Home / Romansa / Resep Cinta Miri / Bab 18. Perjumpaan Kembali

Share

Bab 18. Perjumpaan Kembali

Author: Mozze Satrio
last update publish date: 2026-06-23 20:05:09

“Miri, kenalin. Ini adikku, Arman Arkani. “Arman, ini Miri. Anaknya Sara,” ucap Seno, menunjuk pria di hadapannya.

‘Adik? Di mana aku pernah mendengar nama itu?’ Miri bergumam dalam hati.

Pria yang duduk di seberang Seno terbatuk-batuk, menutupi mulutnya dengan serbet. Matanya liar menatap ke segala arah menghindari pandangan Miri. Daun teli

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Resep Cinta Miri   Bab 167. Ke Mana Kita Pergi Setelah Ini?

    Setelah sarapan, Miri dan Arman menyempatkan berkeliling untuk membeli gaun baru untuk Miri. Setelah mandi dan berganti baju, mereka sekalian check-out dari hotel. Sisa waktu menunggu jam makan siang mereka gunakan untuk mengunjungi museum seni San Luca, serta menemani Arman menggambar cepat air mancur Palazzo Antamoro.“Caramu menggambar cepat sekali,” gumam Miri, mengamati aksi Arman dari sisinya.Ia mengamati bagaimana mata pria itu fokus pada objek gambar lalu menginterpretasikannya pada setiap goresan di kertas. Satu per satu, guratan itu mulai berpadu dalam proporsi yang seimbang.Dalam waktu lima menit, bentuk air mancur itu sudah terbentuk jelas di buku sketsa Arman.“Kenapa rasanya aku seperti sedang melihat orang memasak, ya?” pikir Miri.“Oh, iya? Kenapa begitu?” tanya Arman geli. Tangannya tak berhenti bergerak, mulai menyentuh detail.“Yah, kamu memadukan banyak unsur menjadi satu gambar di kertas ini. Ada garis, bidang, titik … mereka seperti bumbunya. Kamu ukur proporsi

  • Resep Cinta Miri   Bab 166. Pagi Selepas Tidur Bersama

    Pagi itu, Miri bangun di sisi tempat tidur yang berbeda. Matanya mengedip pelan, tubuhnya menggeliat di balik selimut. Kedua tangannya meregang, merasakan setiap ototnya ikut bangun.Cahaya dari jendela menyusup masuk di antara celah gorden, mengabarkan nuansa kota Roma yang masih tertidur.“Pagi, Miri,” sapa suara serak dari sisi tempat tidur.Miri menoleh, mendapati Arman sedang duduk di tepi ranjang, tersenyum lembut. Ia mengeluarkan jeritan melengking, buru-buru menyembunyikan diri di balik selimut.“Kenapa? Kok kaget?” tanya Arman, tertawa-tawa.“Ng, nggak papa. Mukaku pasti jelek banget,” gumam Miri, asal saja menyebutkan alasan.Bibir Arman menyunggingkan senyum, lalu mencondongkan tubuh ke arah Miri. Ia mengecup keningnya.“Mau sarapan? Aku lapar, tapi nunggu kamu bangun dulu,” ucapnya.“Ayo. Jam berapa sekarang?” tanya Miri, mengucek mata.Ia mendorong dirinya bangkit, duduk di tempat tidur. Selimutnya melorot ke pangkuan, memperlihatkan tubuh Miri yang masih terbalut pakaian

  • Resep Cinta Miri   Bab 165. Malam Miri dan Arman

    Dari jendela kamar hotel Arman, Air Mancur Trevi terlihat jelas di jendela. Airnya berkilau diterpa lampu sorot, menghidupkan nuansa dramatis dan romantis di sekitar kolam.Miri coba membuka daun jendela agar dapat merasakan udara malam kota Roma, tapi terkunci.“Jangan dibuka, Miri. Jendelanya rusak,” ujar Arman dari balik punggung Miri.“Oh iya? Kamu tahu dari mana?” tanya Miri.Sebelum pria itu menjawab, Miri menemukan potongan kertas kecil yang ditempel di dinding. Pada lembar itu terdapat barisan kata dalam bahasa Itali dan Inggris, yang intinya mengingatkan penghuni kamar agar tidak membuka jendela.“Sepertinya pernah ada insiden yang melibatkan pengunjung. Di depan jendela juga tidak ada beranda. Kalau sembarangan bersandar, bisa-bisa jatuh bebas ke lantai dasar,” ujar Arman, sambil mengecek isi kulkas mini di bawah meja.Mendengar peringatan itu, Miri perlahan bergerak mundur. Ia tak membutuhkan insiden lain untuk dilalui malam ini.“Kalau tahu hotel ini berbahaya, kenapa kamu

