Mag-log inTOK, TOK, TOK.Miri mendengar ketukan di pintu kamarnya saat sedang mengisi koper. Ia bangkit dari lantai, membuka pintu. Wajah Bu Sara muncul, melemparkan senyum pada sang putri.“Masih belum tidur, Nak?” tanya Bu Sara.Di tangannya membawa setumpuk pakaian bersih dan wangi yang baru saja selesai disetrika.“Belum, Ma. Mau ngatur isi koper dulu supaya barang lainnya lebih muat,” ucap Miri.Ia menggeser diri, memberi ruang bagi ibunya untuk masuk ke dalam kamar. Bu Sara meletakkan tumpukan pakaian di tepi tempat tidur. Pandangannya beralih pada koper besar yang terbuka di tengah lantai.Sepasang sepatu dan tas kecil masih terbengkalai di sisi koper, sementara pakaian telah dilipat dan dikencangkan dengan tali pengaman di dalamnya.“Masih kurang apa
“Apa ada sesuatu di antara kamu dan Arman, Miri?” tanya Kemal, di penghujung jam kerja mereka.Keduanya berdiri di teras belakang dapur. Di bawah langit malam dan angin yang bertiup, Miri terpaku saat sahabatnya melemparkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang selama ini Miri hindari, karena ia takut dengan jawabannya sendiri.Miri memasukkan tangannya ke dalam saku jaket, lalu mendesah pelan.“Nggak ada yang spesial, Kemal. Belum, lebih tepatnya,” ucap Miri.Sebuah keberanian kecil nan tulus dari dalam hatinya, untuk mengakui bahwa Arman bukan lagi pria biasa baginya. Di hadapan Miri, Kemal mengangguk-angguk.“Berarti bisa dibilang perasaan kalian saling berbalas? Hanya saja tidak ada status?” lanjutnya.“Bisa dibilang begitu. Aku ingin berhati-hati dengan perasaanku sendiri, Mal. Bukan karena Arman nggak cukup buatku. Justru karena dia baik, aku mau berhati-hati,” ujar Miri sambil tersenyum simpul.Kemal dapat memaklumi sudut pandang itu. Ia mengulum bibir, tampak memikirkan hal yang seri
“Sepertinya ada yang lagi bahagia hari ini,” celetuk seorang senior, saat Miri bekerja di dapur.“Masa sih, Kak? Biasa aja, kok,” bantah Miri, memijat sudut bibirnya yang pegal karena terangkat tinggi seharian.Lagi-lagi, Miri harus menahan diri untuk tak senyum-senyum sendiri. Di antara tugasnya mengaduk adonan dan menambahkan hiasan pada sajian dolce, sesekali ia berhenti sejenak.Miri mengatur napas, menyimpan memorinya tentang pembicaraan dengan Arman semalam. Ia harus berkonsentrasi dalam menyelesaikan tugas sebelum jadwal paginya berakhir.“Dolce! Dua tiramisu! Satu torta!” seru Chef Dom, dengan suara membahana yang terdengar hingga bagian belakang dapur.“Si, va bene, Chef!” Miri dan timnya kompak menjawab.Dengan gesit, Miri mengambil gelas-gelas tir
Sesampainya di rumah, Miri merendam kakinya dalam baskom berisi air hangat dan garam. Ia memijat betisnya yang pegal, setelah mengenakan hak tinggi seharian.Satu tangannya mendekatkan ponsel di telinga, mendengarkan gumaman Arman yang takjub mendengar cerita pertemuan Miri dengan Namira.“Aku … nggak tahu harus ngomong apa. Antara takjub Namira berani melakukannya di acara reuni sekolah, atau kamu bisa menahan diri nggak menghajar dia,” gumam Arman.Miri tertawa, lalu membuang napas panjang.“Seandainya aku punya keberanian melakukan itu, mungkin aku sudah menjambaknya. Aku rasa Namira tahu aku bukan orang seperti itu, makanya ia berani mengungkapkan semuanya,” ujar Miri.Ia masih dapat mengingat jelas wajah Namira yang menyunggingkan senyum kemenangan. Bangga atas keberhasilannya merebut semua yang Miri perjuangkan.Miri tahu ia telah kalah telak.“Tapi, kamu nggak papa? Maksudku … aku tahu kamu pasti sedih dan kaget saat mendengarnya,” ucap Arman dengan nada khawatir.“Bohong kalau
“Miri? Hidungmu kenapa?” tanya Jihan panik, saat melihat sahabatnya muncul dengan hidung tersumpal tisu.“Aku mimisan. Udah berhenti, kok,” gumam Miri, menarik tisu keluar dari lubang hidungnya.Ia melangkah pelan menyusuri taman sekolah, tempat di mana Jihan dan Kemal menunggu di bawah pohon besar. Keduanya sedang menikmati minuman segar dan kudapan, ketika Miri muncul dengan langkah sempoyongan.Jihan menghampiri, menuntun Miri duduk di bangku kosong. Ia memaksa Miri mendongak, memastikan bahwa ia tak berbohong.“Kenapa bisa mimisan? Kejedot tembok?” tanya Kemal dengan dahi berkerut, sambil menawarkan segelas es teh.Miri tertawa dalam hati. Kalau ia bisa memilih, sakit karena berantuk dengan tembok lebih menguntungkan daripada menangis. Setidaknya, mereka bisa menertawakan kecerobohan Miri karena tak melihat dinding di depannya.Sementara tak melihat tindakan licik mantan sahabatnya membawa perih yang tak akan bisa hilang.“Aku jelasin, tapi kalian jangan marah, ya. Terutama kamu,
“Kalau kamu mencari Baskara, ia tidak ada di sini. Sekarang Baskara sedang di New York, bersembunyi dari keluarganya. Bersembunyi darimu, Miri. Dia merasa gagal sebagai laki-laki,” ucap Namira enteng, menyandarkan sikunya pada dinding pagar di lantai dua.“Tapi … kenapa?” tanya Miri lirih.Miri berpegangan erat pada tali pengikat tasnya, menahan tangannya yang gemetar. Pikirannya kembali pada anting yang ia temukan di lantai mobil Baskara. Pembicaraan tentang tes DNA yang Miri dengar dari kamarnya.Semuanya terasa masuk akal dan tidak di saat yang bersamaan. Miri tak tahu harus memilih kenyataan yang mana. Apakah layak ia mempercayai Namira, orang yang berhenti bicara padanya setelah hampir 15 tahun berlalu?“Jawaban apa yang mau kamu dengar dari pertanyaanmu, Miri? Kenapa Baskara memilih pergi dan tinggal bersamaku daripada menikahimu?” tanya Namira sinis.“Kenapa kamu tega melakukan itu semua, Namira? Aku yakin banyak laki-laki lebih hebat dari Baskara yang bisa kamu pilih,” tukas Mi
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s
“Terus? Kamu ambil amplopnya?”Pertanyaan dari Jihan, sahabatnya, membuat Miri meradang. Bisa-bisanya ia berpikir Miri akan menerima uang suap untuk meninggalkan Baskara?“Ya nggak, lah! Gila kali!” teriak Miri.“Ssst–”Jihan meletakkan jari di depan bibir, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dengan
“Selamat malam. Selamat datang di Nero&Bianco. Ini tiramisu pesanan Anda,” ucap Miri pada wanita paruh baya di hadapannya.“Hm,” gumam Amara Wibowo, calon ibu mertua Miri, rendah.Wanita tua itu mengambil sendok dan mulai mengambil lapisan utuh tiramisu. Ia melahapnya dalam satu suap. Setelah mulut







