Share

Kawan Lama

Author: Yoru Akira
last update publish date: 2026-03-12 23:02:23

Lampu-lampu kristal di dalam aula Astrum-Glace masih berpendar terang, namun kebisingan musik waltz mulai memudar saat Seraphina dan Killian melangkah keluar menuju balkon pribadi yang telah disiapkan khusus untuk tamu dari Utara.

Angin malam Luxandria berhembus, namun alih-alih membawa kehangatan musim semi, udara di sekitar balkon itu justru membeku.

Butiran salju halus mulai turun perlahan, menempel pada pagar marmer yang menghadap langsung ke arah taman labirin istana yang gelap.

"Ini leb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Kehancuran Valerius

    Ciuman itu terasa panas di tengah dinginnya badai salju, sebuah penegasan yang membungkam semua keraguan. Saat Killian melepaskan pagutan itu, ia menatap Valerius dengan senyum tipis yang mematikan. "Saya tidak pernah kehilangan calon pengantin saya, Yang Mulia. Tak pernah sedetik pun." Ucapan Killian menampar wajah sang pangeran. Tubuh pria itu terpaku. Menatap horor kedua orang yang tampak menertawakannya. "Kalian..." "Ya, Yang Mulia. Ikatan di antara kami lebih kuat ketimbang yang Anda bayangkan. Anda sudah kalah, Yang Mulia," bisik Killian, suaranya bergema di antara deru angin. "Ah, satu hal lagi. Andalah yang tidak bisa menjaga tunangan Anda dengan baik. Anda sudah berkhianat dan melukai hatinya. "Jadi, jangan memutarbalikkan fakta bahwa sayalah pemeran antagonis di sini!" Valerius terhuyung mundur, matanya liar menatap sekeliling. "Tidak mungkin... Seraphina, kau! Kau benar-benar wanita jalang!" "Tidak, Yang Mulia!" Seraphina membantah tegas. "Anda sendirilah yang b

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Tabir yang Terungkap

    Wanita itu berdiri gemetar. Bahkan ketika tangannya perlahan melepas kancing cadar yang menutupi wajahnya. "Jangan membuatku malu, Seraphina! Cepat buka penutup wajahmu atau aku yang akan menarik paksa!" Suara Count Demarcus semakin meninggi. Namun, perempuan itu justru terlihat ragu-ragu. Seakan mengulur waktu di tengah ketegangan itu. Count Demarcus mulai tidak sabar. Pria itu benar-benar menarik paksa cadar sekaligus jubah yang membungkus tubuh sang wanita. Betapa terkejutnya semua orang ketika mendapati gaun yang dikenakan si wanita. Pakaian yang dikenakan bukannya pakaian perjalanan. Yang terlihat di bawah jubah itu adalah gaun pengantin putih dengan mutiara dan bordiran benang emas serta ungu yang megah. Begitu cadar dilepaskan, jeritan tertahan keluar dari mulut Lilian. Bukan Seraphina. Liza berdiri di sana dengan wajah yang separuh ketakutan namun separuh lagi tampak penuh kemenangan yang gila. "Liza?!" Demarcus terhuyung ke belakang. "Di mana... di mana Sera

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Panggung Sandiwara

    Pagi itu, yang seharusnya menjadi puncak sakral bagi penyatuan dua garis keturunan agung, justru berubah menjadi mimpi buruk yang mencekam di Benteng Eisenhardt. Udara fajar yang membeku seolah terbelah oleh pekikan yang mengguncang lorong-lorong batu kastil. "Lady Seraphina menghilang! Lady Seraphina tidak ada di kamarnya!" teriakan seorang pelayan yang baru saja keluar dari kamar sang Lady memecah kesunyian. Memicu kehebohan instan yang menjalar seperti api liar ke seluruh penjuru benteng. Killian, yang sudah bersiap dengan pakaian pengantin resminya, muncul di aula utama dengan langkah yang menggetarkan lantai marmer. Namun, alih-alih menunjukkan gurat kecemasan atau simpati sebagai calon suami yang kehilangan pengantinnya, ia justru tampak seperti singa yang murka. Auranya begitu besar dan mengancam, seolah siap meruntuhkan dinding benteng dengan amarahnya. "Apa?!" murka Killian. Suaranya menggelegar hingga debu-debu di langit-langit aula tampak berjatuhan. "Apa per

