Mag-log in
"Ugh!"
Suaranya tersekat, ketika sensasi terbakar itu mulai menyerang tenggorokannya. Racun itu merambat secepat kilat. Mencabik-cabik paru-parunya hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca yang membara. Seraphina von Astrea terbatuk, dan saat ia melihat telapak tangannya, cairan kental berwarna merah gelap telah menodai kulit pucatnya. Cring! Cawan perak berukir lambang kekaisaran itu tergeletak tak berdaya di lantai marmer. Berputar sebentar sebelum akhirnya berhenti di dekat ujung sepatu bot kulit yang sangat ia kenali. Sosok Seraphina kini bersimpuh, merayap dengan sisa tenaga di bawah kaki suaminya. Tangannya yang gemetar menggapai udara. Jemarinya yang berlumuran darah berusaha mencengkeram jubah kebesaran emas pria yang baru saja ia hantarkan ke puncak tertinggi kekuasaan. "Valerius..." bisik Seraphina. Suaranya parau, pecah oleh cairan yang menyumbat kerongkongannya. "Tolong... panggil... dokter... seseorang berusaha meracuni permaisurimu..." Pria yang telah ia cintai selama lima tahun itu sama sekali tidak bergerak. Valerius D’Argenteau Valeranthia VIII hanya berdiri menjulang seperti patung dewa yang tak tersentuh. Pria itu menatap istrinya dari ketinggian takhtanya dengan sorot mata yang jauh lebih dingin daripada salju abadi di puncak Utara. Tidak ada kilat cinta, tidak ada kepanikan, bahkan tidak ada setetes pun penyesalan. Yang tersisa hanyalah kepuasan bengis yang tersungging di sudut bibirnya. "Permaisuriku? Dasar perempuan bodoh," suara Valerius bergema. Memantul di dinding-dinding aula perjamuan yang kini terasa seperti makam. "Apa kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan orang sepertimu tetap hidup setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan? "Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan bernapas di samping takhtaku." Seraphina tertegun, rasa sakit di dadanya kalah oleh hantaman kata-kata itu. "Apa... maksudmu? Aku... aku yang merencanakan segalanya untukmu..." "Justru karena itu!" Valerius membungkuk sedikit, menatap mata Seraphina yang mulai berair. "Kau membangun tangga untukku menuju takhta ini dengan tanganmu yang berdarah. Kau tahu semua rahasiaku. Kau tahu bagaimana aku menjatuhkan ayahku sendiri. "Di dunia politik, Seraphina, orang yang paling berguna adalah orang yang paling pertama harus disingkirkan setelah tugasnya usai. "Kau adalah noda terakhir yang harus kuhapus agar sejarah mencatatku sebagai kaisar yang suci." Rahang Valerius semakin mengencang. "Kalau saja kau bisa hamil dan mengandung anakku, kau mungkin masih bisa berguna lebih lama. "Sayangnya kau mandul Seraphina. Kau tak ada gunanya lagi!" Langkah kaki yang ringan dan anggun terdengar mendekat dari balik pilar besar di sudut ruangan. Seorang wanita muncul dengan gaun merah menyala yang berkibar indah, kontras dengan gaun perak Seraphina yang kini kotor. Liza, adik tiri yang selalu ia manjakan, melangkah dengan dagu terangkat. "Kakakku yang malang," Liza berujar, suaranya merdu namun kini terdengar begitu tajam. "Masih tidak mengerti juga? Padahal kau selalu membanggakan kecerdasanmu di depan ayah. "Kau kebanggaan Astrea, tapi aku tidak menyangka hanya segini kecerdasan yang kau anggap dapat menyelamatkanmu itu?" "Liza... kau..." "Ssh," Liza meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang dipoles gincu merah darah. Perempuan yang lima tahun lebih muda dari Seraphina itu tertawa kecil. Suara yang dulu dianggap Seraphina sebagai simfoni termanis, kini terdengar seperti desis ular yang siap mematuk. "Valerius tidak pernah membutuhkanmu sebagai permaisuri. Seorang kaisar butuh pendamping yang memujanya, bukan wanita yang mendikte setiap langkah politiknya. "Dia hanya membutuhkan strategimu untuk menggulingkan kaisar tua yang keras kepala itu. Dan sekarang..." Liza berjalan melintasi tubuh Seraphina yang sekarat seolah-olah kakaknya hanyalah tumpukan sampah di lantai. Tanpa ragu, ia menghambur ke pelukan Valerius. Seraphina menyaksikan dengan mata yang mulai mengabur saat suaminya menarik pinggang Liza dengan posesif—tangan yang masih mengenakan cincin pernikahan mereka kini membelai pipi adiknya. Valerius menyambut ciuman panas Liza dengan gairah yang tak pernah ia