แชร์

7. Pre-Test Dari Neraka

ผู้เขียน: kopilatte
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-22 12:10:49

Ruang konferensi Departemen Bedah Saraf masih menyisakan aroma kopi pahit dan ketegangan yang belum tuntas. Sepuluh residen baru berdiri kaku di depan meja panjang, menatap tumpukan map tebal yang baru saja diletakkan oleh asisten Leon Kahnwald.

Di ujung ruangan, Leon berdiri membelakangi mereka, menatap pemandangan kota Heidelberg dari balik jendela besar. Jas putihnya tampak sangat kontras dengan pencahayaan sore yang mulai meredup. Tanpa berbalik, suaranya yang berat membelah keheningan.

"Dasar dari bedah saraf bukanlah keberanian, melainkan ketelitian informasi," ujar Leon tenang, namun setiap katanya terasa seperti beban. "Saya sudah memilah lima puluh jurnal internasional terbaru mengenai Arteriovenous Malformation. Saya ingin rangkuman komprehensif dari setiap jurnal tersebut ada di meja saya besok pagi pukul tujuh. Diketik rapi, tanpa kesalahan sitasi."

Desahan tertahan terdengar dari barisan residen. Lily Braun merasa dunianya runtuh seketika. Lima puluh jurnal? Dalam satu malam? Itu secara teknis hampir mustahil dilakukan tanpa mengorbankan waktu tidur sama sekali.

"Ada pertanyaan?" Leon berbalik, matanya yang tajam menyapu barisan. Ketika tatapannya mendarat pada Lily, ia berhenti sejenak, memberikan tekanan psikologis yang membuat Lily refleks menunduk.

"Tidak ada, Dokter," jawab ketua kelas residen dengan suara gemetar.

"Bagus. Silakan bubar."

Lily melangkah keluar ruangan dengan bahu merosot. Kepalanya masih pening karena kejadian di kantin tadi siang, dan sekarang ia harus menghadapi "kematian" intelektual di hari pertamanya. Saat ia sedang menatap nanar tumpukan fotokopi jurnal di tangannya, sebuah tepukan ringan mendarat di pundaknya.

"Hei, kau terlihat seperti baru saja divonis hukuman gantung," sebuah suara ramah menyapa.

Lily menoleh dan melihat seorang pria dengan rambut agak berantakan dan senyum santai. Dr. Marco, residen senior yang tadi sempat disebutkan oleh Clara.

"Dr. Marco?" gumam Lily.

"Panggil saja Marco jika tidak ada Konsulen di sekitar," Marco terkekeh, lalu menunjuk tumpukan jurnal di tangan Lily. "Ah, Pre-test klasik dari Si Dewa Bedah. Dia memang suka melakukan ini pada angkatan baru. Semacam seleksi alam untuk melihat siapa yang akan tumbang di minggu pertama."

"Tapi lima puluh jurnal dalam semalam? Itu gila," keluh Lily, suaranya hampir menyerupai bisikan putus asa.

Marco mengajak Lily berjalan menuju perpustakaan rumah sakit yang lebih tenang. "Dengar, Lily. Dokter Leon Kahnwald itu perfeksionis yang obsesif. Dia tidak hanya ingin kau merangkum, dia ingin melihat apakah kau bisa memilah mana informasi yang krusial dan mana yang hanya sampah teori. Tips dariku: jangan fokus pada metodologinya, langsung baca bagian diskusi dan kesimpulan. Dan satu lagi, dia benci kalimat yang bertele-tele."

"Kenapa dia melakukan ini padaku?" Lily tanpa sadar bertanya, suaranya mengandung nada personal yang membuat Marco mengernyit curiga.

"Padamu? Dia melakukan ini pada semua orang, Lily. Tapi..." Marco mengamati wajah Lily sejenak. "Aku akui, tatapannya padamu saat ronde tadi memang sedikit lebih... tajam. Mungkin karena kau terlihat paling pucat di antara yang lain. Dia benci kelemahan fisik."

Lily menelan ludah. Kelemahan fisik? Jika Leon tahu penyebab sebenarnya dari pucatnya wajah Lily, pria itu mungkin akan mengusirnya dari rumah sakit ini saat itu juga.

