เข้าสู่ระบบ“Cie, ada yang serius banget, nih,” goda Jihan, duduk di samping Miri sambi membawa sepiring pasta.
“Berisik, ah. Aku belum ada ide, nih,” gerutu Miri, memandang buku catatannya.
Di jam makan siang, mereka duduk di meja yang kosong sambil menikmati hidangan pasta yang dibuat oleh Chef Dom. Spaghetti Bolognese dengan saus ragu yang aromatik, menu s
“Hei. Berhenti menyentuhku,” keluh Arman, menampik lengan wanita yang mencoba merayap masuk ke balik kemejanya.“Kamu kenapa, sih, Arman? Dingin banget hari ini. Harusnya kita kan bersenang-senang,” protes Siena, dengan bibir mengerut.Arman Arkani bergeming di sofa ketika Siena duduk di sampingnya. Ia bergelayut di lengan Arman, mengelus lengannya dengan sentuhan menggoda.Aroma parfum yang menyengat, belahan dada rendah dan bisikan mesra dari suara yang tak ia kenal.“Kita kan pernah ketemu. Masa kamu lupa?” goda Siena.Tentu saja Arman lupa. Siena bukan gadis pertama yang pernah jatuh ke pelukannya. Ada Zahra, Adisti, Rosalie, Anya–Arman tak ingat. Mereka pernah bercint
Saat mengintip dari jendela, derasnya hujan membuat jantung Miri berdebar. Malam itu, seharusnya Seno dan Sara sudah tiba di rumah Nenek Aisha. Setelah situasi kembali tenang, Miri mengajak mereka untuk makan malam di rumah, sekaligus menghidupkan suasana.Namun, sorot lampu mobil mereka masih belum terlihat. Pun tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Cuaca buruk seakan menghisap warna dari bumi, membuat nuansa kelabu meliputi setiap penjuru.‘Apa mereka terjebak macet, ya?’ pikir Miri.Miri meremas ujung sweternya kuat-kuat, menatap layar ponselnya yang masih hitam. Di ruang makan, peralatan makan telah lengkap menghiasi meja. Panci dan wajan di dapur pun siap memanaskan makanan sewaktu-waktu.Mbok Citra, mengelap tangan dengan celemek setelah tuntas
“Cie, ada yang serius banget, nih,” goda Jihan, duduk di samping Miri sambi membawa sepiring pasta.“Berisik, ah. Aku belum ada ide, nih,” gerutu Miri, memandang buku catatannya.Di jam makan siang, mereka duduk di meja yang kosong sambil menikmati hidangan pasta yang dibuat oleh Chef Dom. Spaghetti Bolognese dengan saus ragu yang aromatik, menu sederhana yang menggugah selera.Isi piring Miri masih sisa setengah, tapi ia kehilangan selera untuk lanjut makan. Di samping buku catatannya, ada buku resep milik Nenek Aisha yang terbuka. Miri berhenti di satu halaman tentang pie buah, tapi ia kehabisan ide bagaimana mengolahnya menjadi cita rasa Italia.“Nggak usah terlalu dipikirin serius, lah, Mir. Buat aja yang estetik dengan bahan-bahan yang
“Neng, belum tidur?” sapa Mbok Citra yang muncul di ruang makan.Miri, yang duduk sendirian di meja makan , terperanjat. Jantungnya berdegup cepat, menjatuhkan pena yang ia gunakan untuk menulis di buku catatannya. Setidaknya, ia tenang karena Mbok Citra yang muncul di tengah malam, bukan makhluk lain.“Ya ampun, Mbok. Aku kaget!” protesnya, meletakkan tangan di dada.Mbok Citra tertawa kecil melihat gelagat cucu Nenek Aisha itu.“Mau saya buatkan teh? Untuk teman begadang,” ia menawarkan.“Iya boleh, Mbok. Teh hitam aja, ya. Pakai gula dan jahe sedikit,” balas Miri.Sementara Mbok Citra memanaskan air di dapur, Miri kembali berkutat
“Kamu yakin udah siap kerja hari ini?” tanya Chef Dom dengan dahi berkerut.Kehadiran Miri di dapur Nero&Bianco sehari setelah hari duka terakhir sang nenek membuat kepala setiap orang menoleh. Bahkan sang kepala koki tak habis pikir dengan keputusan anak buahnya.“Siap, Chef. Saya nggak betah kalau nggak bekerja. Pikiran jadi kemana-mana,” ucap Miri tegas, mengikat tali celemek yang melingkari pinggangnya.Chef Dom bergumam rendah, mencubit dagunya sambil mengamati Miri. Ia mengangkat bahu, tak punya pilihan lain.“Kalau memang itu yang kamu mau, jangan sampai saya hari ini teriak karena kerjaan kamu nggak becus, ya,” ucap Chef Dom tegas.“Siap, Chef.”
“Maaf, kamu Kemirayu, ya?” ucap pria klimis itu dengan suara parau.“Iya, betul. “Panggil Miri saja, Pak,” balas Miri, melemparkan pandangan pada Kemal yang masih berdiri di sisinya.Kemal hanya mengangkat bahu.Pria itu meraih ke dalam kantung jasnya, lalu menyerahkan sebuah kartu nama berwarna putih. Bahannya tebal, dengan tinta emas timbul yang memamerkan nama dan jabatan si pria tua.“Perkenalkan, nama saya Malik Hanasta. Saya adalah pengacara keluarga Bu Aisha,” ucapnya.Miri membaca nama yang tertera, sama persis dengan ucapan pria di hadapannya. Pria itu berdeham lagi, sebelum melanjutkan.“Awalnya saya berniat untuk mampir ke rumah Bu Aisha dalam beberapa waktu ke depan. Tapi saat melihat Anda, saya merasa memperkenalkan diri sekarang lebih baik daripada nanti,” tambah Pak Malik.“Ada yang perlu dibicarakan, Pak?” tanya Miri.Malik Hanasta menggeleng. “Untuk saat ini tidak. Setelah Anda merasa lebih baik, kita bisa bicara. Hubungi saja nomor yang ada di kartu. Permisi,” ungka
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







