Masuk“Arman mana? Kok nggak balik-balik? Bukannya dia bilang tadi mau ambil kue?” tanya Jihan, memandang setiap orang di meja.
“Iya juga, ya. Kemana dia?” Wisnu turut menyadari bahwa juniornya tak lagi terlihat.
Namun, tak seorang pun memiliki jawaban. Sementara Miri tak berhenti memandang buket bunga yang berada di seberang ruangan, di samping kue per
“Selamat pagi, Pak. Silakan masuk,” sambut Miri di pintu depan.“Terima kasih,” balas pria tua di hadapannya dengan suara parau.Bila langit mendung kota Jakarta dapat menyerupai manusia, Malik Hanasta adalah perwujudannya. Pak Malik adalah laki-laki tua, mengenakan warna jas kelabu dengan kemeja putih dan dasi biru tua bermotif batik. Ia melangkah masuk, mengikuti Miri hingga ke ruang tamu rumah mendiang Nenek Aisha. Semakin jauh ia melangkah, keheningan di dalam rumah semakin suram.“Silakan duduk, Pak. Sebentar saya buatkan kopi–”“Teh saja, Kemirayu. Saya tidak minum kopi,” potong Pak Malik tegas.Pria itu duduk di tengah sofa, dengan tubuh membungkuk. Tas kerja berbahan kulit yang ia bawa bersandar di kaki sofa. Satu tangannya memegang selembar dokumen, dengan mata tua yang menyipit, mencoba mengenali barisan huruf yang tercetak di kertas.Sementara itu, Miri menghilang ke dapur. Ia mengisi dua cangkir dengan seduhan teh di dapur. Perpaduan aroma melati dan teh yang pekat memban
“Hei. Berhenti menyentuhku,” keluh Arman, menampik lengan wanita yang mencoba merayap masuk ke balik kemejanya.“Kamu kenapa, sih, Arman? Dingin banget hari ini. Harusnya kita kan bersenang-senang,” protes Siena, dengan bibir mengerut.Arman Arkani bergeming di sofa ketika Siena duduk di sampingnya. Ia bergelayut di lengan Arman, mengelus lengannya dengan sentuhan menggoda.Aroma parfum yang menyengat, belahan dada rendah dan bisikan mesra dari suara yang tak ia kenal.“Kita kan pernah ketemu. Masa kamu lupa?” goda Siena.Tentu saja Arman lupa. Siena bukan gadis pertama yang pernah jatuh ke pelukannya. Ada Zahra, Adisti, Rosalie, Anya–Arman tak ingat. Mereka pernah bercint
Saat mengintip dari jendela, derasnya hujan membuat jantung Miri berdebar. Malam itu, seharusnya Seno dan Sara sudah tiba di rumah Nenek Aisha. Setelah situasi kembali tenang, Miri mengajak mereka untuk makan malam di rumah, sekaligus menghidupkan suasana.Namun, sorot lampu mobil mereka masih belum terlihat. Pun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Cuaca buruk seakan menghisap warna dari bumi, membuat nuansa kelabu meliputi setiap penjuru.‘Apa mereka terjebak macet, ya?’ pikir Miri.Miri meremas ujung sweternya kuat-kuat, menatap layar ponselnya yang masih hitam. Di ruang makan, peralatan makan telah lengkap menghiasi meja. Panci dan wajan di dapur pun siap memanaskan makanan sewaktu-waktu.Mbok Citra, mengelap tangan dengan celemek setelah tuntas
“Cie, ada yang serius banget, nih,” goda Jihan, duduk di samping Miri sambi membawa sepiring pasta.“Berisik, ah. Aku belum ada ide, nih,” gerutu Miri, memandang buku catatannya.Di jam makan siang, mereka duduk di meja yang kosong sambil menikmati hidangan pasta yang dibuat oleh Chef Dom. Spaghetti Bolognese dengan saus ragu yang aromatik, menu sederhana yang menggugah selera.Isi piring Miri masih sisa setengah, tapi ia kehilangan selera untuk lanjut makan. Di samping buku catatannya, ada buku resep milik Nenek Aisha yang terbuka. Miri berhenti di satu halaman tentang pie buah, tapi ia kehabisan ide bagaimana mengolahnya menjadi cita rasa Italia.“Nggak usah terlalu dipikirin serius, lah, Mir. Buat aja yang estetik dengan bahan-bahan yang
“Neng, belum tidur?” sapa Mbok Citra yang muncul di ruang makan.Miri, yang duduk sendirian di meja makan , terperanjat. Jantungnya berdegup cepat, menjatuhkan pena yang ia gunakan untuk menulis di buku catatannya. Setidaknya, ia tenang karena Mbok Citra yang muncul di tengah malam, bukan makhluk lain.“Ya ampun, Mbok. Aku kaget!” protesnya, meletakkan tangan di dada.Mbok Citra tertawa kecil melihat gelagat cucu Nenek Aisha itu.“Mau saya buatkan teh? Untuk teman begadang,” ia menawarkan.“Iya boleh, Mbok. Teh hitam aja, ya. Pakai gula dan jahe sedikit,” balas Miri.Sementara Mbok Citra memanaskan air di dapur, Miri kembali berkutat
“Kamu yakin udah siap kerja hari ini?” tanya Chef Dom dengan dahi berkerut.Kehadiran Miri di dapur Nero&Bianco sehari setelah hari duka terakhir sang nenek membuat kepala setiap orang menoleh. Bahkan sang kepala koki tak habis pikir dengan keputusan anak buahnya.“Siap, Chef. Saya nggak betah kalau nggak bekerja. Pikiran jadi kemana-mana,” ucap Miri tegas, mengikat tali celemek yang melingkari pinggangnya.Chef Dom bergumam rendah, mencubit dagunya sambil mengamati Miri. Ia mengangkat bahu, tak punya pilihan lain.“Kalau memang itu yang kamu mau, jangan sampai saya hari ini teriak karena kerjaan kamu nggak becus, ya,” ucap Chef Dom tegas.“Siap, Chef.”
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M







