Se connecterPagi itu, Miri bangun di sisi tempat tidur yang berbeda. Matanya mengedip pelan, tubuhnya menggeliat di balik selimut. Kedua tangannya meregang, merasakan setiap ototnya ikut bangun.Cahaya dari jendela menyusup masuk di antara celah gorden, mengabarkan nuansa kota Roma yang masih tertidur.“Pagi, Miri,” sapa suara serak dari sisi tempat tidur.Miri menoleh, mendapati Arman sedang duduk di tepi ranjang, tersenyum lembut. Ia mengeluarkan jeritan melengking, buru-buru menyembunyikan diri di balik selimut.“Kenapa? Kok kaget?” tanya Arman, tertawa-tawa.“Ng, nggak papa. Mukaku pasti jelek banget,” gumam Miri, asal saja menyebutkan alasan.Bibir Arman menyunggingkan senyum, lalu mencondongkan tubuh ke arah Miri. Ia mengecup keningnya.“Mau sarapan? Aku lapar, tapi nunggu kamu bangun dulu,” ucapnya.“Ayo. Jam berapa sekarang?” tanya Miri, mengucek mata.Ia mendorong dirinya bangkit, duduk di tempat tidur. Selimutnya melorot ke pangkuan, memperlihatkan tubuh Miri yang masih terbalut pakaian
Dari jendela kamar hotel Arman, Air Mancur Trevi terlihat jelas di jendela. Airnya berkilau diterpa lampu sorot, menghidupkan nuansa dramatis dan romantis di sekitar kolam.Miri coba membuka daun jendela agar dapat merasakan udara malam kota Roma, tapi terkunci.“Jangan dibuka, Miri. Jendelanya rusak,” ujar Arman dari balik punggung Miri.“Oh iya? Kamu tahu dari mana?” tanya Miri.Sebelum pria itu menjawab, Miri menemukan potongan kertas kecil yang ditempel di dinding. Pada lembar itu terdapat barisan kata dalam bahasa Itali dan Inggris, yang intinya mengingatkan penghuni kamar agar tidak membuka jendela.“Sepertinya pernah ada insiden yang melibatkan pengunjung. Di depan jendela juga tidak ada beranda. Kalau sembarangan bersandar, bisa-bisa jatuh bebas ke lantai dasar,” ujar Arman, sambil mengecek isi kulkas mini di bawah meja.Mendengar peringatan itu, Miri perlahan bergerak mundur. Ia tak membutuhkan insiden lain untuk dilalui malam ini.“Kalau tahu hotel ini berbahaya, kenapa kamu
“Kita duduk di sana aja,” ajak Arman.“Apa nggak bisa tempat lain? Di sana terlalu gelap,” protes Miri.Setelah meninggalkan restoran Trattoria Lilli, Miri dan Arman mencari tempat yang sepi untuk bicara. Awalnya mereka berniat untuk bersantai di tepi Sungai Tiber, tapi situasi berubah.Sambil menggandeng tangan Miri, Arman menemukan area parkir kendaraan yang sepi. Beberapa mobil dan skuter berbaris, tak ada orang yang menunggui. Sebuah pohon zaitun tampak tegak berdiri, dengan tajuknya yang melambai lembut ditiup angin. Lampu-lampu yang menempel pada dinding rumah menyoroti area terbuka itu.Pagar beton rendah yang mengelilingi pohon zaitun sekaligus menjadi tempat duduk bagi siapapun yang ingin bersantai di ruang terbuka. Arman mengajak Miri duduk di sana.“Kamu … lihat isi buku ini, kan?” tanya Arman.Ia mengambil buku sketsa bersampul kulit miliknya, membuka halaman terakhir.Buku itu kini ada di pangkuan Miri, memperlihatkan halaman yang sama seperti saat ia sedang menunggu Arma
“How’s the rigatoni, Sir?” tanya seorang pelayan, menghampiri meja Miri dan Arman.“E perfetto!” seru Arman.Tangannya menguncup, lalu ia mencium ujung-ujung jarinya, melemparkan ‘chef’s kiss’ ke arah si pelayan restoran. Pria dengan kumis tebal itu terbahak-bahak, puas dengan reaksi Arman.Miri menggeleng-gelengkan kepala, geli dengan tingkah pria di hadapannya.“Here’s your fornara con patate and polpettine. Enjoy!” ujar si pelayan, mengantarkan pesanan tambahan ke meja.“Gracie,” balas Miri dan Arman bersamaan.Mata mereka berbinar melihat potongan daging sapi dan kentang, lalu sepiring bakso dalam saus tomat pedas. Miri memotong daging menjadi ukuran sesuap, berbagi dengan Arman.“Wow,” gumam Arman, menunjuk piring dengan wajah semringah.Sementara Miri tak dapat berkata-kata. Mulutnya sibuk mengunyah, menikmati setiap rasa dan aroma yang berputar dalam mulutnya. Tomat segar yang dimasak hingga halus, asamnya berpadu dengan sensasi pedas dari bubuk cabai. Dagingnya lembut, lumer d
