Home / Romansa / Rengkuhan Hangat Adik Ipar / 𑣲⋆ Racun Sang Mertua

Share

𑣲⋆ Racun Sang Mertua

Author: Aphrodite
last update publish date: 2026-06-20 07:52:38

"Dasar wanita tidak tahu diri! Kamu apakan anakku sampai dia keluar rumah malam-malam begini?!"

Pintu kamar mendadak terdorong keras. Nyonya Grace melangkah masuk dengan gaun sutra merah mewahnya. Matanya menyapu sekeliling ruangan, lalu tertuju pada Alina yang sedang berdiri di depan meja rias sambil memegang ponselnya.

Alina tidak tersentak atau gemetar. Dia menyembunyikan ponsel pribadi di dalam saku jubah mandi sutra hitamnya, lalu menatap wanita tua itu dengan wajah datar.

"Dia pergi mencari wanita selingkuhannya, Nyonya Grace," jawab Alina pendek dengan suara tenang.

Nyonya Grace membelalak. Dia melangkah mendekat dengan hentakan sepatu hak tingginya yang nyaring di atas lantai.

"Jaga mulutmu, Alina! Jangan asal menuduh anakku yang tidak-tidak!" gertak Nyonya Grace sambil menunjuk muka Alina.

Alina bersedekap di dada. "Saya tidak menuduh. Tristan sendiri yang mengaku di depan muka saya kalau wanita bernama Rissa itu sedang hamil anak kandungnya."

Mendengar hal itu, ekspresi panik di wajah Nyonya Grace perlahan memudar. Berganti menjadi senyum tipis yang sarat akan rasa puas.

"Bagus kalau begitu," kata Nyonya Grace tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Ternyata Tristan masih punya otak untuk mencari wanita lain yang rahimnya berfungsi."

Alina memiringkan kepalanya sedikit. "Jadi Anda tahu kalau anak Anda selingkuh di belakang saya?"

"Tahu?" Nyonya Grace tertawa pendek, suara tawanya terdengar meremehkan. "Saya yang menyuruh Tristan mencari wanita lain! Lima tahun kamu menikah dengannya, tapi rahimmu kosong melompong. Kamu pikir keluarga Donovan butuh pajangan rumah tanpa keturunan?"

Alina mengetukkan jarinya di lengan secara berirama. Matanya memicing tajam menatap mertuanya.

"Jadi ini kerja sama Anda dan Tristan?" tanya Alina. "Menjadikan kekurangan saya sebagai alasan untuk berzinah di luar sana?"

"Jaga bahasamu!" bentak Nyonya Grace. Dia maju satu langkah, menatap Alina dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Kamu itu cuma anak yatim piatu yang tidak punya asal-usul jelas! Beruntung Tristan mau memungutmu dan membawamu ke mansion ini. Harus sadar diri, Alina!"

"Saya sangat sadar diri," balas Alina cepat. "Itulah sebabnya saya minta Tristan membawa surat cerai sekarang juga."

Nyonya Grace terperanjat. Dia merapikan kerah gaun merahnya dengan gerakan kasar.

"Minta cerai?" tanya Nyonya Grace dengan nada meninggi. "Kamu pikir kamu siapa bisa menuntut cerai dari keluarga kami?! Tanpa nama Donovan di belakang namamu, kamu itu cuma sampah di jalanan!"

"Kalau saya memang sampah, kenapa Anda tidak langsung menyuruh anak Anda menanda-tangani surat cerai itu sekarang?" tantang Alina. Matanya menatap lurus tanpa berkedip. "Usir saya dari mansion ini malam ini juga. Jangan cuma berani bicara di dalam kamar saya."

Nyonya Grace mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tangannya mengepal di samping paha, kuku-kukunya yang memakai kuteks warna merah menancap di telapak tangan.

"Kamu makin berani ya sejak tahu Tristan punya wanita lain!" maki Nyonya Grace. "Kamu pikir kamu punya kekuatan apa untuk menantang saya?!"

"Saya tidak menantang," sahut Alina tenang. "Saya hanya menegaskan batas saya. Saya tidak akan membiarkan orang lain merendahkan saya lagi di rumah ini."

Nyonya Grace berjalan mendekati ranjang, lalu berbalik menatap Alina dengan tatapan tajam.

