Home / Romansa / Rengkuhan Hangat Adik Ipar / 𑣲⋆Jebakan Yang Tepat

Share

𑣲⋆Jebakan Yang Tepat

Author: Aphrodite
last update publish date: 2026-07-17 16:05:08

"Rekening perusahaan diblokir?!"

Suara teriakan Tristan terdengar menggema di ruang makan mansion keluarga Donovan pagi itu. Pria itu berdiri dari kursi makan dengan ponsel masih menempel erat di telinganya.

Alina tetap tenang memotong roti tawar di piringnya, tidak terganggu sedikit pun.

"Bagaimana bisa pihak bank memblokir rekening operasional kita tanpa pemberitahuan?!" bentak Tristan lagi pada teleponnya. "Panggil manajer cabangnya sekarang!"

Tristan mematikan sambungan telepon dengan kasar, lalu membanting ponselnya ke atas meja makan. Sendok dan garpu di samping piring Alina ikut berdenting keras.

"Ada masalah di kantor?" tanya Alina santai sambil mengoleskan selai di atas rotinya.

Tristan menatap Alina dengan raut wajah panik dan penuh amarah. "Bank memblokir seluruh rekening bisnis keluarga kita! Transaksi pencairan dua miliar untuk apartemen Rissa tadi malam ditahan oleh sistem pengawasan keuangan!"

Alina menurunkan pisau rotinya, ia menatap Tristan lurus-lurus. "Kenapa bisa ditahan? Bukankah aku sudah menandatangani surat pencairannya?"

"Seseorang melaporkan transaksi itu sebagai dugaan penggelapan dana aset perusahaan!" seru Tristan sambil meremas rambutnya. "Sialan! Siapa yang berani melaporkan hal ini ke bank?!"

Tok! Tok! Tok!

Pintu depan mansion diketuk keras dari luar. Bi Inah, asisten rumah tangga, berjalan cepat untuk membukakan pintu.

Tidak sampai satu menit, langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekati ruang makan. Adrian berjalan masuk mengenakan setelan jas abu-abu gelap, didampingi oleh dua orang pria bersetelan hitam yang membawa map tebal.

"Selamat pagi, Tristan. Selamat pagi, Kakak Ipar," tegur Adrian dengan nada suara yang teratur dan tenang.

Tristan membelalak melihat kedatangan saudara tirinya itu. "Adrian?! Mau apa kamu ke rumahku pagi-pagi begini?!"

Adrian menarik satu kursi di samping Alina lalu duduk tanpa ragu. Tangannya memberi isyarat kepada salah satu pria bersetelan hitam untuk meletakkan map tebal di atas meja.

"Aku datang mewakili Tuan Bramanta dan konsorsium investor," kata Adrian lancar. "Kami menerima laporan adanya kejanggalan dalam aliran dana operasional perusahaanmu."

Wajah Tristan mendadak pucat pasi. "Kejanggalan apa?! Jangan asal bicara kamu!"

"Pencairan dana taktis sebesar dua miliar rupiah tadi malam," jawab Adrian dingin. Adrian membuka map tebal itu, lalu memperlihatkan salinan dokumen transaksi. "Uang itu ditransfer ke rekening pengembang properti untuk pembelian satu unit apartemen atas nama wanita bernama Rissa."

Tristan memutar matanya ke arah Alina dengan tatapan menuduh. "Alina! Kamu yang memberitahu Adrian?!"

Alina mengangkat pandangannya dari piring, dia menatap Tristan dengan ekspresi heran yang dibuat-buat. "Aku? Aku berada di kamar sepanjang malam setelah memberikan surat itu padamu, Tristan. Kenapa kamu menuduhku?"

"Tentu saja bukan Kakak Ipar yang melapor," potong Adrian cepat. "Sistem audit internal Tuan Bramanta memantau semua pergerakan rekening perusahaan yang menerima dana investasi dari kami."

Tristan mengepalkan kedua tangannya di atas meja. "Itu dana perusahaan keluargaku! Aku berhak menggunakannya!"

