LOGIN“Dis-le, Soraya… à qui appartiens-tu ?” “À toi, Zayne. Tu me possèdes entièrement.” Soraya Vale avait tout pour elle : la beauté, la gloire et un mari que le monde entier enviait… jusqu’à ce qu’une trahison la précipite du haut d’un escalier de marbre et lui coûte la vie. Mais le destin lui offrit une seconde chance. Renaissant à vingt et un ans, elle jura d’anéantir ceux qui avaient détruit sa famille et ruiné sa vie. Sa vengeance était parfaite… jusqu’à ce que Zayne King, l’oncle de son ex-mari, un homme d’une puissance redoutable, la réduise en cendres et pulvérise tous ses plans. Désormais, tiraillée entre vengeance et désir, elle doit choisir : réduire le monde en cendres… ou se laisser consumer par lui.
View MoreTamparan keras mendarat di pipi mulus gadis cantik yang berusia 21 tahun. Dia adalah Sarah Marcelina, putri tunggal pengusaha sawit ternama yang masih berstatus mahasiswa disalah satu universitas terbaik di kotanya.
Tamparan itu mengayun dengan keras menghantam pipi Sarah dengan kuat, sehingga membuat gadis cantik berhidung mancung bak boneka barbie itupun terperanjat lalu terbangun, seketika membuatnya merasakan nyeri yang begitu menyakitkan.“Ayah, kenapa memukulku?” tanya Sarah kepada pria yang menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Lelaki itu terlihat sangat murka.“Masih berani kamu bertanya? Lihat dirimu! Dasar anak tidak tahu diuntung, beraninya kamu membuat malu keluarga dengan membawa lelaki tukang ojol ini kedalam kamar!” ucap Bagas dengan penuh amarah.Bagas menunjuk ke arah lelaki 30 tahun itu yang merupakan langganan ojek sarah ke kampus. Pria itu bernama Zavar. Ia tertidur dengan pulas, menampakkan wajahnya yang kelelahan seakan habis melakukan pertarungan sengit di ranjang. Terlebih-lebih Zavar tak mengenakan apapun. Hanya selimut yang menutupi tubuh bugil keduanya. Pakaian mereka berdua tercecer di ruangan bernuansa pink tersebut.“Apa?”Kata-kata itu keluar dari bibir seksi Sarah dengan perasaan yang sangat mengejutkan dirinya sendiri. Ia memalingkan kepala, melihat ke arah samping dimana Ayahnya menunjuk.Seketika mata Sarah membulat sempurna setelah melihat Zavar yang berada satu selimut dengannya. Sarah baru sadar kalau dirinya dan Zavar tak mengenakan pakaian.“Apa yang terjadi?” ucap Sarah setengah berteriak. Tentunya hal tersebut membuatnya sangat terkejut.“Tanyakan pada dirimu, Sarah, tentunya kamu lebih tahu!” jawab Bagas dengan nada yang sangat tinggi, menggema di dalam ruangan tersebut. Bagas sangat emosi, bahkan darahnya mendidih sampai ke ubun-ubun! Ayah mana yang tak marah melihat anak gadisnya berbuat tak senonoh.Sarah mengingat-ingat, apa yang terjadi kemarin malam. Ia ingat dirinya baru saja pulang sehabis membeli alat-alat untuk praktek kuliah, selesai berbelanja ia ingat tak memiliki uang yang cukup untuk membayar, kemudian Sarah masuk ke dalam rumah untuk mengambil uangnya di dalam kamar. Setelah itu Sarah tak ingat apa-apa lagi.“Dasar gadis murahan! Beraninya kamu membawa tukang ojol ini tidur di kamar saat kami tidak di rumah. Kamu sengaja ingin mencoreng wajah ayahmu, Sengaja kamu hah! Ayahmu ini pengusaha ternama, Sarah! Ya Tuhan, hukum hambamu yang terlalu memanjakan anak tiriku, memberikannya kasih sayang melebihi putri kandungku sendiri, sehingga ia menjadi liar begini!”Lena sang ibu tiri ikut berteriak histeris, mengusap kepalanya yang seakan terasa pusing dan shock.“Tega kamu, sarah. Aku tak menyangka kamu bisa melakukan hal tak bermoral seperti ini, berzinah dengan lelaki yang … hanya tukang ojol? Kamu keterlaluan, Sarah. Membuat Mama dan Ayah kecewa!” Selena, saudara tiri Sarah yang seusia dengannya pun ikut-ikut bicara, membuat situasi semakin memanas.“Tidak, aku tidak sehina itu. Kalian salah paham, ini tidak sama seperti yang kalian lihat.”Sarah mencoba membela diri. Namun, saat Sarah mencoba menjelaskan, Bagas sudah lebih dahulu keluar dari kamar. Ia tak kuasa melihat pemandangan tersebut. Hatinya yang bagaikan kaca telah hancur berkeping-keping setelah melihat perbuatan putri kesayangannya, putri yang selama ini selalu ia bangga-banggakan.