“Kamu memotong rambutmu, Arman?” tanya Miri, saat mereka akhirnya mendapat tempat duduk di La Sagrestia.“Iya. Kelihatan aneh, ya? Udah lama aku nggak memotong rambut sependek ini,” ucap Arman malu-malu.Ia melarikan jari-jarinya di antara helai rambut, yang jauh lebih pendek dari terakhir kali Miri melihatnya. Rasanya ia ingin ikut menyentuh kepala Arman.“Nggak, kok. Malah kelihatan segar,” puji Miri, sambil tersenyum.Siang itu, setiap meja di restoran telah penuh oleh pengunjung. Areanya tidak terlalu luas, dengan set meja maksimal untuk empat orang di sisi kiri dan kanan. Riuh rendah perbincangan antar meja saling beradu, menjadi gaung di sekitar meja Miri dan Arman.Keduanya mendapat meja yang pas untuk dua orang, dekat dengan pintu masuk. Sesekali Arman harus menarik sikunya dari tepi meja agar tak menyenggol siapapun yang melewati lorong di sampingnya.“Kemejamu juga baru, ya? Aku belum pernah lihat sebelumnya,” sambung Miri.“Iya. Cuaca tadi pagi agak dingin, jadi aku pilih y
“Bisa-bisanya kamu dapat hotel tepat di depannya Trevi,” ucap Miri, tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada keberuntungan Arman.“Kebetulan aja masih ada kamar kosong. Tadinya aku mau cari hotel lain yang agak jauh supaya bisa sekalian jalan-jalan. Tapi, sarapan dengan pemandangan Air Mancur Trevi sepertinya nggak jelek juga,” sahut Arman, tersenyum simpul.Setibanya di Hotel Fontana, Arman segera menghampiri meja resepsionis untuk mengonfirmasi kamar hotel. Karena hanya punya waktu libur di akhir pekan, Arman merasa sayang jika tak menggunakan waktunya selama di Roma.Meski hanya berjalan-jalan dan menikmati suasana kota bersama Miri hari ini, keduanya tak sabar untuk menghabiskan waktu bersama. Miri dengan catatan restoran yang akan mereka datangi, sementara Arman dengan catatan lokasi wisata demi memperkaya wawasan budayanya.“Aku tunggu di sofa, ya,” ucap Miri.Arman mengiyakan.Miri duduk di salah satu kursi yang disusun merapat, pada ruang lobi yang tak lebih besar daripada d
“Makasih makan siangnya, ya, Kemal. Lain kali masak lagi buat Tante, oke?” ucap Bu Sara ketika mengantar Jihan dan Kemal ke pintu.Selepas menikmati hidangan buatan Kemal, Bu Sara sempat bergabung dengan Miri dan teman-temannya. Mereka saling melempar canda di meja makan, berbagi berita terbaru ten
“Selamat siang. Wah, kalian udah makan duluan, ya?” sapa sang wanita anggun yang muncul dari pintu depan.“Selamat siang, Tante,” balas Jihan dan Kemal bersamaan.Sara, seorang wanita paruh baya berparas cantik dengan potongan rambut sebahu. Tutur katanya lembut, berbagi pesona yang serupa dengan M
“Kamu tahu nggak kalau arrabbiata artinya ‘marah’?” Kemal membeberkan fakta, sambil mengaduk saus kental di dalam panci.Aroma pedas yang membubung bersama uap tipis menggelitik hidung Miri. Matanya terasa panas. Kemal tak mengizinkan Miri meninggalkannya barang sedetik agar ia merekam setiap langk
“Jadi, restu masih belum di tangan, nih?” tanya Jihan, selepas Miri menceritakan acara makan malam terakhirnya bersama orang tua Baskara.“Dari reaksi Baskara, menurutku belum. Ayahnya oke-oke aja. Tapi si serigala betina …,” bisik Miri, menggelengkan kepala.Terakhir kali Miri melihat kekasihnya s







