Short
Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku

Reinkarnasi Demi Membalas Kematian Anakku

By:  PeachyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku membawa putraku yang baru lahir ke kediaman keluarga mafia suami untuk acara pengukuhannya. Keponakannya yang berusia sepuluh tahun, Maura ... si putri kecil manja kesayangan keluarga itu ... mendorong kereta bayiku langsung ke bagian terdalam kolam yang membeku. Putraku tenggelam hingga ke dasar. Dentingan gelas sampanye menenggelamkan suara jeritan terakhirnya. Aku menyelam seperti orang gila. Tetapi, yang berhasil kutemukan hanyalah tubuhnya yang dingin dan sudah tak bernyawa. Karena Maura adalah calon pewaris keluarga, maka pembunuhan itu dinyatakan sebagai sebuah kecelakaan tragis. Ayah mertuaku, Sang Ketua, memberiku kartu kredit tanpa batas sebagai bentuk kompensasi. Namun, aku tidak menginginkan uang itu. Aku hanya menginginkan putraku, Rafael-ku! Aku berlutut memohon kepada suamiku, Kenny, untuk membalaskan dendam atas kematian bayi kami. Namun, dia hanya memeluk keponakannya yang menangis itu dan menatapku dengan sorot mata kosong. "Alya, dia masih anak-anak. Apa kau tega menghancurkan satu nyawa hanya karena sebuah kesalahan?" Penolakannya untuk membalas dendam, membuatku sangat merana di rumah griya tawang kami selama musim dingin yang panjang, hingga akhirnya aku mati dengan jiwa hancur. Ketika membuka mata lagi, aku sudah terlempar kembali ke hari pengukuhan itu. Lengan suamiku melingkar di pinggangku dan ciuman panasnya sedang menyusuri leherku. "Anak kita akan diberkati hari ini." Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh. Aku memanggil pengawal pribadiku dan menyuruh mereka segera membawa putraku dengan aman ke kediaman keluargaku. Namun pada hari itu, sesosok tubuh mungil masih tetap terlihat mengapung di kolam renang.

View More

Chapter 1

Bab 1

Segera setelah menyuruh para pengawalku untuk membawa putraku pergi, aku langsung kembali ke pesta. Aku seketika berhadapan dengan tatapan menantang dari Maura.

Maura mengenakan gaun putih bak malaikat. Dia baru saja beranjak pergi dari tepi kolam renang.

Aku menatap ke arah air dan jantungku seakan mau copot.

Sebuah kereta bayi berwarna hitam tampak mengapung di kolam. Di dalamnya, ada seorang bayi yang terbungkus selimut terbaring kaku, tak bergerak sama sekali.

"MAURA!" teriakku. Suaraku memecah riuh tawa para tamu.

Kenny dan ibunya, Tania, bergegas lari keluar. Sang ibu, Nyonya Keluarga itu, menjerit dan jatuh berlutut.

Kenny menghampiri dengan langkah gontai dan tubuh gemetar. Dia menatap ke arah kolam renang. "Alya, bayinya ... dia tidak bernapas."

Aku bahkan tak sanggup untuk sekadar melihatnya. Aku segera berlari cepat menuju lantai dua dan Maura telah mengunci diri di kamarnya.

Aku menendang pintu itu dengan keras. "Maura, buka pintu sialan ini! Siapa yang sudah kau dorong ke kolam?"

Dia tidak menjawab. Namun, aku bisa mendengar suaranya yang terkekeh bersama temannya di dalam sana.

"Maura, apa kita dalam masalah? Ayahku pasti akan membunuhku!"

"Tidak. Itu kan tidak sengaja. Lagipula, keluarga kita tidak pernah menghukum anak-anak."

Kata-kata tanpa rasa takut itu menusuk telingaku bagaikan ujung pemecah es. Tubuhku mulai gemetar hebat.

Aku menghantamkan kaki ke pintu dengan segenap tenaga. "Keluar kau! Apa kau sadar kalau kau baru saja membunuh seseorang?"

Kenny berlari menghampiriku dari belakang. Dia mencengkeram lenganku dan matanya memerah. "Alya, tenanglah! Jangan menakuti anak-anak itu."

Aku menatapnya tajam dengan kebencian yang mendalam. Situasi ini sama persis seperti kehidupanku yang sebelumnya.

Dia mengira putra kami sudah mati, namun dia justru khawatir tentang menakuti keponakan sialannya itu.

Tania naik ke lantai atas sambil menyeka air mata. "Oh, Sayang. Kali ini Maura memang keterlaluan, tapi Alya, jangan terlalu keras padanya."

Dia melangkah mendekat. "Aku tahu kau sedang berduka atas kepergian Rafael. Tapi semuanya sudah terjadi. Kau masih muda, masih bisa punya anak lagi."

Dunia seakan berguncang di bawah kakiku.

Mereka mengira bayi itu Rafael, putraku.

Dan seperti inikah reaksi mereka? Sikap dingin yang sama, yang terasa begitu akrab dan sangat memuakkan.

Tetapi para pengawalku baru saja membawa pergi putraku.

Siapa sebenarnya sosok mungil yang mengapung di kolam itu?

Kenny memelukku erat. "Alya, aku bersumpah akan menuntut keadilan untuk Rafael. Tapi Maura itu masih anak-anak, dia tidak mengerti apa-apa ...."

Aku mendorongnya menjauh sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Apa maksudmu? Kalau dia tidak mengerti apa-apa, kenapa bukan dia saja yang menenggelamkan dirinya sendiri?"

Aku melangkah cepat menuju lemari di koridor. Aku menyambar tongkat besi berat untuk perapian dan menghantamkannya ke pintu kamar Maura seperti orang gila.

Tania terkesiap dan mundur. Pintu itu bergetar hebat, bahkan seluruh rumah besar itu seolah ikut berguncang.

"Maura, cepat keluar sekarang juga! Kalau tidak, aku akan mendobrak pintu ini sampai hancur!"

Mengapa dia boleh lolos begitu saja setelah melakukan pembunuhan? Meskipun bayi yang tewas hari ini bukan anakku, aku tetap akan menuntut keadilan baginya!

Mendengar hantaman keras itu, Maura berteriak dari dalam, "Berhenti! Kalau tidak, aku akan melompat dari balkon."

Napasku terengah-engah. Aku menjatuhkan tongkat besi itu, mencabut pisau pajangan untuk berburu dari dinding, lalu menebas pintu kayu itu. Mata pisau itu menancap dalam dan kuat di pintu.

"Kalau begitu, lompat saja! Karena kalau aku berhasil masuk ke sana, aku tetap akan membunuhmu!"

Aku menghancurkan kuncinya hingga pintu itu akhirnya terbuka.

Maura berdiri di sana dengan ekspresi wajah kesal.

"Apa?" Dia memiringkan kepala, memandangku dengan tatapan mata hitam yang dingin dan kosong. "Kenapa kau berisik sekali?"

"Siapa yang kau dorong ke dalam kolam, Maura?"

Dia melirik ke arah bayi yang ada di lantai bawah, lalu kembali menatap wajahku. Senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Sudah jelas, anakmu. Bocah ingusan yang terlalu banyak menyita perhatian Paman Kenny."

Plak!

Aku menamparnya dengan sangat keras.

Suara tamparan itu bergema di ruangan tersebut. Kepala Maura tersentak ke samping.

Air mata seketika menggenang di pelupuk mata Maura. Dia memegangi pipinya karena terkejut. "Berani sekali kau memukulku? Ayahku saja tidak pernah memukulku. Kau bahkan bukan anggota keluarga yang sebenarnya, dasar wanita jalang ...."

Aku pun menamparnya lagi. "Justru karena ayahmu tidak pernah memukulmu, makanya kau tumbuh jadi anak nakal!"

Aku mencengkeram kerah bajunya. Sambil menggeram dengan gigi terkatup, aku membentaknya, "Aku tanya sekali lagi. Siapa yang kau dorong tadi?!"

Maura akhirnya berhenti berpura-pura. Dia memegangi wajahnya dan merengek, "Rafael, anakmu. Kata Mama, bayi itu secara alami sudah tahu caranya berenang. Aku cuma mau membuktikan apa itu benar."

"Tapi dia berhenti bergerak setelah kira-kira sepuluh detik. Aku tidak menyangka dia akan benar-benar mati."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status