LOGIN“Saya turut berduka cita atas kematian Bu Aisha. Tapi, mohon pengertian dari keluarga bahwa saya hanya menjalankan permintaan terakhir beliau,” ujar Suster Evie kepada Seno.
Pria paruh baya di hadapannya mengangguk. Keduanya berbincang dalam suara lembut, berbagi ruang dengan anggota keluarga Miri yang lain.
Arman dan Bu Sara duduk di sofa. Wisnu bersandar pa
“Ma, aku mau mandi dulu, ya. Setelah itu mau tidur sebentar,” ucap Miri saat berpapasan dengan ibunya di dapur.Bu Sara sedang mencuci piring, sementara Mbok Citra menyiapkan bahan-bahan untuk makan siang keluarga. Aroma segar dari sabun pencuci piring di bak berpadu dengan sisa minyak dan gajih di piring.Sesaat, Miri jadi rindu suasana bekerja di dapur restoran. Perhatiannya teralihkan ketika Bu Sara mendekat.“Iya, Sayang. Mama setelah ini mau pulang dulu dan ganti baju. Kamu mau dibawain apa? Baju ganti? Selimut di rumah?” tanya Sara, mengeringkan tangannya pada celemek.“Baju dan selimut boleh, Ma,” balas Miri.Bu Sara meletakkan tangannya di pipi sang putri, menolehkan kepalanya ke ki
Sinar matahari yang lembut menembus jendela, menghangatkan wajah Miri. Ia terbangun dari tidur. Miri menyipitkan mata, menghalau sinar yang terlalu terik. Saat mencoba bangkit dari posisi tidur, rasa menusuk di kepala membuatnya berbaring lagi. Sambil memijat dahi, Miri merasakan alas kepalanya yang empuk bergoyang-goyang.“Masih pusing, Miri?” tanya suara itu.Miri menengadah, menangkap wajah sang pemilik suara yang sedang menunduk, bertemu mata dengannya. Arman juga baru saja bangun, menggosok matanya yang masih berat untuk menjalani hari kedua di rumah duka. Pria itu semalaman tidur dalam posisi duduk, meminjamkan pahanya sebagai bantal kepala Miri.“Astaga! Maaf, Arman–” gumam Miri.Miri tersentak bangun–kepalanya seketika berputar. Panas yang tiba-tiba merambati tengkuk dan pipi membuatnya bertanya-tanya. ‘Ini akibatnya kalau nggak makan dan kurang tidur, Miri. Dasar kamu, Drama Queen,’ pikirnya. Saat duduk, bagian bawah tubuhnya ditutupi oleh jaket milik Arman.Dinginnya udar
“Miri, makan dulu, yuk, Sayang. Ini Kemal, loh, yang masak,” rayu lembut Bu Sara, mendekati putrinya untuk ketiga kali hari itu.Miri masih duduk di sudut ruangan, memeluk kakinya erat ke arah dada. Dari kejauhan, ia tampak seperti bongkahan batu hitam yang berdiam tanpa nyawa. Wajahnya pucat, rambutnya tergerai pancang dalam balutan pasmina.Ia menggeleng, ketika Bu Sara menawarkan semangkuk sup daging ke depan wajahnya. Aromanya gurih, dengan kuah bening dan potongan daging yang menggoda selera. Bagi Miri, isi mangkuk itu tak ada artinya.“Kalau nggak makan, kamu sakit, Miri. Yuk, sesuap aja,” ucap Bu Sara, menyodorkan sendok berisi kuah daging ke bibir putrinya.Namun, Miri mengelak. Ia menutup mulutnya dengan tangan. Bu Sara menyerah.
“Kamu hanya orang luar di keluarga ini! Jangan harap kamu mendapatkan apapun!” teriak suara itu.Seorang wanita memekik, jeritannya berputar di kepala Arman. Ada kenangan di masa lalu yang bangkit dalam ingatan. Saat itu ia baru berusia tujuh belas tahun, duduk di kantor pengacara bersama ibunya.Di hadapannya, empat orang wanita dewasa yang berbagi rupa dengannya, memilih untuk mengasingkan Arman. Mereka memanggilnya ‘anak haram’, melabeli ibunya sebagai ‘tukang tipu’. “Dia hanya anak remaja. Kenapa kalian menyerangnya seperti itu? Tes DNA juga sudah membuktikan bahwa Arman adalah adik kita,” balas Seno, menjadi satu-satunya saudara yang membela Arman.“Jaman sekarang data bisa dimanipulasi, Seno. Masih aja kamu percaya sama mereka? Mereka cuma mau uang ayah kita!” sahut Ambar ketus, seorang wanita dengan rambut ikal berpotongan pendek.Perdebatan itu terus berlangsung. Semakin lama nada bicara mereka semakin tinggi. Ada yang menggebrak meja, saling menunjuk dalam sumpah serapah. Se
“Saya turut berduka cita atas kematian Bu Aisha. Tapi, mohon pengertian dari keluarga bahwa saya hanya menjalankan permintaan terakhir beliau,” ujar Suster Evie kepada Seno.Pria paruh baya di hadapannya mengangguk. Keduanya berbincang dalam suara lembut, berbagi ruang dengan anggota keluarga Miri yang lain.Arman dan Bu Sara duduk di sofa. Wisnu bersandar pada dinding, dengan tangan terlipat di depan dada. Kemal berdiri di dekat jendela, belum melepaskan ponsel dari telinga. Ia terus mencoba menghubungi nomor Baskara, atas permintaan Jihan.“Terima kasih atas perhatian Suster Evie hari ini. Maaf kalau Miri kelepasan. Dia pasti shock,” ucap Seno.Suster Evie menyunggingkan senyum, memaklumi reaksi Miri yang sempat melampiaskan emosi padanya.
“Tidak,” gumam Miri.Napasnya tersengal, berlari dari kamar tamu menuju kamar sang nenek. Sambil mengangkat ujung roknya, langkahnya terhenti di lorong. Ia mengintip ke dalam. Para tamu berkerumun.Di dalam, mereka berkumpul di satu sisi tempat tidur. Keheningan perlahan merambat ke setiap sudut kamar, ketika Miri melangkah masuk. Terdengak isak tangis seseorang. Miri tak tahu siapa, karena matanya tertuju pada satu tubuh kaku di tempat tidur.“Miri,” panggil Bu Sara lirih.Dalam balutan gaun hijau muda, penampilan anggunnya kontras dengan wajahnya yang berderai air mata. Ia tampak pucat, mata merah dan pipi sembab. Bu Sara menghampiri putrinya, selangkah demi selangkah.“Nenek … Nenek kenapa, Ma?” tanya Miri dengan suara gemetar.“Nenekmu … baru saja meninggal, Miri,” ucap Bu Sara, menggenggam tangan putrinya erat.Di sisi Bu Sara, ada sosok yang menangis meraung-raung, duduk berlutut di lantai sambil menggenggam tangan Nenek Aisha. Itu Mbok Citra.Miri mencoba menampik cengkeraman i
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







