Accueil / Romansa / Resep Cinta Miri / Bab 161. Hari Pertama di Trevi

Partager

Bab 161. Hari Pertama di Trevi

Auteur: Mozze Satrio
last update Date de publication: 2026-09-30 18:56:44

“Bisa-bisanya kamu dapat hotel tepat di depannya Trevi,” ucap Miri, tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada keberuntungan Arman.

“Kebetulan aja masih ada kamar kosong. Tadinya aku mau cari hotel lain yang agak jauh supaya bisa sekalian jalan-jalan. Tapi, sarapan dengan pemandangan Air Mancur Trevi sepertinya nggak jelek juga,” sahut Arman, tersenyum simpul.

Setibanya di Hotel Fontana, Arman segera menghampiri meja resepsionis untuk mengonfirmasi kamar hotel. Karena hanya punya waktu libur di
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Resep Cinta Miri   Bab 162. Miri Merajut Rasa

    “Kamu memotong rambutmu, Arman?” tanya Miri, saat mereka akhirnya mendapat tempat duduk di La Sagrestia.“Iya. Kelihatan aneh, ya? Udah lama aku nggak memotong rambut sependek ini,” ucap Arman malu-malu.Ia melarikan jari-jarinya di antara helai rambut, yang jauh lebih pendek dari terakhir kali Miri melihatnya. Rasanya ia ingin ikut menyentuh kepala Arman.“Nggak, kok. Malah kelihatan segar,” puji Miri, sambil tersenyum.Siang itu, setiap meja di restoran telah penuh oleh pengunjung. Areanya tidak terlalu luas, dengan set meja maksimal untuk empat orang di sisi kiri dan kanan. Riuh rendah perbincangan antar meja saling beradu, menjadi gaung di sekitar meja Miri dan Arman.Keduanya mendapat meja yang pas untuk dua orang, dekat dengan pintu masuk. Sesekali Arman harus menarik sikunya dari tepi meja agar tak menyenggol siapapun yang melewati lorong di sampingnya.“Kemejamu juga baru, ya? Aku belum pernah lihat sebelumnya,” sambung Miri.“Iya. Cuaca tadi pagi agak dingin, jadi aku pilih y

  • Resep Cinta Miri   Bab 161. Hari Pertama di Trevi

    “Bisa-bisanya kamu dapat hotel tepat di depannya Trevi,” ucap Miri, tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada keberuntungan Arman.“Kebetulan aja masih ada kamar kosong. Tadinya aku mau cari hotel lain yang agak jauh supaya bisa sekalian jalan-jalan. Tapi, sarapan dengan pemandangan Air Mancur Trevi sepertinya nggak jelek juga,” sahut Arman, tersenyum simpul.Setibanya di Hotel Fontana, Arman segera menghampiri meja resepsionis untuk mengonfirmasi kamar hotel. Karena hanya punya waktu libur di akhir pekan, Arman merasa sayang jika tak menggunakan waktunya selama di Roma.Meski hanya berjalan-jalan dan menikmati suasana kota bersama Miri hari ini, keduanya tak sabar untuk menghabiskan waktu bersama. Miri dengan catatan restoran yang akan mereka datangi, sementara Arman dengan catatan lokasi wisata demi memperkaya wawasan budayanya.“Aku tunggu di sofa, ya,” ucap Miri.Arman mengiyakan.Miri duduk di salah satu kursi yang disusun merapat, pada ruang lobi yang tak lebih besar daripada d

  • Resep Cinta Miri   Bab 160. Di Hadapan Air Mancur Trevi

    “Signorina, può scendere qui (Nona, kamu bisa turun di sini),” ucap si supir, melambaikan tangan ke arah Miri.“Ah! Bene. Gracie! (Ah! Oke. Terima kasih!)” balas Miri.Dengan dada berdebar, Miri melangkah keluar dari bus. Kakinya menjejak lantai trotoar yang berwarna hitam. Di balik punggungnya, bus kembali melaju.Miri memandang sekitar dalam kesadaran yang berkabut. Bukan karena ia kelelahan, tapi telinganya merasa asing berada di tengah keriuhan bahasa yang tak biasa ia dengar. Di depan restoran Tavola Casa, Miri mengecek pesan terbaru di ponselnya.Arman: otw ke Trevi. Aku masih di bus.Arman: 10 menit lagi ya.Miri menggenggam ponselnya erat. Masa tunggu telah berlalu, dan pertemuan mereka akan menjadi nyata. Miri tak menyangka, setelah beberapa bulan tak bertemu Arman akan membuatnya seantusias ini.Sambil mengikuti petunjuk peta di ponselnya, Miri mulai melangkah. Meski mengembara di kota yang belum jauh ia singgahi, ia menikmati nuansanya. Perutnya bergejolak, seperti ada selu

