MasukHosh!
Seraphina tersentak bangun, tubuhnya melengkung ke atas seolah baru saja ditarik paksa dari kedalaman samudra yang gelap. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya; setiap tarikan napas terasa rakus. Seolah-olah paru-parunya masih tidak percaya bahwa udara yang ia hirup bukanlah pecahan kaca dan racun yang membara. Denting cawan perak yang jatuh ke lantai marmer di detik-detik kematiannya masih berdenging nyaring di telinganya. Rasa panas yang mengoyak tenggorokannya masih terasa begitu nyata hingga ia refleks mencengkeram lehernya sendiri. Namun, alih-alih merasakan darah yang kental dan amis, jari-jarinya menyentuh kulit yang halus dan hangat. Seraphina terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kain sutra tipis yang melekat di punggungnya. Ia menoleh ke sekeliling dengan mata liar, waspada, dan penuh ketakutan. "Di mana...?" bisiknya parau. Pandangannya menyapu ruangan itu. Furnitur kayu ek hitam yang diukir dengan ketelitian tingkat tinggi, tirai beludru biru tua yang menjuntai berat menahan sinar matahari, dan meja rias kristal yang dipenuhi koleksi parfum mahal dalam botol-botol kaca yang berkilauan. Ini bukan aula perjamuan kekaisaran yang dingin. Ini bukan tempat dirinya kehilangan mahkota serta ... kehilangan nyawa. "Ini ... kamarku?" bisik Seraphina setengah tak percaya. Ruangan itu... sebuah tempat yang seharusnya sudah tidak lagi ia tempati sejak dirinya terpilih menjadi calon permaisuri dan pindah ke istana Rubiginosa tujuh tahun silam. Istana yang sengaja dibangun khusus untuknya sebagai Putri Mahkota. Istana yang dibangun Valerius... tangan Seraphina refleks mengepal. Nama itu seakan memanggil dendam yang tertidur di dalam dirinya ketika kegelapan total menyelimuti. Namun, kenyataan yang ia hadapi saat ini, membuat perasaan itu menguap dengan cepat. Setidaknya untuk saat ini. "Tidak mungkin!" Dengan kaki yang masih gemetar, Seraphina melompat dari tempat tidur. Ia mengabaikan rasa pening yang menyerang kepalanya. Langkah kaki berat itu berlari menuju cermin besar setinggi manusia di sudut ruangan. Begitu sampai di depan kaca, napasnya seolah terhenti. Ia tertegun menatap pantulan dirinya. Di sana, tidak ada lagi wanita berusia dua puluh lima tahun yang tidak terawat. Yang berdiri di cermin itu adalah seorang gadis berusia delapan belas tahun. Wajahnya segar dengan rona merah alami, rambut peraknya jatuh terurai seperti aliran air bulan yang berkilau, dan mata ungunya—kini tampak jernih, meski menyimpan kilat trauma yang dalam. Tangannya bergerak gemetar menyentuh permukaan cermin, lalu beralih ke sebuah kalender meja berlapis perak di sampingnya. Tahun 724 Kalender Kekaisaran Valeranthia. Musim Semi. Tubuh Seraphina bergetar hebat. Lututnya hampir lemas saat menyadari kenyataan yang mustahil ini. Tujuh tahun yang lalu. Ia kembali ke masa di mana pengkhianatan itu belum terjadi. Tiga bulan sebelum upacara pertunangan resminya dengan Valerius D’Argenteau diumumkan ke seantero negeri. 'Aku benar-benar kembali...' batinnya. Seraphina mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kuku-kukunya yang terawat rapi menusuk telapak tangannya sendiri. Menimbulkan rasa perih yang tajam. Bukannya merintih, ia justru menarik napas lega. Rasa sakit itu nyata. Ini bukan halusinasi di ambang maut. Ini bukan sekadar mimpi indah sebelum nyawanya dicabut. Tuhan, atau mungkin iblis yang haus darah, telah mendengarkan sumpah terakhirnya. Ia telah ditarik kembali dari pintu neraka dan dilemparkan ke titik di mana semua kehancurannya bermula. Tok, tok, tok. "Lady Seraphina? Anda sudah bangun?" Suara ketukan itu diikuti oleh suara Martha, pelayan pribadinya yang dulu sangat setia namun berakhir tragis di tangan Liza. Mendengar suara itu, jantung Seraphina seakan berhenti sesaat. Ia ingin berlari membuka pintu dan memeluk wanita tua itu, tapi urung dilakukan. Seraphina tak boleh bersikap aneh hingga memancing kecurigaan yang lain. Perempuan itu harus bergerak secara terukur dan sistematis. Tujuannya jelas, menghancurkan Valerius yang lebih dulu membuatnya mati. "Putra Mahkota Valerius sudah menunggu di taman mawar sejak satu jam yang lalu, Milady," lanjut Martha dari balik pintu kayu ek yang tebal. "Beliau membawakan