"Kamu tidak ada apa-apanya dibanding Rissa," bisik Nyonya Grace sinis. "Rissa bisa memberikan apa yang keluarga ini butuhkan. Anak. Sedangkan kamu? Kamu cuma wanita mandul yang tidak berguna!"

Alina menarik napas panjang. Dia tidak membiarkan satu tetes air mata pun jatuh di hadapan wanita itu. Ditatapnya Nyonya Grace dengan tatapan dingin.

"Wanita mandul ini yang mengurus seluruh kebutuhan bisnis Tristan selama tiga tahun terakhir sampai perusahaan kalian stabil," kata Alina dengan nada menusuk. "Jangan lupa siapa yang merapikan kekacauan keuangan keluarga Anda sebelum kita menikah."

Wajah Nyonya Grace memerah padam. "Kurang ajar kamu! Kamu mengungkit-ungkit hal itu padaku?!"

"Saya hanya mengingatkan agar Anda tidak amnesia," balas Alina lancar.

Nyonya Grace menghentakkan kakinya ke lantai. Dia mengangkat tangan kanannya, lalu mengacungkan jari telunjuk tepat di depan hidung Alina.

"Dengar ya, Alina!" seru Nyonya Grace. "Katakan pada Tristan kalau dia pulang nanti! Malam ini jam delapan malam di Hotel Azura, saya akan menikah dengan konglomerat nomor dua di negara ini, Tuan Bramanta!"

Alina sedikit menaikkan sebelah alisnya. "Pernikahan?"

"Ya! Pernikahan megah yang tidak akan pernah bisa kamu dapatkan lagi seumur hidupmu!" kata Nyonya Grace bangga sambil membusungkan dada. "Suruh Tristan datang memakai setelan terbaiknya. Dia harus mendampingi saya di pelaminan!"

Alina berjalan menuju pintu kamar mandi untuk mengambil handuk kecil, lalu mengusap wajahnya dengan santai.

"Akan saya sampaikan jika dia pulang," kata Alina tanpa minat.

Nyonya Grace berjalan cepat menuju pintu keluar. Saat tangannya memegang gagang pintu, dia menoleh kembali ke arah Alina dengan senyum licik.

"Terserah kamu mau datang atau tidak ke pesta pernikahan saya," kata Nyonya Grace dengan suara ketus. "Tapi kalau kamu datang, jangan pernah buat masalah atau mempermalukan saya di depan Tuan Bramanta. Ingat posisimu, kamu cuma menantu yang akan segera didepak!"

"Terima kasih atas peringatannya, Nyonya Grace," sahut Alina datar. "Tapi Anda tidak perlu khawatir. Saya tahu persis apa yang harus saya lakukan di pesta itu nanti."

Nyonya Grace menatap Alina dengan curiga selama beberapa detik. Namun, karena tidak menemukan tanda-tanda kelemahan atau tangisan dari Alina, dia menyentak pintu hingga terbuka lebar.

"Wanita tidak tahu diri!" gumam Nyonya Grace sebelum melangkah keluar dengan angkuh.

TAK.

Pintu kamar tertutup kembali.

Alina berdiri diam di tengah ruangan. Dia tidak menangis. Dia justru berjalan mantap menuju meja kerja kecil di sudut kamar, lalu mengambil sebuah pulpen dan kertas kosong.

Dengan gerakan cepat dan tulisan tangan yang rapi, Alina menggoreskan kata demi kata di atas kertas itu.

SURAT PERNYATAAN CERAI.

Setelah selesai menuliskan draf singkat itu, Alina melipat kertas tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop putih. Dia menyejajarkan amplop itu di samping bukti-bukti foto percakapan Tristan dan Rissa.

"Pesta pernikahan di Hotel Azura jam delapan malam," gumam Alina pelan. Senyum dingin terukir di bibirnya. "Tempat yang sangat sempurna untuk mengumumkan kehancuran keluarga Donovan."

Alina mengambil ponsel pribadinya kembali, lalu menekan deretan angka nomor telepon yang telah dia ingat dari memori otaknya—nomor milik pesaing terbesar Tristan, pria yang akan menjadi kunci permainannya malam nanti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆155 (TAMAT)

    "Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆154

    "Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆153

    "Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆152

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆151

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆150

    "Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status