LOGINClara terdiam mendengar ucapan dari anak sulungnya itu. Dia sedikitpun tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat hal yang tidak baik. Lalu, sekarang dia bingung dengan rasa sakitnya sendiri, haruskah membiarkan anak-anaknya dekat dengan madunya?
Tak ingin mengajarkan hal yang tidak pantas pada anak-anaknya, Clara kemudian mengizinkan anaknya untuk pergi menuju rumah madunya. Dengan riang, kembar kemudian melangkah pergi bersama menuju rumah Lara. Nampak dari balik tirai jendela, Clara menyaksikan jika mereka berempat tampak sangat akrab sekali. Lara, dua anak kembar Clara dan juga Anton. Mereka nampak tengah tertawa bersorak bersama, seolah tengah menertawakan Clara. Entah kenapa dada Clara merasa sangat sesak menyaksikannya kedekatan mereka. "Apa yang mereka tertawakan? Apa kalian menertawakan aku?" tanya Clara. "Bodoh! Kenapa aku izinkan? Ah Tuhan, biarkan hatiku ikhlas!" bisik Clara menutup wajahnya dengan dua tangannya. Lagi, air mata itu jatuh lagi. "Kenapa sulit sekali?" tanya Clara. Clara lalu masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah shower. Ia mendinginkan kepalanya. Dibawah guyuran air, Clara kembali menangis. "Aku tak bisa begini. Bodoh jika aku begini. Aku gak mau lemah. Aku akan mengakrabkan diriku dengan Lara. Lagi pula aku yang mengizinkan Mas Anton menikah. Kenapa pula aku malah menangis di saat sekarang? Tidak, aku akan dekat dengan Lara dan aku akan memenangkan Mas Anton. Lara, aku tahu aku sudah memberikan izinku padamu, tapi tidak sepenuhnya aku bisa ikhlas. Aku ingin mas Anton tetap berada di sisiku, jadi aku tidak mau terlihat seperti orang yang memusuhi dirimu. Kau juga wanita masa lalu mas Anton, aku yakin hati dan perasaan mas Anto masih ada untukmu. Aku tidak ingin Mas Anton benar-benar berpaling dariku dan melupakanku. Tidak! Karena itu aku akan melakukan segalanya!" bisik Clara sambil menatap cermin seolah bicara pada dirinya sendiri. Clara kemudian bersiap. Dia menggunakan pakaian yang membuat dia terasa anggun dan cantik. Lalu pergi ke rumah madunya. Anton cukup terkejut melihat Clara datang. Tapi tentu saja dia menyambutnya dengan baik. Begitu juga dengan Lara. Mereka pun mempersilakan Clara masuk. Rumah itu sudah separuh selesai, barang-barang sudah tertata rapi. Bahkan Lara, katanya sudah menyiapkan makanan untuk makan malam. "Wah Lara, kau cepat juga memasaknya. Aku bahkan belum menyiapkan apapun untuk makan malam dan sekarang masih pukul 05.00 sore, kau sudah menyelesaikan semuanya!" puji Clara dengan tulus. Dia memang bahkan belum memikirkan apapun untuk makan malam. Sambil menunggu waktunya makan malam, Mereka pun membantu Lara untuk kembali beres-beres. Mengatur ulang beberapa barang dan menaruhnya sesuai keinginan Lara tentunya. "Malam ini, ayah dirumah 'kan?" tanya si bungsu, setelah makan malam selesai. Anton terdiam, menatap Clara dan juga Lara. "Ah iya, Sayang." Anton menjawab ragu. "Nay, Kay, bisa tunggu bunda di depan?" Pinta Clara. Setelah memastikan dua putri kembarnya menjauh, Clara mengajak keduanya duduk. "Ini masih hari rabu mas, seharusnya kau memang bersamaku. Tapi sejak jumat, sabtu, lalu minggu, bahkan senin dan selasa, kau bermalam bersama Lara. Sudah lima hari." Clara mulai bicara. "Baiklah, kau benar. Lalu? Apa itu artinya lima hari juga aku akan bersamamu?" "Tidak, tapi mulai senin nanti, kau akan bersamaku sampai rabu malam. Kamis pagi kau bisa bersama Lara dan sarapan dengannya." "Dan hari ini, Mbak?" tanya Lara ingin tahu. "Rabu, kamis, jumat dan sabtu, hari apa yang kau pilih Lara?" tanya Clara balik bertanya. "Jumat dan sabtu saja mbak." "Baik, kalau gitu mas Anton ikut pulang." "Tapi 5 hari kemarin?" tanya Lara. "Anggap saja itu hadiah dariku, apa kalian tak merencanakan bulan madu?" tanya Clara.Clara tidak bisa mengubah perasaannya begitu saja. Dia sangat cemburu terhadap Anton dan juga Lara. Tetapi dia tidak berani untuk mengungkapkan apapun. Melihat sang istri, yang nampaknya tidak baik-baik saja, Anton pun mendekatinya. "Ada apa sayangku? Aku sudah kembali. Tapi, kenapa wajahmu masih di tekuk begitu?" tanya Anton. Clara masih enggan bicara. "Sayang!" Anton kembali memanggil Clara. Kali ini dengan pelukan. "Apakah salah jika aku cemburu, Mas? Kenapa kalian seolah mengejek aku?" Clara menangis. "Clara, Sayangku, sudah mas katakan, bukan? Ini tidak akan mudah. Sudahlah. Mas juga tidak menyentuh Lara. Lara saat itu tengah datang bulan. Jadi kami hanya berlibur saja. Tidak ada hal apapun yang terjadi!" Mendengar ucapan dari sang suami, Clara kemudian menghapus air matanya. Tetapi tentu saja ini hanya sesuatu yang hanya diundur saja. Besok atau lusa ketika datang bulan Lara sudah selesai, pastinya Anton akan menyentuhnya. Itu adalah haknya, haknya yang ditunda. "Apak
Clara sangat tak tahan, berada didapur malah membuatnya makin penasaran. "Apa yang dikatakan Lara ya? Aku dulu sebulan menikah, sudah hamil si kembar. Apakah Lara juga?" batin Clara tak tenang. Teh yang akan disuguhkan pada tamunya, malah terlalu lama diaduk Clara yang melamun. "Clara, kok lama banget sih? kamu melamun? atau kamu campur sesuatu ke minuman itu ya?" tanya Desi. "Astagfirullah, memasukkan apa maksud, Ibu?" "Kok kaget gitu? Ya masukkin gula sama teh, memang apa lagi?" ucap Desi polos. Ia langsung mengambil alih nampan berisi teh, lalu membawanya ke depan. "Kok ibu jadi gitu ya? Berasa kayak nuduh aku?" batin Clara sensitif. Walaupun sebenarnya Clara kesal, tapi rasa penasarannya lebih besar. Jadi langkah kakinya mengikuti langkah kaki Desi untuk menuju kembali ke ruang depan. Wajah merona dari Lara masih nampak terlihat dengan jelas. Dia menunduk malu-malu sambil terus dimintai keterangan oleh kedua orang ibu yang duduk di sampingnya. "Jadi bagaimana Lara?
