Share

Berbagi Ranjang

Author: Yoru Akira
last update publish date: 2026-04-01 17:21:59

Seraphina tidak mundur. Ia justru mendongak, menatap Killian dengan keberanian yang sama seperti saat ia menghadapi Valerius.

"Saya sudah bertekad untuk menyerahkan hidup saya pada badai Utara saat saya mengajukan tawaran pada Anda, Tuan Duke.

"Berbagi tempat tidur di tengah badai salju hanyalah bagian kecil dari taruhan itu."

Killian terdiam, lalu sebuah dengusan kecil lolos dari bibirnya.

"Baiklah. Tapi jangan salahkan aku jika aku menarik semua selimutnya saat aku terlelap."

Keheninga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Bukti yang tak Bisa Disangkal

    Keheningan menyelimuti halaman benteng setelah ucapan tajam Seraphina meluncur. Lily, yang tadinya merasa di atas angin, mengerutkan kening. Senyum kemenangan Lady Allen sedikit memudar, digantikan oleh kilat kewaspadaan. "Apa maksudmu?" desis Lily, suaranya nyaris tertelan deru angin malam. Seraphina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah perlahan kembali ke arah barisan ksatria. Kali ini, ia tidak menatap tangan mereka. Matanya yang ungu, setajam elang yang mengincar mangsa, menyisir bagian bawah jubah dan perlengkapan tambahan para ksatria. "Maxwell," panggil Seraphina lembut, namun nada suaranya membuat ksatria itu kembali menegang. "Ya, Lady?" "Berapa lama kalian beristirahat di kaki bukit sebelum memasuki gerbang utama?" Maxwell tampak berpikir sejenak. "Hanya sekitar lima belas menit, Lady. "Tuan Duke memerintahkan agar kami segera sampai sebelum badai turun." Seraphina mengangguk perlahan. Ia berhenti tepat di depan salah satu ksatria yang berada di barisan pa

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Gunakan Akalmu Lain Kali, Lady

    Raut muka Lily menegang. Sorot matanya menatap Killian dengan tatapan pengharapan. "Apa maksudmu, Killian? Oakhaven? Aku tidak membawa apa pun dari sana!" Sementara Seraphina menyunggingkan senyum tipis, senyum yang tak pernah mencapai matanya.Perempuan itu melangkah mendekati Lily, hingga ujung gaun mereka bersentuhan di atas salju yang kotor. "Nona Allen, sebenarnya saya tak yakin sebelumnya. Tapi, begitu mendengar ucapan Tuan Duke, saya menyadari bahwa penciuman saya selalu benar," bisik Seraphina, suaranya cukup keras untuk didengar para ksatria. "Zat ini disebut Vitriol Ungu. Hanya diproduksi terbatas di wilayah Barat."Bukankah itu cukup dekat dengan perkebunan keluarga Allen? Dan baunya... sangat khas, seperti mawar yang membusuk." Wajah Lily memucat pasi. Sapu tangannya jatuh ke atas salju yang kini ternoda cairan hitam. "Kalau begitu, kita akan mencari tahu siapa pelakunya segera," lanjut Killian sembari memberi tanda pada para penjaga untuk mengurung area halaman.

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Sabotase

    Langit di atas Benteng Eisenhardt telah berubah menjadi ungu pekat yang mencekam saat rombongan Grand Duke Killian melintasi gerbang utama. Deru roda kereta yang berat di atas bebatuan kastil terdengar seperti guntur yang teredam. Namun, di balik kelelahan fisik para ksatria, ada ketegangan yang merambat lebih cepat daripada hawa dingin malam itu. Lily von Allen berdiri di teras utama, menggenggam sapu tangan sutranya dengan jemari yang gemetar karena kegembiraan yang meluap. Perempuan itu mengenakan gaun beludru paling megah yang ia miliki. Wajahnya dipulas rona merah yang tampak kontras dengan salju di sekitarnya. "Killian!" Lily berseru.Suaranya melengking riang, seolah perselisihan di balkon tempo hari tak pernah terjadi.Lily berlari kecil mendekati kuda Killian yang masih mendengus mengeluarkan uap panas. Killian turun dari pelana dengan gerakan efisien, namun segera mengangkat tangan untuk memberi jarak saat Lily mencoba mendekat. "Jangan sekarang, Lily. Kami baru saja