buket bunga mawar merah paling langka sebagai hadiah permintaan maaf karena terlambat datang pada pertemuan kemarin. Beliau terlihat sangat menyesal." Mawar merah? Mata Seraphina menyipit tajam. Ingatan tentang bagaimana Valerius memberikan mawar-mawar indah setiap pagi di kehidupan sebelumnya berputar di kepalanya. Dulu, ia akan tersenyum tersipu, merapikan gaunnya dengan terburu-buru, dan berlari turun ke taman untuk menyambut "pangeran" impiannya. Ia begitu naif, menganggap duri pada mawar itu adalah simbol perlindungan, bukan senjata yang suatu saat akan menusuk jantungnya. Sekarang, mendengar nama Valerius saja sudah cukup untuk membuat perutnya mual. Membangkitkan rasa jijik yang luar biasa yang menjalar hingga ke sumsum tulangnya. "Lady Seraphina? Apakah Anda ingin saya masuk untuk membantu Anda bersiap?" tanya Martha lagi karena tidak kunjung mendapat jawaban. "Katakan padanya aku sedang tidak enak badan," ucap Seraphina. Nada bicaranya begitu rendah, dingin, dan mengandung otoritas yang membekukan udara. Martha di luar pintu terdiam sejenak. Ia terkejut mendengar nada bicara majikannya yang biasanya selalu bersemangat jika menyangkut sang Putra Mahkota. "T-tapi Milady, Yang Mulia sudah menunggu cukup lama..." "Apa kau tidak mendengarku, Martha?" Seraphina memotong dengan ketajaman yang tak terbantahkan. "Aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Terutama pria itu. Suruh dia pergi dan bawa kembali mawar-mawarnya yang menjijikkan itu." Kesunyian panjang menyusul di luar pintu sebelum akhirnya terdengar langkah kaki Martha yang menjauh dengan ragu. Seraphina kembali menatap pantulan dirinya di cermin. Ia tidak akan lagi menjadi bidak catur yang digerakkan oleh cinta buta. Ia tidak akan membiarkan tangannya kembali berlumuran darah demi takhta seorang pengkhianat. Pikirannya kini melayang jauh, melintasi peta luas Kekaisaran Valeranthia menuju wilayah Utara yang ekstrem. Sebuah tempat yang dijuluki "Tanah Tanpa Ampunan", di mana badai salju abadi mengubur segala bentuk kelembutan dan seorang pria hidup seperti penguasa kegelapan jauh dari gemerlapan ibu kota. Killian von Eisenhardt.Tiga bulan berlalu begitu cepat di bawah naungan musim semi yang sedang hangat-hangatnya di Kekaisaran Valeranthia. Ibukota Luxandria bergemuruh dalam kemegahan dan sukacita. Merayakan sebuah peristiwa sakral yang telah lama dinantikan oleh para bangsawan dan rakyat jelata. Katedral Agung Kekaisaran dihiasi oleh jutaan kelopak bunga mawar putih dan pita sutra perak yang menjuntai anggun di setiap pilar marmernya. Lonceng suci berdentang merdu. Memecah keheningan pagi dengan kidung kebahagiaan yang menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Di hadapan altar suci, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan wibawa yang tak tertandingi. Noah von Astrea mengenakan jubah kebesaran bangsawan berwarna hitam legam bergaris sulaman perak murni. Sorot mata hijau yang biasanya memancarkan ketegasan militer kini tampak melembut. Dipenuhi oleh debar jantung yang luar biasa serta binar antisipasi yang tak bisa ia sembunyikan lagi. "Dia benar-benar seperti orang yang berbeda," bisi
Obrolan di meja makan itu perlahan-lahan terpecah menjadi beberapa kelompok kecil. Jeremiah sibuk menceritakan strategi perbatasan di wilayah Kekaisaran Valeranthia kepada Kaelen dan Elianora dengan gaya bercerita yang dramatis.Sementara Killian dan Seraphina asyik berbincang berdua, sengaja memberikan ruang privasi bagi dua orang yang duduk di ujung meja. Di tengah suara dentingan alat makan yang berpadu dengan alunan musik instrumental dari koridor luar, suasana di sekitar Noah dan Sabrina terasa lebih tenang.Namun diisi oleh debar jantung yang sama-sama bergemuruh. Noah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian yang biasanya ia kerahkan saat memimpin ribuan pasukan di medan perang. Ia meletakkan garpu dan pisaunya dengan rapi di atas piring, lalu menoleh sepenuhnya ke arah wanita di sampingnya. "Lady Sabrina," panggil Noah dengan suara baritonnya yang tenang, meski ada getar tipis yang berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. Sabrina, yang baru saja hendak
