Share

Bab 9

Penulis: Budi Nanas
"Dari sini saja sudah ketahuan kamu belum pernah jual hasil tangkapan dalam jumlah besar. Kalau hari ini kita cuma dapat 150 atau 200 kilogram ikan gulama, harganya masih bisa sampai 4.000 lebih per kilo."

"Tapi kalau mau jual lebih dari 500 kilo kayak sekarang, kalau nggak cepat-cepat, besok 30 persennya sudah mati. Kalau sudah begitu, belum tentu kita bisa dapat harga 3.600 per kilo."

"Itu pun kamu masih harus melaporkan jumlah ikan yang mati dan kasih sedikit uang pelicin."

Ardi tertawa pelan. Dia langsung paham. Ternyata toko hasil laut milik negara menurunkan harga sesuai kondisi ikan yang diterima.

Situasi seperti ini memang cukup umum. Meskipun kebijakan sudah mulai dirombak, di daerah-daerah, perusahaan milik negara masih menguasai pasar dan memiliki posisi monopoli yang istimewa. Karena itu, kekuatan tawar-menawar mereka sangat besar.

Di kota kecil dekat desa ini, hanya ada satu toko hasil laut milik negara yang mampu membeli ikan dalam jumlah sebesar ini. Pilihan yang tersedia hanya ada dua.

Menjual dengan harga murah ....

Atau membiarkan ikan mati dan nilainya makin jatuh.

Namun, karena dia berani menangkap ikan gulama sebanyak ini sekaligus, tentu Ardi sudah memikirkan jalan keluarnya sejak awal.

Pada hari yang sama di kehidupan sebelumnya, dia sedang berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait kasus Kinara yang dituduh membunuh Badrul.

Setelah keluar, dia mengetahui bahwa restoran milik negara di kota sedang menjadi penyelenggara sebuah pesta pernikahan besar. Seluruh restoran, dari lantai satu hingga lantai tiga, disewa penuh untuk acara itu.

Hampir semua tamu yang hadir merupakan orang-orang penting. Bahkan pihak kabupaten juga mengirim perwakilan.

Namun, pesta pernikahan yang begitu menyita perhatian itu malah mengalami masalah. Penyebabnya adalah kekurangan ikan gulama. Akibatnya, salah satu hidangan utama berupa ikan gulama tidak pernah tersaji di meja tamu.

Setelah kejadian itu, kepala koki langsung dipecat. Sementara manajer umum mengundurkan diri untuk bertanggung jawab.

Sejak saat itu, bisnis restoran milik negara itu makin merosot. Tepat setahun kemudian, restoran itu bangkrut sepenuhnya. Adapun alasannya, beredar banyak versi cerita. Ada yang mengatakan ayah mempelai pria adalah tokoh besar dunia mafia. Ada pula yang menduga keluarga itu memiliki hubungan dengan pejabat penting di kota.

Namun, Ardi tidak peduli dengan semua itu. Yang dia tahu hanyalah satu hal.

Asalkan hari ini dia bisa mengantarkan ikan gulama ke restoran itu, dia pasti akan untung besar!

Memikirkan hal itu, Ardi menoleh ke arah Madya. "Om, kalau dijual ke toko hasil laut milik negara, harganya terlalu murah. Kalau Om percaya sama aku, serahkan ikan-ikan ini untuk aku jual. Aku jamin bisa laku dengan harga tinggi!"

Mendengar ucapannya, Madya mengernyit.

"Ikan sebanyak ini kalau nggak dijual ke toko hasil laut, mau dijual ke siapa? Jangan macam-macam. Kalau kelamaan dan ikan-ikannya mati, harganya benar-benar bisa jatuh. Beda harga ikan hidup dan ikan mati bisa sampai dua kali lipat lho!"

Ardi menggaruk kepalanya. "Om, percaya deh sama aku sekali lagi."

"Kemarin waktu ke kota, aku dengar kalau di restoran milik negara sedang ada pesta pernikahan dan mereka kekurangan pasokan ikan. Kalau kita bawa muatan dua kapal ini ke sana, setidaknya dua pertiga pasti bisa terjual."

"Sisanya baru kita jual ke toko hasil laut. Dengan begitu, harganya masih bisa bagus."

Kening Madya makin berkerut. "Yakin informasi itu benar? Kalau kamu bawa ikan ke sana lalu ternyata mereka nggak butuh lagi, sebagian ikannya pasti sudah mati."

Ardi tidak menjawab langsung. Dia berbalik masuk ke kabin, lalu mengangkat sonar yang dibelinya dan membawanya ke kapal Madya.

