LOGINA story about The Don who loved too much. ⚠️CAUTION!!!⚠️ ⚠️This book contains mature themes, inappropriate language and drug abuse.⚠️ "Have plenty of rest Alexandra because it'll be a very rough day." He says huskily looking deeply into my eyes. "I'll handle it." I answer my voice equally low before a smirk forms on my face. Alex Black hosts a show 'Red Flags' that interviews different women and reveals cheating partners. She receives a note about a ruthless billionaire who's story she can relate with and starts investigating him. Determined to find the red flags in the relationship, Alex Black gets closer to the businessman and tries everything to lure him into a relationship and expose his secrets. Join twenty three year old Alex in this challenge trying to get past the high walls of The twenty seven year old Aiden Matthew Kings a ruthless businessman and heir to the biggest mafia world.
View More"Kamu kapan nikah?"
Pertanyaan yang paling Aleena benci saat acara kumpul keluarga seperti sekarang. Tiap orang yang mendatanginya pasti hanya akan bertanya tiga hal padanya. "Gendutan, ya sekarang." "Kerja di mana?" Dan ada satu yang paling Aleena benci. "Kamu kapan nikah?" Menurutnya, pertanyaan seperti itu sudah terlalu basi untuk ditanyakan. Apalagi di waktu momen lebaran seperti sekarang. Momen di mana semua orang saling meminta maaf dan saling memaafkan atas segala kesalahan. Namun justru tidak jarang, sebagian dari mereka setelah meminta maaf tanpa sadar kembali menggoreskan luka di hati orang lain. Ibaratnya, percuma saja meminta maaf tapi ujung-ujungnya tetap menyakiti hati. Dan setelah Aleena mendengar pertanyaan yang terlontar dari Tantenya, entah yang keberapa kali. Dirinya hanya bisa tersenyum palsu. Ia sudah terlalu malas untuk menanggapi ataupun sekadar menjelaskan jika dirinya masih belum memiliki niat untuk menikah dalam waktu dekat. "Cepatan nikah, Nak. Umurmu udah 25 tahun, 'kan sekarang. Masa kalah sama sepupu mu, yang 20 tahun aja udah lagi hamil," perkataan Tante Diana lagi-lagi hanya dibalas senyum tipis oleh Aleena. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah perempuan yang dimaksud Tantenya itu. Seorang perempuan dengan gamis berwarna baby blue juga perut buncit itu tampak tersenyum saat beberapa Tante juga kerabat lain menghampiri dan mengelus baby bump nya. Aleena tentu ingat betul bagaimana salah satu sepupu cantiknya itu sampai bisa menikah di usia yang begitu muda. "Kebobolan." Istilah lain yang digunakan untuk menggambarkan situasi di mana sebuah pasangan telah lebih dulu memiliki keturunan daripada ikatan pernikahan itu sendiri. Aleena tentu masih ingat saat dirinya yang harus menemani sang sepupu ke Kantor Urusan Agama untuk mengucapkan janji sumpah pernikahan. Aleena jadi berpikir, apa lebih memalukan saat seorang perempuan dewasa belum menikah, ketimbang seseorang yang mendapatkan 'bonus' lebih dulu? Aleena tentu saja tidak bermaksud membandingkan. Ini hanya pemikirannya saja sudah merasa muak dengan pertanyaan seputar pernikahan. Lagi pula, pernikahan bukanlah sebuah perlombaan yang mengharuskan untuk sampai di garis finish lebih dulu. Semuanya bergantung dari tiap-tiap orang itu sendiri. Ada yang memang sudah siap dengan kehidupan pernikahan di usia muda, tapi ada juga yang masih ingin menikmati hidup dan belum mau untuk terikat dengan hubungan seserius pernikahan. Bukankah pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Tentu kebanyakan orang menginginkan pernikahan mereka hanya akan terlaksana sekali dalam hidupnya. Begitu pula dengan Aleena. Trust issue soal pernikahan, cerita pengalaman teman-temannya yang telah gagal juga melihat sendiri bagaimana kehidupan pernikahan sepupunya. Hal itu sudah cukup membuat Aleena kembali berpikir masak-masak untuk menikah di usia muda. Ia tidak ingin menyesal saat membuat keputusan besar dalam keadaan tidak siap. Kehidupan pernikahan miliknya adalah keputusannya, bukan orang lain. "Ngelamun aja, kamu. Udah sungkem sama Eyang, belum?" Sebuah tepukan halus mendarat di bahu Aleena. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita dengan hijab coklat muda tengah tersenyum ke arahnya. "Udah, dong," jawab Aleena pendek. "Kenapa nggak gabung di dalem, malah nongkrong sendirian di teras begini." Aleena menoleh sebentar ke arah Tante Rindu yang masih tersenyum manis ke arahnya. Wanita itu tahu apa yang tengah dipikirkan keponakannya ini. Tante Rindu adalah salah satu, atau mungkin satu-satunya orang yang bisa mengerti Aleena sekarang. Tante Rindu juga satu-satunya orang di rumah itu yang tidak menanyakan hal-hal aneh pada Aleena sejauh ini. Dan karena alasan itulah Aleena merasa nyaman. Ia pernah beberapa kali bercerita pada Tante Rindu soal keluhannya itu. "Nggak usah dipikirin kalo ada yang nanya soal kapan kamu nikah. Pernikahan bukan lomba balap, kok. Bukan soal siapa yang menikah lebih dulu, tapi soal siapa yang benar-benar siap dengan kehidupan setelah pernikahan. Itu yang lebih penting." "Tapi nggak semua orang bisa punya pikiran se terbuka, Tante. Bahkan, Mama aja sering nanya kapan aku nikah, padahal Mama tahu kalo aku masih belum ada niatan buat ke situ. Aku sampe capek kalo Mama nanya soal pernikahan," tanpa sadar Aleena mengeluh. Tante Rindu mengusap perlahan kepala Aleena. Wanita itu tentu tahu perasaan gadis muda di sampingnya ini, karena dulu ia 'pun mengalaminya. "Tahu, nggak. Dulu Tante juga sama kayak kamu, loh." Aleena menoleh cepat, bertanya lewat sorot matanya. Menuntut agar wanita yang lebih dewasa menjelaskan lebih jauh soal perkataannya. "Kamu pasti nggak nyangka kalo dulu, Tante nikah sama Om Bima pas umur tiga puluh tahun," ucap Tante Rindu dengan senyum simpul. Ekspresi yang ditunjukan Aleena membuat Tante Rindu terkekeh, jelas gadis itu terkejut dengan perkataannya. "Dulu, Tante sampe mau dijodohin sama seorang ustadz gara-gara nggak kunjung menikah, padahal temen-temen dan saudara Tante udah pada menikah dan punya anak. Tapi tante nggak mau. Kamu tahu apa alasannya?" Aleena menggeleng. Kisah Tante Rindu sejauh ini sama dengannya. "Karena Tante percaya, cinta sejati dan kebahagiaan cuma berasal dari diri sendiri. Mungkin kita bisa bikin orang lain mengubah cara pandang mereka setelah kita menikah ataupun setelah kita punya anak. Tapi hal itu nggak menjamin kalo kita bakalan bahagia," Tante Rindu menjeda kalimatnya. Ia menoleh ke arah Aleena yang masih menatapnya dan tersenyum kecil. "Kebahagiaan yang sebenarnya, cuma bisa ditentuin sama diri sendiri. Meski kata orang terlambat, tapi sebenarnya enggak. Bukan terlambat, hanya aja waktu kita dan mereka berbeda." Melihat senyum Tante Rindu, membuat senyum Aleena turut menggembang. Ia paham dengan apa yang dimaksud Tante Rindu. Jodoh tidak akan lari ke mana. Tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan orang lain, karena tiap orang punya jalan mereka masing-masing. Jika saat ini kamu belum bisa meraih apa yang telah orang lain raih, itu bukan berarti kamu gagal. Hanya saja memang belum saatnya kamu untuk mendapatkannya, atau bisa juga semesta ingin kemudian bekerja lebih keras lagi untuk hal itu. *** Pagi-pagi sekali Aleena dikejutkan dengan suara dari sering ponsel miliknya yang terasa memekakkan. Bahkan ia rasa jika sering teleponnya saat ini lebih berisik ketimbang jam weker yang biasanya membangunkannya tiap pagi. Tertera nama Silvia di layar panggilan. Dengan agama malas Aleena mengangkat panggilan telepon dari kawan semasa SMP nya itu. "Beb, ketemuan yuk. Kangen, nih," suara dari seberang panggilan terdengar. Aleena berdecak, ia menoleh ke arah jam weker nya. Tertera pukul setengah lima pagi, dan Silvia sudah mengajaknya untuk bertemu? Apa tidak salah? "Ini tuh masih pagi pake banget, gila. Ngajak ketemuan subuh-subuh begini," dumal Aleena dengan suara agak keras, membuat Silvia tertawa di seberang panggilan. "Ya, nggak sekarang dong, Beb. Nanti jam sepuluhan, mau ya. Aku udah kangen banget nih sama kamu," suara Silvia terdengar merengek. Aleena hanya bisa menghela napas keras. Jika sudah begini ia tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Karena jika ia tetap menolak, maka Silvia juga akan semakin menjadi. Bahkan wanita yang telah menjadi seorang Ibu dari dua anak itu masih saja suka merengek pada Aleena jika ia menginginkan sesuatu dari gadis itu. "Iya, iya. Bawel, ah. Udah, aku mau sholat subuh dulu." "Oke, Beb. Sampai jumpa nanti ye." Panggilan terputus. Aleena yang saat ini sudah tidak lagi mengantuk, memutuskan untuk bersiap menunaikan sholat subuh."What are you doing?" I ask Kelly who looks guiltily at me for a second before laughing."I'm practicing my shocked face when Tim proposes tonight." She says and I laugh. "Yeah. The face that you made when I asked that... That takes the cake." I grin as I look around the room. "Do you think she'll like it?" I hold up a doll that was placed in the cot."For the hundredth time. She's a new born. She won't know what to like and what not to like. But I'm positive she'll love her mummy and daddy. You guys have wanted this for long." I nod as tears start running down my eyes."Alex." Naomi calls from the door and I wipe my tears before turning to her."Yeah!" My voice is croaky. I caught the flu yesterday and had been asleep most of the day. That was until I received a call from the girl's girl we're adopting. She was in labor! That was two hours ago and Aiden went to see her since I couldn't risk being the near the baby with this stupid flu!
Naomi and I have been sitting outside dad's hospital room as we wait for the doctor to examine for about five minutes in silence. Aiden left ten minutes ago since he has a meeting to attend to."I can't believe they wouldn't tell us." I blurt out as I tap my foot against the floor. Naomi let's out a frustrated sigh."Yeah. I can't believe it either." She breathes out, as she looks down. Aaron walks in carrying two bags. Naomi stands and takes one of the bags and kisses him with a 'thank you'. She takes out three cups a day hand one of them to me."I forgot to tell him you prefer tea but this coffee is one of the best." Naomi offer and I take the cup with a grateful smile."Hey Alex." Aaron greets."Hi. Thanks." I lift the cup and he nods with a smile."Oliver went to see Ryan. Heard he might be discharged in a week or two depending on how everything goes." Aaron informs Naomi, unknowingly filling me with guilt. Aiden has been giv
The ride to the mafia base took about thirty minutes. Within the thirty minutes that Naomi had told me about dad waking up and me promising to be there tomorrow. I wasn't ready to see my parents but I was ready to release my anger on a certain girl."Did they bring what I asked for?" I ask Aiden as he directs me to a cell that she's in. "Yes." Aiden says and soon, the only sound is our shoes against the dirty floor and his cane. He places his fingerprints on the biometric doors as we gain access until we arrive."I'll get in now. Go do your mafia shit." I mock trying to push him but he doesn't budge. "We're getting in together, princess." Aiden says. I place my thumb on the biometric and the door immediately opens. I get in and immediately see Macy looking at me with a bored expression. Aiden gets in too before shutting the door."A knock next time would be fine." Macy says sarcastically. Soon the door beeps again and a cart is rolled
Everything is moving fast. I had called Naomi on the way to the hospital who, luckily, has her own business closer to the hospital and so arrived about three minutes after I did. She walked to me and immediately hugged me, seeing how shaken I was before walking into the room my dad was in."...how long have you know about this?" The doctor asks just as we enter and I suddenly sense something big. I turn to my crying mother who spares us no glance as she looks at her unconscious husband."Five months. We were told an operation might risk everything and so he decided to rely on the painkillers." Mother explains. The hold Naomi has on me tightens as I look at mother questionably but as usual, she doesn't look at us. The doctor only lets out an exhale of air before looking at my father and examining him."We'll have to do an MRI so that we can be sure of what we're dealing with here." He explains but before anyone says anything else Naomi speaks up."






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore