Share

6. Jangan campurkan kami Mas!

Penulis: Ka Enov
last update Terakhir Diperbarui: 2023-03-17 22:11:54

Clara kaget, begitu juga Lara dan Anton. Mereka saling pandang. Clara dan Anton, sama sekali tidak mengatakan apapun pada kedua gadis yang beranjak besar itu.

Ya, Nayla dan Kayla saat ini sudah kelas 5 SD. Mereka sudah cukup bisa mengerti dengan melihat apa yang terjadi. Gurat sedih, kecewa bercampur jadi satu.

Clara segera turun dan membawa kembar menjauh dari keramaian.

Anton berniat mengejar, dan menjelaskan pada dua gadisnya itu. "Jangan kemana mana, Anton! Jangan tinggalkan Lara sendiri!" ucap Desi mengcengkram lengan Anton yang hendak mengejar Clara dan dua gadis kembarnya itu.

"Tapi bu, Anton salah. Anton belum bilang apapun pada Nay dan Kay, Bu!"

"Biar Clara saja, ato biar ibu saja! semua sudah tahu jika Lara istri muda kamu. Jangan makin mempermalukan besan ibu, Anton. Kamu tadi malah bikin adegan izin-izinan segala, bikin malu. Siapa nyuruh kamu mangggil Clara dan pake acara izin menikah sama istri pertama dulu begitu? Dasar, bikin malu ibu saja!" rutuk Desi meninggalkan Anton, tanpa mendengar apa yang ingin Anton sampaikan.

Anton jadi diam sendiri. Dari panggung tinggi ini, dia bisa melihat jika Nay dan Kay ada disana, tengah mendengarkan ibunya bicara.

"Semoga mereka berdua tidak kecewa padaku, apalagi menganggap aku ayah yang jahat!" batin Anton berharap.

Setelah acara resepsi siang berakhir, Anton berniat pulang dahulu. Ia masih ingin bicara dengan dua putrinya. Sejak tadi, Ia tak lagi melihat mereka, juga Clara.

"Anton, sudah ibu katakan jangan tinggalkan Lara! Kamu ga ngerti juga ya?" bentak Desi marah.

"Ibu, aku harus bicara dahulu dengan anak anak bu. Harus!" pinta Anton.

"Ga perlu, ibu sudah telpon Clara, sudah bicara sama Nay dan Kay juga. Kamu itu berlebihan. Mereka baik baik saja, mereka mengerti dan mengizinkan kamu menikah, kenapa lagi?"

"Benarkah itu, Bu? trus apa yang Kay katakan? Nay ngomong apa?" tanya Anton lagi.

"Akh sudah. Yang jelas mereka sudah iya. Itu sudah cukup. Awas ya kamu Anton, kalo pergi sebelum acara selesai. Sekarang giliran kamu sama Lara, jadi tetap disini dan nikmati acaramu. Sampai selesai. Sampai istrimu ajak kamu pulang. Ah maksud ibu Lara, bukan Clara!"

Anton baru mau mengucapkan sesuatu. Tapi Desi langsung pergi begitu saja.

"Mas Anton!" panggil Lara sangat lembut. Anton terkesip.

"Ya Lara, kenapa?"

"Mas, bisakah disini sampai lusa, kita akan tinggal bersama ibu sampai tiga hari, baru kita menuju rumah mas Anton, boleh? Ibu yang minta, Mas!" Lara mengucapkannya dengan menunduk.

"Iya ga apa, kita akan disini sampai lusa. Lagi pula mas juga ga kerja!" jawab Anton lembut.

Mereka kemudian melanjutkan acara resepsi malam. Walau gelisah dan masih memikirkan ketiga wanitanya, Clara dan dua anak gadisnya, tapi Anton masih menebar senyum pada tamu yang kebanyakan tamu Lisda itu. Hingga acara berakhir larut malam.

******

Tiga hari kemudian.

Hari masih cukup pagi. Rumah nampak sepi, saat Anton tiba dan mobilnya terparkir cantik didepan rumah.

"Assalamualaikum, Clara, Mas pulang!" teriaknya sambil mendorong koper sang istri muda.

"Clara!" panggil Anton lagi.

"Wa- Walaikumsalam." Clara datang dari samping rumah dengan terkejut saat sang suami pulang malah bersama istri barunya. Keduanya tanpa dosa tersenyum pada Clara yang nampak diam membisu.

"Kok diem aja disana?" tanya Anton heran dan menyuruh Clara masuk.

Clara tergagap dan masuk, lalu menyalami punggung tangan Anton seperti biasa.

"Anak anak sekolah, Sayang?" tanya Anton langsung rebahan di kursi tengah.

"Iya, Mas." Clara menjawab sambil melirik koper Lara.

"Mas, apa Lara akan tinggal disini?" tanya Clara pelan. Tentu saja dengan sepengetahuan Lara, mengingat istri muda Anton itu duduk diantara mereka juga.

"Iya, mau kemana lagi emangnya?" tanya Anton tak mengerti.

"Gak, Mas. Jangan campurkan kami!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Merry Diana
betul itu, setuju clara udh bagi suami enak aja mau bagi rumah jg eh, pov lara blm nih isi kepala lara blm pernah d bocorkn thor cb d telisik, dia sbner ny gmn
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   12. Tahun Bahagia

    Clara tidak bisa mengubah perasaannya begitu saja. Dia sangat cemburu terhadap Anton dan juga Lara. Tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkan apapun. Melihat sang istri, yang nampaknya tidak baik-baik saja, Anton pun mendekatinya. "Ada apa sayangku? Aku sudah kembali. Tapi, kenapa wajahmu masih di tekuk begitu?" tanya Anton. Clara masih enggan bicara. "Sayang!" Anton kembali memanggil Clara. Kali ini dengan pelukan. "Apakah salah jika aku cemburu, Mas? Kenapa kalian seolah mengejek aku?" Clara menangis. "Clara, Sayangku, sudah mas katakan, bukan? Ini tidak akan mudah. Sudahlah. Mas juga tidak menyentuh Lara. Lara saat itu tengah datang bulan. Jadi kami hanya berlibur saja. Tidak ada hal apapun yang terjadi!" Mendengar ucapan dari sang suami, Clara kemudian menghapus air matanya. Tetapi tentu saja ini hanya sesuatu yang hanya diundur saja. Besok atau lusa ketika datang bulan Lara sudah selesai, pastinya Anton akan menyentuhnya. Itu adalah haknya, haknya yang ditunda. "Apak

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   11. Cemburu yang Menyiksa

    Clara sangat tak tahan, berada didapur malah membuatnya makin penasaran. "Apa yang dikatakan Lara ya? Aku dulu sebulan menikah, sudah hamil si kembar. Apakah Lara juga?" batin Clara tak tenang. Teh yang akan disuguhkan pada tamunya, malah terlalu lama diaduk Clara yang melamun. "Clara, kok lama banget sih? kamu melamun? atau kamu campur sesuatu ke minuman itu ya?" tanya Desi. "Astagfirullah, memasukkan apa maksud, Ibu?" "Kok kaget gitu? Ya masukkin gula sama teh, memang apa lagi?" ucap Desi polos. Ia langsung mengambil alih nampan berisi teh, lalu membawanya ke depan. "Kok ibu jadi gitu ya? Berasa kayak nuduh aku?" batin Clara sensitif. Walaupun sebenarnya Clara kesal, tapi rasa penasarannya lebih besar. Jadi langkah kakinya mengikuti langkah kaki Desi untuk menuju kembali ke ruang depan. Wajah merona dari Lara masih nampak terlihat dengan jelas. Dia menunduk malu-malu sambil terus dimintai keterangan oleh kedua orang ibu yang duduk di sampingnya. "Jadi bagaimana Lara?

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   10. Pipinya yang merona

    Sudah 3 hari Lara dan Anton tidak juga pulang. Itu membuat perasaan Clara jadi tak menentu. Dia tidak menghubungi suaminya. Tetapi suaminya rajin menelponnya, terutama di pagi hari ketika anak-anak lagi sarapan. Anak-anak lebih mendominasi pembicaraan daripada dirinya. Clara hanya bisa menatap wajah tampan itu yang nampak selalu tersenyum dihadapan anak-anak. "Ayah akan pulang besok, mau di bawain apa?" tanya Anton. Kayla dan Nayla langsung antusias menyebutkan barang yang mereka inginkan. "Lalu bunda, apa?" tanya Anton. Anak anak menoleh pada Clara. Tapi Clara hanya menggelengkan kepalanya. "Kok nggak ada? Yakin?" tanya Anton tersenyum. Anak anak hanya tertawa melihat ayah menggoda bunda mereka. "Sudah sudah, ayo habiskan makanan kalian. Kita sudah hampir terlambat. Maaf ya mas, nanti kita sambung lagi!" ucap Clara. "Aku tidak minta apapun, Mas. Aku hanya ingin kau baik-baik saja dan terus mengingatku walau kau bersama Lara. Lalu kembali dengan selamat ke rumah," batin

