Masuk“Lalu, apa reaksi pertamamu, Mir?” tanya Jihan di telepon.“Aku cuma bilang ‘Oh. Selamat, ya, Ma’,” gumam Miri, menggosok wajahnya.Setelah membereskan sisa-sisa makan malam, Miri memilih beristirahat di kamar. Nyeri di perutnya mulai mereda saat ia berbaring di tempat tidur, sambil memeluk bantal penghangat.Langit-langit kamarnya kelabu lembut, warna langit malam yang merayap ke permukaan dinding-dindingnya. Ponselnya bersandar di bantal, memperlihatkan nama Jihan dan Kemal. Mereka saling bicara dalam mode speaker.“Reaksi Mamamu gimana?” tanya Jihan lagi.“Mama cuma tersenyum dan berterima kasih. Menurutmu aku kedengaran jahat, nggak?” balas Miri.
“Miri! Maaf, ya, Mama telat pulangnya! Macet banget di jalan!” seru Sara di pintu depan.Miri terperanjat mendengar suara ibunya yang telah kembali ke rumah. Ia menarik diri dari dekapan Arman. Pria di hadapannya pun tak kalah canggung.Dari balik dinding, Bu Sara muncul bersama Seno yang tampak ceria sekaligus gugup. Kedua tangannya penuh, menenteng dua kantung plastik besar.“Dinginnya di luar! Kayaknya bakal hujan deras hari ini,” keluh Seno, mengelus pipinya yang memerah dan terasa kering.Saat sedang melepaskan jaket, Seno baru menyadari bahwa Miri tidak sendirian. Sara yang mengikuti di belakang, turut kaget melihat adik termuda Seno ada di dalam rumahnya.Arman menuntun Miri kembali duduk
“Kamu nggak papa? Mukamu pucat banget,” tanya Arman panik.“Perutku sakit …” keluh Miri.Belum juga selesai mengucapkan kalimat itu, rasa melilit di bagian bawah perutnya datang lagi. Miri menggigit bibir. Tangannya mencengkeram lengan baju Arman kuat-kuat.Ia gemetar, keringat dingin mulai menjalari tengkuk dan dahinya. Arman menyaksikan semua reaksi tubuh itu dan mulai khawatir.“Kita istirahat di sofa dulu aja, ya? Sini aku bantu,” ajak Arman.“Aku bisa jalan sendiri,” gumam Miri lemah.Namun, Arman tak menerima jawaban itu.Ia bersikeras, merenggut lengan Miri dan mengait
“Halo, Miri. Mama lagi di restoran yang diomongin Om Seno. Kamu mau makan apa? Di menunya ada rawon, ayam goreng–”“Apa aja boleh, Ma. Aku ikut aja,” potong Miri, meringis sambil menahan sakit di perutnyaSejujurnya, nafsu makan menjadi hal terakhir yang Miri pikirkan. Jika ia bisa memilih untuk membatalkan acara makan malam hari ini, Miri akan melakukannya. Nyeri menstruasinya membuatnya sulit berkonsentrasi.Namun, mendengar suara ibunya di telepon dan sedang bersiap memesan makanan membuat Miri mengurungkan niat. Setidaknya, ia harus bertahan malam ini.“Kalau gitu, yang berkuah aja, Ma. Biar bikin perut hangat,” Miri mengoreksi dirinya.“Oke. Tunggu bentar, ya, Nak. Setelah
“Ngapain, Man? Belum balik?” tanya Wisnu dari balik dinding kubikel Arman.“Bentar lagi. Mau ngirim file dulu. Wisnu, gue boleh tanya sesuatu ” ucap Arman singkat.Arman Arkani mengetukkan jari pada sebuah kartu berukuran 9 x 6 sentimeter di tengah meja. Lembar berwarna navy blue itu mencetak nama pemiliknya dengan jelas:Namira ApsariSekretaris Direksi Terrahaus Property.Barisan angka lain ditulis manual dengan pena, sengaja dicantumkan di bawah nomor telepon profesional. Kata-kata ‘CALL ME’ yang mengikutinya menambah kebingungan dalam benak Arman.“Apaan?”“Namira … jomblo ya
Arman memandang pantulan dirinya diri cermin. Ia menggunakan toilet sebagai alasan untuk kabur sementara dari diskusi di meja.Pria itu membuang napas panjang. Kepalanya coba meramu hubungan yang terjadi di antara orang sekitarnya. Jadi Seno menjalin hubungan dengan Sara, ibu Miri. Dan Baskara adalah calon suami Miri. “Astaga, kenapa dunia sempit banget, ya?” gumam Arman, menertawakan situasinya sendiri.Berkat Wisnu, kini Arkate akan segera menjalin kerja sama dengan Terrahaus, salah satau perusahaan properti terbesar di Indonesia. Menilai diskusi mereka hari ini, perjanjian kerja sama sudah tampak di pelupuk mata.Arman sadar ia tak boleh mengacaukan transaksi ini. Di masa depan, ia dan Baskara akan lebih sering berinteraksi. Jika ia ingin menjaga reputasi Arkate, Arman harus berbaik-baik dengannya.‘Jaga hubungan profesional, Man. Ini hanya bisnis,’ pikir Arman.Ia kembali ke meja makan, mendapati perbincangan di antara tiga orang semakin hangat. Arman menyelinap kembali ke kursin
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