tunjukkan pada Seraphina selama bertahun-tahun pernikahan mereka. "Kau memang pantas menjadi ratuku, Liza," ucap Valerius pelan setelah tautan bibir mereka terlepas. "Hanya kau yang mengerti bagaimana cara merayakan kemenangan ini." Setiap kata itu menghantam dada Seraphina lebih menyakitkan daripada racun mana pun yang sedang merusak organ tubuhnya. Amarah mendidih dalam darahnya yang mendingin. Inilah upah bagi kesetiaannya. Ia telah mengkhianati nuraninya, menghancurkan musuh-musuh Valerius, dan merancang pemberontakan berdarah hanya untuk menyaksikan suaminya memberikan mahkota yang ia perjuangkan kepada wanita lain. "Selamat tinggal, Kakak. Sekarang tempatmu, takhtamu, dan pria ini... semuanya adalah milikku!" Liza melepaskan diri dari Valerius dan berlutut di samping Seraphina. Dengan gerakan kasar, Liza menjambak rambut Seraphina, memaksa kepala kakaknya terdongak. Ia mengambil sisa cairan hitam di dalam cawan perak tadi dan menuangkannya paksa ke mulut Seraphina yang terengah. "Minumlah sampai habis. Aku tidak ingin ada keajaiban yang membuatmu tetap hidup," bisik Liza tepat di telinganya. Seraphina tersedak, cairan pahit itu membanjiri paru-parunya. Pandangannya mulai gelap, namun api kebencian di matanya belum padam. Ia menatap Valerius dan Liza yang kini berdiri berdampingan, terlihat seperti pasangan sempurna di atas penderitaannya. 'Aku bersumpah...' desis Seraphina dalam hati yang hancur. Matanya membelalak, merekam setiap inci wajah para pengkhianat itu untuk terakhir kalinya. 'Jika ada kehidupan setelah neraka ini... jika ada dewa yang masih adil... aku akan kembali. Aku akan merobek senyum itu dari wajah kalian dan memastikan kalian memohon kematian lebih dariku saat ini!' Kegelapan total akhirnya menelan segalanya. Kesadarannya hilang, menyisakan keheningan di aula kerajaan Valeranthia yang agung namun terkutuk.Tiga bulan berlalu begitu cepat di bawah naungan musim semi yang sedang hangat-hangatnya di Kekaisaran Valeranthia. Ibukota Luxandria bergemuruh dalam kemegahan dan sukacita. Merayakan sebuah peristiwa sakral yang telah lama dinantikan oleh para bangsawan dan rakyat jelata. Katedral Agung Kekaisaran dihiasi oleh jutaan kelopak bunga mawar putih dan pita sutra perak yang menjuntai anggun di setiap pilar marmernya. Lonceng suci berdentang merdu. Memecah keheningan pagi dengan kidung kebahagiaan yang menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Di hadapan altar suci, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan wibawa yang tak tertandingi. Noah von Astrea mengenakan jubah kebesaran bangsawan berwarna hitam legam bergaris sulaman perak murni. Sorot mata hijau yang biasanya memancarkan ketegasan militer kini tampak melembut. Dipenuhi oleh debar jantung yang luar biasa serta binar antisipasi yang tak bisa ia sembunyikan lagi. "Dia benar-benar seperti orang yang berbeda," bisi
Obrolan di meja makan itu perlahan-lahan terpecah menjadi beberapa kelompok kecil. Jeremiah sibuk menceritakan strategi perbatasan di wilayah Kekaisaran Valeranthia kepada Kaelen dan Elianora dengan gaya bercerita yang dramatis.Sementara Killian dan Seraphina asyik berbincang berdua, sengaja memberikan ruang privasi bagi dua orang yang duduk di ujung meja. Di tengah suara dentingan alat makan yang berpadu dengan alunan musik instrumental dari koridor luar, suasana di sekitar Noah dan Sabrina terasa lebih tenang.Namun diisi oleh debar jantung yang sama-sama bergemuruh. Noah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian yang biasanya ia kerahkan saat memimpin ribuan pasukan di medan perang. Ia meletakkan garpu dan pisaunya dengan rapi di atas piring, lalu menoleh sepenuhnya ke arah wanita di sampingnya. "Lady Sabrina," panggil Noah dengan suara baritonnya yang tenang, meski ada getar tipis yang berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. Sabrina, yang baru saja hendak