Malam itu menjadi malam terpanjang dalam hidup Lily. Di bawah lampu meja perpustakaan yang remang, ia bergelut dengan istilah medis bahasa Inggris dan Jerman yang rumit. Matanya mulai berair, dan perutnya kembali bergejolak mual. Setiap kali rasa kantuk menyerang, bayangan mata dingin Leon muncul, membuatnya tersentak bangun kembali.

Aku tidak boleh gagal. Aku tidak boleh membiarkan pria itu punya alasan untuk meremehkanku lagi, tekadnya dalam hati.

Pukul enam pagi, dengan jari-jari yang kaku dan mata merah karena kurang tidur, Lily berhasil menyelesaikan rangkuman jurnal kelima puluh. Ia merapikan berkas-berkas itu ke dalam map plastik bening, hatinya sedikit lega. Ia merasa telah menyelesaikan misi mustahil.

Tepat pukul tujuh pagi, para residen berkumpul di depan ruang kerja Leon. Suasana sangat sunyi; semua orang tampak kelelahan dengan lingkaran hitam di bawah mata. Ketua kelas residen mulai mengumpulkan map dari rekan-rekannya untuk diserahkan secara kolektif.

Namun, sebelum map Lily diambil, pintu ruangan Leon terbuka. Pria itu keluar dengan penampilan yang sangat segar—seolah ia tidak pernah merasakan kelelahan manusiawi. Ia memegang cangkir kopi hitam dan menatap para residen yang tampak layu.

"Ketua kelas, kumpulkan semua tugas teman-temanmu ke meja sekretaris," perintah Leon datar.

Lily hendak menyerahkan mapnya pada ketua kelas, namun gerakan Leon menghentikannya.

"Kecuali kau, Residen Braun," suara Leon memotong udara pagi yang dingin.

Seluruh residen menoleh ke arah Lily. Sarah Adeline memberikan tatapan sinis yang penuh selidik. Lily membeku, tangannya yang memegang map gemetar tipis.

Leon menatap Lily dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kilatan misterius di matanya, seolah ia sedang menikmati kebingungan yang melanda gadis itu. Ia melangkah mundur, memberikan ruang bagi Lily untuk masuk ke dalam wilayah pribadinya.

"Bawa tugasmu masuk ke dalam. Ada beberapa poin dari jurnal nomor tiga belas yang ingin saya diskusikan langsung denganmu," ujar Leon dingin, namun matanya mengunci mata Lily, seolah berkata bahwa 'diskusi' ini bukan sekadar soal jurnal medis.

Jantung Lily berpacu liar. Ia menatap punggung Marco di kejauhan yang hanya bisa memberikan pandangan prihatin. Di tengah kelelahan yang luar biasa dan rasa mual yang kembali menyerang, Lily terpaksa melangkah maju, melewati ambang pintu ruangan Leon yang berat.

Begitu Lily masuk, Leon menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar seperti vonis di telinga Lily. Ruangan itu kedap suara, menyisakan keheningan yang mencekam di antara mereka berdua. Leon berjalan menuju kursinya, namun tidak duduk. Ia menyandarkan tubuhnya pada tepian meja kayu ek miliknya, menatap Lily yang berdiri kaku di depan pintu.

"Masuklah, Residen Braun. Kita perlu bicara berdua."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Elok Puspasari
ini cara kembali ke hal depan gmn
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   189. Puncak Keagungan Dinasti Kahnwald-Bern (END)

    Sinar matahari pagi bersepuh keemasan menyirami kemegahan arsitektur klasik mansion utama Kahnwald di Kota Heidelberg. Hari ini menjadi momen bersejarah bagi dinasti paling berpengaruh di Eropa tersebut. Sebuah potret keluarga resmi dijadwalkan dipublikasikan secara serentak ke seluruh jaringan media internasional, menandai era baru kejayaan, kedamaian, dan keharmonisan murni dinasti Kahnwald-Bern. Aula besar mansion telah disulap menjadi studio foto megah. Di tengah ruangan, sebuah sofa beludru berwarna hijau zamrud berukir emas diletakkan sebagai pusat perhatian utama. Lily Braun-Kahnwald tampak sangat memesona dalam balutan gaun malam sutra berwarna gading yang memeluk anggun siluet tubuhnya yang sempurna. Di sampingnya, Leon Kahnwald berdiri gagah memancarkan aura patriark sejati dalam setelan tuksedo tiga lapis berwarna hitam midnight dengan aksen bros safir klan Bern di kerahnya. Arthur kecil tampak menggemaskan sekaligus gagah dengan jas mungil yang senada dengan ayahnya, se

