Home / Romansa / Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu / Bab 131. Takut Kehilangan

Share

Bab 131. Takut Kehilangan

Author: Rina Novita
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-11 22:27:16
POV GALANG

"Silakan tunggu di sini, Pak. Hanya pasien yang masuk ke dalam."

Perawat mendorong brankar Vania ke dalam ruang operasi. Dan di detik itu juga, aku terpaksa melepaskan tangan Vania, tangan yang sejak tadi terus menggenggamku, seolah aku adalah satu-satunya pegangan yang ia punya di tengah rasa takut dan sakit yang tidak bisa aku bayangkan.

Vania menatapku. Matanya basah, penuh kecemasan.

Dan tatapan itu … masuk terlalu dalam ke dadaku.

“Mas … jangan pergi,” gumamnya lirih se
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 167. Milikmu Seutuhnya

    Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan sampai di titik ini. Berdiri di depan cermin besar ruang rias ballroom Hotel Vania – Bandung, mengenakan gaun pengantin putih dengan taburan kristal yang berkilau setiap kali terkena cahaya lampu. Jantungku berdegup cepat, bukan karena gugup semata, tetapi karena rasa tak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi. Riasan di wajahku tampak natural, tidak berlebihan, namun cukup berkelas hingga pantulan diriku di cermin tampak seperti orang lain. Rambutku disanggul elegan, dihiasi hiasan perak kecil berbentuk bunga. Di belakangku, beberapa perias masih sibuk merapikan ujung gaun yang menjuntai panjang di lantai. Dari balik pintu tertutup, samar-samar terdengar alunan musik lembut dari dalam ballroom. Harum bunga segar bahkan sudah sampai ke ruang rias. Mawar putih dan lily menjadi dekorasi utama. Semuanya terlihat mewah, elegan, dan ... hangat. “Cantik sekali,” bisik Siska yang berdiri di sampingku sejak tadi. Matanya berkaca-kaca. Aku

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 166. Janji Galang

    “Vania sudah banyak terluka. Saya tidak mau anak saya kembali disakiti.” Ibu bicara cukup tegas pada Galang. Baru kali ini aku melihat ibu bicara setegas dan seserius itu. Aku terpaku di tempatku berdiri. Suara ibu terdengar penuh tekanan. Ruangan sederhana itu tiba-tiba terasa sempit. Bahkan suara kipas angin di sudut ruang tamu pun seperti ikut berhenti berputar. Galang tidak tampak tersinggung. Ia justru melangkah maju satu langkah. Tatapannya lurus ke arah ibu, penuh kesungguhan yang tidak dibuat-buat. Ia mendekat, lalu berlutut di hadapan ibu.“Saya Galang, Bu. Saya janji akan membuat Vania dan Ankala bahagia meski harus mempertaruhkan nyawa saya sekalipun.”Dadaku langsung sesak. Ucapan itu bukan hanya terdengar seperti janji, tetapi seperti sumpah yang keluar dari lubuk hati paling dalam. Aku menoleh sekilas ke arah ibu Galang. Wanita itu berdiri tenang, wajahnya lembut namun tegas, seolah mendukung setiap kata putranya. Mata ibu tampak berkaca-kaca. Garis-garis halus di

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 165. Kejutan

    POV VANIA “Aku mau ajak kamu jalan-jalan malam ini,” kata Galang tiba-tiba setelah aku selesai menidurkan Ankala di kamar tamu. “Ankala aman sama Suster Lany.” Aku menoleh kaget. “Sekarang?” Galang mengangguk. “Iya. Cuma sebentar.” Aku ragu. “Tapi Ankala—” “Suster Lany sudah biasa jaga dia,” potong Galang lembut. “Ibu juga ada. Kamu tenang saja.” Aku menimbang-nimbang sebentar, lalu mengangguk. Entah kenapa, aku tidak ingin menolak ajakan Galang malam ini. Kami keluar sekitar pukul delapan malam. Udara Bandung terasa dingin, berbeda dengan Jakarta yang padat. Galang menyetir sendiri. Mobil melaju tenang, tanpa musik. Aku memperhatikan jalan yang kami lewati. Saat berbelok, aku merasa familiar dengan tempat ini. “Mas,?" Aku menoleh. “Ini arah ke—” “Iya,” jawabnya singkat. “Kamu nggak salah.” Mobil berhenti di depan sebuah hotel. Aku tertegun. Aku ingat Galang pernah membawaku ke sini. Waktu itu Hotel ini masih tahap pembangunan. Masih banyak pekerja proyek. Tapi sekarang

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 164. Aku disambut dengan ...