  • Resep Cinta Miri   Bab 159. Di Akhir Bulan

    “Kamu lagi ngapain, Miri?” tanya Rosalie, sambil membawa piring sarapannya ke meja.“Lagi cari-cari tempat wisata di Roma. Yang bisa dikunjungi seharian,” jawab Miri sambil tersenyum.Rosalie bergumam, mengintip dari balik bahu Miri. Layar ponselnya menampilkan rekomendasi tempat-tempat wisata populer yang menjadi favorit para turis.“Kamu mau keliling Roma sendirian? Mau aku temenin? Atau ajak aja Bianca. Sepertinya dia kosong kalau akhir pekan,” usul Rosalie sambil membelah pancake-nya dengan pisau makan.“Aku udah janjian sama teman,” balas Miri malu-malu, tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.Rosalie mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Selama berkarir, ia telah mengenal banyak orang. Mereka datang kepadanya dengan segala sifat. Mulai dari yang pandai berbohong, jujur, hingga berani menjilat Rosalie dengan kata-kata manis.Meski baru mengenal Miri selama seminggu, ia dapat membaca makna tersirat dari raut wajahnya. Ada kalanya Miri tulus membantu. Ada kesempatan lain ia menu

  • Resep Cinta Miri   Bab 158. Seminggu Pertama Miri di Roma

    “Kedengarannya kelasmu menyenangkan,” ucap Arman di telepon, ketika Miri menghubunginya malam itu.Sambil bersandar pada pagar di halaman belakang, Miri menikmati sisa malamnya dalam kesunyian. Di balik punggungnya, para peserta kursus masih berkumpul untuk minum anggur bersama di meja makan.Karena Miri tak mengonsumsi alkohol, ia memilih untuk pergi. Riuh rendah perbincangan mereka menjadi latar belakang yang menemani kesendirian Miri. Sambil merapatkan jaket yang menutupi tubuh, Miri membagikan cerita minggu pertamanya di Roma.“Menyenangkan, tapi melelahkan juga mendengarkan bahasa Inggris dan Italia setiap hari. Terkadang aku takut salah menangkap instruksi yang diberikan. Malu, kan, kalau sampai gagal bikin hidangan. Apalagi yang simpel,” ujar Miri.“Namanya juga belajar. Wajar kalau ada kesalahan. Aku yakin mentormu nggak akan menendangmu keluar hanya karena gagal sesekali,” hibur Arman.Miri menyandarkan sikunya pada pagar, menatap ke area taman yang gelap. Semakin lama ia fok

  • Resep Cinta Miri   Bab 157. Kekacauan Rosalie

    “Miri! Miri!” panggil Rosalie dengan suara berbisik.Miri tak mengalihkan pandangan dari isi panci, mengaduk saus custardnya pelan. Satu sisi telinganya panas karena Rosalie tak berhenti mencecarnya dengan rentetan pertanyaan.Di antara aroma vanila yang menyeruak seisi ruanga, ia merasakan Rosalie menarik lipatan lengan bajunya. Miri menggeram rendah. Denting perkakas dapur yang biasanya menenangkan mengetuk batas kesabaran.“Ada apa lagi, Rosalie?” tanya Miri dengan gigi rapat.“Kenapa custard-ku cair banget, ya? Warnanya juga pucat! Tolongin, dong,” keluh Rosalie, memperlihatkan isi pancinya.“Aku nggak bisa ninggalin panciku, Rosalie. Tunggu bentar, ya—”“Tolongin bentar aja! Masa aku udah gagal di hari pertama? Ini salah di mana, ya?” rengek Rosalie.Miri membuang napas panjang. Setelah mengecek konsistensi krim custardnya, Miri meyakinkan diri bahwa hasilnya cukup memenuhi standar.Ia mematikan kompor, mengesampingkan pekerjaannya sejenak.Melongok ke dalam panci saus di meja Ro

  • Resep Cinta Miri   Bab 6. Berita Baru Bu Sara

    “Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten

  • Resep Cinta Miri   Bab 5. Ibu Sara Baru Pulang

    “Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M

  • Resep Cinta Miri   Bab 4. Makan Siang Keluarga

    “Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk

  • Resep Cinta Miri   Bab 3. Kedatangan Kemal sang Koki

    “Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status