Share

Bab 3

Author: Peachy
Aku berlari menerobos keluar dari aula utama dan terhuyung-huyung menuju kolam renang di halaman belakang.

Kenny mengejarku, dan mencengkeram bahuku dengan sangat kuat. "Alya, sudah cukup! Aku sudah memeriksa keadaan Rafael. Dia sudah tiada. Kita akan membereskannya diam-diam dan semua masalah ini akan berakhir di sini. Itu cuma kecelakaan. Lupakan saja dan lanjutkan hidup!"

Aku melepaskan diri dari cengkeramannya dengan kasar dan bergegas lari ke tepi kolam.

Airnya tenang tak beriak dan tampak kosong.

Kereta bayi berwarna hitam dan bayi yang ada di dalamnya sudah lenyap!

Darahku terasa membeku. Aku mencengkeram kerah jas mahalnya. "Di mana bayinya? Di mana dia?"

Saat itu juga, dua anak buah Kenny yang sedang berjaga menghampiri kami dengan berlari kecil. "Bos, ada masalah?"

Kenny bertindak cepat.

Dia membekap mulutku dengan tangannya yang besar dan menarik tubuhku hingga menempel di dadanya. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol.

Dia melemparkan senyum jengkel ke arah mereka. "Tidak ada apa-apa, hanya pertengkaran suami-istri. Dia terlalu banyak minum."

Ibunya dan Intan bergegas datang untuk membantunya berdalih. "Iya, ini hanya depresi pasca-melahirkan. Kondisinya masih tidak stabil. Kalian pergi dan awasi gerbang depan."

Para pengawal itu menatapku dengan curiga, namun mereka mengangguk dan berlalu pergi.

Begitu mereka berada di luar jangkauan pendengaran, Kenny melepaskanku.

"Alya, apa menurutmu aku tidak peduli kalau putra kita sudah meninggal?"

"Tapi kalau kau membuat keributan dan semua orang sampai tahu, bagaimana nasib Maura nanti? Bagaimana mungkin kita bisa menjaga nama baik keluarga ini?"

Aku menyeka air mata dingin yang membasahi pipiku. "Apa semua itu lebih penting daripada nyawa manusia?"

Aku menoleh ke sekeliling dengan panik, berusaha mencari anak itu.

Namun tak ada apa-apa. Aku menyisir setiap jengkal halaman belakang, tetapi jasad mungil itu tak terlihat di mana pun.

Sampai akhirnya pandanganku tertuju pada mesin pemadat sampah industri yang sedang beroperasi di luar dapur utama kediaman.

Intan mengikuti arah pandanganku dan wajahnya langsung pucat pasi.

Dia bergegas menghalangi jalanku sambil merentangkan kedua tangannya. "Apa yang kau mau lakukan? Tempat itu kotor sekali!"

Aku mendorong tubuhnya dengan kasar hingga menyingkir dari jalanku dan berlari kencang menuju mesin pemadat sampah itu.

Pintu palka logam itu terbuka setengah, menebarkan bau busuk sampah yang menyengat.

Di antara sayuran busuk dan sisa makanan, aku melihat dengan jelas ujung selimut bayi yang sangat familier.

Darahku langsung terasa membeku.

"Apa kalian masih manusia?" Aku menunjuk ke arah mesin itu dan berteriak histeris penuh kepedihan. "Itu seorang bayi!"

Intan menyeimbangkan tubuhnya dan membetulkan letak kalung berliannya.

Dia sama sekali tidak terlihat malu. Sebaliknya, dia mengangkat dagunya dengan ekspresi angkuh.

"Itu cuma nyawa yang tak berharga!" ejeknya dengan bangga. "Aku hanya sedang membereskan masalah demi keluarga ini! Kalau para tamu sampai melihat mayat, reputasi kita akan hancur. Menghancurkannya dengan mesin itu adalah cara paling bersih untuk membereskan masalah ini!"

"Dasar ular betina!" Aku melotot ke arahnya sambil menggemeretakkan gigi penuh amarah.

Maura bersembunyi di balik punggung Intan, lalu menyembulkan kepalanya untuk mengejekku. "Berhenti teriak! Kau itu cuma ingin memanfaatkan bayimu yang sudah mati demi mencari simpati dan mencuri uang keluarga ini. Dasar wanita tidak tahu diri!"

Hatiku terasa perih luar biasa. Aku menoleh tajam ke arah Kenny dan menatapnya lekat-lekat. "Keluarkan bayi itu ... sekarang juga!"

Kenny melirik mesin pemadat sampah yang bau itu dengan rasa jijik yang teramat sangat. Dia mundur selangkah, seakan takut sepatu kulit mahalnya menjadi kotor.

"Cukup, Alya," ujarnya dengan santai. "Yang sudah mati ya sudah. Besok aku akan memesankan kapal pesiar yang kau sukai itu. Anggap saja itu sebagai kompensasi. Kita sepakat, ya?"

Sebuah kapal pesiar.

Baginya, nyawa manusia hanya sebanding dengan sebuah kapal pesiar sialan.

Sifat busuk keluarga ini benar-benar sudah menguras habis seluruh tenagaku.

Hanya satu hal yang ada di benakku saat itu, aku harus tahu siapa bayi itu sebenarnya.

"Keluarkan saja bayi itu. Kita ... kita akan memakamkannya dengan layak."

Kenny menarik napas panjang, lalu pasrah dan bersiap mematikan mesin itu.

Namun, Intan melangkah ke hadapannya dan menatapku dengan penuh kecurigaan. "Kenny, istrimu sedang mempermainkanmu. Begitu kau mengeluarkan mayat itu, dia pasti akan lari menemui ayahnya sambil membawa barang bukti!"

Maura menarik-narik jas Kenny. "Paman Kenny, aku tidak mau kena masalah …. Aku ada pesta dansa sekolah besok."

Kenny akhirnya menjatuhkan alat pengoperasi mesin itu. "Anak itu sudah mati, Alya. Berhentilah meributkan hal ini."

Aku memejamkan mata sambil tertawa getir.

"Baiklah. Tapi, jangan sampai kalian menyesali semua ini."

Setelah berkata begitu, aku melangkah tertatih-tatih menuju pintu keluar kediaman.

"Mau ke mana kau?" Intan mencengkeram pergelangan tanganku. "Kau tidak boleh pergi sebelum mesin itu menyelesaikan tugasnya. Kami tidak bisa membiarkanmu berkeliaran di jalanan sambil mengoceh sembarangan!"

Saat itu, tubuh bayi itu sudah dipastikan hancur terlumat. Tidak akan ada lagi bukti yang tersisa untuk menunjukkan bahwa dia sengaja ditenggelamkan.

"Ikat dia!" Sang Nyonya Keluarga memerintahkan para pelayan dengan nada dingin.

Tali rami yang kasar diikatkan dengan kencang di pergelangan tanganku.

Mereka mendorong dan menyeretku dengan kasar menuju gudang penyimpanan anggur bawah tanah.

Aku meronta sekuat tenaga, dan melemparkan tatapan memohon ke arah Kenny.

Namun, dia hanya membuang muka dengan kesal. "Setelah dikurung beberapa hari, kau akan merasa lebih tenang."

Gudang penyimpanan anggur itu gelap dan sangat dingin. Aku diikat erat pada sebuah kursi kayu yang berat.

Saat orang-orang dewasa sedang bersekongkol merencanakan sesuatu di luar, Maura menyelinap masuk ke dalam gudang.

Plak!

Dia menampar wajahku dengan keras.

"Itu balasan karena kau sudah memukulku!" Dia menjulurkan lidah, wajahnya menyiratkan sebuah kebencian.

Kemudian, dia mengangkat sepatu kulit mahalnya dan menendang perutku tanpa ampun.

Tepat di bagian bekas luka operasi sesarku yang belum sepenuhnya sembuh.

Rasa sakit yang luar biasa menghantamku hingga pandanganku terasa gelap, seperti ada sesuatu yang terkoyak. Aku membungkuk menahan sakit dan keringat dingin mulai bercucuran.

Kenny berjalan ke ambang pintu tepat pada waktunya untuk melihat kejadian itu.

Dia tidak menghentikan Maura, dan hanya mengangkat bahu. "Memangnya seberapa besar kekuatan yang bisa dimiliki seorang anak kecil? Kau sudah menakutinya tadi, jadi biarkan dia melampiaskannya sedikit."