"Om, sonar ini kubeli seharga 300 ribu. Sekarang setelah selesai disetel, nilainya paling nggak 400 ribu. Aku tinggalkan benda ini sebagai jaminan di kapal Om."

"Kalau hari ini ikan-ikan ini nggak terjual dengan harga bagus karena kesalahanku, sonar ini akan jadi milik Om."

Madya segera melambaikan tangan. "Itu sudah beda urusan. Aku cuma mau menasihati kamu. Mau dengar atau nggak , itu urusanmu. Ambil kembali sonar ini."

Dia sudah melihat sendiri kemampuan sonar itu. Tanpa alat itu, mustahil mereka bisa menangkap ikan sebanyak ini.

Memang, jika memiliki sonar itu, dia bisa pergi lebih jauh ke laut dan menangkap ikan yang lebih besar dan lebih banyak. Namun, saat membagi hasil tangkapan tadi dia sudah merasa mendapatkan keuntungan.

Kalau sekarang masih menerima sonar itu juga, dia benar-benar orang yang tidak tahu malu.

Ardi mengangkat tangan memberi isyarat agar Madya tenang. "Om, nggak usah diperdebatkan lagi. Sonar ini kutitipkan di kapal Om."

"Kalau Om nggak mau terima, anggap saja Om bantu aku simpan sementara waktu."

"Sekarang sudah lumayan siang, aku harus cepat cari kendaraan ke kota. Kalau terlambat, ikannya keburu mati."

Setelah berkata begitu, dia mencari seorang pengepul ikan dan menyewa truk pengangkut hasil laut. Setelah semua ikan dimuat ke atas truk, dia langsung berangkat menuju kota.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 50

    Di pelabuhan ....Madya sedang mengisi solar ke kapalnya ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil dari belakang."Om Madya!""Om Madya!"Dia menoleh dan melihat Badrul berlari cepat menghampirinya.Wajah Madya seketika menjadi muram. Dia masih ingat jelas kejadian tempo hari, saat Badrul datang ke rumahnya dan menagih paksa biaya sewa tambak.Setelah sampai di dekatnya, Badrul langsung berkata, "Om, ada sesuatu yang perlu aku ceritakan! Kinara dan Ardi sudah jadian!"Madya hanya melirik Badrul sekilas, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan mengisi bahan bakar ke kapal.Melihat reaksinya, Badrul mengira Madya tidak mendengar. Dia pun mengulanginya lagi, "Om, Kinara sama Ardi betulan sudah jadian!"Madya mengernyit. Bahkan kepalanya pun tidak diangkat. "Ya, aku sudah dengar."Mendengar itu, kedua alis Badrul hampir menyatu. Dengan wajah penuh keheranan, dia berkata, "Om sudah pikun ya? Aku bilang putri Om, Kinara, sudah pacaran sama Ardi si bajingan itu! Kenapa Om sama sekali ngga

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 49

    Ardi memandang Badrul, lalu tersenyum. "Kenapa? Kamu takut?"Badrul mendengus dingin. "Aku? Takut sama kamu?"Ardi mengangkat alis. "Kalau nggak, buat apa sengaja nungguin aku di sini?"Badrul mendengus pelan, sorot matanya penuh penghinaan. "Aku cuma mau ingatkan, jangan ikut campur urusan yang bukan urusanmu.""Dulu orang yang berebut jadi pemasok ikan restoran milik negara jumlahnya bisa antre sampai ujung jalan.""Tapi kenapa pada akhirnya yang dipilih justru keluargaku? Itu karena ayahku kenal sama Bu Rahayu, wakil manajer bagian pengadaan!""Jangan mentang-mentang sekarang dekat sama Pak Dayat, kamu merasa bisa merebut usaha keluarga kami. Selama Bu Rahayu masih ada, kamu nggak akan bisa berbuat apa-apa.""Dan satu lagi, jangan coba-coba nangkap ikan bahaba. Kalau nggak, aku akan kasih tahu Om Madya soal hubunganmu dengan Kinara.""Kita lihat saja nanti, kakimu bakal dibuntungin sama Om Madya nggak!"Mendengar itu, Ardi malah tertawa. Awalnya dia mengira Badrul sengaja mengadang