    POV VANIA Aku berdiri terpaku di tempatku.Tatapan Ibu Galang yang semula tajam perlahan berubah. Sorot matanya melembut saat menatap Ankala yang berada di gendongan Galang. Bibirnya bergetar tipis, seolah sedang menahan sesuatu yang mengalir dari dalam dadanya. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu melangkah mendekat. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti takut membuat Ankala terbangun. Tangannya terangkat, ragu-ragu, lalu berhenti beberapa senti dari pipi Ankala. “Apa boleh … Ibu menggendongnya?” tanyanya lirih. Aku refleks menoleh ke Galang. Galang tersenyum. Anggukan kecil darinya terasa seperti jawaban atas ribuan kecemasanku sejak di mobil tadi. “Tentu, Bu,” kata Galang. "Tapi ... ibu kuat?" tanya Galang ragu. "Ibu ingin memeluknya sebentar," jawab Ibu Galang yang masih memandang Ankala. Galang menyerahkan Ankala ke pelukan ibunya.Dan saat itu juga, sesuatu di dadaku runtuh.Ibu Galang memeluk Ankala dengan sangat hati-hati, seolah sedang memeluk benda paling

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 163. Ke Bandung

    POV VANIASejak kejadian di restoran sore itu, Bimo tidak pernah lagi datang. Tidak lagi ada teror seperti waktu itu.Hari-hariku terasa jauh lebih tenang. Aku bisa fokus bekerja, menata pikiran, dan menikmati waktu bersama Ankala tanpa bayang-bayang suara bentakan Bimo yang selalu menuntut ini dan itu.Sampai akhirnya, di hari minggu pagi itu, ponselku bergetar saat aku baru saja selesai menyusui Ankala. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah delapan.Nama Galang muncul di layar.Jantungku langsung berdetak lebih cepat.“Hai, Nia.” Suaranya terdengar berbeda. Sepertinya Galang sedang bahagia."Hai, Mas,"jawabku pelan. “Ada kabar apa?”“Aku mau jemput kamu sama Ankala jam sepuluh,” katanya to the point. “Kita pergi hari ini. Pulang besok.”Aku terdiam.“Pergi ke mana?” tanyaku hati-hati.“Ajak suster Lani juga, ya,” lanjutnya, seolah menghindari pertanyaanku. “Bawa baju ganti secukupnya.”“Mas Galang …” Aku menghela napas. “Aku perlu tahu kita mau ke mana.”Di seberang sana, terden

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 162. menuntut Hak

    BAB 162POV VANIA “Apa mau kamu sebenarnya?”Suaraku meninggi tanpa bisa kutahan saat melihat Bimo berdiri di tengah restoran, membuat beberapa pengunjung menoleh. Sore itu restoran sedang ramai. Hampir semua meja terisi. Beberapa pelayan tampak ragu mendekat. Bimo berdiri dengan dada dibusungkan. “Aku mau menuntut hakku!” Aku menarik napas cepat. Tatapanku menyapu ruangan. Beberapa pelanggan mulai berbisik. Aku tidak bisa membiarkan ini berlarut. “Kita bicara di ruanganku saja,” kataku menahan emosi. “Ikut aku.” Aku berbalik lebih dulu, melangkah cepat ke ruang kerjaku. Bimo mengikuti. Langkahnya santai, angkuh, seolah-olah restoran ini miliknya. Tanganku mengepal ketika meliriknya sekilas. Begitu masuk ke ruanganku, aku menutup pintu setengah tertutup. “Duduk,” kataku pendek. “Sekarang silakan bicara.” Bimo tidak duduk. Ia bertolak pinggang, menatapku dari atas ke bawah. Suaranya sengaja dikeraskan. “Kamu ini memang nggak tahu terima kasih, Vania! Ingat! Kamu bisa begini gar

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 54. Pertemuan Terakhir

    "Aku mau pertemuan kali ini jadi yang paling spesial.”“M–maksud, Mas?” Tenggorokanku tercekat, sulit menelan saliva.Galang mendekat. Tatapannya dalam, begitu lekat. Jemarinya menyentuh wajahku perlahan, menyusuri setiap incinya.“Nia ... kamu selalu cantik,” desisnya pelan. Suaranya berat, mengan

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 53. Pertemuan Paling Spesial

    “A–apa? Hamil?” Suara Galang terdengar lirih, tapi wajahnya jelas sangat terkejut.Galang menatapku lekat, seperti tak percaya pada apa yang baru saja kukatakan. Tatapannya dalam, seolah berusaha mencerna ucapanku.Aku menunduk, tidak sanggup menatap balik. Tanganku gemetar, menunggu respon dari.Ga

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab. 52. Hentikan Semua

    “Hei, Bro! Kalian nggak akan bisa ngatain gue payah lagi. Tau nggak? Bini gue hamil! Akhirnya gue bisa hamilin dia juga, kan? Hahaha …” Bimo bicara di telepon. Aku memejamkan mata. Setetes air mata lolos tanpa bisa kutahan. Jadi, semua ini hanya tentang pembuktian, bukan benar-benar menginginkan

  • Ketika Suamiku Tak Lagi Mampu   Bab 50. Diagnosa Dokter

    “Mas, tolong, aku capek. Aku cuma mau ngomong baik-baik.”“Berani melawan sekarang, hah?!” bentaknya. Bau alkohol menusuk dari napasnya. Aku bergidik ngeri.“Tidak, Mas,” aku mencoba menjauh, tapi dia melangkah cepat mendekat. “Aku cuma mau ngomong ... tentang hubungan kita.”“KURANG AJAR!” Bimo me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status