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Harga yang Sepadan

    Rombongan Grand Duke Killian mulai melambat saat jalur setapak di hutan Pegunungan Kelabu semakin menyempit dan menanjak. Udara yang tipis membawa aroma belerang yang samar. Pertanda bahwa mereka sudah dekat dengan "kuali raksasa" tersembunyi itu. Seraphina memacu kudanya hingga sejajar dengan Killian. Mata ungu miliknya menatap lurus ke arah punggungan es di depan.Tempat di mana beberapa minggu lalu ia nyaris kehilangan nyawa di ujung tombak sang kepala suku. "Kau tampak jauh lebih tenang kali ini, Lady Seraphina," ucap Killian. Suaranya berat namun ada nada hangat yang terselip di sana. Pria itu melirik perempuan di sampingnya yang kini mengenakan jubah bulu serigala pemberian Duchess Sophia—sebuah kontras dari jubah tipis Selatan yang ia kenakan saat pertama kali mendaki gunung ini. "Tentu saja. Saya datang untuk menagih hasil, bukan untuk bernegosiasi dari titik nol, Tuan Duke," sahut Seraphina datar. Ia menepuk saku jubahnya. Tempat di mana bros perak keluarga Astrea yang

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Dendam Lady Allen

    Sinar matahari pagi di dataran Utara tidak pernah benar-benar terasa hangat; ia hanya muncul sebagai pendar pucat yang memantul di atas hamparan salju abadi. Di halaman utama Benteng Eisenhardt, kesibukan pecah sejak fajar menyingsing. Puluhan kereta kuda bermuatan gandum, karung-karung umbi-umbian, peti kayu berisi pasokan obat-obatan herbal dan bahkan emas, telah berjajar rapi. Di sudut balkon lantai dua, Lily von Allen berdiri tersembunyi di balik pilar batu yang dingin."Kau boleh bangga dengan nama keluargamu, Lady. Tapi aku pasti akan menemukan celah kekuranganmu," bisik Lily pada dirinya sendiri.Matanya yang sembab menatap tajam ke arah sosok perempuan yang sedang memeriksa daftar logistik di tengah halaman. Seraphina von Astrea tampak begitu mencolok dengan jubah biru tua berhias bulu serigala perak. Tidak ada lagi gaun sutra tipis khas Selatan; ia telah sepenuhnya beradaptasi dengan fungsionalitas Utara. Namun keanggunannya tetap mengintimidasi."Kau mencari lawan yang

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Identitas Sang Lady

    Lily tersentak mendengar ucapan Seraphina yang terdengar menghina sang putra mahkota. "Apa kau bilang?" Lily meninggikan nada bicaranya. "Beraninya mulut kotormu itu menghina Putra Mahkota!" Benar, siapa pun pasti tahu hukum kekaisaran Valeranthia. Barang siapa yang menghina anggota kekaisaran, sama saja dengan menghina seluruh kekaisaran Valeranthia itu sendiri. Tapi, Seraphina? Dia hanya mengungkapkan fakta. Tidak peduli orang lain sependapat dengannya atau tidak. Apalagi putri Baron von Allen yang kini berdiri di depannya. "Pada faktanya, Nona Allen," Seraphina merendahkan nada bicaranya sebelum melanjutkan,"Putra Mahkota yang Anda agungkan itu, dia sudah kehilangan takhta-nya. "Jadi, apa benar Anda sudah mendengar yang terjadi di Ibukota?" "Omong kosong yang Anda ucapkan, Lady? Pangeran Valerius adalah satu-satunya penerus kekaisaran Valeranthia yang sah. Kalau bukan dia, siapa lagi yang berhak naik takhta? "Kalau memang sekarang dia kehilangan gelar putra mahkotanya,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status