Mendengar penuturan sang permaisuri, Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang dimaksud. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang memukau. "Terima kasih, Yang Mulia," ujar Sabrina sebelum menuju kursi yang disebutkan sang permaisuri.Dengan langkah anggun dan terukur, ia berjalan mendekati meja makan. Mengabaikan debar-debar penasaran dari para tamu lain yang tidak tahu menahu tentang rencana terselubung di balik jamuan ini.Di sisi lain, Noah merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak mengalir deras ke kepala. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Berusaha mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan wibawa.Meski telapak tangannya di bawah meja kini basah oleh keringat dingin. Ia merutuki adiknya dalam hati; 'Sera benar-benar sengaja melakukannya. Apa dia tahu sesuatu?'"Selamat malam, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri. Dan selamat malam untuk para petinggi keluarga Astrea," sapa Sabrina dengan suara lembutnya yang khas, begitu ia ti
Killian mendengus geli mendengar jawaban telak dari kakak iparnya itu. Sebelum ia sempat melontarkan komentar balasan untuk menjahili Noah, Seraphina sudah lebih dulu menyenggol pelan lengan suaminya dengan tatapan memperingatkan. Menyiratkan agar sang kaisar tidak mencari gara-gara di hari pertemuan keluarga yang berharga ini. "Sudahlah, Killian. Jangan mulai berdebat di hadapan anak-anak," tegur Seraphina lembut. Suaranya mengandung otoritas manis yang langsung membuat sang kaisar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Wanita itu kemudian beralih menatap kedua kakaknya dengan senyuman ramah. "Mari masuk ke paviliun. Perjamuan malam sudah disiapkan di ruang makan terbuka, dan koki istana baru saja memanggang daging domba kesukaan kalian." "Baguslah, karena perjalanan ke mari membuat perutku keroncongan," sahut Jeremiah ringan. Merangkul pundak sang kakak sulung sambil berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan paviliun yang megah. Suasana hangat langsung mendominas
Noah menarik napas panjang. Membiarkan udara sore yang sejuk mengisi paru-parunya sebelum ia berbalik menghadap sang adik yang masih duduk bersantai di sofa. "Katakan padaku, Jeremiah," ujar Noah dengan nada serius namun terselip sedikit seringai di bibirnya. "Apakah pasukan khususmu di perbatasan barat sudah tidak ada kerjaan lagi, sampai-sampai kau punya banyak waktu luang untuk mampir ke ruang kerjaku dan mengurusi masalah percintaanku?" Jeremiah terbahak pelan, menegakkan punggungnya lalu berdiri merapikan seragam militer kekaisaran yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. "Tentu saja ada, Kak. Tapi mengejek seorang kepala keluarga Astrea yang hampir berkarat di balik meja kerjanya jauh lebih menghibur daripada melihat peta perbatasan." "Sialan kau," balas Noah melempar gulungan kertas kosong ringan ke arah adiknya, yang dengan sigap ditangkap oleh Jeremiah sambil tertawa lepas. "Sudahlah, jangan pasang wajah masam begitu," ucap Jeremiah sambil melangkah menuju pintu k
Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas atap menara tinggi Kediaman Utama Keluarga Astrea. Berbeda dengan suasana hangat dan penuh gelak tawa di istana kekaisaran, kediaman keluarga Astrea selalu memancarkan aura ketenangan yang khidmat, teratur, dan dijaga ketat oleh disiplin militer yang ketat. Di ruang kerja pribadi kepala keluarga, Noah von Astrea duduk di balik meja kerja marmer hitam. Dipenuhi oleh tumpukan gulungan dokumen perbatasan dan laporan keuangan wilayah keluarga tersebut. "Kalau kau terus seperti ini, kau akan mati bahkan sebelum sempat menikah, Noah!" bisik pria itu pada dirinya sendiri. Ia mulai lelah akibat setiap hari harus berkutat dengan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Usianya kini telah menginjak kepala tiga. Garis rahangnya semakin tegas, dan sorot mata hijaunya memancarkan wibawa mutlak dari seorang pemimpin.Seorang pemimpin yang berhasil membawa keluarganya keluar dari bayang-bayang kehancuran masa lalu.Namun, di usianya saat ini, i
Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Kil
Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan deng
Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak perna
Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung







