Share

Adik yang Menggemaskan?

Author: Yoru Akira
last update publish date: 2026-02-04 21:42:54

Nama itu tak mungkin terlupakan oleh Seraphina.

Sang Grand Duke dari Utara. Pria dengan mata sebiru es yang di kehidupan sebelumnya selalu menjadi duri dalam daging Valerius.

Killian adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan militer mandiri. Satu-satunya orang yang tidak pernah bisa disuap oleh lidah manis Valerius.

Dan ... satu-satunya pria yang sanggup membuat Valerius terbangun dalam keringat dingin karena ketakutan setiap kali namanya disebut.

Pria yang bahkan bisa naik takhta dengan dukungan para bangsawan yang masih setia pada pengaruh lama keluarga Eisenhardt.

Meski namanya ditakuti hampir di seluruh benua, tapi terbukti bahwa Duke Killian bukanlah orang yang tamak dan serakah. Itu sebuah harga kesetiaan yang mahal bagi para bangsawan yang tak memikirkan dirinya sendiri.

Tidak termasuk keluarga Count Astrea. Ada perseteruan panjang yang membuat kedua keluarga tersebut saling tikam dalam kesenyapan.

Itu tak penting lagi sekarang. Seraphina harus memutar otak untuk terlepas dari pernikahan dengan Valerius dan membalaskan dendamnya pada pria itu.

"Benar, Duke Killian. Aku akan lihat bagaimana kau bisa menghadapi sang monster dari Utara, Valerius!" bisik Seraphina.

Di masa lalu, Seraphina-lah yang menyusun strategi untuk mengisolasi Killian agar Valerius bisa naik takhta tanpa hambatan. Namun sekarang, ia tahu siapa yang harus ia dekati.

Jika Valerius adalah api yang menghanguskan, maka Killian adalah badai salju yang akan memadamkannya hingga menjadi abu.

Seraphina menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyum yang tidak pernah terlihat di wajahnya selama delapan belas tahun hidupnya.

"Kali ini," bisik Seraphina pada bayangannya sendiri, matanya kini berkilat dengan kecerdasan yang mematikan dan haus akan pembalasan. "Aku tidak akan memilih mawar yang ternyata menyimpan racun di tiap kelopaknya.

"Aku akan mengundang serigala yang lapar dari Utara untuk menghancurkan taman indahmu hingga ke akar-akarnya, Valerius."

Seraphina berjalan ke meja di sudut ruangan yang sekaligus menjadi meja kerjanya. Ia hendak mengambil pena bulu dan selembar kertas ketika pintu tiba-tiba terbuka dari luar. Tanpa permisi.

Liza masuk dengan sikap manja dan wajah yang hampir menangis.

Mungkin, Seraphina von Astrea dari kehidupan lampau akan percaya begitu saja dengan wajah manis adik tirinya itu. Namun, dia adalah Serephina yang telah melewati delapan belas tahun masa hidupnya untuk kedua kali.

Raut muka Seraphina mengeras. Tepat saat Liza hendak memeluknya. Mimik wajah sang kakak mendadak menghentikan langkahnya.

"Kakak ... apa yang ... Kenapa, Kakak...." Liza bahkan tak sanggup menemukan suaranya.

Tubuhnya mematung melihat sang kakak yang bersikap dingin.

"Apa begini caramu bersikap, Liza? Kau sudah mendapat pelajaran etiket dari guru terbaik. Kenapa masuk kamarku tanpa mengetuk pintu?" Nada bicara Seraphina tak kalah dingin dari salju Utara yang sanggup menggetarkan tulang hingga ke bagian terdalam manusia.

Liza menggelengkan kepalanya. Bingung dengan sikap sang kakak yang tiba-tiba berubah.

"Kak ... aku ... aku tidak ...." Suara Liza kecil, seperti hampir menangis.

Seraphina sama sekali tak terpengaruh. Meskipun Liza baru berumur tiga belas tahun saat ini.

Ya, mereka berbeda umur lima tahun. Adik tirinya itu lahir dari pernikahan kedua ayahnya setelah Rebbeca von Astrea, ibu Seraphina, meninggal dunia ketika ia berusia lima tahun.

Count Demarcus von Astrea menikahi Lilian von Thuram putri seorang baron yang hampir bangkrut. Anehnya, tujuh bulan kemudian, wanita itu telah melahirkan.

Liza dianggap bayi yang terlahir prematur, tapi berat badan bayi yang baru lahir itu sama sekali tak menunjukkan kekurangan apa pun. Bahkan dapat dikatakan Liza terlahir sebagaimana bayi normal lainnya.

Seraphina tak pernah memikirkan keanehan itu dulu. Sebab yang ada dalam benaknya hanyalah perasaan bahagia karena memiliki saudara perempuan.

Kedua saudaranya laki-laki dan saat ini sedang bertugas di perbatasan untuk menumpas kaum bar-bar yang berusaha membuat kerusuhan di wilayah mereka.

Namun, kali ini, ia tak bisa mengabaikan keanehan itu begitu saja. Ia harus mencari tahu latar belakang Liza sebenarnya.

"Keluar dari kamarku, Liza!" ucap Seraphina dengan desisan dingin serupa es.

"Aku ... hanya datang untuk mengatakan kalau ...."

"Aku tak mau dengar apa pun dari mulutmu."

Liza mulai menangis, tapi Seraphina mulai meneguhkan hati. Liza memang baru tiga belas tahun sekarang, tapi di masa depan pada kehidupan pertamanya, perempuan itu telah menjadi wanita licik yang merebut semua milik kakaknya.

Bisa saja, bibit itu sudah ada sejak lama.

"Kak, dengarkan dulu." Wajah Liza semakin memelas.

Seraphina mengangkat tangan untuk meminta Liza berhenti, tapi gadis itu sama sekali tak mau dengar.

"Putra Mahkota merundungku. Dia bilang aku beban bagi keluarga Count Astrea. Aku dianggap bodoh dan jelek. Apa itu benar? Itu tidak benar kan?"

Seraphina memejamkan mata. Ia ingat sekarang. Pada masa lalu memang pernah ada kejadian seperti itu. Tepat di hari yang sama dengan hari ini.

Apa yang dilakukan Seraphina pada saat itu ya?

Ah, benar. Ia membela Liza dan bertengkar hebat dengan sang putra mahkota. Valerius kemudian pulang dalam keadaan marah.

Bodohnya, Seraphina justru merasa bersalah dan mengejar sang putra mahkota sampai ke istana. Perempuan itu merendahkan dirinya sendiri hanya karena ingin Valerius memaafkannya.

Kali ini, Seraphina tak akan melakukan hal yang sama. Atau seharusnya memang begitu ya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Extra Part VII : Hari Pernikahan (TAMAT)

    Tiga bulan berlalu begitu cepat di bawah naungan musim semi yang sedang hangat-hangatnya di Kekaisaran Valeranthia. Ibukota Luxandria bergemuruh dalam kemegahan dan sukacita. Merayakan sebuah peristiwa sakral yang telah lama dinantikan oleh para bangsawan dan rakyat jelata. Katedral Agung Kekaisaran dihiasi oleh jutaan kelopak bunga mawar putih dan pita sutra perak yang menjuntai anggun di setiap pilar marmernya. Lonceng suci berdentang merdu. Memecah keheningan pagi dengan kidung kebahagiaan yang menggema hingga ke seluruh penjuru kota. Di hadapan altar suci, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan wibawa yang tak tertandingi. Noah von Astrea mengenakan jubah kebesaran bangsawan berwarna hitam legam bergaris sulaman perak murni. Sorot mata hijau yang biasanya memancarkan ketegasan militer kini tampak melembut. Dipenuhi oleh debar jantung yang luar biasa serta binar antisipasi yang tak bisa ia sembunyikan lagi. "Dia benar-benar seperti orang yang berbeda," bisi

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Extra Part VI : Pengakuan Noah

    Obrolan di meja makan itu perlahan-lahan terpecah menjadi beberapa kelompok kecil. Jeremiah sibuk menceritakan strategi perbatasan di wilayah Kekaisaran Valeranthia kepada Kaelen dan Elianora dengan gaya bercerita yang dramatis.Sementara Killian dan Seraphina asyik berbincang berdua, sengaja memberikan ruang privasi bagi dua orang yang duduk di ujung meja. Di tengah suara dentingan alat makan yang berpadu dengan alunan musik instrumental dari koridor luar, suasana di sekitar Noah dan Sabrina terasa lebih tenang.Namun diisi oleh debar jantung yang sama-sama bergemuruh. Noah menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian yang biasanya ia kerahkan saat memimpin ribuan pasukan di medan perang. Ia meletakkan garpu dan pisaunya dengan rapi di atas piring, lalu menoleh sepenuhnya ke arah wanita di sampingnya. "Lady Sabrina," panggil Noah dengan suara baritonnya yang tenang, meski ada getar tipis yang berhasil ia sembunyikan dengan sempurna. Sabrina, yang baru saja hendak

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Extra Part V: Perjodohan

    Mendengar penuturan sang permaisuri, Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah kursi yang dimaksud. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang memukau. "Terima kasih, Yang Mulia," ujar Sabrina sebelum menuju kursi yang disebutkan sang permaisuri.Dengan langkah anggun dan terukur, ia berjalan mendekati meja makan. Mengabaikan debar-debar penasaran dari para tamu lain yang tidak tahu menahu tentang rencana terselubung di balik jamuan ini.Di sisi lain, Noah merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak mengalir deras ke kepala. Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Berusaha mempertahankan postur tubuhnya agar tetap tegak dan wibawa.Meski telapak tangannya di bawah meja kini basah oleh keringat dingin. Ia merutuki adiknya dalam hati; 'Sera benar-benar sengaja melakukannya. Apa dia tahu sesuatu?'"Selamat malam, Yang Mulia Kaisar, Yang Mulia Permaisuri. Dan selamat malam untuk para petinggi keluarga Astrea," sapa Sabrina dengan suara lembutnya yang khas, begitu ia ti