Sudah 3 hari Lara dan Anton tidak juga pulang. Itu membuat perasaan Clara jadi tak menentu. Dia tidak menghubungi suaminya. Tetapi suaminya rajin menelponnya, terutama di pagi hari ketika anak-anak lagi sarapan. Anak-anak lebih mendominasi pembicaraan daripada dirinya. Clara hanya bisa menatap wajah tampan itu yang nampak selalu tersenyum dihadapan anak-anak. "Ayah akan pulang besok, mau di bawain apa?" tanya Anton. Kayla dan Nayla langsung antusias menyebutkan barang yang mereka inginkan. "Lalu bunda, apa?" tanya Anton. Anak anak menoleh pada Clara. Tapi Clara hanya menggelengkan kepalanya. "Kok nggak ada? Yakin?" tanya Anton tersenyum. Anak anak hanya tertawa melihat ayah menggoda bunda mereka. "Sudah sudah, ayo habiskan makanan kalian. Kita sudah hampir terlambat. Maaf ya mas, nanti kita sambung lagi!" ucap Clara. "Aku tidak minta apapun, Mas. Aku hanya ingin kau baik-baik saja dan terus mengingatku walau kau bersama Lara. Lalu kembali dengan selamat ke rumah," batin
Lara langsung menunduk malu mendengar pertanyaan dari Clara tersebut. Pasalnya dia tidak berani untuk menyusun rencana seperti itu. Dia sadar meskipun dia bersama Anton di masa lalu, tetapi di masa sekarang, dia harus lebih banyak mengalah dan membiarkan istri tertua mengatur. Biar bagaimanapun juga, mengajak suami untuk bepergian, itu artinya dia butuh persetujuan dari keduanya. Dia tidak bisa memutuskan ini sendiri. "Mas tidak terpikir untuk itu, Clara!" ucap Anton juga bersikap malu. Anton sendiri bahkan belum menyentuh Lara. Mereka terlalu lelah untuk merencanakan itu. Mereka hanya tidur bersama dan hanya itu. "Maafkan mas Anton atas sikapnya itu, Lara. Kau berhak menikmati bulan madumu bersama suamimu. Kalian adalah sepasang pengantin yang baru saja menikah. Seharusnya malam ini juga malam kalian. Ya sudah kalau begitu aku serahkan hari-hari ini untuk kalian berdua. Anggap saja ini bulan madu. Karena Mas Anton juga sudah libur kemarin untuk resepsi, Bagaimana jika kita m
Clara terdiam mendengar ucapan dari anak sulungnya itu. Dia sedikitpun tidak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk berbuat hal yang tidak baik. Lalu, sekarang dia bingung dengan rasa sakitnya sendiri, haruskah membiarkan anak-anaknya dekat dengan madunya? Tak ingin mengajarkan hal yang tidak pantas pada anak-anaknya, Clara kemudian mengizinkan anaknya untuk pergi menuju rumah madunya. Dengan riang, kembar kemudian melangkah pergi bersama menuju rumah Lara. Nampak dari balik tirai jendela, Clara menyaksikan jika mereka berempat tampak sangat akrab sekali. Lara, dua anak kembar Clara dan juga Anton. Mereka nampak tengah tertawa bersorak bersama, seolah tengah menertawakan Clara. Entah kenapa dada Clara merasa sangat sesak menyaksikannya kedekatan mereka. "Apa yang mereka tertawakan? Apa kalian menertawakan aku?" tanya Clara. "Bodoh! Kenapa aku izinkan? Ah Tuhan, biarkan hatiku ikhlas!" bisik Clara menutup wajahnya dengan dua tangannya. Lagi, air mata itu jatuh lagi. "Kenapa sul
Clara langsung tak suka, jika Lara tinggal dirumahnya. Anton tentu saja kaget bukan kepalang, dia langsung berpikir jika Clara marah, apalagi saat pesta kemarin, Clara langsung pulang tanpa berpamitan padanya. "Clara, kenapa tak boleh? Lantas Lara akan tinggal dimana jika bukan disini?" tanya Anton. "Terserah dimana saja, Mas. Asalkan jangan campurkan kami dalam satu atap." "Kenapa? Apa kau jadi berubah pikiran?" "Tidak Mas. Mengikhlaskan kalian saja, itu adalah hal yang sulit. Apakah menurutmu, akan baik jika kami bersama? Dari hari senin sampai dengan rabu, Lara akan melihat kau masuk ke kamarku, bermesraan denganku, lalu dihari berikutnya giliran aku yang melihat mas bersama Lara. Apakah menurut mas, itu tak menyakitkan? Bagaimana jika suara kemesraan kalian sampai ke kamarku? Atau ke kamar Lara?" tanya Clara sedikit emosional. Anton terdiam. "Kalau gitu, biar Lara nyari kontrakan saja Mas." Lara tiba-tiba bersuara. "Tidak, jangan, kau harus memiliki istana yang mirip de