Didukung oleh Kenny, Maura menjadi semakin berani.

Dia menunjuk jari ke wajahku dan berteriak, "Anak harammu itu memang pantas mati. Dia pantas dihancurkan menjadi sampah."

Sebelum kata-katanya selesai, pintu besi berat rumah itu didobrak dengan keras dari luar.

Puluhan pria bersenjata lengkap dengan setelan jas hitam menyerbu masuk seperti gelombang pasang. Senjata-senjata diacungkan dan setiap jalan keluar diamankan dalam hitungan detik.

Dikelilingi oleh para pengawal utamanya, ayahku, Sang Ketua dari Keluarga Sulivan ... melangkah masuk ke rumah besar itu.

Di dalam pelukannya, terlihat seorang bayi yang sedang menangis dan merengek.

Itu adalah putraku yang berusia tiga bulan dan masih hidup, Rafael!

"Siapa yang berani bilang cucuku sudah mati?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku   Bab 8

    Rocky menatap tulisan tinta hitam-putih itu. Matanya langsung terbelalak lebar."Kenny!" bentaknya.Wajah Kenny memucat. Dia refleks mundur sambil melambaikan tangan dengan panik."Rocky, biarkan aku jelaskan! Waktu itu kami mabuk dan itu cuma terjadi sekali.""Omong kosong!" teriak Rocky sambil mencabut pistolnya.Tetapi, anak buahku bergerak lebih cepat.Dua pengawalku menerjangnya, melucuti senjatanya, dan menahan kedua lengannya.Rocky benar-benar sudah hilang akal. Dia berhasil melepaskan diri dan menerjang tubuh Kenny, lalu menghantamkan tinju ke wajah adik kandungnya itu."Kau tidur dengan istriku? Bahkan, membuatku membesarkan anak harammu selama sepuluh tahun?" Rocky menindih dada Kenny dan menghajarnya habis-habisan hingga nyaris tewas.Aku berdiri di sana menyaksikan semua pertunjukan itu. Maura sudah berusia sepuluh tahun, jadi mana mungkin itu cuma terjadi sekali.Ruang tamuku pun berubah menjadi tempat pembantaian.Kenny tak punya tempat untuk bersembunyi. Hidungnya patah

  • Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku   Bab 7

    Rocky dan wanita tua itu membawa anak buah mereka dan mengacak-acak klub milik ayahnya Siska.Mereka mengancam akan membocorkan kepada seluruh dunia mafia bahwa Siska adalah kaki tangan Maura.Demi menjaga kedamaian, ayah Siska mengalah dan menanggung kerugian itu.Dia menyerahkan sebuah mobil mewah edisi terbatas dan sepuluh persen saham kepemilikan kasino.Sebagai seorang bos dengan kedudukan setara, dia menganggap hal itu tak lebih dari sekadar melempar recehan kepada pengemis.Namun, Keluarga Verian itu sangat serakah. Mereka menuntut lebih.Maura memaksakan air mata palsu dan memohon bagian yang lebih besar.Dia bahkan menuntut keluarganya Siska berlutut di depan umum dan mengakui seluruh kesalahan.Ayah Siska akhirnya habis kesabaran dan tidak mau lagi menerima penghinaan itu.Dalam pertemuan dengan semua keluarga besar mafia, dia meminta Siska memutar rekaman suara yang sangat menggemparkan.Dalam rekaman itu, Siska terdengar menangis, terlalu takut untuk menyentuh kereta bayi.

  • Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku   Bab 6

    Skandal itu menyebar luas dengan sangat cepat.Dalam waktu kurang dari setengah jam, semua keluarga mafia sudah tahu tentang pembunuhan mengerikan itu.Keluarga Verian menjadi bahan tertawaan di dunia mafia.Kenny mengabaikan ejekan itu. Dia menghindari ayahku dan menyelinap masuk ke kamar tidurku."Alya, kau harus menanggung kesalahan atas mayat itu," ujarnya sambil membanting pintu. Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah kewajibanku sebagai seorang istri.Aku sedang mengemasi pakaianku. Gerakanku langsung terhenti seketika.Dia tidak tahu bahwa brosku sedang merekam setiap kata yang diucapkannya."Kau bilang apa?" Aku tertawa dengan penuh amarah yang terasa dingin. "Aku yang harus menanggung kesalahan atas perbuatan kakak iparmu itu? Aku yang harus menghadapi murka Dewan Komisi Mafia demi wanita itu? Lalu, bagaimana dengan anakku?"Kenny melangkah mendekat, bersikap seolah dia sedang melakukan kebaikan untukku."Kami akan meminta Rocky mengambil Rafael sebagai pewarisnya. Aku akan

  • Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku   Bab 5

    Para pengawal membuka paksa mesin pemadat sampah itu. Dengan hati-hati, mereka menarik tubuh mungil itu keluar dari bagian terdalam mesin.Tubuh kecil itu berlumuran lemak dan darah, hancur hingga tak bisa dikenali lagi.Seorang pengawal menyingkap selimut kotor itu dengan tangan gemetar. Terlihatlah wajah mungil yang penuh memar dan tak bernyawa.Itu adalah Lukas. Putra Rocky dan Intan yang baru berusia tiga bulan."Tidak!" teriak Intan histeris. Matanya mendelik ke atas lalu jatuh pingsan.Maura merangkak mendekat. Dia jatuh berlutut di hadapan tubuh adiknya yang sudah hancur, lalu meraung dan menangis."Tidak, itu bukan Lukas!" Dia mencengkeram rambutnya sendiri. Air mata membasuh kotoran di wajahnya. "Aku mendorong anak haram perempuan jalang itu ke dalam sana!"Aku melangkah maju dan menatap psikopat kecil yang kejam itu. Aku bahkan pernah membelikan anak itu kalung berlian yang tak terhitung jumlahnya. Aku juga telah melindunginya di dunia mafia."Kau sungguh jahat!" Aku menatapn

  • Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku   Bab 4

    Ayahku menerobos masuk ke ruang penyimpanan anggur dengan Rafael yang aman dalam dekapannya.Beberapa saat yang lalu, Keluarga Verian masih sibuk memaki-maki namaku.Kini, wajah mereka tampak memucat pasi.Mata Kenny terbelalak lebar. Dia menatap anak itu, menerjang maju, lalu mencubit pipi Rafael dengan keras."Bagaimana mungkin kau bisa masih hidup?" serunya spontan.Rafael menjerit kesakitan.Tatapan mata ayahku berubah dingin membeku. Dia menghantamkan sepatu botnya dengan keras tepat ke dada Kenny.Kenny menjerit dan tubuhnya terlempar ke belakang hingga menghantam deretan tong kayu ek. Anggur merah bercampur dengan darah yang mengucur dari hidungnya, menggenang di atas lantai."Berani sentuh cucuku lagi, kau akan mati," geram ayahku.Kenny meringkuk di lantai sambil menahan sakit yang luar biasa. Dia mendekap dadanya, menggelengkan kepala dengan pandangan linglung."Mustahil. Aku melihat sendiri selimut bayi Rafael. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."Tiba-tiba, pupil m

  • Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku   Bab 3

    Aku berlari menerobos keluar dari aula utama dan terhuyung-huyung menuju kolam renang di halaman belakang.Kenny mengejarku, dan mencengkeram bahuku dengan sangat kuat. "Alya, sudah cukup! Aku sudah memeriksa keadaan Rafael. Dia sudah tiada. Kita akan membereskannya diam-diam dan semua masalah ini akan berakhir di sini. Itu cuma kecelakaan. Lupakan saja dan lanjutkan hidup!"Aku melepaskan diri dari cengkeramannya dengan kasar dan bergegas lari ke tepi kolam.Airnya tenang tak beriak dan tampak kosong.Kereta bayi berwarna hitam dan bayi yang ada di dalamnya sudah lenyap!Darahku terasa membeku. Aku mencengkeram kerah jas mahalnya. "Di mana bayinya? Di mana dia?"Saat itu juga, dua anak buah Kenny yang sedang berjaga menghampiri kami dengan berlari kecil. "Bos, ada masalah?"Kenny bertindak cepat.Dia membekap mulutku dengan tangannya yang besar dan menarik tubuhku hingga menempel di dadanya. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol.Dia melemparkan senyum jengkel ke arah mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status