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Perjamuan Makan Malam yang Dingin

    Malam itu, aula perjamuan Eisenhardt berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan. Cahaya dari lilin-lilin raksasa memantul pada porselen mahal dan perak yang berkilauan. Namun, ketegangan yang menggantung di udara jauh lebih tajam daripada pisau daging para pelayan. Killian duduk di kursi kebesarannya dengan keanggunan seorang predator. Di sampingnya, kursi yang seharusnya menjadi milik Seraphina dibiarkan kosong. Sementara Liza duduk di kursi berikutnya—terlalu dekat dengan sang Grand Duke. Bahkan Duchess Sophia lagi-lagi memilih tak hadir di meja makan hanya karena sudah mulai muak dengan sikap Killian. Wanita itu bahkan merasa malu sebagai ibu dari pria yang kini dianggap plin-plan oleh banyak orang. "Anggur yang luar biasa, Tuan Duke," suara Demarcus memecah kesunyian. Nadanya mengandung tantangan yang tak disembunyikan. "Tapi, aku bukannya datang jauh-jauh dari Ibukota hanya untuk minum. Di mana Seraphina? Mengapa putriku tidak menyambut ayahnya?" Killian men

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Keluarga Mempelai

    Sore itu, gumpalan salju mulai turun dengan lebih rapat, menutupi jalanan berbatu yang menuju ke jantung Kastil Eisenhardt. Di tengah kesunyian Utara yang menggigit, gemerincing lonceng dari kereta-kereta kuda mewah mulai terdengar. Dua kereta kuda dengan lambang keluarga Astra berhenti tepat di halaman megah kastil. Kereta pertama, yang berhias ukiran emas paling rumit, mengangkut Demarcus von Astrea dan istrinya, Lilian. Suasana di dalam kabin kereta itu jauh lebih dingin daripada udara di luar sana. Demarcus duduk tegak, tangannya mencengkeram tongkat kayu ebony dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke arah dinding batu kastil yang kokoh, seolah ingin meruntuhkannya hanya dengan tatapan mata. "Kau yakin tetap ingin memberikan mereka restu, Demarcus?" bisik Lilian pelan. Suaranya bergetar, antara rasa cemas dan dingin yang menembus mantel bulunya. "Para bangsawan sudah berkumpul. Jika kau menunjukkan penolakanmu secara terang-terangan...

  • Rebirth: Pembalasan Permaisuri Terbuang   Hadiah Sang Pangeran

    Siang itu, langit di atas wilayah Utara tampak kelabu muram. Seolah-olah awan sengaja menumpuk untuk menyembunyikan rencana besar yang tengah berdenyut di balik dinding batu Eisenhardt. Badai salju belum sepenuhnya mengamuk. Namun, serpihan es mulai turun perlahan. Menusuk kulit siapa pun yang berani berada di luar tanpa perlindungan."Awan seperti menyimpan badai yang tak terduga dari mana asalnya," gumam Seraphina mengamati arakan awan dari balik jendela kamarnya.Sementara di gerbang belakang kastil yang biasanya dijaga ketat, sebuah peti kayu kecil dengan ukiran matahari perak yang halus baru saja tiba diantar oleh seorang kurir.Penjaga yang bertugas saat itu hanya melirik sekilas, lalu membiarkan kurir yang membawa peti itu lewat begitu saja. Semua itu bukan karena kelalaian, melainkan hasil dari instruksi rahasia Killian yang telah membuka celah keamanan secara sengaja. Peti itu berpindah tangan ke seorang pelayan yang telah disuap mahal oleh Liza. Sebelum akhirnya mendarat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status