MasukSiapa yang mengatakan jika menjadi wanita kedua dalam rumah tangga adalah sesuatu yang menyenangkan? Baik istri pertama ataupun istri kedua sama-sama tidak ada yang mengenakkan. Jika bisa memilih, tentu saja tidak ingin akan adanya poligami dalam rumah tangga. Tapi siapa yang menyangka jika Lara dan Clara kemudian terjerat dalam sebuah pernikahan yang rumit seperti ini, bersama dengan Anton suami mereka. Kista, menjadi sebuah alasan rahim Clara kemudian diangkat dan itu menyebabkan dia tidak lagi bisa mempersembahkan seorang bayi laki-laki seperti yang diinginkan ibu mertua dan juga suaminya. Dia kemudian harus rela ketika wanita kedua di bawa sang suami ke rumah mereka. Semua berjalan dengan baik pada awalnya. Clara dan Lara nampak saling menjaga hati satu sama lain, tidak ingin membuat sang madu ataupun istri pertama tersinggung. keduanya nampak rukun dan membuat Anton benar-benar berbahagia. Tapi semua itu berubah drastis, ketika Alif, bayi laki-laki itu muncul di antara Lara dan juga Clara Kehadiran Alif membuat Anton sangat bahagia, dia jadi melupakan keadilan di dalam rumah tangganya. Bagaimanakah kisah Lara dan juga Clara setelah kehadiran Alif? Lantas, cobaan apa sajakah yang akan membuat kewibawaan Anton kemudian goyah? Bisakah Clara bertahan? Atau justru Lara yang akan menyerah?
Lihat lebih banyakClara tidak bisa mengubah perasaannya begitu saja. Dia sangat cemburu terhadap Anton dan juga Lara. Tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkan apapun. Melihat sang istri, yang nampaknya tidak baik-baik saja, Anton pun mendekatinya. "Ada apa sayangku? Aku sudah kembali. Tapi, kenapa wajahmu masih di tekuk begitu?" tanya Anton. Clara masih enggan bicara. "Sayang!" Anton kembali memanggil Clara. Kali ini dengan pelukan. "Apakah salah jika aku cemburu, Mas? Kenapa kalian seolah mengejek aku?" Clara menangis. "Clara, Sayangku, sudah mas katakan, bukan? Ini tidak akan mudah. Sudahlah. Mas juga tidak menyentuh Lara. Lara saat itu tengah datang bulan. Jadi kami hanya berlibur saja. Tidak ada hal apapun yang terjadi!" Mendengar ucapan dari sang suami, Clara kemudian menghapus air matanya. Tetapi tentu saja ini hanya sesuatu yang hanya diundur saja. Besok atau lusa ketika datang bulan Lara sudah selesai, pastinya Anton akan menyentuhnya. Itu adalah haknya, haknya yang ditunda. "Apak
Clara sangat tak tahan, berada didapur malah membuatnya makin penasaran. "Apa yang dikatakan Lara ya? Aku dulu sebulan menikah, sudah hamil si kembar. Apakah Lara juga?" batin Clara tak tenang. Teh yang akan disuguhkan pada tamunya, malah terlalu lama diaduk Clara yang melamun. "Clara, kok lama banget sih? kamu melamun? atau kamu campur sesuatu ke minuman itu ya?" tanya Desi. "Astagfirullah, memasukkan apa maksud, Ibu?" "Kok kaget gitu? Ya masukkin gula sama teh, memang apa lagi?" ucap Desi polos. Ia langsung mengambil alih nampan berisi teh, lalu membawanya ke depan. "Kok ibu jadi gitu ya? Berasa kayak nuduh aku?" batin Clara sensitif. Walaupun sebenarnya Clara kesal, tapi rasa penasarannya lebih besar. Jadi langkah kakinya mengikuti langkah kaki Desi untuk menuju kembali ke ruang depan. Wajah merona dari Lara masih nampak terlihat dengan jelas. Dia menunduk malu-malu sambil terus dimintai keterangan oleh kedua orang ibu yang duduk di sampingnya. "Jadi bagaimana Lara?
Sudah 3 hari Lara dan Anton tidak juga pulang. Itu membuat perasaan Clara jadi tak menentu. Dia tidak menghubungi suaminya. Tetapi suaminya rajin menelponnya, terutama di pagi hari ketika anak-anak lagi sarapan. Anak-anak lebih mendominasi pembicaraan daripada dirinya. Clara hanya bisa menatap wajah tampan itu yang nampak selalu tersenyum dihadapan anak-anak. "Ayah akan pulang besok, mau di bawain apa?" tanya Anton. Kayla dan Nayla langsung antusias menyebutkan barang yang mereka inginkan. "Lalu bunda, apa?" tanya Anton. Anak anak menoleh pada Clara. Tapi Clara hanya menggelengkan kepalanya. "Kok nggak ada? Yakin?" tanya Anton tersenyum. Anak anak hanya tertawa melihat ayah menggoda bunda mereka. "Sudah sudah, ayo habiskan makanan kalian. Kita sudah hampir terlambat. Maaf ya mas, nanti kita sambung lagi!" ucap Clara. "Aku tidak minta apapun, Mas. Aku hanya ingin kau baik-baik saja dan terus mengingatku walau kau bersama Lara. Lalu kembali dengan selamat ke rumah," batin
Lara langsung menunduk malu mendengar pertanyaan dari Clara tersebut. Pasalnya dia tidak berani untuk menyusun rencana seperti itu. Dia sadar meskipun dia bersama Anton di masa lalu, tetapi di masa sekarang, dia harus lebih banyak mengalah dan membiarkan istri tertua mengatur. Biar bagaimanapun juga, mengajak suami untuk bepergian, itu artinya dia butuh persetujuan dari keduanya. Dia tidak bisa memutuskan ini sendiri. "Mas tidak terpikir untuk itu, Clara!" ucap Anton juga bersikap malu. Anton sendiri bahkan belum menyentuh Lara. Mereka terlalu lelah untuk merencanakan itu. Mereka hanya tidur bersama dan hanya itu. "Maafkan mas Anton atas sikapnya itu, Lara. Kau berhak menikmati bulan madumu bersama suamimu. Kalian adalah sepasang pengantin yang baru saja menikah. Seharusnya malam ini juga malam kalian. Ya sudah kalau begitu aku serahkan hari-hari ini untuk kalian berdua. Anggap saja ini bulan madu. Karena Mas Anton juga sudah libur kemarin untuk resepsi, Bagaimana jika kita m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.