku?" ejek Aditya dengan suara rendah yang sarat akan ancaman mematikan.

"A-apa maksudmu, Mas? Dokter Frans bilang apa soal hasil pemeriksaanku? A-aku beneran cuma sakit lambung dan kelelahan biasa, kan?" sangkalku kalut dengan suara yang kini pecah dan terbata-bata hebat.

"Jangan berani-beraninya menyebut nama penyakit lain untuk menutupi kebenaran sialan ini dariku!" Aditya meraih sebuah amplop putih berlogo rumah sakit dari atas nakas di samping ranjangku, lalu melemparnya dengan sangat kasar hingga mendarat tepat di atas pangkuanku.

"Apa isi amplop ini, Mas?" tanyaku ragu dengan kedua belah tangan gemetar menyentuh ujung amplop tersebut.

"Buka dan baca sendiri hasil pemeriksaan medis sialan dari Dokter Frans itu menggunakan kedua matamu!" perintahnya mutlak tak terbantahkan.

Aku sama sekali tak punya pilihan lain untuk mengelak. Dengan napas yang kian tersengal, kutarik lipatan kertas di dalam amplop putih tersebut.

Deretan huruf medis dan angka tercetak sangat jelas di sana, namun pandanganku langsung tertuju pada satu kalimat kesimpulan yang dicetak tebal di bagian paling bawah kertas putih itu.

Usia kehamilan: 4 Minggu.

Kertas itu terlepas begitu saja dari tanganku yang melemas, melayang perlahan sebelum jatuh berserakan di atas selimut.

Dunia rasanya benar-benar runtuh menimpa kepalaku saat ini jjuga

Rencanaku untuk kabur esok pagi, usahaku untuk memindahkan Ibuku dari rumah sakit, serta niatku menyembunyikan bayi ini dari sang monster mengerikan, semuanya hancur lebur berantakan bahkan sebelum sempat dimulai.

Aditya menerjang maju, mencengkeram kuat kedua sisi rahangku dengan satu tangan besarnya yang kokoh.

Ia memaksaku mendongak ke atas menatap matanya yang kini menyala merah penuh murka membara.

Cengkeramannya begitu kuat menekan tulang wajahku hingga aku nyaris tak bisa membuka mulut untuk sekadar merintih kesakitan.

"Sekarang, tatap lurus mataku dan katakan dengan jujur, Sarah!" desisnya penuh amarah tepat di depan bibirku yang gemetar, seolah ia siap menerkam dan mengoyakku hidup-hidup.

"Kenapa kamu berani sekali menyembunyikan fakta bahwa kamu sedang mengandung anakku? Rencana busuk apa yang sebenarnya sedang kamu susun di belakangku selama ini?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Naumi Cantika
km knpo ga percaya dehh Ama istri sendiri dit .gmn bisa tenang istri mu KLO Kya gituuu
goodnovel comment avatar
bian cilla
Adit serem banget sumpah...obsesi dia ke Sarah bener2 membuat Sarah tidak bisa bergerak leluasa bahkan bernafas pun susah
goodnovel comment avatar
bian cilla
ya ampun Sarah ternyata dia sudah hamil dan Adit sudah tau..bakalan semakin sulit untuk kabur dari Adit sarah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 70

    [Sudut Pandang Sarah]Sinar matahari pagi menyelinap hangat, membawa harapan baru di safehouse pegunungan ini. Tepat pukul sepuluh, seorang dokter kandungan wanita berkebangsaan Swiss tiba bersama seorang perawat. Raditya benar-benar menepati janjinya untuk mendatangkan bantuan medis rahasia."Bagaimana keadaan janin saya, Dokter?" tanyaku dengan dada berdebar cemas. Layar USG portable menampilkan siluet kecil yang bergerak pelan di dalam rahimku."Ini sungguh sebuah keajaiban, Nyonya Sarah," dokter wanita itu tersenyum hangat menatapku. "Meskipun Anda memiliki riwayat pendarahan dan stres yang sangat ekstrim di minggu-minggu sebelumnya, bayi di dalam kandungan Anda berkembang dengan luar biasa baik.""Jadi, anak saya benar-benar sehat? Sama sekali tidak ada efek fatal dari malnutrisi kemarin?" ujarku memastikan, tak sanggup membendung air mata kebahagiaan yang mulai menggenang."Sangat sehat, dan detak jantungnya sangat kuat," jawab

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   BAB 69

    [Sudut Pandang Sarah]Tanganku yang bergetar hebat segera menarik selimut, mengubur ponsel satelit itu jauh di balik lipatan kain. Aku memaksakan otot wajahku untuk rileks, meski jantungku tengah berdentum brutal meronta-ronta di dalam sangkar dadaku.Langkah kaki Raditya terdengar begitu tenang. Pria itu meletakkan nampan kayu berisi secangkir teh chamomile yang mengepul hangat di atas nakas. Wajah tampannya yang identik dengan sang diktator itu memancarkan aura kelembutan yang selama ini selalu menjadi oase bagiku. Namun, entah mengapa, peringatan ibuku membuat setiap kelembutan itu kini terasa seperti ilusi optik yang mematikan."Sarah? Ada apa?" Raditya mengernyitkan keningnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatapku dengan raut kekhawatiran yang tampak begitu nyata dan tulus. Tangan besarnya terulur, menyentuh keningku dengan punggung jarinya. "Wajahmu mendadak sangat pucat, dan kau gemetar, Sayang. Apakah perutmu terasa sakit lagi? Atau suhu di