“Mas, Tunggu!” teriak Lena melihat Bagas yang keluar dari kamar. “Lihat ulahmu, Sarah! Jika terjadi sesuatu terhadap Ayahmu, Mama tak akan pernah memaafkan kamu!” ancam Lena kepada Sarah. Ia menatap Sarah dengan pandangan yang menjijikkan, setelah itu Lena pun berlari keluar mengejar suaminya.“Puas kamu menghancurkan keluarga ini!” ucap Selena, ia pun keluar meninggalkan Sarah yang masih mematung dengan selimutnya.Melihat semuanya telah pergi, dengan cepat Sarah memungut pakaiannya yang tercecer, di lantai kemudian memakainya dengan Segera. Sarah menatap pria yang masih terlelap itu dengan tatapan penuh kebencian. Sarah merasa bahwa semua ini adalah rencana Zavar yang licik!Setelah berpakaian, Sarah berlari keluar mencari sang Ayah untuk menjelaskan kesalahpahaman saat ini. Terlihat Bagas sedang memijat kepalanya yang terasa mau pecah di ruang tamu.Sarah menghampiri sang Ayah, untuk menjelaskan. “Ayah. Ini hanya salah paham, tidak seperti yang Ayah lihat! Kami tidak berzina, Ayah!” ucap Sarah menimpali, tentunya gadis itu membela diri.“Bagaimana Ayah bisa percaya, lihat diri kamu yang tak lebih seorang jalang! Kamu sama saja seperti ibu kamu!” Bagas menghardik Sarah penuh emosi.Ayah mana yang tak sakit hati mendapati putrinya seperti itu. Bayangan kelam mendapati ibunya Sarah seranjang dengan lelaki lain kembali terlintas di benak Bagas. Sama seperti yang Sarah lakukan.“Ada CCTV, Ayah bisa lihat kalau kami difitnah,” ucap Sarah membela diri.“Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, Mas. Percuma melihat CCTV, kamu mau menunjukkan pada kami aksi liarmu dengan pemuda miskin itu? Membayangkan saja membuat kami semakin muak pada mu. Jangan-jangan kamu sudah sering melakukannya!" Cecar Lena dengan bengis."Mas, daripada melihat CCTV lebih baik Sarah segera kita bawa ke KUA, aku takut kalau Sarah sudah hamil mau ditaruh dimana wajah kita Mas. Sebaiknya kita nikahkan mereka dengan segera, sebelum perut Sarah membesar Mas, mereka sudah terlanjur membuat malu keluarga ini! Di Rumah ini saja Sarah berani melakukan hal tak senonoh begini, apalagi diluar sana!” ucap Lena memanas-manasi Bagas.
“Tidak, Mah. Sarah tidak seperti itu. Sarah tidak pernah berzinah. Ayo Ayah, lihat CCTV-nya. Kita lihat kalau Sarah memang tidak bersalah,” ucap Sarah sekali lagi.“Alah, mana ada pencuri yang mengaku, Sarah. Sudahlah, kamu tidak mengelak lagi, bukti sudah sangat jelas, Mama tidak menyangka telah salah mendidik kamu, padahal selama ini Mama selalu berikan kasih sayang yang tulus sama kamu, kenapa kamu tega Sarah.”“Mah, Pah, please dengerin penjelasan Sarah!” Mata Sarah berkaca-kaca memandang ke arah Lena serta ayahnya secara bergantian.Semua mata memandang ke arah Bagas menunggu jawaban yang keluar dari bibirnya.“Sudahlah, Sarah. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi, benar kata Ibu tirimu. Sebaiknya kalian dinikahkan saja daripada terus berbuat dosa, kalian sudah terlanjur mencoreng kotoran di wajah Ayah!” jawab Bagas.“Ayah! Tolong dengar penjelasan Sarah sekali ini saja!” pekik gadis itu.“Tidak, Ayah. Sarah belum siap menikah, Sarah ingin menyelesaikan kuliah terlebih dahulu!”Namun Bagas tak mau mendengar penjelasan putrinya lagi, mata dan kepalanya sudah sangat jelas menjelaskan apa yang terjadi.Disaat bersamaan Zavar yang tampak kaget pun baru saja keluar dari kamar, telah mengenakan pakaiannya, menghampiri keluarga Sarah yang tampak membahas sesuatu yang penting.“Nah, itu dia Yah, calon pengantin Sarah sudah bangun,” celetuk Selena menatap nanar dan hina pemuda yang bernama Zavar tersebut.“Calon pengantin? Apa maksudnya?” tanya Zavar yang merasa bingung, apakah saat ini dia sedang bermimpi?SORAYANous sommes rentrés d'Hawaï un dimanche.La ville était exactement la même qu'à notre départ : bruyante, indifférente, et toujours aussi animée, sans que personne ne se rende compte que les deux personnes qui sortaient de la voiture devant King-Vale Holdings étaient parties en couple et revenues avec une relation bien plus profonde.Dans l'ascenseur qui montait au penthouse, j'ai contemplé ma bague.Zayne a remarqué mon regard. Il n'a rien dit, mais m'a adressé un petit sourire.« Arrête », ai-je dit.« Je n'ai rien dit. »« Tu pensais à voix haute. »Il a posé sa main sur la mienne. La lumière de l'ascenseur a brillé sur la bague.« Fiancée », a-t-il dit, comme s'il tâtonnait.« N'en fais pas toute une histoire. »« Je n'en fais pas toute une histoire. Je m'y habitue. »L'ascenseur s'est ouvert et nous sommes entrés dans le penthouse. La semaine qui suivit fut celle d'une vie ordinaire, tout simplement.Nous l'avons annoncé à Elena en premier. Elle ouvrit la porte de son appar