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   188. Perayaan Ulang Tahun Pernikahan di Atas Yacht

    Langit sore perairan Mediterania bersepuh warna jingga keemasan yang luar biasa menawan. Di tengah hamparan laut biru yang tenang, yacht mewah milik keluarga Kahnwald membelah ombak dengan sangat anggun. Perayaan ulang tahun pernikahan mereka digelar secara mutlak privat, jauh dari hiruk-pikuk dunia kedokteran dan sorotan pers internasional. Hanya ada deburan ombak, bisikan lembut angin laut, serta harmoni cinta yang terukir sempurna. Di atas geladak utama yacht, atmosfer dibangun dengan sangat romantis. Ribuan tangkai mawar putih langka menghiasi setiap sudut pembatas kapal, menyebarkan aroma harum yang menyegarkan pikiran. Karpet merah membentang menuju area santer geladak, tempat sebuah meja makan lilin kustom telah ditata dengan kemewahan tiada tanding. Lily melangkah keluar ke geladak, terbalut gaun malam dari sutra berwarna putih gading yang mengalir indah tertiup angin laut yang sepoi-sepoi. Gaun mahakarya itu menonjolkan keanggunan alaminya yang memikat sebagai Ratu Bedah

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   187. Malam Terisolasi di Villa Danau Constance

    Suara deburan ombak halus Danau Constance yang menyapu tepian dermaga kayu privat berpadu merdu dengan gemertak kayu cemara yang terbakar di dalam perapian batu alam. Di dalam villa eksklusif berdinding kaca terisolasi yang tersembunyi di balik rindangnya pepohonan Pinus, malam berlalu begitu lambat, tenang, dan tanpa gangguan sedikit pun dari urusan rumah sakit maupun intrik dinasti Kahnwald. Ruang santai villa itu dinaungi pendar jingga keemasan yang hangat. Di atas karpet bulu domba tebal yang terbentang tepat di depan perapian, Lily berbaring menyamping dengan santai. Gaun tidur sutra berwarna gading yang dikenakannya memeluk lembut lekuk tubuhnya yang tampak kian anggun dan menawan usai melahirkan. Leon Kahnwald berlutut di sampingnya. Sang Patriark menanggalkan kemeja formalnya, hanya mengenakan kaus polos hitam yang santai. Jemari tegapnya yang cermat mengoleskan minyak aromaterapi beraroma kayu cendana dan mawar ke punggung mulus Lily. Dengan ketelitian luar biasa, Leon

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   186. Kencan Singkat sang Patriark dan Ratu

    Malam merayap anggun di atas Kota Heidelberg. Di dalam ruang tengah mansion Kahnwald, Sofia dan Hans tampak semringah memangku Arthur kecil dan mengayun lembut boks tempat Evelyn lelap tertidur. Atas desakan bertubi-tubi dari Sofia dan Hans yang dengan senang hati mengambil alih tugas menjaga kedua buah hati mereka, Leon akhirnya berhasil memboyong Lily keluar dari rumah. Ini adalah kencan privat pertama mereka semenjak kelahiran putri kecil mereka. Sebuah sedan hitam meluncur mulus membelah jalanan kota yang tenang, membawa pasangan berpengaruh itu menuju tepi Sungai Neckar. Demi menjaga privasi mutlak sang Ratu, Leon telah menyewa seluruh area restoran rooftop eksklusif yang menyajikan pemandangan spektakuler Kastil Heidelberg dan kilauan lampu kota yang memantul di atas permukaan air sungai. Suasana di rooftop terasa begitu magis. Tidak ada pengunjung lain, tidak ada kilatan kamera, dan tidak ada kehebohan medis. Hanya ada jejeran lilin aromaterapi yang pendar apinya menari pel

