Home / Romansa / Rengkuhan Hangat Adik Ipar / 𑣲⋆ Topeng Manipulasi

Share

𑣲⋆ Topeng Manipulasi

Author: Aphrodite
last update publish date: 2026-06-19 22:28:35

"Siapa Rissa?!"

Alina melempar ponselnya dan langsung mengenai dada bidang Tristan yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi.

Tristan mengaduh pelan. Dia hampir saja menjatuhkan ponselnya ke lantai. Matanya melotot tajam menatap Alina.

"Alina! Apa-apaan kamu ini?! Kesetanan?!" bentak Tristan.

Alina berdiri kaku di samping ranjang. Napasnya naik turun menahan amarah.

Jari-jari Alina gemetar hebat, tapi dia menolak untuk menunduk apalagi mengusap matanya yang panas.

"Baca," kata Alina, suaranya bergetar berat karena emosi. "Kamu baca isi pesan di ponsel sialanmu itu!"

Tristan menghembuskan napas kasar. Dia menyalakan layar ponselnya. Hanya butuh tiga detik sampai raut wajahnya berubah total.

Tristan membelalak, lalu menatap Alina dengan panik.

"Sayang... ini cuma salah paham—"

"Siapa Rissa?! Jawab aku, Tristan! Apa maksud kalimat dia soal cairanmu yang mengalir di rahimnya?!"

Tristan mematikan layar ponsel, lalu meletakkannya kasar di atas meja rias. Dia melangkah cepat mendekati Alina dengan kedua tangan terangkat ke udara.

"Dengar dulu! Kamu itu asal tuduh, kamu nggak tahu apa-apa!" seru Tristan dan berusaha meraih tangan Alina.

Alina menepis tangan Tristan dengan keras. Dia melangkah mundur, lalu meraih jubah mandi yang tergantung di dekat lemari, lalu mengenakannya dengan kasar.

Alina mengikat talinya kencang-kencang, lalu dia membungkus rapat tubuhnya yang gemetar.

"Nggak tahu apa-apa kamu bilang?!" amuk Alina. "Wanita itu terang-terangan mengetik kalau aku ini istri mandul! Dia bilang terima kasih atas servis panasmu sebelum kamu pulang ke rumah ini! Bagian mana dari kalimat itu yang salah aku artikan, Tristan?!"

Tristan mengacak rambutnya yang basah dengan frustrasi. Wajahnya ikut menegang.

"Bisa bicara baik-baik?! Jangan teriak-teriak seperti orang gila!" nada suara Tristan membentak keras. "Aku ini suamimu! Punya sopan santun sedikit!"

"Sopan santun?!" Alina tertawa sinis, suara tawa yang sarat akan rasa sakit dan amarah yang meledak. "Kamu yang ketahuan selingkuh, kamu yang berzinah di belakangku, tapi kamu yang menuntut aku sopan santun?!"

Alina maju menantang sambil menyudutkan Tristan.

"Kalau percakapan itu nggak benar, kenapa mukamu pucat?! Kenapa kamu nggak langsung telepon wanita itu di depanku sekarang?! Ayo telepon!" tantang Alina.

Tristan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia mengepalkan tangan di samping paha, matanya bergerak gelisah.

"Jawab aku, Tristan! Telepon dia sekarang!" jerit Alina.

"Iya! Dia memang hamil anakku! Puas kamu?!" teriak Tristan akhirnya.

Hening seketika menampar ruangan itu. Alina mematung. Meski sudah menduga, mendengar pengakuan itu keluar langsung dari mulut suaminya tetap rasanya seperti dihantam batu besar di dada. Alina menelan ludahnya yang terasa pahit.

Tristan mendesis. Dia maju dua langkah, lalu mencengkeram kedua bahu Alina dan mengguncangnya kasar.

"Dengar dulu, Alina! Pakai otakmu!" bentak Tristan frustrasi. "Aku lakuin ini semua demi kamu! Demi posisi kamu di keluarga ini!"

Alina mendorong dada Tristan sekuat tenaga hingga cengkeraman pria itu terlepas.

"Demi aku?!" amuk Alina. "Kamu bercinta dengan wanita lain dan dia hamil, lalu dengan tidak tahu kalapnya kamu bilang ini demi aku?! Kamu pikir aku bodoh?!"

"Kamu pikir aku mau?!" Tristan menunjuk-nunjuk wajah Alina dengan penuh amarah. "Tiap hari Mama menagih cucu! Tiap hari Mama nyindir-nyindir soal pewaris! Kamu bisa ngasih nggak?! Enggak, kan?! Kamu mandul!"

Kata 'mandul' itu terlempar seperti belati. Alina memejamkan mata sekejap untuk menahan sesak yang makin menghimpit badannya, lalu Alina kembali membelalakkan mata dengan tatapan tajam.

"Lalu solusi otak udangmu itu adalah menanam benih di rahim wanita lain?!" balas Alina tak kalah sengit.

"Iya! Karena itu satu-satunya cara!" Tristan mengusap wajahnya kasar. "Aku nggak cinta sama Rissa! Dia itu cuma rahim jalanan! Cuma alat supaya Mama berhenti menekan kamu dan berhenti nyuruh aku nikah lagi! Harusnya kamu sadar posisi dan terima kasih karena aku masih mau mempertahankan kamu!"

Alina melebarkan matanya. Dia menepuk dadanya sendiri beberapa kali dengan napas memburu.

"Terima kasih? Kamu minta aku terima kasih karena kamu udah melacur di luar sana dan menyalahkan kekuranganku atas aksi bejatmu?!" jerit Alina.

"Kalau begitu ceraikan aku sekarang!"

Kalimat itu meluncur tegas tanpa keraguan sedikit pun dari mulut Alina.

Tristan tertegun sejenak, lalu mendengkus remeh. Dia melangkah maju hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa senti. Matanya menatap Alina dengan tatapan menindas.

"Cerai?" Tristan tertawa mengejek. "Kamu pikir lepas dari keluarga Donovan itu gampang? Kamu itu cuma anak piatu miskin, Alina. Tanpa nama besarku, kamu bukan siapa-siapa di luar sana. Kamu nggak punya tempat pulang!"

"Jangan pernah sentuh aku lagi pakai tangan kotor bekas wanita lain itu," gertak Alina dengan nada rendah penuh ancaman.

Tristan mengibaskan tangannya di udara dengan raut wajah muak. Dia melangkah menuju kursi dan mengambil kemejanya.

Tristan memakainya asal-asalan tanpa memedulikan kancingnya yang terbuka.

"Terserah kamu mau merajuk atau ngamuk semalaman," kata Tristan dingin sambil melirik Alina.

Tristan mencengkeram gagang pintu, lalu menoleh singkat dengan senyum picik. "Ingat kata-kataku, Alina. Kamu butuh aku. Tanpa aku, kamu cuma sampah."

BRAK!

Pintu terbanting keras hingga engselnya berderit.

Alina berdiri mematung. Dadanya naik turun drastis, seluruh badannya gemetar menahan amarah yang belum tuntas. Dia mengepalkan tangan kencang-kencang sampai kukunya menancap di telapak tangan.

Dia melangkah cepat ke meja rias, lalu mengambil ponsel Tristan yang tertinggal, lalu membuka kameranya. Dengan ponsel pribadinya, Alina memotret seluruh bukti pesan dari Rissa—termasuk nomor telepon dan jam pengirimannya. Tangannya gemetar saat memegang kamera, tapi matanya fokus.

"Lihat saja siapa yang akan jadi sampah," bisik Alina penuh kebencian.

Belum sempat dia menyembunyikan ponselnya, pintu kamar kembali terdorong terbuka tanpa ada ketukan sama sekali.

Nyonya Grace berdiri di ambang pintu dengan gaun malam sutra merahnya. Wajah wanita paruh baya itu tertekuk tajam, perhiasan emas di lehernya mengkilat tertimpa lampu kamar.

