LOGINRuangan Ella yang tadinya berat sekarang sudah mulai terasa ringan setelah gadis itu bangun. " Ini minum dulu" Tivane langsung menyodorkan minum yang sudah ada sedotan agar memudahkan Ella untuk minum. Ella meminum dan menghela nafas setalah merasa hausnya hilang. "Makasih. Kok lo disini? Kan lo lagi hamil, nggak bagus" ucap Ella kembali berbaring. " Nggak papa kok, asal nggak lama-lama" jawab Tivane meletakkan botol minum itu dan menaikkan sedikit ranjang Ella agar lebih nyaman. " Terus River kenapa malah tidur di sini? Kenapa nggak pulang?" Tanya Ella saat melihat pacarnya itu sedang tertidur meringkuk di atas sofa, tak menyadari bahwa Ella sudah datang, dan seolah tak terganggu saat dokter datang tadi. " Dia nggak bisa ninggalin lo kayaknya, tadi malam juga kayaknya semalaman dia nggak tidur. Matanya hitam banget tadi pagi" ucap Tivane membuat Ella manyun. " Kasian dia." Gumam Ella membuat Tivane ternganga tak habis pikir. " Lo yang kasian
Rumah sakit itu ramai dengan dokter dan perawat serta pasien pasien lain yang berseliweran. Di dalam ruangan rawat inap VVIP itu terasa hening saat semua hanya fokus pada Ella yang masih terbaring tak sadarkan diri. Tivane juga masih di sana begitu juga dengan Rigecherta. Luci dan Skyler sudah pulang pagi tadi. Mungkin karena lelah semalaman hanya tidur duduk. Veros dan Milenia juga sudah cape, namun Milenia katanya ingin di sana dulu. Suasana hening itu hanya terdengar alat-alat medis dan deru nafas masing-masing. " River, lo pulang dulu aja. Itu mata lo udah kaya panda. Lo juga harus tetap kuat kalau mau jagain Ella" ucap Tivane yang sejak tadi memperhatikan raut wajah River yang hanya diam termenung memandangi wajah kekasihnya. " Gue belum pengen pulang" jawab River menggeleng pelan dan tak mengalihkan tatapan dari Ella. " Pulang lah Ver, biar kami yang jagain dia" ucap Rigecherta membuat River lagi-lagi menggeleng pelan. " Kalo gini terus, ya
Ibu River berdiri diam di sana selama beberapa saat. Ia merasa sangat tertampar bahkan sangat malu dengan dirinya sendiri. Padahal ia jauh lebih tua, tapi mereka sungguh bisa mengajarinya dengan kata-kata yang terkesan formal, namun menusuk tajam. Ibu River perlahan memejamkan mata dan menarik nafas dalam. Wanita itu kemudian berjalan ke lorong dimana menuju kamar Ella karen ia sudah bertanya dengan suster tadi. Ia berdiri mematung saat melihat dari celah pintu, anaknya sedang tidur dengan posisi duduk yang pasti tidak nyaman dengan pakaian yang masih terkena noda darah serta mata yang membengkak akibat kebanyakan menangis. Perlahan ia sadar, ia sudah terlalu sering membuat anaknya menderita, dari kecil sampai sekarang dan saat pemuda itu bahagia dengan gadis pilihannya ia malah dengan sengaja hampir memusnahkan kebahagiaan anaknya sendiri. " Benar kata gadis tadi. Di mana perasaan ku sebagai ibu? Aku bahkan hendak membuat ia sengsara" gumam ibu River menunduk den
Di salam ruangan yang di dominasi warna putih dan bau obat-obatan itu, suasana terasa hening, bahkan terasa mencekam bagi River yang masih berdiri di samping ranjang. Matanya kembali memerah saat melihat gadis kesayangan nya yang terbaring dengan infus di tangan kiri dan selang oksigen di hidungnya sementara beberapa perban tertempel di beberapa bagian tubuhnya. River perlahan duduk di kursi samping brankar dan meraih pelan tangan kanan Ella. Ia menggenggam tangan itu dan menciumi dengan lembut. Perlahan air matanya kembali turun saat merasa tak ada respon sama sekali dari gadis nya. " Sayang... Maafin aku ya. Aku nggak bisa jagain kamu, aku selalu bikin kamu sedih, aku bahkan nggak bisa lindungin kamu dari orang tua aku yang sering ngomong jahat sama kamu. Aku beneran minta maaf. Tapi jangan tinggalin aku please.. aku nggak tau gimana hidup aku tanpa kamu" lirih River menangis sesenggukan. Semua kenangan dengan Ella melintas begitu saja, bagaimana mereka saling m
Suasana malam itu pecah, suara sirene ambulance dan beberapa deret motor yang mengikuti di belakangnya memecah malam. Tivane dan Rigecherta juga langsung meluncur saat mendapat kabar Ella kecelakaan. Pantas sedari tadi, saat Tivane terbangun, ia merasa sangat gelisah entah karena apa. Ternyata ini kejadiannya. Veros yang awalnya santai di dalam kamar juga langsung ikut keluar saat mendengar gaduh di bawah. Luci dan Skyler yang seharusnya malam pertama juga dengan cepat menyusul mobil ambulance itu. River di dalam ambulance masih menangis dan terus menggenggam tangan Ella erat. Ia bahkan tak peduli jika baju dan penampilannya sangat kacau bahkan sudah kotor terkena noda darah Ella. Veros yang sedang mengendarai motornya sesekali melihat ke arah spion dan terlihat Milenia masih mengais namun mencoba tenang. Sesampainya di rumah sakit, brankar Ella langsung di turunkan dan di dorong dengan cepat oleh petugas, di bantu oleh mereka semua. " Sayang bert
Sore harinya mereka berpisah di depan hotel yang akan tempat Skyler, Luci dan keluarga serta teman-teman yang akan ikut menginap untuk malam ini. " Byee Vane.. hati-hati ya" Milenia melambai ceria. " Byee. Gue duluan yaa.. " Tivane balas melambai saat motor kembali di lajukan. Tivane memeluk erat pinggang Rigecherta dan membenamkan wajahnya di punggung suami nya itu. " Ngantuk?" Tanya Rigecherta sedikit menoleh. " Iyaa pengen peluk kamu" ucap Tivane semakin mengeratkan pelukan nya dan bersandar nyaman di bahu Rigecherta. " Peluk aja. Tapi jangan tidur ya" ucap Rigecherta menggenggam tangan Tivane yang bertaut di depan perutnya. " Iyaa" jawab Tivane. Rigecherta langsung menaikkan kecepatan karena takut Tivane tertidur di punggungnya nanti. Motor perlahan mulai memelan dan berhenti di depan rumah mereka. " Sampe sayang" ucap Rigecherta lembut. Tivane perlahan turun dan kembali memeluk tubuh Rigecherta saat cowo itu baru turun.
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa
Buss yang berisi mahasiswa/i itu kini sudah sampai di penginapan yang posisinya lumayan jauh dari pemukiman dan dekat dengan hutan juga wisata alam. Yah.. selama tiga hari mereka akan menginap di sana. Rigecherta, Tivane beserta teman mereka yang lain juga para mahasiswa sudah kaluar dari bus
Hari ini kampus trilogi itu terlihat sangat ramai oleh para Maba, juga para orang tua dan dosen yang bertugas berkumpul di lapangan kampus itu. Acara penyambutan mahasiswa baru universitas mengadakan hang out yang vibes nya seperti study tour karena akan di bawa ke daerah terpencil namun indah







