共有

Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang
Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang
作者: Yoru Akira

Pengkhianatan

作者: Yoru Akira
last update 公開日: 2026-02-04 20:05:22

"Ugh!"

Suaranya tersekat, ketika sensasi terbakar itu mulai menyerang tenggorokannya. Racun itu merambat secepat kilat. Mencabik-cabik paru-parunya hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca yang membara.

Seraphina von Astrea terbatuk, dan saat ia melihat telapak tangannya, cairan kental berwarna merah gelap telah menodai kulit pucatnya.

Cring!

Cawan perak berukir lambang kekaisaran itu tergeletak tak berdaya di lantai marmer. Berputar sebentar sebelum akhirnya berhenti di dekat ujung sepatu bot kulit yang sangat ia kenali.

Sosok Seraphina kini bersimpuh, merayap dengan sisa tenaga di bawah kaki suaminya. Tangannya yang gemetar menggapai udara.

Jemarinya yang berlumuran darah berusaha mencengkeram jubah kebesaran emas pria yang baru saja ia hantarkan ke puncak tertinggi kekuasaan.

"Valerius..." bisik Seraphina. Suaranya parau, pecah oleh cairan yang menyumbat kerongkongannya. "Tolong... panggil... dokter... seseorang berusaha meracuni permaisurimu..."

Pria yang telah ia cintai selama lima tahun itu sama sekali tidak bergerak. Valerius D’Argenteau Valeranthia VIII hanya berdiri menjulang seperti patung dewa yang tak tersentuh.

Pria itu menatap istrinya dari ketinggian takhtanya dengan sorot mata yang jauh lebih dingin daripada salju abadi di puncak Utara.

Tidak ada kilat cinta, tidak ada kepanikan, bahkan tidak ada setetes pun penyesalan. Yang tersisa hanyalah kepuasan bengis yang tersungging di sudut bibirnya.

"Permaisuriku? Dasar perempuan bodoh," suara Valerius bergema. Memantul di dinding-dinding aula perjamuan yang kini terasa seperti makam.

"Apa kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan orang sepertimu tetap hidup setelah aku mendapatkan apa yang kuinginkan?

"Kau terlalu berbahaya untuk dibiarkan bernapas di samping takhtaku."

Seraphina tertegun, rasa sakit di dadanya kalah oleh hantaman kata-kata itu.

"Apa... maksudmu? Aku... aku yang merencanakan segalanya untukmu..."

"Justru karena itu!" Valerius membungkuk sedikit, menatap mata Seraphina yang mulai berair.

"Kau membangun tangga untukku menuju takhta ini dengan tanganmu yang berdarah. Kau tahu semua rahasiaku. Kau tahu bagaimana aku menjatuhkan ayahku sendiri.

"Di dunia politik, Seraphina, orang yang paling berguna adalah orang yang paling pertama harus disingkirkan setelah tugasnya usai.

"Kau adalah noda terakhir yang harus kuhapus agar sejarah mencatatku sebagai kaisar yang suci."

Rahang Valerius semakin mengencang. "Kalau saja kau bisa hamil dan mengandung anakku, kau mungkin masih bisa berguna lebih lama.

"Sayangnya kau mandul Seraphina. Kau tak ada gunanya lagi!"

Langkah kaki yang ringan dan anggun terdengar mendekat dari balik pilar besar di sudut ruangan.

Seorang wanita muncul dengan gaun merah menyala yang berkibar indah, kontras dengan gaun perak Seraphina yang kini kotor.

Liza, adik tiri yang selalu ia manjakan, melangkah dengan dagu terangkat.

"Kakakku yang malang," Liza berujar, suaranya merdu namun kini terdengar begitu tajam.

"Masih tidak mengerti juga? Padahal kau selalu membanggakan kecerdasanmu di depan ayah.

"Kau kebanggaan Astrea, tapi aku tidak menyangka hanya segini kecerdasan yang kau anggap dapat menyelamatkanmu itu?"

"Liza... kau..."

"Ssh," Liza meletakkan jari telunjuk di bibirnya yang dipoles gincu merah darah.

Perempuan yang lima tahun lebih muda dari Seraphina itu tertawa kecil. Suara yang dulu dianggap Seraphina sebagai simfoni termanis, kini terdengar seperti desis ular yang siap mematuk.

"Valerius tidak pernah membutuhkanmu sebagai permaisuri. Seorang kaisar butuh pendamping yang memujanya, bukan wanita yang mendikte setiap langkah politiknya.

"Dia hanya membutuhkan strategimu untuk menggulingkan kaisar tua yang keras kepala itu. Dan sekarang..."

Liza berjalan melintasi tubuh Seraphina yang sekarat seolah-olah kakaknya hanyalah tumpukan sampah di lantai. Tanpa ragu, ia menghambur ke pelukan Valerius.