"Kamu berhak menggunakannya untuk operasional bisnis, bukan untuk membelikan apartemen selingkuhanmu," balas Adrian menusuk.

Adrian menggeser satu lembar surat resmi ke hadapan Tristan.

"Ini surat pemutusan hubungan kerja sama investasi dari Tuan Bramanta," kata Adrian datar. "Mulai hari ini, seluruh aset tanah dan bangunan pabrik utama yang dijaminkan atas investasi tersebut kami sita untuk menutup kerugian."

"Kamu tidak bisa melakukan ini!" teriak Tristan sambil menyambar surat itu dan merobeknya menjadi dua bagian. "Aku akan bicara langsung pada Papa!"

"Silakan," sahut Adrian santai. "Tapi, Papa sekarang sedang menunggumu di kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait dugaan tindak pidana penggelapan dana."

Tristan terduduk lemas di kursinya. Badannya gemetar dan matanya menatap kosong pada lembaran kertas yang terobek di atas meja.

Alina membersihkan mulutnya dengan serbet kain, lalu berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekati posisi Tristan yang tertunduk.

"Aku sudah memperingatkanmu kemarin, Tristan," bisik Alina tepat di samping telinga Tristan. "Tapi kamu terlalu sibuk membahagiakan Rissa sampai lupa kalau rumah tangga dan bisnis bisamu hancur dalam semalam."

Alina mengalihkan pandangannya pada Adrian, lalu memberikan satu anggukan kecil. "Saya permisi ke kamar untuk mengambil tas."

Adrian tersenyum tipis dan membalas anggukan Alina saat wanita itu melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆155 (TAMAT)

    "Apakah semua undangan resmi untuk perayaan ulang tahun yayasan sudah disebar, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian memeriksa beberapa berkas penting di atas meja kerja ruang utama secara cermat. Alina melangkah mendekati suaminya sambil membawa secangkir kopi hitam hangat."Semua undangan sudah dikirimkan kepada para donatur sejak kemarin sore, Mas," jawab Alina jujur."Bagus sekali, kerja kerasmu dalam mengurus yayasan ini sangat luar biasa," puji Adrian bangga.Alina menyunggingkan senyuman lebar mendengar pujian tulus dari sang suami tercinta. Wanita itu meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja kayu jati berukuran besar.Pak Bramanta melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan menenteng tongkat kayu andalannya. Pria tua itu menatap anak serta menantunya dengan binar mata penuh kebahagiaan."Apakah persiapan acara puncak perayaan yayasan sudah hampir selesai?" tanya Pak Bramanta ramah."Semua persiapan sudah rampung seratus persen, Pa," jawab Adrian antusias.Pak Bramanta mengang

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆154

    "Apakah Arka sudah tidur pulas di kamar tidurnya, Bi Sumi?" tanya Alina lembut.Alina meletakkan tas tangan kulit di atas meja konsol dekat pintu masuk. Bi Sumi merapikan bantal sofa ruang keluarga dengan gerakan cekatan."Tuan Muda Arka sudah tidur nyenyak sejak setengah jam yang lalu, Nyonya," jawab Bi Sumi ramah."Syukurlah kalau begitu, biar aku dan Mas Adrian yang mengecek ke kamarnya," ucap Alina lega.Adrian merangkul pinggang sang istri lalu melangkah pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pak Bramanta duduk di ruang baca lantai atas sambil membolak-balik halaman buku tebal."Kalian baru saja pulang dari yayasan sosial, Adrian?" tanya Pak Bramanta serius."Benar, Pa, kegiatan sosial hari ini berjalan lancar tanpa kendala," jawab Adrian jujur.Adrian mendekati sang ayah lalu menepuk pundak pria paruh baya itu penuh kehangatan. Pak Bramanta tersenyum lebar menatap anak menantunya dengan binar mata bangga."Bagus sekali kalau semuanya berjalan lancar sesuai rencana," puji P