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 68

    [Sudut Pandang Sarah]Bunyi nada putus dari ponsel satelit itu menggema di telingaku, menyisakan kebingungan dan teror yang mendadak menyusup ke pori-pori kulitku. Aku menatap layar hitam di pangkuanku dengan napas memburu."Sepertinya sinyalnya mengalami gangguan sesaat," ucap Raditya dengan suara lembut yang menenangkan. Ia mengusap bahuku, menatapku dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Kenyataan tentang kebohongan Aditya soal biaya rumah sakit itu pasti sangat memukulmu. Biar aku ambilkan segelas air hangat ke dapur agar kau bisa sedikit lebih rileks, ya?"Aku hanya mengangguk kaku, pikiranku masih berputar liar memproses jeritan histeris ibuku barusan. Raditya tersenyum tipis, lalu beranjak dari tepi ranjang dan melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu itu dengan pelan.Begitu Raditya menghilang dari pandangan, tanganku yang bergetar hebat langsung menyambar ponsel satelit tersebut. Aku segera menekan tombol panggil ulang ke nomo

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 67

    [Sudut Pandang Sarah]"Operasi ... tidak pernah ada?" suaraku tercekat, mengulangi kalimat Ibu dengan napas yang mendadak terasa begitu sesak. Mataku membelalak ngeri, menatap ponsel satelit di pangkuanku seakan benda hitam itu baru saja berubah menjadi ular berbisa."Iya, Nduk," isak Ibu semakin menjadi, suaranya terdengar begitu merana dan penuh penyesalan yang mendalam. "Malam itu Aditya mengaku semuanya sambil menangis memukul lantai seperti orang gila. Dia menyuap seluruh tim dokter spesialis di rumah sakit itu sejak awal! Sakit jantung Ibu memang ada, Sarah, tapi tidak pernah separah itu sampai-sampai harus dioperasi dengan biaya miliaran rupiah ke Singapura! Dia sengaja memalsukan rekam medis itu, membuat biayanya melambung tinggi tak masuk akal, hanya agar kamu merasa sangat putus asa dan terpaksa menerima lamarannya demi uang!"Udara di sekitarku seolah disedot habis. Kebenaran yang baru saja terungkap ini menghantam kewarasanku bagaikan goda

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   BAB 66

    [Sudut Pandang Sarah]Mendengar permohonanku yang diiringi isak tangis tertahan, Raditya tidak langsung menjawab. Ia menatapku lekat selama beberapa detik. Ada kehangatan luar biasa yang memancar dari manik mata kelamnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia merogoh saku sweaternya dan mengeluarkan sebuah ponsel satelit berwarna hitam pekat, berukuran sedikit lebih tebal dari ponsel pada umumnya."Aku sudah berjanji padamu, Sarah. Dan aku adalah pria yang akan selalu menepati janji," ucapnya dengan senyum yang sangat menenangkan. "Sistem enkripsi pada ponsel satelit ini memiliki tingkat keamanan militer. Kembaranku yang gila itu tidak akan pernah bisa melacak frekuensi kita dari benua ini."Tangan Raditya bergerak lincah menekan sederet angka sandi di layar. Ia mengaktifkan mode pengeras suara agar aku bisa mendengarnya dengan jelas, lalu meletakkan benda pipih itu dengan hati-hati tepat di atas pangkuanku.Nada sambung berbunyi dua kali se

  • Rebirth : OBSESI MANTAN SUAMI   Bab 65 Fajar Baru di Swiss

    [Sudut Pandang Sarah]Kelopak mataku perlahan terbuka, menyambut pendar cahaya keemasan yang terasa begitu hangat menyapu wajahku. Bukan lagi cahaya lampu neon putih rumah sakit yang menyilaukan dan terasa mengintimidasi. Melainkan, bias cahaya matahari pagi yang menembus lembut celah tirai kayu.Kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Aroma kayu pinus dan seduhan teh chamomile seketika mengurai sisa-sisa ketegangan di sarafku. Aku tengah berbaring di atas ranjang berukuran besar dengan selimut bulu yang teramat tebal dan nyaman. Sebuah perapian menyala tenang di sudut ruangan, mengusir hawa beku khas pegunungan."Kau sudah bangun, Sayang? Bagaimana tidurmu semalaman?"Suara bariton yang lembut itu membuatku menoleh cepat ke arah pintu. Raditya melangkah masuk membawa sebuah nampan kayu. Pria itu sudah tidak lagi memakai topeng silikon atau seragam dokter curiannya. Ia mengenakan sweater rajut berwarna krem yang membuatnya terlihat begitu hangat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status