MasukKe esokan harinya, setelah sarapan Kiran menyusul Raka ke depan ketika pria itu akan pergi ke kantor. "Bekal yang kemarin aku bawa ke kantormu, apa kamu memakannya?" "Doni yang habiskan," jawab Raka asal. Ketika mendengar itu, binar di mata Kiran seketika menghilang. "Kenapa?" Kiran menyembunyikan wadah bekal yang berada di belakang tubuhnya, kemudian menggeleng dengan senyuman paksa. "Tidak apa-apa. Kalau begitu, hati-hati di jalan." Dengan cepat, Kiran berbalik, kemudian melangkah masuk sambil mendekap wadah bekal yang sejak tadi pegang di belakang tubuhnya. "Tunggu." Setelah melihat Kiran berhenti, Raka berjalan mendekatinya. "Apa yang sedang kamu sembunyikan di tubuhmu?" Karena takut ketahuan oleh Raka, Kiran semakin mendekap wadah bekal dengan kedua tangannya. "Bukan apa-apa." Baru saja dia berkata seperti itu, tiba-tiba saja Raka menarik tubuhnya, lalu memutarnya dengan cepat, hingga keduanya saling berhadapan. "Apa itu untukku?" tanya Raka setelah melihat dengan jelas
"Sebaiknya kamu jawab dengan jujur. Jika sampai kamu ketahuan berbohong, maka hal belum sempat kita lakukan di kamar mandi pagi itu, aku akan tuntaskan malam ini." Kiran menelan salivanya melihat wajah serius Raka. "Ja-jangan menggertakku. Aku tahu kamu tidak mungkin berani." "Kamu meragukanku?" tanya Raka. "Ingin mencobanya?" Merasa tangan Raka mulai bergerak di belakang tubuhnya, punggung Kiran tiba-tiba terasa dingin. Dia bukannya meragukan Raka, tapi dia hanya tidak percaya jika pria yang berada di bawahnya itu mau menyentuh wanita yang sudah mau membunuh istrinya. "Perlu kamu tahu. Aku pria normal. Aku tidak keberatan melakukannya denganmu jika memang kamu ingin membuktikannya." Wajah Kiran memucat. Dia segera mendorong dada Raka ketika melihat kesungguhan dalam sorot mata pria itu. "Tidak perlu. Aku percaya denganmu." Melihat wajah panik Kiran, sudut bibir Raka tertarik ke atas, membentuk senyuman samar. "Sekarang, jawab pertanyaanku tadi." "Lepask
"Jangan menghilang lagi. Apa kamu tahu, aku sangat mencemaskanmu." "Maaf, Kak," ucap Kiran lirih. "Aku maafkan, tapi jika kamu menghilang lagi tanpa jejak, aku tidak mau mengenalmu lagi." Meski Glen berkata seperti itu, tapi Kiran tahu pria itu hanya bercanda. "Iya." Ketika Kiran menyadari sesuatu, tiba-tiba saja dia berkata dengan raut wajah bersalah. "Kak, apa aku mengganggu waktu istirahatmu?" Glen tinggal di Inggris, tentu ada perbedaan waktu yang cukup jauh dengan Indonesia. Kiran takut dia mengganggu waktu tidur pria itu. "Tidak. Sekarang sudah jam 5 pagi di sini. Aku baru mau berolah raga pagi sebelum berangkat ke kantor." Kiran pun menghela napas lega mendengar itu. "Kalau begitu, kita bicara lagi nanti." "Ya. Janga lupa kirimkan nomor rekeningmu." "Hmmm," guman Kiran. "Terima kasih banyak, Kak." "Ya. Jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku kalau ada apa-apa." Sebenarnya, Glen masih ingin berbicara dengan Kiran lebih lama lagi, tapi mengingat waktu Indonesia s
"Kenapa kamu marah? Bukannya ini yang kamu inginkan?" Bagaimana mungkin dia tidak marah? Saat melihat Kiran hendak melompat tadi, rasanya seolah nyawanya ikut terlepas bersama perempuan itu. Jantungnya bahkan seperti berhenti berdetak. Dadanya dihantam kepanikan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Entah mengapa, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasakan ketakutan yang luar biasa—takut akan kehilangan seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya."Aku tidak serius dengan ucapanku. Lain kali, jangan melakukan hal seperti tadi lagi." "Kalau begitu, apa yang harus kulakukan agar kamu mengizinkanku pergi?" Selagi mengatur napasnya yang tidak beraturan, Raka berkata, "Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Kamu boleh pergi menemui keluargamu." Mata jernih Kiran seketika berbinar. "Benarkah? Kamu tidak bohong, kan?" "Tapi dengan satu syarat." "Apa?" "Aku harus ikut denganmu." "Baik." Karena terlampau senang, tanpa sadar Kiran langsung memeluk tubuh Raka dengan ra
