共有

Bab 17

作者: Jiriana
last update 公開日: 2026-05-30 21:59:40

"Kiran, sebaiknya kamu pergi dari kota ini. Aku akan membantumu pergi dari sini jika kamu ingin bebas dari anakku." Tanpa basa-basi, Hannah langsung menyampaikan hal itu setelah keduanya berdiri berhadapan di taman samping rumah sakit.

"Aku memang ingin pergi dari sini, tapi aku tidak bisa."

"Kenapa?"

Raka sudah memperingatkan dirinya untuk tidak kabur. Jika dia melanggarnya, orang tuanya yang akan menanggung akibatnya nanti. Apalagi, hanya pria itu yang tahu kebera
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
carsun18106
huaa siapa ni yg lbh jago, bu hannah atau raka
goodnovel comment avatar
Jiriana
Jangan lupa tinggalkan jejak ya di setiap babnya biar Author semakin semangat up-nya.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 131

    "Bagaimana jika aku menolak?" "Maka, aku akan membawamu kembali ke Indonesia secara paksa." Kiran terdiam sambil berpikir keras. Setelah menimang selama beberapa saat, Kiran akhirnya setuju. "Baiklah. Sekarang, kembalikan ponselku." "Sebelum kukembalikan ponselmu, aku mau kamu makan dulu." "Aku tidak—" "Jika kamu tidak mau makan, maka kata-kataku yang tadi akan kutarik lagi." "Baiklah. Aku akan makan." "Makan yang banyak," ucap Raka. "Badanmu kurus sekali sekarang." Kiran mengabaikan ucapa Raka dan mulai menyendokkan makanan ke piringnya. Selesai makan, Raka mengembalikan ponsel wanita itu. Kiran langsung memeriksa ponselnya, dan ternyata banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab yang masuk ke ponselnya. Salah satunya dari sang ibunya dan juga Glen. Kiran langsung pergi ke kamar dan menghubungi ke kedua orang tersebut. Namun, hanya Glen yang mengangkat. Nomor sang ibu tidak bisa dihuhungi. Kiran pun memutuskan untuk menghubungi Fabby agar wanita itu tidak cemas

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 130

    "Bagaimana?" tanya Raka ketika melihat Doni menghampirinya di balkon hotel. "Nyonya Kiran tetap tidak mau makan. Makanannya sama sekali tidak disentuh." Raka yang sedang berdiri di balkon dengan posisi menghadap ke jalan seketika menghela napas pelan. Sejak perdebatannya dengan sang istri kemarin malam, Kiran belum pernah keluar dari kamar hingga kini. Makanan yang diletakkan di depan kamarnya tidak ada yang dia ambil. Hanya minuman saja yang dia ambil. Dia hanya berdiam diri di dalam kamar, membuat Raka merasa khawatir dengan kondisi sang istri. "Besok pagi kamu kembali dulu ke Indonesia. Ada tugas khusus untukmu." "Baik, Pak." Setelah Doni pergi, Raka menghubungi ibu Kiran. "Ma, ini Raka." "Ya. Ada apa Raka?" tanya Ibu Kiran diseberang telpon. "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Papa. Bisa Mama berikan telponnya pada Papa?" "Ya. Tunggu sebentar." Raka berbicara dengan ayah Kiran kurang lebih 15 menit. Selesai menelpon, Raka menemui Doni yang sedang dudu

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 129

    "Kiran masih di kamar?" tanya Raka pada Doni setelah memasuki ruang tamu."Iya, Pak. Nyonya Kiran tidak keluar sejak pagi. Dia juga tidak mau makan dan mengunci kamar dari dalam."Ketika Raka akan melangkah ke dalam, Doni segera menghentikannya. "Pak, ibu Anda baru saja menelpon saya," kata Doni sambil mendekati Raka yang sejak tadi masih duduk di meja makan. "Dia minta Bapak menghubunginya sekarang juga."Seketika itu juga Raka baru teringat oleh sang ibu. Sudah 2 hari ini ibunya terus menghubunginya, tapi tidak pernah diangkat olehnya. Dia hanya mengirimkan pesan kalau dirinya sedang ada urusan penting."Apa saja yang dikatakan ibuku?""Nyonya Hannah marah besar saat tahu Anda masuk rumah sakit lagi karena luka Anda terbuka lagi.""Kamu memberitahu ibuku?"Doni mengangguk lemah. "Saya tidak berani berbohong, Pak."Karena cepat atau lambat ibu Raka pasti akan tahu hal itu, jadi lebih baik dia berkata jujur.Raka menghela napas pelan, kemudian mengambil ponselnya di saku. "Baiklah. Ak