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆153

    "Apakah kamu sudah bersiap untuk menemani kunjungan ke yayasan pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut.Adrian mengenakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya seraya berdiri di dekat jendela kamar. Alina merapikan rambut panjangnya di depan meja rias sambil menyunggingkan senyuman gembira."Aku sudah siap sejak tadi, Mas, mari kita berangkat sekarang," jawab Alina antusias."Bagus sekali, ayo kita sarapan sebentar sebelum berangkat ke kantor," ajak Adrian ramah.Adrian dan Alina melangkah berdampingan keluar dari kamar utama menuju ruang makan lantai bawah. Pak Bramanta sudah duduk di kursi utama meja makan sambil menikmati secangkir kopi hitam.Arka melompat kegirangan di kursi bayinya saat melihat kedatangan kedua orang tuanya. Bocah balita itu merentangkan tangan kecilnya lebar-lebar dengan raut wajah sangat bersemangat."Papa dan Mama mau pergi ke mana pagi ini?" tanya Arka penasaran."Papa dan Mama mau berkunjung ke yayasan sosial sebentar, Sayang," jawab Alina lembut.Bi Sum

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆152

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama sudah kamu masukkan ke dalam tas kerja, Mas?" tanya Alina cemas.Alina merapikan tumpukan map biru di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri dengan binar mata penuh kekaguman dan senyuman hangat."Semua berkas penting itu sudah tersimpan rapi di dalam tas kerja," jawab Adrian jujur."Syukurlah kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat ceria."Selamat malam Papa dan Mama!" teriak Arka gembira."Pagi sayang, ini sudah waktunya sarapan pagi," balas Adrian tertawa.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampingan secara ha

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆151

    "Apakah semua dokumen kontrak kerja sama untuk proyek baru sudah kamu tinjau dengan teliti, Mas?" tanya Alina serius.Alina merapikan lembar demi lembar berkas di atas meja kerja kamar utama dengan gerakan cepat. Adrian menatap wajah sang istri secara lekat seraya menyunggingkan senyuman bangga."Semua berkas kontrak sudah aku periksa secara teliti tadi malam," jawab Adrian jujur."Bagus sekali kalau begitu, mari kita turun untuk sarapan bersama Papa," ajak Alina antusias.Adrian merangkul pinggang Alina seraya melangkah keluar kamar menuju anak tangga utama. Pak Bramanta duduk tegap di kursi utama meja makan seraya membaca lembaran surat kabar pagi.Arka melambaikan tangan kecilnya dari kursi khusus anak saat melihat orang tuanya datang. Bocah balita itu memegang gelas susu hangat dengan raut wajah sangat gembira."Selamat pagi Kakek, Papa, dan Mama!" teriak Arka riang."Pagi juga jagoan kecil Kakek," balas Pak Bramanta ramah.Adrian dan Alina mendudukkan diri di kursi makan berdampi

  • Rengkuhan Hangat Adik Ipar   𑣲⋆150

    "Apakah kamu sudah menyiapkan seluruh berkas laporan yayasan untuk rapat penting pagi ini, Sayang?" tanya Adrian lembut. Adrian mendudukkan badannya di tepi kasur empuk kamar utama seraya merapikan kemeja kerjanya. Alina membalikkan badannya dari meja rias, lalu menyunggingkan senyuman manis dengan raut wajah sangat tenang. "Semua berkas laporan sudah aku susun rapi di dalam tas kerjamu, Mas," pangkas Alina jujur. "Bagus sekali, kamu memang selalu cekatan dalam membantu pekerjaanku," puji Adrian bangga. Alina melangkah menghampiri suaminya, lalu mendudukkan diri di sisi ranjang seraya merapikan dasi kerja Adrian. Binar kebahagiaan terpancar sangat jelas dari kedua mata cantik wanita tersebut tanpa ada keraguan. Pak Bramanta berjalan melintasi koridor lantai dua seraya menancapkan tongkat kayunya ke lantai marmer. Pria tua itu menghentikan langkah di depan pintu kamar utama yang terbuka sangat lebar. "Apakah kalian sudah siap turun untuk menikmati sarapan pagi bersama?" tany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status