Sore harinya, Kiran kembali memasak makanan kesukaan Raka yang belum sempat dia masak kemarin. Selesai masak, dia beristirahat di kamar setelah menyiapkan pakain ganti untuk pria itu. Ketika waktu menunjukkan pukul 5 sore, Kiran bergegas turun ke bawah. Namun, bukan Raka yang dia lihat, melainkan ayah Stevi yang sedang berada di ruang tamu. "Kau sepertinya betah sekali tinggal di sini?" Kiran menelan salivanya melihat tatapan tidal bersahabat dari ayah Stevi. "Pa, dia yang menghasut Kak Raka agar segera mengusirku dari sini," adu Stevi sambil memegang lengan sang ayah. "Sepertinya, dipenjara selama 4 tahun tidak membuatmu berhati-hati dalam bertindak, sehingga berani mengganggu putriku. Apa kamu ingin aku kirim ke penjara lagi?" "Coba saja kirim dia lagi ke penjara jika Om Hutomo ingin bermusuhan dengan keluarga Wijaya," sahut Raka tiba-tiba dari belakang. Semua yang berada di ruang tamu seketika menoleh. Kiran seketika menjadi lega saat melihat kedat
"Nanti saja. Kita makan malam dulu." Kiran meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian turun dari ranjang. "Aku siapkan makan malam dulu." Tanpa menunggu respon dari Raka, Kiran keluar dari kamar, kemudian turun ke bawah. Dengan dibantu Bi Rum, Kiran menata meja makan. Hari ini, secara khusus dia masak makanan kesukaan Raka. Dia membuat sendiri masakan itu sore tadi tanpa bantuan siapa pun. Sebenarnya, Bi Rum ingin membantu, tapi dilarang oleh Kiran. Pukul 7 malam, mereka makan malam bersama. Tidak ada drama apa pun selama makan malam berlangsung. Mereka semua makan dengan tenang sampai selesai, tidak terkecuali Stevi. Sejak memasuki ruangan makan, wanita itu hanya diam. Wajah terlihat lesu, dia pun hanya makan sedikit. "Mau bicara apa?" Baru saja memasuki kamar, Raka langsung melontarkan pertanyan pada Kiran. "Aku ..." Kiran menatap Raga dengan wajah ragu. 'Kiran, kamu harus bersikap baik dan patuh pada suamimu, tidak boleh membantahnya. Suamimu itu sebenarnya orang
"Bagaimana?" tanya Raka tidak sabar usai Gery berbicara dengan pamannya di telpon."Pamanku setuju, tapi kita hanya diizinkan melihat rekaman CCTV yang berada di setiap titik pintu rumah sakit."Tadinya paman Gery tidak memberikan izin untk memeriksa rekaman CCTV rumah sakit, tapi dengan segala buj
Setibanya di rumah, Raka langsung pergi ke kamar Kiran dan mengobrak-abrik kamarnya untuk mencari petunjuk. Tidak menemukan apa-apa selain ponselnya, Raka keluar dari sana dan mencari Bi Rum."Sebelum pergi, apa Kiran tadi mengatakan sesuatu pada Bi Rum?" tanya Raka.Saat ini keduany
"Kiran, sebaiknya kamu pergi dari kota ini. Aku akan membantumu pergi dari sini jika kamu ingin bebas dari anakku." Tanpa basa-basi, Hannah langsung menyampaikan hal itu setelah keduanya berdiri berhadapan di taman samping rumah sakit."Aku memang ingin pergi dari sini, tapi aku tidak bi
Belum sempat Raka menjawab, terdengar suara dari samping kanan keduanya. “Apa yang sedang kalian lakukan di sini?” Keduanya menoleh bersamaan. Ketika Raka melihat adik dan ibunya sedang berjalan ke arahnya, dia segera menarik diri dan berdiri tegak. “Kenapa Mama di sini?” Bukannya menjawab pertany