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 48

    Badrul mengangguk, tetapi dalam hati dia merasa heran. Kenapa tiba-tiba Rahayu menanyakan soal Ardi?Rahayu menatap Badrul. "Coba ceritakan, sebenarnya siapa Ardi itu?"Badrul mengernyit, lalu menjawab, "Bocah itu cuma penjudi kelas kakap. Sejak ayahnya meninggal, dia nggak pernah bekerja serius. Malah setiap hari datang terus ke rumahku, maksa ngajak main kartu.""Dia gila judi, tapi kemampuan mainnya payah. Akhirnya dia kalah sampai hartanya habis. Terus dia terus-terusan minjam uang dari aku. Setelah nggak sanggup bayar, dia mulai mencuri barang milik warga desa.""Pas sudah ketahuan, dia malah nggak mau ngaku. Orangnya juga suka nipu. Setiap hari ada saja kebohongan baru yang dia bikin buat nipu duit orang. Sekarang warga desa langsung menjauh kalau lihat dia."Rahayu sedikit memicingkan mata. Ardi ternyata lebih buruk daripada yang dia sangka. Kemungkinan besar, Dayat sudah ditipu oleh Ardi sampai berani menggantungkan harapannya pada orang semacam itu.Awalnya dia sedikit khawati

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 47

    Rahayu sempat terdiam mendengar sindiran itu, lalu tersenyum sambil mengangguk. Kini, dia sudah paham. Dayat memang sengaja melawannya."Karena kamu juga sudah dapat orang, gimana kalau tugas ini dikasih ke kedua pihak saja? Siapa yang berhasil menangkap ikan yang lebih besar, dialah yang kita pakai."Dayat mengangguk. "Oke, sepakat.""Tapi, rasanya kurang menarik. Gimana kalau kita tambahkan sedikit taruhan?"Rahayu memutar bola matanya dan langsung memahami maksud Dayat. Ini berarti mereka berdua akan bertaruh hasil.Dia tahu kemampuan melaut Badrul dan Imsyaq. Memang kemampuan Badrul biasa saja, tetapi kemampuan Imsyaq termasuk salah satu yang terbaik di Desa Pasirya. Dengan dua orang itu, dia yakin ikan bahaba pasti akan jatuh ke tangannya.Menurutnya, Dayat hanya sedang panik dan asal bertaruh pada seorang mantan penjudi. Kalau orang seperti itu bisa menang, baru aneh."Boleh. Kalau mau main, kita main yang besar sekalian. Kalau kamu kalah, kamu harus menemui manajer utama dan min

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 46

    Saat mereka sedang berbincang, Siddiq mendorong pintu belakang dan keluar.Begitu melihat ikan kerapu di tangan Dayat, dia sempat tertegun sejenak, lalu cepat-cepat mendekat sambil menunduk. "Pak, Bu Rahayu cari Bapak."Dayat langsung mengernyit. "Cari aku untuk apa?"Terhadap Rahayu ini, dia memang sama sekali tidak punya kesan yang baik. Rahayu adalah wakil manajer mereka. Dia bertanggung jawab atas bagian pengadaan di restoran milik negara.Dari sisi wewenang, posisi mereka memang sering berbenturan. Dahulu setiap kali Dayat ingin membeli bahan baku, dia harus mengajukan laporan dan meminta persetujuan Rahayu.Belakangan karena sudah tidak tahan, dia pernah menemui manajer utama. Baru setelah itulah dia mendapatkan hak pembelian sendiri dalam jumlah tertentu. Namun, batasnya hanya 3 juta per bulan. Jika nilai pembeliannya melebihi batas itu, dia tetap harus melapor kepada Rahayu.Kalau hanya soal itu, sebenarnya Dayat tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang membuatnya curiga adalah

  • Reinkarnasi1984: Dari Nelayan, Jadi Juragan   Bab 45

    "Tapi, ayahku dulu pernah bilang, kalau mau mengakui seseorang sebagai kakak, nggak bisa cuma asal panggil. Harus ada hadiah perkenalan.""Kamu juga tahu, aku cuma nelayan. Selain ikan, aku nggak punya barang lain yang pantas dijadikan hadiah. Jadi, semoga kamu mau menerima ikan ini."Dayat menatap ikan kerapu besar di hadapannya. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Ikan kerapu ini adalah yang paling besar dan paling bagus di antara seluruh hasil tangkapan tadi. Menurut perkiraannya, berat ikan itu bisa mencapai sekitar 2,5 kilogram.Dengan harga yang baru saja mereka sepakati, yaitu 60 ribu per kilogram, nilainya mencapai sekitar 150 ribu.Bagi seorang teknisi pabrik, 150 ribu setara dengan penghasilan sebulan penuh. Apalagi Ardi hanyalah seorang nelayan desa.Seorang nelayan muda yang memiliki cara berpikir dan keluasan hati seperti ini benar-benar sulit dipahami.Melihat Dayat tidak segera merespons, Ardi juga tidak terburu-buru. Dia yakin Dayat pasti akan menerimanya. K

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status