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Extra Part IV : Perjamuan Makan Malam

    Killian mendengus geli mendengar jawaban telak dari kakak iparnya itu. Sebelum ia sempat melontarkan komentar balasan untuk menjahili Noah, Seraphina sudah lebih dulu menyenggol pelan lengan suaminya dengan tatapan memperingatkan. Menyiratkan agar sang kaisar tidak mencari gara-gara di hari pertemuan keluarga yang berharga ini. "Sudahlah, Killian. Jangan mulai berdebat di hadapan anak-anak," tegur Seraphina lembut. Suaranya mengandung otoritas manis yang langsung membuat sang kaisar mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Wanita itu kemudian beralih menatap kedua kakaknya dengan senyuman ramah. "Mari masuk ke paviliun. Perjamuan malam sudah disiapkan di ruang makan terbuka, dan koki istana baru saja memanggang daging domba kesukaan kalian." "Baguslah, karena perjalanan ke mari membuat perutku keroncongan," sahut Jeremiah ringan. Merangkul pundak sang kakak sulung sambil berjalan beriringan masuk ke dalam bangunan paviliun yang megah. Suasana hangat langsung mendominas

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Extra Part III : Kunjungan Keluarga

    Noah menarik napas panjang. Membiarkan udara sore yang sejuk mengisi paru-parunya sebelum ia berbalik menghadap sang adik yang masih duduk bersantai di sofa. "Katakan padaku, Jeremiah," ujar Noah dengan nada serius namun terselip sedikit seringai di bibirnya. "Apakah pasukan khususmu di perbatasan barat sudah tidak ada kerjaan lagi, sampai-sampai kau punya banyak waktu luang untuk mampir ke ruang kerjaku dan mengurusi masalah percintaanku?" Jeremiah terbahak pelan, menegakkan punggungnya lalu berdiri merapikan seragam militer kekaisaran yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. "Tentu saja ada, Kak. Tapi mengejek seorang kepala keluarga Astrea yang hampir berkarat di balik meja kerjanya jauh lebih menghibur daripada melihat peta perbatasan." "Sialan kau," balas Noah melempar gulungan kertas kosong ringan ke arah adiknya, yang dengan sigap ditangkap oleh Jeremiah sambil tertawa lepas. "Sudahlah, jangan pasang wajah masam begitu," ucap Jeremiah sambil melangkah menuju pintu k

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Extra Part II : Undangan Sang Permaisuri

    Matahari sore memantulkan cahaya keemasan di atas atap menara tinggi Kediaman Utama Keluarga Astrea. Berbeda dengan suasana hangat dan penuh gelak tawa di istana kekaisaran, kediaman keluarga Astrea selalu memancarkan aura ketenangan yang khidmat, teratur, dan dijaga ketat oleh disiplin militer yang ketat. Di ruang kerja pribadi kepala keluarga, Noah von Astrea duduk di balik meja kerja marmer hitam. Dipenuhi oleh tumpukan gulungan dokumen perbatasan dan laporan keuangan wilayah keluarga tersebut. "Kalau kau terus seperti ini, kau akan mati bahkan sebelum sempat menikah, Noah!" bisik pria itu pada dirinya sendiri. Ia mulai lelah akibat setiap hari harus berkutat dengan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Usianya kini telah menginjak kepala tiga. Garis rahangnya semakin tegas, dan sorot mata hijaunya memancarkan wibawa mutlak dari seorang pemimpin.Seorang pemimpin yang berhasil membawa keluarganya keluar dari bayang-bayang kehancuran masa lalu.Namun, di usianya saat ini, i

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Mawar Beracun

    Hosh! Seraphina tersentak bangun, tubuhnya melengkung ke atas seolah baru saja ditarik paksa dari kedalaman samudra yang gelap. Ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya; setiap tarikan napas terasa rakus. Seolah-olah paru-parunya masih tidak percaya bahwa udara yang ia hirup bukanlah pecahan kaca

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Kemarahan Liza

    Brak!! Liza membanting pintu kamar di belakangnya hingga debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit menara sayap Barat. Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang menyumbat tenggorokan.Gadis itu mondar-mandir di dalam kamar yang luas namun terasa mencekik itu. Sesekali menggigit u

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Senjata Makan Tuan

    Kaisar membacakan isi surat itu dengan suara yang menggetarkan dinding-dinding kristal istana. Mata semua bangsawan kini tertuju pada Valerius. Tulisan tangan itu, segel lilin pribadi di bawahnya—semuanya menunjuk pada sang Putra Mahkota. "Ini... ini palsu! Ayahanda, aku tidak pernah menulis ini

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Pengkhianatan

    "Ugh!" Suaranya tersekat, ketika sensasi terbakar itu mulai menyerang tenggorokannya. Racun itu merambat secepat kilat. Mencabik-cabik paru-parunya hingga setiap tarikan napas terasa seperti menghirup pecahan kaca yang membara. Seraphina von Astrea terbatuk, dan saat ia melihat telapak tangannya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status