MasukNama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina.
Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri. Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk terlepas dari pernikahan dengan Valerius dan membalaskan dendamnya pada pria itu. "Benar, Duke Killian. Aku akan lihat bagaimana kau bisa menghadapi sang monster dari Utara, Valerius!" bisik Seraphina. Di masa lalu, Seraphina-lah yang menyusun strategi untuk mengisolasi Killian agar Valerius bisa naik takhta tanpa hambatan. Namun sekarang, ia tahu siapa yang harus ia dekati. Jika Valerius adalah api yang menghanguskan, maka Killian adalah badai salju yang akan memadamkannya hingga menjadi abu. Seraphina menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang tidak pernah terlihat di wajahnya selama delapan belas tahun hidupnya. "Kali ini," bisik Seraphina pada bayangannya sendiri, matanya kini berkilat dengan kecerdasan yang mematikan dan haus akan pembalasan. "Aku tidak akan memilih mawar yang ternyata menyimpan racun di tiap kelopaknya. "Aku akan mengundang serigala yang lapar dari Utara untuk menghancurkan taman indahmu hingga ke akar-akarnya, Valerius." Seraphina berjalan ke meja di sudut ruangan yang sekaligus menjadi meja kerjanya. Ia hendak mengambil pena bulu dan selembar kertas ketika pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Tanpa permisi. Liza masuk dengan sikap manja dan wajah yang hampir menangis. Mungkin, Seraphina von Astrea dari kehidupan lampau akan percaya begitu saja dengan wajah manis adik tirinya itu. Namun, dia adalah Serephina yang telah melewati delapan belas tahun masa hidupnya untuk kedua kali. Raut muka Seraphina mengeras. Tepat saat Liza hendak memeluknya. Mimik wajah sang kakak mendadak menghentikan langkahnya. "Kakak ... apa yang ... Kenapa, Kakak...." Liza bahkan tak sanggup menemukan suaranya. Tubuhnya mematung melihat sang kakak yang bersikap dingin. "Apa begini caramu bersikap, Liza? Kau sudah mendapat pelajaran etiket dari guru terbaik. Kenapa masuk kamarku tanpa mengetuk pintu?" Nada bicara Seraphina tak kalah dingin dari salju Utara yang sanggup menggetarkan tulang hingga ke bagian terdalam manusia. Liza menggelengkan kepalanya. Bingung dengan sikap sang kakak yang tiba-tiba berubah. "Kak ... aku ... aku tidak ...." Suara Liza kecil, seperti hampir menangis. Seraphina sama sekali tak terpengaruh. Meskipun Liza baru berumur tiga belas tahun saat ini. Ya, mereka berbeda umur lima tahun. Adik tirinya itu lahir dari pernikahan kedua ayahnya setelah Rebbeca von Astrea, ibu Seraphina, meninggal dunia ketika ia berusia lima tahun. Count Demarcus von Astrea menikahi Lilian von Thuram putri seorang baron yang hampir bangkrut. Anehnya, tujuh bulan kemudian, wanita itu telah melahirkan. Liza dianggap bayi yang terlahir prematur, tapi berat badan bayi yang baru lahir itu sama sekali tak menunjukkan kekurangan apa pun. Bahkan dapat dikatakan Liza terlahir sebagaimana bayi normal lainnya. Seraphina tak pernah memikirkan keanehan itu dulu. Sebab yang ada dalam benaknya hanyalah perasaan bahagia karena memiliki saudara perempuan. Kedua saudaranya laki-laki dan saat ini sedang bertugas di perbatasan untuk menumpas kaum bar-bar yang berusaha membuat kerusuhan di wilayah mereka. Namun, kali ini, ia tak bisa mengabaikan keanehan itu begitu saja. Ia harus mencari tahu latar belakang Liza sebenarnya. "Keluar dari kamarku, Liza!" ucap Seraphina dengan desisan dingin serupa es. "Aku ... hanya datang untuk mengatakan kalau ...." "Aku tak mau dengar apa pun dari mulutmu." Liza mulai menangis, tapi Seraphina mulai meneguhkan hati. Liza memang baru tiga belas tahun sekarang, tapi di masa depan pada kehidupan pertamanya, perempuan itu telah menjadi wanita licik yang merebut semua milik kakaknya. Bisa saja, bibit itu sudah ada sejak lama. "Kak, dengarkan dulu." Wajah Liza semakin memelas. Seraphina mengangkat tangan untuk meminta Liza berhenti, tapi gadis itu sama sekali tak mau dengar. "Putra Mahkota merundungku. Dia bilang aku beban bagi keluarga Count Astrea. Aku dianggap bodoh dan jelek. Apa itu benar? Itu tidak benar kan?" Seraphina memejamkan mata. Ia ingat sekarang. Pada masa lalu memang pernah ada kejadian seperti itu. Tepat di hari yang sama dengan hari ini. Apa yang dilakukan Seraphina pada saat itu ya? Ah, benar. Ia membela Liza dan bertengkar hebat dengan sang putra mahkota. Valerius kemudian pulang dalam keadaan marah. Bodohnya, Seraphina justru merasa bersalah dan mengejar sang putra mahkota sampai ke istana. Perempuan itu merendahkan dirinya sendiri hanya karena ingin Valerius memaafkannya. Kali ini, Seraphina tak akan melakukan hal yang sama. Atau seharusnya memang begitu ya?Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini!" teriak Valerius. Suaranya pecah oleh kepanikan yang mendalam. Ia menoleh ke arah Seraphina, mencari dukungan."Seraphina! Kau tahu aku bersamamu tadi sore, katakan pada mereka ini mustahil!" Seraphina menurunkan gelas anggurnya perlahan. Ia melangkah mundur satu langkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Valerius. Wajahnya kini dipenuhi dengan raut keterkejutan yang sangat meyakinkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Yang Mulia... saya memang bersama Anda sepanjang sore ini. Tapi, ada momen di mana saya permisi untuk bertemu Putri Arabella. Sa-saya tidak bisa memberikan kesaksian sepenuhnya."Maafkan saya, Yang Mulia." Seraphina menutup mulutnya dengan tangan, seolah-olah dia sangat