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   185. Kehangatan di Rumah Utama Kahnwald

    Fajar keemasan menyapu lembut lanskap kota Heidelberg, membias menembus dinding kaca raksasa master suite di mansion utama Kahnwald. Sejak kehadiran Evelyn—putri kecil mereka yang berparas jelita—suasana dingin dan kaku yang dulu melingkupi kediaman patriarkis ini perlahan lelah, berganti menjadi kehangatan murni yang menenangkan. Demi menjadi suami dan ayah yang sigap, Leon Kahnwald mengambil keputusan radikal. Sang Patriark muda secara drastis memangkas jam kerjanya di rumah sakit dan jajaran direksi, menyerahkan sebagian besar jadwal operasinya kepada tim konsulen senior demi mendedikasikan jiwanya untuk keluarga kecil mereka. Pagi itu, aroma minyak esensial lavender dan uap hangat memenuhi area en-suite bathroom. Di dalam bak mandi marmer berpenghangat, Lily berbaring santai, menyandarkan punggung polosnya pada dada bidang Leon. Jemari tegap Leon bergerak perlahan, mengoleskan sabun berbusa lembut ke bahu dan lengan mulus istrinya. Sesekali tawa pelan Lily pecah saat Leon se

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   184. Tangisan Pertama di Puncak Kejayaan

    Pagi keemasan merekah di atas kota Heidelberg, membiaskan pendar cahaya hangat yang menembus jendela kaca kedap suara di VIP Delivery Suite Institut Lily Kahnwald. Ruangan persalinan privat berteknologi medis mutakhir itu terasa begitu tenang dan steril, dipenuhi aroma lembut lavender yang menenangkan. Di atas ranjang persalinan medis eksklusif, Lily Braun-Kahnwald berbaring dengan napas yang terengah halus. Peluh bening membasahi dahi dan pelipis anggunnya. Usia kehamilan yang matang kini telah mencapai puncaknya—momen lahirnya sang buah hati telah tiba. Di samping kanan ranjang, Leon Kahnwald berdiri tegap tanpa berpaling sekejap pun. Patriark muda dinasti Kahnwald itu menanggalkan jas mewahnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bagian sikunya digulung rapi. Wajah tegap Leon menyiratkan kecemasan yang dalam, namun sepasang mata kelamnya memancarkan keteguhan luar biasa. Kedua tangan besar Leon menggenggam erat jemari lentik Lily yang gemetar meremasnya setiap kali kont

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   3. Identitas yang Hilang

    Ruang kendali keamanan Hotel Heidelberg terasa sesak dan dingin. Leon Kahnwald berdiri mematung di depan deretan layar monitor yang menampilkan rekaman berwarna abu-abu. Matanya tidak berkedip, melacak setiap pergerakan pada layar nomor empat yang mengarah ke lorong lift pribadi."Putar ulang bagia

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   6. Oksigen yang Hilang

    Dinding-dinding putih koridor Heidelberg Universitätsklinikum seolah menyempit, menghimpit paru-paru Lily Braun hingga ia merasa oksigen di sekitarnya menguap habis. Langkah kakinya goyah, menyeret jas putih kaku yang kini terasa seberat baju zirah besi. Visual tatapan Leon Kahnwald di aula tadi ma

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   5. Takdir di Lorong RS

    Heidelberg Universitätsklinikum berdiri megah di bawah langit pagi yang abu-abu, sebuah monumen kedokteran yang menjadi impian bagi ribuan sarjana medis. Namun bagi Lily Braun, bangunan itu pagi ini terasa seperti labirin raksasa yang siap menelannya hidup-hidup.Di depan cermin toilet rumah sakit,

  • Residen Rahasia Sang Dokter Pewaris   4. Dihantui Rasa Bersalah

    Kesunyian di ruang kerja Dokter Spesialis Bedah Saraf itu terasa menyesakkan, hanya dipecahkan oleh detak jam dinding yang seolah mengejek kekacauan di kepala Leon Kahnwald. Di hadapannya, tiga layar monitor menampilkan hasil pemindaian MRI pasien dengan tumor otak yang kompleks, namun fokus Leon t

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status