Seraphina menyaksikan dengan mata yang mulai mengabur saat suaminya menarik pinggang Liza dengan posesif—tangan yang masih mengenakan cincin pernikahan mereka kini membelai pipi adiknya.

Valerius menyambut ciuman panas Liza dengan gairah yang tak pernah ia tunjukkan pada Seraphina selama bertahun-tahun pernikahan mereka.

"Kau memang pantas menjadi ratuku, Liza," ucap Valerius pelan setelah tautan bibir mereka terlepas. "Hanya kau yang mengerti bagaimana cara merayakan kemenangan ini."

Setiap kata itu menghantam dada Seraphina lebih menyakitkan daripada racun mana pun yang sedang merusak organ tubuhnya. Amarah mendidih dalam darahnya yang mendingin.

Inilah upah bagi kesetiaannya. Ia telah mengkhianati nuraninya, menghancurkan musuh-musuh Valerius, dan merancang pemberontakan berdarah hanya untuk menyaksikan suaminya memberikan mahkota yang ia perjuangkan kepada wanita lain.

"Selamat tinggal, Kakak. Sekarang tempatmu, takhtamu, dan pria ini... semuanya adalah milikku!" Liza melepaskan diri dari Valerius dan berlutut di samping Seraphina.

Dengan gerakan kasar, Liza menjambak rambut Seraphina, memaksa kepala kakaknya terdongak. Ia mengambil sisa cairan hitam di dalam cawan perak tadi dan menuangkannya paksa ke mulut Seraphina yang terengah.

"Minumlah sampai habis. Aku tidak ingin ada keajaiban yang membuatmu tetap hidup," bisik Liza tepat di telinganya.

Seraphina tersedak, cairan pahit itu membanjiri paru-parunya. Pandangannya mulai gelap, namun api kebencian di matanya belum padam.

Ia menatap Valerius dan Liza yang kini berdiri berdampingan, terlihat seperti pasangan sempurna di atas penderitaannya.

'Aku bersumpah...' desis Seraphina dalam hati yang hancur. Matanya membelalak, merekam setiap inci wajah para pengkhianat itu untuk terakhir kalinya.

'Jika ada kehidupan setelah neraka ini... jika ada dewa yang masih adil... aku akan kembali. Aku akan merobek senyum itu dari wajah kalian dan memastikan kalian memohon kematian lebih dariku saat ini!'

Kegelapan total akhirnya menelan segalanya. Kesadarannya hilang, menyisakan keheningan di aula kerajaan Valeranthia yang agung namun terkutuk.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Tabir yang Terungkap

    Wanita itu berdiri gemetar. Bahkan ketika tangannya perlahan melepas kancing cadar yang menutupi wajahnya. "Jangan membuatku malu, Seraphina! Cepat buka penutup wajahmu atau aku yang akan menarik paksa!" Suara Count Demarcus semakin meninggi. Namun, perempuan itu justru terlihat ragu-ragu. Seakan mengulur waktu di tengah ketegangan itu. Count Demarcus mulai tidak sabar. Pria itu benar-benar menarik paksa cadar sekaligus jubah yang membungkus tubuh sang wanita. Betapa terkejutnya semua orang ketika mendapati gaun yang dikenakan si wanita. Pakaian yang dikenakan bukannya pakaian perjalanan. Yang terlihat di bawah jubah itu adalah gaun pengantin putih dengan mutiara dan bordiran benang emas serta ungu yang megah. Begitu cadar dilepaskan, jeritan tertahan keluar dari mulut Lilian. Bukan Seraphina. Liza berdiri di sana dengan wajah yang separuh ketakutan namun separuh lagi tampak penuh kemenangan yang gila. "Liza?!" Demarcus terhuyung ke belakang. "Di mana... di mana Sera

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Panggung Sandiwara

    Pagi itu, yang seharusnya menjadi puncak sakral bagi penyatuan dua garis keturunan agung, justru berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam di Benteng Eisenhardt. Udara fajar yang membeku seolah terbelah oleh pekikan yang mengguncang lorong-lorong batu kastil. "Lady Seraphina menghilang! Lady Seraphina tidak ada di kamarnya!" teriakan seorang pelayan yang baru saja keluar dari kamar sang Lady memecah kesunyian. Memicu kehebohan instan yang menjalar seperti api liar ke seluruh penjuru benteng. Killian, yang sudah bersiap dengan pakaian pengantin resminya, muncul di aula utama dengan langkah yang menggetarkan lantai marmer. Namun, alih-alih menunjukkan gurat kecemasan atau simpati sebagai calon suami yang kehilangan pengantinnya, ia justru tampak seperti singa yang murka. Auranya begitu besar dan mengancam, seolah siap meruntuhkan dinding benteng dengan amarahnya. "Apa?!" murka Killian. Suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit aula tampak berjatuhan. "Apa per