ZAYNEJ'avais une bague sur moi depuis quatre jours.Pas dans un écrin, et surtout pas dans ma valise où Soraya risquait de la trouver en fouillant son sac comme elle le faisait parfois dans le mien à la recherche de son chargeur de téléphone ou de la clé de sa chambre qu'elle égarait toujours. Je la gardais dans la poche intérieure de ma veste, là où je la sentais à chaque mouvement.Je l'avais achetée trois semaines auparavant, avant de venir à Hawaï avec Soraya.Pas sur un coup de tête, cependant, un fait que Soraya trouvait à la fois rassurant et parfois exaspérant. J'étais allée seule, un mardi matin avant l'ouverture, dans une bijouterie très chère mais efficace de la ville. Assise en face du propriétaire pendant quarante minutes, je lui avais décrit la femme à qui je l'achetais, en précisant ses goûts et ses aversions. Le propriétaire, à qui j'avais insisté pour qu'il s'occupe de moi et non de ses employés, n'avait eu d'autre choix que de poser son catalogue et d'aller lui-même
SORAYACe premier matin à Hawaï me parut étrangement familier.Je me suis réveillée avant Zayne, chose rarissime sauf en vacances ou quand je décide de me lever tôt. Je suis restée un instant immobile, à écouter et à savourer la chaleur de la pièce.L'océan était juste devant l'immeuble. Pas au loin comme en ville, où il faut tendre l'oreille pour entendre l'eau noyée sous le bruit de la circulation.Juste là. Il semblait continu et proche, emplissant la pièce à travers les portes vitrées ouvertes, comme s'il m'attendait.Je me suis levée doucement et suis allée sur la terrasse, pieds nus.Le soleil était encore bas, le ciel baigné de ce mélange matinal d'or pâle et de bleu tendre qui ne dura qu'une vingtaine de minutes avant que la chaleur ne s'installe.Le sable sous la terrasse était blanc et l'eau, au loin, changeait de couleur : bleu profond à l'horizon, turquoise au large, presque transparente là où elle léchait le rivage. Je restais là, dans la chemise trop grande de Zayne, mon
SORAYAJ'étais en pleine analyse d'une proposition immobilière quand Zayne est entré dans le bureau et a fermé mon ordinateur portable. Comme ça.Je l'ai regardé. « Zayne ? »« Prépare tes affaires », a-t-il dit.« Je travaille. »« Tu travaillais. » Il a posé une enveloppe sur le bureau devant moi. « Deux semaines. Il fait chaud et magnifique. On part demain à huit heures. »J'ai fixé l'enveloppe. Puis je l'ai regardé. Il se tenait là, les mains dans les poches, avec cette expression qu'il avait quand la décision était déjà prise et que cette conversation n'était qu'une simple formalité.« J'ai trois réunions la semaine prochaine », ai-je dit.« Reporté. »« La réunion trimestrielle de Vale Properties est mercredi… »« Reportée. »« Zayne… »« Soraya. »J'ai soupiré et pris l'enveloppe. Je l'ai ouverte lentement, surtout pour me donner le temps de trouver une bonne excuse. Deux billets de première classe pour Honolulu. Un itinéraire imprimé avec une seule chose : une adresse privée e
SORAYALe volant était encore chaud de mes mains même après m'être garée devant chez moi.Mon pouls battait toujours la chamade. Cette journée avait été intense.De la renaissance aux auditions, en passant par ce baiser presque passionné avec Zayne…Zayne…Son souffle sur ma joue…Sa main sur ma ta
SORAYAMes jambes tremblaient encore un peu quand je suis sortie de la salle de bain.Pourquoi ?ZAYNE EST ARRIVÉ.Son parfum : sombre, précieux, addictif. Il imprégnait encore ma peau.Mes lèvres picotaient comme s'il m'embrassait encore.On a failli faire l'amour. Il s'est arrêté.Et ça en disait
ZAYNEJ'étais à mi-chemin de l'entrée du bâtiment de casting quand mon téléphone vibra. Le nom de l'appelant me figea sur place : Marcus, le chef de la sécurité de mon grand-père. Marcus n'appelait que lorsque quelque chose de grave se produisait.“Monsieur,” dit-il d'une voix tendue, “Nous avons u
SORAYALe bâtiment des castings était exactement comme dans mes souvenirs : tout en verre et en acier. Cette fois, je n'étais plus la fille brisée qui avait raté sa chance. Cette fois, j'étais là pour récupérer ce qui m'appartenait.Mes talons claquaient avec assurance sur le sol en marbre tandis q












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.
reviews