LOGIN
"Lepaskan suaramu, Sayang. Malam ini kamu sangat panas..."
"Aku sangat mencintaimu, Alina. Amat sangat..." "Aku beruntung memilikimu..." Alina memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Deru nafas Tristan pada lehernya dan juga bisikan sayang penuh sensual Tristan pada daun telinganya, membuat Alina tak bisa menyembunyikan hasratnya. Pernikahan mereka sudah bertahun-tahun lamanya, tetapi permainan ranjang Tristan tidak pernah membuat Alina merasa bosan. Alina Maheswari, 25 tahun, perempuan cantik yang menjabat sebagai istri seorang CEO terkenal, Tristan Donovan yang berumur 2 tahun lebih tua darinya. Alina terkenal sempurna di kalangan para pebisnis maupun orang-orang yang ada di lingkungannya, tetapi bagi Alina dia bukanlah wanita sempurna. Alasannya satu, dia mandul dan tak bisa memberi keturunan untuk keluarga Donovan. Seorang CEO terkemuka dari kalangan keluarga terpandang dan berada pasti butuh seorang pewaris, kan? Tapi, Alina tak dapat memberikan apa yang mereka butuhkan—pewaris. Tapi, itu bukan halangan untuk rumah tangga Alina dan Tristan. Sama seperti saat ini, mereka tetap menghabiskan malam-malam yang panas dan penuh gairah. Mungkin karena Alina begitu mencintai Tristan. Tapi, seks dengan orang yang kamu cintai memang selalu penuh gairah bukan? Tristan mendekat perlahan. Bibirnya menyentuh kening Alina sebelum turun mengecup pelipis dan pipinya. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat Alina sesekali mendesah pelan. Kehangatan tubuh Tristan terasa begitu dekat hingga menghapus jarak di antara mereka. "Aku benar-benar tidak bisa memandang wanita lain selain dirimu, Sayang..." bisik Tristan lagi di dekat telinga Alina. Napas hangat pria itu membuat pipi Alina semakin memerah. Alina tertawa kecil dengan mata yang masih tertutup, tetapi tangannya bergerak sensual mengelus dada bidang Tristan. "Kamu sedang pandai merayu malam ini," ujar Alina sambil memukul pelan lengan suaminya. Alina perlahan membuka matanya, lalu menatap suaminya dengan tatapan yang masih dipenuhi kabut nafsu. "Aku hanya mengatakan kenyataan," balas Tristan dengan senyum tipis, bibirnya bergerak sensual mencium daun telinga kanan istrinya. Kamar tidur itu dipenuhi suasana tenang dan hangat. Cahaya lampu tidur memantulkan bayangan lembut di dinding dan Alina menikmati semua permainan panas Tristan. "Kemarilah," ujar Tristan sambil menarik Alina lebih dekat ke dalam pelukannya, tapi tangannya tak berhenti terus bermain di dada Alina yang terekspos bebas. Alina tidak menolak. Ia membiarkan dirinya larut dalam kebersamaan yang terasa begitu sempurna. Sesaat kemudian, mereka tenggelam dalam momen pribadi yang hanya mereka miliki berdua. Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika semuanya berakhir, Alina berbaring dengan senyum lelah di bibirnya. Ia memandangi langit-langit kamar sambil mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih cepat. Sementara itu, Tristan bangkit dari ranjang. "Aku mandi sebentar," katanya sambil mengambil handuk. Alina mengangguk pelan. "Jangan lama-lama," jawabnya dengan senyum kecil. Tristan tersenyum kecil dan memberikan kecupan singkat pada dada Alina, lalu berjalan menuju kamar mandi. Beberapa detik setelah pintu kamar mandi tertutup, ponsel Tristan bergetar di atas meja samping ranjang. Alina menoleh sambil menggeleng kecil. "Sudah larut malam begini, tetap saja ada kerjaan," gumam Alina. Dengan segera Alina mengambil ponsel Tristan, tak perduli selimut bulunya terjatuh dan mengekspos bagian atas tubuhnya, hanya menutupi bagian perut hingga ujung kakinya. Mata Alina yang tadinya setengah dipenuhi nafsu dan juga setengahnya lagi dipenuhi rasa sayang yang tulus, seketika membulat dengan begitu lebar. Sebuah pesan masuk pada ponsel suaminya berhasil membuat jantungnya berdetak dengan begitu cepat. Bukan karena rasa cinta, melainkan rasa kecewa dan juga syok secara bersamaan. Alina meletakkan ponsel Tristan di atas selimut bulunya, lalu dia mengusap-ngusap kedua matanya dengan kasar—berharap bahwa apa yang baru saja dia baca pada ponsel Tristan hanyalah mimpi. Alina kembali mengambil ponsel Tristan, lalu untuk yang kesekian kalinya dia membaca pesan masuk itu. "Makasih buat servis panasnya tadi sore sebelum kamu pulang ke istrimu yang mandul itu, Sayang. Cairanmu sudah mengalir di rahimku" Alina menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya, pesan masuk dari kontak bernama Rissa itu berhasil menghancurkan kebahagiaannya dalam satu malam dalam sekejap mata. Tanpa Alina minta, air matanya langsung mengalir begitu saja dari kedua bola mata kecoklatannya. Dia meremas selimut bulunya dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya sedikit terlihat di balik kulit mulusnya. "T ... Tristan ... Apa ini?" Alina menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dadanya terasa sesak dan bibirnya bergetar hebat menahan suara tangisan yang ingin keluar dari tenggorokannya. "Kamu ... kamu bilang kalau kamu mencintaiku, Tristan. Ta ... tapi..." Alina memandang ponsel Tristan dengan pandangan kosong, tetapi air mata itu masih terus mengalir dari kedua bola matanya. "Kamu ... kamu menghianatiku, Tristan..." lirih Alina. Baru saja Alina merasakan kebahagiaan setelah melakukan hubungan panasnya dengan Tristan, semuanya langsung hancur setelah dia melihat pesan dari wanita yang bernama Rissa itu. Di tengah-tengah rasa syok dan juga amarah Alina, Tristan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut bagian bawahnya. "Alina?" panggil Tristan."Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang
"Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P
"Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum
"Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha
"Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi
"Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany







