LOGIN“Signorina, può scendere qui (Nona, kamu bisa turun di sini),” ucap si supir, melambaikan tangan ke arah Miri.“Ah! Bene. Gracie! (Ah! Oke. Terima kasih!)” balas Miri.Dengan dada berdebar, Miri melangkah keluar dari bus. Kakinya menjejak lantai trotoar yang berwarna hitam. Di balik punggungnya, bus kembali melaju.Miri memandang sekitar dalam kesadaran yang berkabut. Bukan karena ia kelelahan, tapi telinganya merasa asing berada di tengah keriuhan bahasa yang tak biasa ia dengar. Di depan restoran Tavola Casa, Miri mengecek pesan terbaru di ponselnya.Arman: otw ke Trevi. Aku masih di bus.Arman: 10 menit lagi ya.Miri menggenggam ponselnya erat. Masa tunggu telah berlalu, dan pertemuan mereka akan menjadi nyata. Miri tak menyangka, setelah beberapa bulan tak bertemu Arman akan membuatnya seantusias ini.Sambil mengikuti petunjuk peta di ponselnya, Miri mulai melangkah. Meski mengembara di kota yang belum jauh ia singgahi, ia menikmati nuansanya. Perutnya bergejolak, seperti ada selu
“Kamu lagi ngapain, Miri?” tanya Rosalie, sambil membawa piring sarapannya ke meja.“Lagi cari-cari tempat wisata di Roma. Yang bisa dikunjungi seharian,” jawab Miri sambil tersenyum.Rosalie bergumam, mengintip dari balik bahu Miri. Layar ponselnya menampilkan rekomendasi tempat-tempat wisata populer yang menjadi favorit para turis.“Kamu mau keliling Roma sendirian? Mau aku temenin? Atau ajak aja Bianca. Sepertinya dia kosong kalau akhir pekan,” usul Rosalie sambil membelah pancake-nya dengan pisau makan.“Aku udah janjian sama teman,” balas Miri malu-malu, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.Rosalie mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Selama berkarir, ia telah mengenal banyak orang. Mereka datang kepadanya dengan segala sifat. Mulai dari yang pandai berbohong, jujur, hingga berani menjilat Rosalie dengan kata-kata manis.Meski baru mengenal Miri selama seminggu, ia dapat membaca makna tersirat dari raut wajahnya. Ada kalanya Miri tulus membantu. Ada kesempatan lain ia menu
“Kedengarannya kelasmu menyenangkan,” ucap Arman di telepon, ketika Miri menghubunginya malam itu.Sambil bersandar pada pagar di halaman belakang, Miri menikmati sisa malamnya dalam kesunyian. Di balik punggungnya, para peserta kursus masih berkumpul untuk minum anggur bersama di meja makan.Karena Miri tak mengonsumsi alkohol, ia memilih untuk pergi. Riuh rendah perbincangan mereka menjadi latar belakang yang menemani kesendirian Miri. Sambil merapatkan jaket yang menutupi tubuh, Miri membagikan cerita minggu pertamanya di Roma.“Menyenangkan, tapi melelahkan juga mendengarkan bahasa Inggris dan Italia setiap hari. Terkadang aku takut salah menangkap instruksi yang diberikan. Malu, kan, kalau sampai gagal bikin hidangan. Apalagi yang simpel,” ujar Miri.“Namanya juga belajar. Wajar kalau ada kesalahan. Aku yakin mentormu nggak akan menendangmu keluar hanya karena gagal sesekali,” hibur Arman.Miri menyandarkan sikunya pada pagar, menatap ke area taman yang gelap. Semakin lama ia fok
“Miri! Miri!” panggil Rosalie dengan suara berbisik.Miri tak mengalihkan pandangan dari isi panci, mengaduk saus custardnya pelan. Satu sisi telinganya panas karena Rosalie tak berhenti mencecarnya dengan rentetan pertanyaan.Di antara aroma vanila yang menyeruak seisi ruanga, ia merasakan Rosalie menarik lipatan lengan bajunya. Miri menggeram rendah. Denting perkakas dapur yang biasanya menenangkan mengetuk batas kesabaran.“Ada apa lagi, Rosalie?” tanya Miri dengan gigi rapat.“Kenapa custard-ku cair banget, ya? Warnanya juga pucat! Tolongin, dong,” keluh Rosalie, memperlihatkan isi pancinya.“Aku nggak bisa ninggalin panciku, Rosalie. Tunggu bentar, ya—”“Tolongin bentar aja! Masa aku udah gagal di hari pertama? Ini salah di mana, ya?” rengek Rosalie.Miri membuang napas panjang. Setelah mengecek konsistensi krim custardnya, Miri meyakinkan diri bahwa hasilnya cukup memenuhi standar.Ia mematikan kompor, mengesampingkan pekerjaannya sejenak.Melongok ke dalam panci saus di meja Ro
“Rosalie! Rosalie! Ayo, bangun!” teriak Miri di antara dering alarm yang memekakkan telinga.Sementara itu, sang pengguna alarm masih tertidur pulas di ranjang, berlindung di bawah selimut tebal. Rosalie merengek, menampik tangan Miri dari menarik selimutnya turun.Di luar jendela, kegelapan telah memudar. Sinar matahari masih malu-malu menembus gorden, tapi Miri telah siap dalam balutan seragam koki yang Bianca antarkan kemarin malam.“Kelas pertama dimulai 30 menit lagi. Masa kamu mau terlambat di hari pertama?” Miri mengingatkan, menepuk bahu teman sekamarnya.“Kamu berangkat duluan aja... Aku masih ngantuk,” balas Rosalie dengan suara menyeret. Ada aroma alkohol tersisa di rambutnya.Miri ragu Rosalie akan bangun jika ia meninggalkannya masih dalam keadaan terbungkus selimut. Ia pun tak punya kapasitas untuk menariknya turun. Mereka belum sedekat itu.Karenanya Miri tak dapat melarang ketika Rosalie berpamitan padanya, untuk pergi ke klub dengan seorang ‘teman’. Bagaimana bisa ia
“Here’s your room. And here’s the key,” ucap Bianca, meletakkan sebuah kunci di tangan Miri.Ia mendorong pintu, memasukkan dua koper besar lebih dulu. Ketika daun pintunya membuka lebar, Miri menganga saat melihat isi ruangan.Sebuah jendela berukuran besar berada di ujung ruangan, menghadap taman dengan pepohonan berwarna hijau pucat di baliknya. Dua tempat tidur single, masing-masing menempel rapat di sisi dinding. Sebuah lemari untuk menyimpan jaket di dekat pintu, dan pintu lain di dalam menuju kamar mandi.“Nggak jelek-jelek amat,” bisik Rosalie yang berdiri di samping Miri, sambil mengangguk-angguk.Perempuan itu melangkah masuk, memindai setiap sudut ruangan. Ia melepaskan jaket, melemparkannya ke kaki tempat tidur. Kasur tempat tidur mengambul saat Rosalie melempar dirinya yang ramping ke ranjang.“Tempat tidurku yang ini, ya, Miri,” ucap Rosalie tegas, tak menunggu Miri mengiyakan.Dua kasur terpisah itu identik bagi Miri. Tak ada alasan baginya untuk protes.“Well, I’ll let
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M