Killian menatap tangan itu cukup lama. Secara perlahan, ia melepaskan sarung tangan kulit hitamnya, memperlihatkan tangan yang penuh dengan bekas luka peperangan. Pria itu menyambut tangan Seraphina, meremasnya dengan genggaman yang kuat dan posesif. "Waktu Anda habis, Lady Seraphina," ucap Killian, untuk pertama kalinya menyebut namanya tanpa nama belakang. "Bersiaplah. Jika malam ini segel itu tidak ditemukan di peti saya, maka saya akan menganggap Anda sebagai umpan yang gagal—dan saya tidak memelihara umpan yang tidak berguna." Killian berbalik, jubah bulu serigalanya berkibar saat ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Seraphina berdiri terpaku, merasakan dinginnya sisa genggaman Killian di kulitnya. Ikan besar itu bukan sekadar memakan umpan; ia telah menyeret Seraphina masuk ke dalam perairan yang jauh lebih dalam dan berbahaya. Namun, itulah yang ia cari. "Permainan dimulai, Valerius," bisiknya pada kegelapan. */*/ Malam itu, Istana Astrum-Glace diselimuti keme
Seraphina merasakan bulu kuduknya berdiri. Bukan karena takut, melainkan karena gairah pembalasan dendam yang kini menemukan senjatanya. Perempuan muda itu menatap tepat ke mata biru yang membekukan di depannya. Tidak menunduk sedikit pun sebagaimana yang dilakukan wanita lain saat berhadapan dengan sang Grand Duke. "Saya tidak sedang menghalangi jalan Anda, Grand Duke," ucap Seraphina, suaranya jernih dan tak bergetar. "Saya sedang menawarkan jalan keluar dari jebakan yang sudah disiapkan Putra Mahkota untuk Anda malam ini." Langkah Killian yang tadinya hendak berlanjut, kembali berhenti. Ia sedikit menyipitkan mata, menatap gadis muda di hadapannya dengan sedikit rasa ingin tahu yang dingin. "Jebakan?" Killian mendengus sinis. "Anda adalah tunangan sang Putra Mahkota. Mengapa Anda mengkhianati calon suami Anda demi orang asing dari Utara?" Killian menimbang sebelum melanjutkan,"Atau... justru Andalah jebakan yang sudah disiapkan itu sendiri!" Seraphina menelan ludah susah p
Suara tamparan itu menggema keras di antara semak-semak mawar, memotong kicauan burung pagi itu. Hening. Angin seolah berhenti berembus. Para pelayan yang berdiri di kejauhan menahan napas, beberapa di antaranya menjatuhkan nampan karena terkejut. Di kehidupan sebelumnya, Seraphina tidak pernah berani menaikkan suaranya, apalagi menyentuh wajah suci sang Putra Mahkota. Mereka hanya akan beradu mulut, yang kemudian berakhir dengan Seraphina yang meminta maaf sambil menangis. Kali ini, Seraphina merasakan kepuasan yang murni berdesir di pembuluh darahnya. "Apa yang kau lakukan, Seraphina?!" Valerius akhirnya bersuara, nada bicaranya meledak antara rasa sakit dan harga diri yang terkoyak. "Kau... kau baru saja menamparku? Kau menampar calon suamimu dan calon kaisarmu?!" "Ya, Yang Mulia. Dan saya akan melakukannya lagi jika perlu," jawab Seraphina, suaranya setajam belati yang baru diasah. "Itu adalah hukuman karena Anda telah lancang menggunakan lidah Anda untuk menghina Liz
Seraphina melangkah mendekat dengan ritme yang tenang. Ia memasang raut wajah yang sempurna—sebuah topeng keprihatinan yang begitu halus hingga malaikat pun mungkin akan tertipu. Di hadapannya, Liza sedang memerankan pertunjukan yang di kehidupan sebelumnya selalu berhasil memicu naluri pelindung Seraphina. 'Mainkan peranmu, Liza,' batin Seraphina dingin. 'Permainan ini baru saja dimulai. Terlalu membosankan jika aku mematahkan lehermu sekarang. 'Aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya merayap di tanah, memohon kematian yang tak kunjung datang.' "Oh, benarkah? Putra Mahkota Valerius benar-benar mengatakan hal sekejam itu padamu?" tanya Seraphina. Suaranya bergetar lembut, penuh dengan empati palsu yang ia peras dari dasar hatinya. Sejujurnya, ia harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya agar tidak memuntahkan empedu tepat di wajah adik tirinya itu.Namun, pembalasan dendam ini tak akan menarik jika ia menarik ujung pelatuk senjatanya untuk memusnahkan Liza sekarang. Liza
Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina. Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius. Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius. Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut. Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt. Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan. Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk