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   9. Bulan madu

    Lara langsung menunduk malu mendengar pertanyaan dari Clara tersebut. Pasalnya dia tidak berani untuk menyusun rencana seperti itu. Dia sadar meskipun dia bersama Anton di masa lalu, tetapi di masa sekarang, dia harus lebih banyak mengalah dan membiarkan istri tertua mengatur. Biar bagaimanapun juga, mengajak suami untuk bepergian, itu artinya dia butuh persetujuan dari keduanya. Dia tidak bisa memutuskan ini sendiri. "Mas tidak terpikir untuk itu, Clara!" ucap Anton juga bersikap malu. Anton sendiri bahkan belum menyentuh Lara. Mereka terlalu lelah untuk merencanakan itu. Mereka hanya tidur bersama dan hanya itu. "Maafkan mas Anton atas sikapnya itu, Lara. Kau berhak menikmati bulan madumu bersama suamimu. Kalian adalah sepasang pengantin yang baru saja menikah. Seharusnya malam ini juga malam kalian. Ya sudah kalau begitu aku serahkan hari-hari ini untuk kalian berdua. Anggap saja ini bulan madu. Karena Mas Anton juga sudah libur kemarin untuk resepsi, Bagaimana jika kita m

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   8. Pembagian yang adil

    Clara terdiam mendengar ucapan dari anak sulungnya itu. Dia sedikitpun tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat hal yang tidak baik. Lalu, sekarang dia bingung dengan rasa sakitnya sendiri, haruskah membiarkan anak-anaknya dekat dengan madunya? Tak ingin mengajarkan hal yang tidak pantas pada anak-anaknya, Clara kemudian mengizinkan anaknya untuk pergi menuju rumah madunya. Dengan riang, kembar kemudian melangkah pergi bersama menuju rumah Lara. Nampak dari balik tirai jendela, Clara menyaksikan jika mereka berempat tampak sangat akrab sekali. Lara, dua anak kembar Clara dan juga Anton. Mereka nampak tengah tertawa bersorak bersama, seolah tengah menertawakan Clara. Entah kenapa dada Clara merasa sangat sesak menyaksikannya kedekatan mereka. "Apa yang mereka tertawakan? Apa kalian menertawakan aku?" tanya Clara. "Bodoh! Kenapa aku izinkan? Ah Tuhan, biarkan hatiku ikhlas!" bisik Clara menutup wajahnya dengan dua tangannya. Lagi, air mata itu jatuh lagi. "Kenapa sul

  • Restu untuk Pernikahan Kedua Suamiku   7. Didepan rumah

    Clara langsung tak suka, jika Lara tinggal dirumahnya. Anton tentu saja kaget bukan kepalang, dia langsung berpikir jika Clara marah, apalagi saat pesta kemarin, Clara langsung pulang tanpa berpamitan padanya. "Clara, kenapa tak boleh? Lantas Lara akan tinggal dimana jika bukan disini?" tanya Anton. "Terserah dimana saja, Mas. Asalkan jangan campurkan kami dalam satu atap." "Kenapa? Apa kau jadi berubah pikiran?" "Tidak Mas. Mengikhlaskan kalian saja, itu adalah hal yang sulit. Apakah menurutmu, akan baik jika kami bersama? Dari hari senin sampai dengan rabu, Lara akan melihat kau masuk ke kamarku, bermesraan denganku, lalu dihari berikutnya giliran aku yang melihat mas bersama Lara. Apakah menurut mas, itu tak menyakitkan? Bagaimana jika suara kemesraan kalian sampai ke kamarku? Atau ke kamar Lara?" tanya Clara sedikit emosional. Anton terdiam. "Kalau gitu, biar Lara nyari kontrakan saja Mas." Lara tiba-tiba bersuara. "Tidak, jangan, kau harus memiliki istana yang mirip de

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status