Mag-log in“Sebenarnya Seno minta Mama supaya nggak cerita ke kamu, tapi kamu tahu Mama paling nggak bisa main rahasia-rahasiaan.”
“Mendingan aku nggak tahu, Ma! Kalau begini, aku kan jadi ngerasa canggung kalau ketemu dia di acara itu.”
Ia pernah melihat wajah Seno dari foto yang ibunya tunjukkan. Sebagai pria paruh baya, Miri harus mengakui ia adalah pria
“Gimana dengan yang ini?” tanya Miri, sambil berputar di depan cermin.Ia mengenakan sebuah gaun pengantin berwarna putih gading, dengan rok panjang satin bentuk A-line yang jatuh lemas ke lantai. Bagian dadanya berbentuk tube, dengan aksen mote berkilauan.Jihan, sambil mencubit dagu, mengamati sahabatnya dalam tatapan serius. Ia menilai gaun itu dari kepala hingga ujung kaki, lalu menggeleng.“Terlalu santai, Mir. Mungkin kalau garden party bakalan cantik banget,” ujarnya.“Anehnya, aku juga berpikir begitu,” balas Miri.Ia membuang napas panjang. Ini sudah ketiga kalinya ia mencoba gaun pengantin di butik incaran. Namun, hasilnya masih nihil.
“Ngapain kamu di sini?” celetuk Wisnu, muncul dari balik punggung Arman.Arman menoleh, melihat seniornya berjalan mendekat. Tanpa kata, ia kembali mengamati pemandangan kota Jakarta dari rooftop kantor Arkate.Teriknya matahari memanggang puncak kepala, tapi Arman masih betah berlama-lama di tempatnya bersandar. Sikunya bertumpu pada puncak parapet setinggi dada. Angin yang panas menerpa wajahnya, menjaga kesadaran Arman.“Nggak ngapa-ngapain. Lagi santai aja,” jawab Arman santai.Saat berdiri di sisi Arman, Wisnu membuka sekaleng kopi dingin di tangan. Ia meletakkan satu kaleng lagi yang masih utuh di dekat lengan Arman.Dari sudut matanya, Arman tahu Wisnu sedang memindai perangainya. Saat Arman bersiap menerima gerutunya, Wisnu justru turut memandang kaki langit Jakarta. Gedung-gedung tinggi muncul seperti menara pertahanan, menghalangi pandangan mereka dari keteduhan kota yang mulai jarang.“Kayaknya bakal ujan, nih.”Wisnu mendongak, memandang barisan awan putih yang membentang
“Boleh aku menginap malam ini?” bisik Miri di bibir Baskara.Tubuhnya bersandar pada daun pintu, sementara Baskara merangkulnya erat. Ia mengaitkan helaian rambut Miri ke balik telinga, lalu tersenyum lembut.“Tentu saja, Sayang. Aku nggak mungkin izinin kamu pulang sendirian malam-malam gini,” balas Baskara.Ia mendaratkan ciuman lagi di bibir Miri, mengangkat tubuhnya. Miri merasa ringan dalam dekapan kekasihnya, pasrah saat dibopong ke sofa. Miri berbaring, Baskara naik ke atasnya.Aroma shampo melekat di setiap helai rambut Baskara yang lembut. Miri mendesah, sensasi yang menggetarkan hatinya ketika sang kekasih menciumi lekukan lehernya. Lengan Miri memeluk lehernya erat.“Bas,” panggi
Setelah makan siang mereka, Miri dan Arman kembali ke kamar inaap Nenek Aisha. Keduanya berusaha tampil baik-baik saja, terutama Arman. Ia masih semringah, menghibur Nenek Aisha dengan cerita lucu.“Arman …” panggil Miri, tapi bibirnya tak bisa melanjutkan kata lebih dari itu.Saat Miri mengantarnya ke pintu kamar, Arman melemparkan senyum singkat. Miri melewatkan kesempatan untuk meminta maaf jika ada kata-katanya yang menyinggung. Sikap Arman yang kembali seperti biasa membuat rasa bersalah itu kian menumpuk.“Miri!”Suara itu memecahkan ingatan Miri.Ia tersentak bangun, menyadari dirinya tak lagi di rumah sakit. Suara wajan yang beradu dengan sudip, air mendidih, dan piring bertumpuk di bak cuci. Miri telah kembali ke restoran, mengisi shift malam.“Mana tiramisu untuk meja nomor tiga?!” teriak Chef Dom sambil menggebrak meja.“Maaf! Tiga detik, Chef!” balas Miri.Suara sang kepala koki membahana dari meja depan, bersambung dengan umpatan panjang dalam bahasa Itali. Miri merataka
“Setelah ini kamu balik ke restoran?” tanya Arman, menyuapi diri dengan segunung nasi bersama potongan daging.“Iya,” jawab Miri.Ia mengaduk isi kotak bentonya, menyatukan potongan ayam, nasi dan sayuran. Setelah menelan makanannya, Miri lanjut bicara.“Untuk sementara, aku cuma ambil shift malam. Gajiku kepotong, sih, tapi ya sudahlah. Kasian kalau Citra harus jaga terus-terusan di rumah sakit. Jadi, biar Citra jaga malam, aku jaga pagi,” ucapnya.Dahi Arman mengerut.“Emang nggak ada orang lain yang bisa dimintain tolong?” tanyanya.“Saudara-saudara Nenek tinggal di luar kota. Mereka juga udah sepuh. Aku nggak dekat dengan s
“Miri. Temenin Arman cara makan sana. Kamu juga pasti lapar, kan?” panggil Nenek Aisha, menoleh ke sisi Miri.Miri sedang asyik membolak-balik halaman majalah rumah sakit ketika sang nenek memanggilnya. Ia mengerutkan kening. Dalam waktu dua jam, Arman telah menjadi kesayangan baru sang nenek.Menjelang jam makan siang, perut Arman mulai keroncongan. Di saat obrolannya dengan Nenek Aisha sedang seru-serunya, suara perutnya nyaring, memecah suasana. Arman tersipu. Naluri keibuan Nenek Aisha pun bangkit.“Biar saya cari makan sendiri aja, Nek. Miri bisa tinggal di sini menemani di kamar,” sahut Arman.Nenek Aisha menggelengkan kepala.“Kalian pergi berdua aja sana. Nggak enak makan sendirian.
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M