"Teriak-teriak apa kamu malam-malam begini?!" omel Nyonya Grace langsung. Tangannya bersedekap di dada. "Di mana Tristan?!"

Alina berbalik perlahan. Dia menarik napas dalam-dalam, memaksakan wajahnya kembali datar meski matanya masih merah berair.

"Tristan sudah pergi, Nyonya Grace," jawab Alina singkat dengan suara yang ketus.

Nyonya Grace membelalak. "Nyonya Grace?! Kamu makin tidak sopan ya! Panggil aku Mama!"

"Nama itu sudah tidak pantas untuk Anda," balas Alina tanpa rasa takut sedikit pun.

Nyonya Grace melangkah masuk dengan hentakan kaki keras. "Kurang ajar kamu ya! Aku dengar dari kamarku kamu teriak-teriak pada anakku! Kamu bikin ulah apa lagi?! Mengeluh lagi karena belum bisa hamil juga?!"

Alina mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil menatap mertuanya dengan pandangan dingin.

"Jawab kalau ditanya!" gertak Nyonya Grace sambil menunjuk dada Alina. "Harusnya kamu itu tahu diri! Lima tahun kamu nempel sama Tristan tapi rahimmu mandul! Keluarga Donovan ini butuh penerus, bukan pajangan rumah! Kalau bukan Tristan yang mohon-mohon membela kamu, sudah dari dulu kamu saya tendang dari rumah ini!"

Alina memiringkan kepalanya sedikit. Senyum sinis terukir di bibirnya.

"Kalau begitu tendang saja aku sekarang, Nyonya Grace," kata Alina tegas. "Tunjukkan pada semua orang betapa mulianya keluarga Donovan ini."

Nyonya Grace melotot tidak percaya. Wajahnya memerah karena emosi. "Apa kamu bilang?! Berani kamu menantang aku?!"

"Saya tidak menantang," balas Alina sambil melangkah mendekat hingga berhadapan langsung dengan mertuanya. "Saya cuma bilang, usir saya sekarang. Atau suruh anak kesayangan Anda itu bawa surat cerai ke depan muka saya!"

"Dasar wanita tidak tahu beruntung!" amuk Nyonya Grace, jarinya bergetar menunjuk wajah Alina. "Kamu itu cuma anak yatim piatu yang diangkat derajatnya dari selokan oleh anakku! Berani-beraninya kamu berlagak sombong di rumahku!"

Alina menarik jubah mandinya kencang, lalu berjalan menuju pintu kamar dan membukanya lebar-lebar.

"Masa lalu saya tidak ada hubungannya dengan kebejatan anak Anda," kata Alina dengan nada menusuk. "Sekarang sudah malam. Keluar dari kamar saya."

Nyonya Grace mematung di tempatnya. Dia menatap Alina dengan napas memburu dan rasa tidak percaya. Tatapan mata Alina begitu tajam dan menusuk, sampai-sampai Nyonya Grace kehilangan kata-kata.

"Dasar kurang ajar!" maki Nyonya Grace akhirnya sambil melangkah keluar dengan gusar. "Kita lihat seberapa jauh kamu bisa bertahan tanpa keluarga ini!"

TAK.

Alina menutup pintu rapat-rapat lalu menguncinya dari dalam.

Dia menyandarkan punggungnya di pintu. Napasnya diembuskan perlahan. Alina melangkah menuju cermin besar di sudut ruangan. Pantulan dirinya berdiri di sana dengan rambutnya sedikit acak-acakan, matanya merah, tapi kepalanya tegak.

Alina meraih ponselnya. Jarinya bergerak cepat mencari nomor kontak seseorang yang pernah menawarinya akses kerja sama beberapa bulan lalu. Pesaing bisnis terbesar Tristan. Pria yang tahu persis kelemahan keluarga Donovan.

Alina menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin dan penuh tekad.

"Kamu pikir aku tak punya siapa-siapa, Tristan?" gumam Alina dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku akan pastikan kamu dan mamamu berlutut di kakiku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆155 (TAMAT)

    "Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆154

    "Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆153

    "Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆152

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆151

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆150

    "Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status