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Perjamuan Makan Malam yang Dingin

    Malam itu, aula perjamuan Eisenhardt berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan. Cahaya dari lilin-lilin raksasa memantul pada porselen mahal dan perak yang berkilauan. Namun, ketegangan yang menggantung di udara jauh lebih tajam daripada pisau daging para pelayan. Killian duduk di kursi kebesarannya dengan keanggunan seorang predator. Di sampingnya, kursi yang seharusnya menjadi milik Seraphina dibiarkan kosong. Sementara Liza duduk di kursi berikutnya—terlalu dekat dengan sang Grand Duke. Bahkan Duchess Sophia lagi-lagi memilih tak hadir di meja makan hanya karena sudah mulai muak dengan sikap Killian. Wanita itu bahkan merasa malu sebagai ibu dari pria yang kini dianggap plin-plan oleh banyak orang. "Anggur yang luar biasa, Tuan Duke," suara Demarcus memecah kesunyian. Nadanya mengandung tantangan yang tak disembunyikan. "Tapi, aku bukannya datang jauh-jauh dari Ibukota hanya untuk minum. Di mana Seraphina? Mengapa putriku tidak menyambut ayahnya?" Killian men

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Keluarga Mempelai

    Sore itu, gumpalan salju mulai turun dengan lebih rapat, menutupi jalanan berbatu yang menuju ke jantung Kastil Eisenhardt. Di tengah kesunyian Utara yang menggigit, gemerincing lonceng dari kereta-kereta kuda mewah mulai terdengar. Dua kereta kuda dengan lambang keluarga Astra berhenti tepat di halaman megah kastil. Kereta pertama, yang berhias ukiran emas paling rumit, mengangkut Demarcus von Astrea dan istrinya, Lilian. Suasana di dalam kabin kereta itu jauh lebih dingin daripada udara di luar sana. Demarcus duduk tegak, tangannya mencengkeram tongkat kayu ebony dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah dinding batu kastil yang kokoh, seolah ingin meruntuhkannya hanya dengan tatapan mata. "Kau yakin tetap ingin memberikan mereka restu, Demarcus?" bisik Lilian pelan. Suaranya bergetar, antara rasa cemas dan dingin yang menembus mantel bulunya. "Para bangsawan sudah berkumpul. Jika kau menunjukkan penolakanmu secara terang-terangan...

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Hadiah Sang Pangeran

    Siang itu, langit di atas wilayah Utara tampak kelabu muram. Seolah-olah awan sengaja menumpuk untuk menyembunyikan rencana besar yang tengah berdenyut di balik dinding batu Eisenhardt. Badai salju belum sepenuhnya mengamuk. Namun, serpihan es mulai turun perlahan. Menusuk kulit siapa pun yang berani berada di luar tanpa perlindungan."Awan seperti menyimpan badai yang tak terduga dari mana asalnya," gumam Seraphina mengamati arakan awan dari balik jendela kamarnya.Sementara di gerbang belakang kastil yang biasanya dijaga ketat, sebuah peti kayu kecil dengan ukiran matahari perak yang halus baru saja tiba diantar oleh seorang kurir.Penjaga yang bertugas saat itu hanya melirik sekilas, lalu membiarkan kurir yang membawa peti itu lewat begitu saja. Semua itu bukan karena kelalaian, melainkan hasil dari instruksi rahasia Killian yang telah membuka celah keamanan secara sengaja. Peti itu berpindah tangan ke seorang pelayan yang telah disuap mahal oleh Liza. Sebelum akhirnya mendarat

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Di Depan Para Tamu

    Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela aula utama. Namun, suasana di dalamnya jauh dari kata hangat. Seraphina berdiri di tengah ruangan. Dikelilingi oleh para pelayan yang sedang sibuk memasang dekorasi lili putih pilihan Liza. Di sudut aula, beberapa tamu undangan dari keluarga bangsawan sekutu sedang berbincang pelan. Mengamati situasi dengan tatapan menghakimi. "Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah seharusnya Seraphina von Astrea yang menjadi calon pengantin Duke Killian?" Bisik-bisik mulai terdengar. "Seharusnya memang begitu, tapi sepertinya, Grand Duke sedang berpaling. Kalau aku jadi dia, aku juga pasti memilih daun muda yang bergairah ketimbang... bekas Putra Mahkota yang terbuang itu." "Benar, bukankah itu juga termasuk hinaan bagi Grand Duke Killian? Seharusnya dia bisa mendapatkan pengantin yang lebih baik ketimbang cuma bekas Putra Mahkota." Bisikan-bisikan itu semakin liar. Seraphina sama sekali tak menanggapi. Justru itulah yang ia harapkan. Dengan be

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status