Mendengar penuturan sang permaisuri, Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang dimaksud. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang memukau. "Terima kasih, Yang Mulia," ujar Sabrina sebelum menuju kursi yang disebutkan sang permaisuri.Dengan langkah anggun dan terukur, ia berjalan mendekati meja makan. Mengabaikan debar-debar penasaran dari para tamu lain yang tidak tahu menahu tentang rencana terselubung di balik jamuan ini.Di sisi lain, Noah merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak mengalir deras ke kepala. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Berusaha mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan wibawa.Meski telapak tangannya di bawah meja kini basah oleh keringat dingin. Ia merutuki adiknya dalam hati; 'Sera benar-benar sengaja melakukannya. Apa dia tahu sesuatu?'"Selamat malam, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri. Dan selamat malam untuk para petinggi keluarga Astrea," sapa Sabrina dengan suara lembutnya yang khas, begitu ia ti
Killian mendengus geli mendengar jawaban telak dari kakak iparnya itu. Sebelum ia sempat melontarkan komentar balasan untuk menjahili Noah, Seraphina sudah lebih dulu menyenggol pelan lengan suaminya dengan tatapan memperingatkan. Menyiratkan agar sang kaisar tidak mencari gara-gara di hari pertemuan keluarga yang berharga ini. "Sudahlah, Killian. Jangan mulai berdebat di hadapan anak-anak," tegur Seraphina lembut. Suaranya mengandung otoritas manis yang langsung membuat sang kaisar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Wanita itu kemudian beralih menatap kedua kakaknya dengan senyuman ramah. "Mari masuk ke paviliun. Perjamuan malam sudah disiapkan di ruang makan terbuka, dan koki istana baru saja memanggang daging domba kesukaan kalian." "Baguslah, karena perjalanan ke mari membuat perutku keroncongan," sahut Jeremiah ringan. Merangkul pundak sang kakak sulung sambil berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan paviliun yang megah. Suasana hangat langsung mendominas
Noah menarik napas panjang. Membiarkan udara sore yang sejuk mengisi paru-parunya sebelum ia berbalik menghadap sang adik yang masih duduk bersantai di sofa. "Katakan padaku, Jeremiah," ujar Noah dengan nada serius namun terselip sedikit seringai di bibirnya. "Apakah pasukan khususmu di perbatasan barat sudah tidak ada kerjaan lagi, sampai-sampai kau punya banyak waktu luang untuk mampir ke ruang kerjaku dan mengurusi masalah percintaanku?" Jeremiah terbahak pelan, menegakkan punggungnya lalu berdiri merapikan seragam militer kekaisaran yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. "Tentu saja ada, Kak. Tapi mengejek seorang kepala keluarga Astrea yang hampir berkarat di balik meja kerjanya jauh lebih menghibur daripada melihat peta perbatasan." "Sialan kau," balas Noah melempar gulungan kertas kosong ringan ke arah adiknya, yang dengan sigap ditangkap oleh Jeremiah sambil tertawa lepas. "Sudahlah, jangan pasang wajah masam begitu," ucap Jeremiah sambil melangkah menuju pintu k
Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas atap menara tinggi Kediaman Utama Keluarga Astrea. Berbeda dengan suasana hangat dan penuh gelak tawa di istana kekaisaran, kediaman keluarga Astrea selalu memancarkan aura ketenangan yang khidmat, teratur, dan dijaga ketat oleh disiplin militer yang ketat. Di ruang kerja pribadi kepala keluarga, Noah von Astrea duduk di balik meja kerja marmer hitam. Dipenuhi oleh tumpukan gulungan dokumen perbatasan dan laporan keuangan wilayah keluarga tersebut. "Kalau kau terus seperti ini, kau akan mati bahkan sebelum sempat menikah, Noah!" bisik pria itu pada dirinya sendiri. Ia mulai lelah akibat setiap hari harus berkutat dengan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Usianya kini telah menginjak kepala tiga. Garis rahangnya semakin tegas, dan sorot mata hijaunya memancarkan wibawa mutlak dari seorang pemimpin.Seorang pemimpin yang berhasil membawa keluarganya keluar dari bayang-bayang kehancuran masa lalu.Namun, di usianya saat ini, i
Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak perna
Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung
Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap
Hosh! Seraphina tersentak bangun, tubuhnya melengkung ke atas seolah baru saja ditarik paksa dari kedalaman samudra yang gelap. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya; setiap tarikan napas terasa rakus. Seolah-olah paru-parunya masih tidak percaya bahwa udara yang ia hirup bukanlah pecahan kaca







