LOGIN“Arman mana? Kok nggak balik-balik? Bukannya dia bilang tadi mau ambil kue?” tanya Jihan, memandang setiap orang di meja.
“Iya juga, ya. Kemana dia?” Wisnu turut menyadari bahwa juniornya tak lagi terlihat.
Namun, tak seorang pun memiliki jawaban. Sementara Miri tak berhenti memandang buket bunga yang berada di seberang ruangan, di samping kue per
Greg: Laila has collapsed.Greg: I don’t think she’s gonna make it this time.Sesampainya di London, mendungnya langit enggan membiarkan Arman istirahat sejenak. Perjalanan yang ia tempuh selama dua jam dari Italia, menghantarkannya kembali pada kenyataan bahwa hidupnya kini berpusat di London.Pesan dari Greg baru Arman baca ketika ia sampai di bandara. Tak hanya suhu rendah kota London yang menusuk tulang, tapi seluruh raga Arman ikut luruh. Kondisi Laila memburuk.“Hello. Greg. Where are you right now?” tanya Arman di telepon, tak melewatkan sedetikpun untuk mengecek keadaan teman-temannya.“I’m in the hospital. She’s in the ICU. The doctor hasn’t said anything,” ungkap Greg dengan suara gemetar.Setiap tarikan napasnya menahan tangis, membuat hati Arman ikut miris.“I’m on my way to the hospital. See you there,” ucap Arman sebelum menutup telepon.Sambil berlari kecil sepanjang koridor, Arman mencari taksi. Sebuah kendaraan menepi.“St. Andrew’s Hospital, please. Choose the fastes
“Miri, aku mandi duluan, ya,” ucap Rosalie, menenteng handuk.“Oke,” balas Miri singkat, melempar senyum.Teman sekamarnya menghilang ke balik pintu kamar mandi, sementara Miri duduk di lantai. Ia memeluk kedua kakinya erat, sambil menatap layar ponsel. Pelupuk matanya berat setelah makan sup hangat saat makan malam.Namun, Miri tak ingin tidur cepat.Pekan itu berakhir tanpa ada kabar dari Arman, lagi. Entah sudah berapa kali Miri meninggalkan pesan, mencoba meneleponnya. Tetap saja tak ada jawaban.Jarinya bergerak cepat menekan layar, mengetikkan kata-kata serupa seperti yang Miri tulis sebelumnya.Miri: Arman, are you okay?Miri: Udah seminggu lebih aku nggak dengar kabar kamu.Miri: Apa kamu sakit?Mata Miri naik turun, membaca ulang kalimat yang ia ketik sendiri. Tak ada tuntutan berat, hanya kekhawatiran. Setidaknya, ada simbol dua centang di ujung pesan-pesan yang ia kirimkan.Dalam sekejap mata, tanda centang itu berubah menjadi dua centang biru. Namun, tetap saja tak ada bal
“Miri! Karamelmu gosong!” pekik Rosalie, menyambar knop pada kompor di meja kerja Miri.Miri yang tersadar dari lamunan, mengangkat panci sausnya, meletakkannya di bak cuci. Saus di panci masih mendesis, dengan cepat mengental dan berubah warna menjadi coklat gelap.Teman-teman sekelas Miri menariknya mundur, serta memastikan tidak ada perkakas dan bahan yang terdampak oleh percikan saus karamel. Rosalie, yang sebulan lalu menjadi murid terburuk di kelas, justru menjadi yang pertama menyelamatkan Miri dari bahaya.“Are you okay? That’s dangerous!” serunya, sambil mengecek wajah dan tangan Miri.“I’m okay,” balasnya lirih.Miri mengumpat. Tangannya gemetar. Perlahan, ia mengatur napas, mencoba menenangkan diri.Rosalie melihat semua itu. Ia menarik Miri menjauh, mengajaknya ke pantry.“It’s alright, everyone. Go back to your station. You have 15 minutes left finishing your dessert,” ucap Chef Villa, sang mentor, mengingatkan.Di balik dinding, Rosalie dan Miri hanya berdua. Sambil menc
“Senang banget, yang akhirnya dapat suvenir,” goda Miri, saat Arman dengan bangganya menenteng cenderamata sekantong penuh.“Iya, dong. Mana dapat murah,” balasnya.“Sepertinya bapak pemilik tokonya suka sama kamu. Kalau kamu bermanis-manis ria dengannya sedikit lagi, bisa-bisa diangkat mantu,” canda Miri.Arman tertawa.“Bisa jadi. Mendapat warisan toko suvenir sepertinya bukan hal yang buruk. Tokoku akan ramai setiap hari, sepanjang tahun,” ujar Arman.Gurauan di antara mereka terasa lepas, meski tadi sempat bersitegang di meja restoran.Makan siang hari itu menjadi acara terakhir bagi Miri dan Arman. Setelah membayar dan meninggalkan restoran, keduanya sepakat untuk menyusuri Jalan Corso. Para turis keluar dari persembunyian mereka, ikut menghidupkan kota
Setelah sarapan, Miri dan Arman menyempatkan berkeliling untuk membeli gaun baru untuk Miri. Setelah mandi dan berganti baju, mereka sekalian check-out dari hotel. Sisa waktu menunggu jam makan siang mereka gunakan untuk mengunjungi museum seni San Luca, serta menemani Arman menggambar cepat air mancur Palazzo Antamoro.“Caramu menggambar cepat sekali,” gumam Miri, mengamati aksi Arman dari sisinya.Ia mengamati bagaimana mata pria itu fokus pada objek gambar lalu menginterpretasikannya pada setiap goresan di kertas. Satu per satu, guratan itu mulai berpadu dalam proporsi yang seimbang.Dalam waktu lima menit, bentuk air mancur itu sudah terbentuk jelas di buku sketsa Arman.“Kenapa rasanya aku seperti sedang melihat orang memasak, ya?” pikir Miri.“Oh, iya? Kenapa begitu?” tanya Arman geli. Tangannya tak berhenti bergerak, mulai menyentuh detail.“Yah, kamu memadukan banyak unsur menjadi satu gambar di kertas ini. Ada garis, bidang, titik … mereka seperti bumbunya. Kamu ukur proporsi
Pagi itu, Miri bangun di sisi tempat tidur yang berbeda. Matanya mengedip pelan, tubuhnya menggeliat di balik selimut. Kedua tangannya meregang, merasakan setiap ototnya ikut bangun.Cahaya dari jendela menyusup masuk di antara celah gorden, mengabarkan nuansa kota Roma yang masih tertidur.“Pagi, Miri,” sapa suara serak dari sisi tempat tidur.Miri menoleh, mendapati Arman sedang duduk di tepi ranjang, tersenyum lembut. Ia mengeluarkan jeritan melengking, buru-buru menyembunyikan diri di balik selimut.“Kenapa? Kok kaget?” tanya Arman, tertawa-tawa.“Ng, nggak papa. Mukaku pasti jelek banget,” gumam Miri, asal saja menyebutkan alasan.Bibir Arman menyunggingkan senyum, lalu mencondongkan tubuh ke arah Miri. Ia mengecup keningnya.“Mau sarapan? Aku lapar, tapi nunggu kamu bangun dulu,” ucapnya.“Ayo. Jam berapa sekarang?” tanya Miri, mengucek mata.Ia mendorong dirinya bangkit, duduk di tempat tidur. Selimutnya melorot ke pangkuan, memperlihatkan tubuh Miri yang masih terbalut pakaian
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