  • Resep Cinta Miri   Bab 164. Jiwa Kecil Miri

    “Kita duduk di sana aja,” ajak Arman.“Apa nggak bisa tempat lain? Di sana terlalu gelap,” protes Miri.Setelah meninggalkan restoran Trattoria Lilli, Miri dan Arman mencari tempat yang sepi untuk bicara. Awalnya mereka berniat untuk bersantai di tepi Sungai Tiber, tapi situasi berubah.Sambil menggandeng tangan Miri, Arman menemukan area parkir kendaraan yang sepi. Beberapa mobil dan skuter berbaris, tak ada orang yang menunggui. Sebuah pohon zaitun tampak tegak berdiri, dengan tajuknya yang melambai lembut ditiup angin. Lampu-lampu yang menempel pada dinding rumah menyoroti area terbuka itu.Pagar beton rendah yang mengelilingi pohon zaitun sekaligus menjadi tempat duduk bagi siapapun yang ingin bersantai di ruang terbuka. Arman mengajak Miri duduk di sana.“Kamu … lihat isi buku ini, kan?” tanya Arman.Ia mengambil buku sketsa bersampul kulit miliknya, membuka halaman terakhir.Buku itu kini ada di pangkuan Miri, memperlihatkan halaman yang sama seperti saat ia sedang menunggu Arma

  • Resep Cinta Miri   Bab 163. Rahasia Malam Itu

    “How’s the rigatoni, Sir?” tanya seorang pelayan, menghampiri meja Miri dan Arman.“E perfetto!” seru Arman.Tangannya menguncup, lalu ia mencium ujung-ujung jarinya, melemparkan ‘chef’s kiss’ ke arah si pelayan restoran. Pria dengan kumis tebal itu terbahak-bahak, puas dengan reaksi Arman.Miri menggeleng-gelengkan kepala, geli dengan tingkah pria di hadapannya.“Here’s your fornara con patate and polpettine. Enjoy!” ujar si pelayan, mengantarkan pesanan tambahan ke meja.“Gracie,” balas Miri dan Arman bersamaan.Mata mereka berbinar melihat potongan daging sapi dan kentang, lalu sepiring bakso dalam saus tomat pedas. Miri memotong daging menjadi ukuran sesuap, berbagi dengan Arman.“Wow,” gumam Arman, menunjuk piring dengan wajah semringah.Sementara Miri tak dapat berkata-kata. Mulutnya sibuk mengunyah, menikmati setiap rasa dan aroma yang berputar dalam mulutnya. Tomat segar yang dimasak hingga halus, asamnya berpadu dengan sensasi pedas dari bubuk cabai. Dagingnya lembut, lumer d

  • Resep Cinta Miri   Bab 162. Miri Merajut Rasa

    “Kamu memotong rambutmu, Arman?” tanya Miri, saat mereka akhirnya mendapat tempat duduk di La Sagrestia.“Iya. Kelihatan aneh, ya? Udah lama aku nggak memotong rambut sependek ini,” ucap Arman malu-malu.Ia melarikan jari-jarinya di antara helai rambut, yang jauh lebih pendek dari terakhir kali Miri melihatnya. Rasanya ia ingin ikut menyentuh kepala Arman.“Nggak, kok. Malah kelihatan segar,” puji Miri, sambil tersenyum.Siang itu, setiap meja di restoran telah penuh oleh pengunjung. Areanya tidak terlalu luas, dengan set meja maksimal untuk empat orang di sisi kiri dan kanan. Riuh rendah perbincangan antar meja saling beradu, menjadi gaung di sekitar meja Miri dan Arman.Keduanya mendapat meja yang pas untuk dua orang, dekat dengan pintu masuk. Sesekali Arman harus menarik sikunya dari tepi meja agar tak menyenggol siapapun yang melewati lorong di sampingnya.“Kemejamu juga baru, ya? Aku belum pernah lihat sebelumnya,” sambung Miri.“Iya. Cuaca tadi pagi agak dingin, jadi aku pilih y

  • Resep Cinta Miri   Bab 6. Berita Baru Bu Sara

    “Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten

  • Resep Cinta Miri   Bab 5. Ibu Sara Baru Pulang

    “Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M

  • Resep Cinta Miri   Bab 4. Makan Siang Keluarga

    “Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk

  • Resep Cinta Miri   Bab 3. Kedatangan Kemal sang Koki

    “Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status