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 128

    Setelah selesai, Raka keluar kamar mandi. Dia sedikit terkejut ketika melihat Kiran sudah berdiri di depannya dengan raut wajah dingin."Ada apa?" tanya Raka lembut."Mana ponselku?""Masalah ponsel, kita bicarakan nanti. Kita sarapan dulu.""Aku mau sekarang.""Aku janji akan mengembalikannya nanti, Sayang," ujar Raka, masih dengan nada bicara yang lembut. Raka terulur mengusap lembut kepala Kiran. Namun, segera ditepis oleh wanita itu, membuat iris mata Raka seketika mengecil. "Tunggu aku di meja makan, aku mau ganti baju dulu."Kiran tidak menjawab, dan segera berlalu dari sana dengan wajah kesal. Raka yang melihat itu, tampak menatap sang istri dengan sendu, kemudian berjalan menuju kamarnya. Pukul 7 pagi, mereka bertiga sarapan bersama dengan suasana hening. Tidak ada yang membuka suara sampai mereka selesai sarapan."Aku juga sudah selesai sarapan," kata Kiran setengah meneguk air minum. "Sekarang, kembalikan ponselku.""Ikut aku pulang ke Indonesia dulu, baru aku kembalikan pon

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 127

    "Mau ke mana?" tanya Raka sambil menahan pergelangan tangan Kiran."Bukan urusanmu!" seru Kiran sambil menoleh. "Lepas!""Kamu tidak boleh pergi." Usai mengatakan itu, Raka mengangkat tubuh Kiran, lalu membopongnya menuju kamar. Dia mengernyit ketika merasakan perutnya kembali terasa sakit."Raka, lepaskan aku!" pinta Kiran sambil memukul-mukul punggung Raka. "Aku tidak mau menginap di sini.""Maaf, Sayang. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi."Meski nyeri hebat kembali menyerang bagian perutnya yang terluka, Raka tetap membawa Kiran kembali ke kamar. Doni yang sejak tadi berdiri di dekat sofa hanya bisa mematung di tempat ketika melihat adegan itu.Setibanya di kamar, Raka langsung menurunkan Kiran di dekat ranjang. "Lepaskan tanganku.""Kamu tidak boleh ke mana-mana. Benci aku sesukamu, tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi lagi.""Raka, apa sebenarnya maumu?" tanya Kiran dengan suara tinggi."Aku tidak mau bercerai. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki pernikahan kita. Aku tahu, ak

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 126

    "Raka, buka!" Kiran berteriak sambil menggedor pintu kamarnya berkali-kali. "Aku mau keluar. Cepat buka pintunya!" Setelah menunggu beberapa menit tidak dibuka juga, Kiran akhirnya menghentikan gerakan tangannya, lalu bersandar di pintu. Sudah lebih dari setengah jam dia berteriak dan menggedor pintu, tapi tidak dibuka juga oleh Raka. "Raka, buka!" Merasa kesal karena teriakannya tidak digubris, Kiran akhirnya berseru, "Raka, jika kamu tidak membuka pintunya sekarang, aku akan menghancurkan semua barang-barang di kamar ini," ancam Kiran. Tidak lama berselang, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tampak Doni berdiri tegak si depan pintu. "Di mana Raka?" "Pak Raka sedang pergi." "Ke mana?" "Saya tidak tahu, Nyonya. Pak Raka hanya bilang ada urusan penting." Urusan penting? Urusan penting yang dilakukan Raka pada pukul 11 malam? "Kapan dia kembali?" "Mungkin malam ini tidak bisa kembali." 'Tidak bisa kembali? Memangnya, apa yang sedang dia lakukan sampai tidak bisa kemba

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 5 Dibawa Pergi

    "Mau ke mana?" Gery menahan lengan Raka ketika melihat pria itu melangkah."Masuk ke dalam.""Eh, tunggu dulu." Baru sempat melangkah, Raka kembali ditahan oleh Gery. "Kau mau melakukan apa di dalam, menghampiri Kiran?""Menurutmu?" tanya Raka dengan malas."Jangan membuat keributan di rumah sakit.

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 4 Mengalami Cidera

    "Raka, kau yakin akan meninggalkannya sendirian di sana?" tanya Gery sesaat setelah mobil melaju.Raka tidak menjawab dan hanya menatap jalanan di depannya."Raka, aku tahu kau masih membencinya, tapi saat ini dia sedang membutuhkan pertolongan. Tidak bisakah mengesampingkan dendammu dulu dan menol

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 3 Bertemu Preman

    WARNING ....!!!!!Adegan kekerasan di bab ini TIDAK PATUT DICONTOH dan TIDAK BOLEH DITIRU. Khusus untuk usia 21+, usia di bawah itu, harap SKIP. Terima kasih.==================================="Kenapa saya harus pindah, Pak?" protes Kiran pada pria berumur sekitar 50 tahun yang sedang berada di h

  • Revenge (Derita Tersembunyi)   Bab 2 Menebus Kesalahan

    “Kiran Avriyadi, beritahu aku, bagaimana kehidupanmu selama di penjara?” Pria bernama Raka itu meraih dagu Kiran, lalu berkata penuh penekanan, “Baik atau buruk?”Ketika melihat seringai jahat pria itu, kaki Kiran mendadak gemetar dan lemas. Saking lemasnya sampai dia tidak bisa berkata-kata lagi.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status