เข้าสู่ระบบSudah 15 tahun berlalu. Semua berjalan dengan baik walau ada sedikit perdebatan namun semua tetap kembali kepada pasangan masing-masing. Kesalahpahaman, perdebatan dan pertengkaran kecil hanya akan tinggal beberapa waktu dan kembali normal seperti semula. Kini mereka sudah memiliki anak masing-masing, dan semua sudah tumbuh besar. Tivane dan Rigecherta memiliki dua anak, sperti yang mereka inginkan, Chesia yang berumur 15 tahun yang memiliki kepribadian pendiam seperti ayahnya dan sangat cerdas karena gen keduanya, serta Vergean yang baru berusia 6 tahun bocah tengil seperti dan hiperaktif seperti ibunya namun sangat cepat tanggap, apalagi pada makanan. Awalnya mereka berpikir jika tidak akan memiliki anak lagi, tapi ternyata mereka masih di anugerahi satu lagi buat hati. Kini anak mereka benar-benar sepasang. Milenia dan Veros memiliki satu anak bernama Vemia yang umurnya masih 13 tahun. Gadis manis yang memiliki kepribadian santai di depan orang namun banyak tingka
Satu bulan kemudian. Hati ini adalah hari pernikahan Veros dan Milenia, sesuai janji Veros, ia benar-benar datang melamar ke rumah Milenia dan meminta restu pada orang tua Milenia. Tentu saja orang tua Milenia setuju, karena mereka memang sudah mengenal Veros dari awal dan mereka sangat senang karena Milenia dan Veros akhirnya memilih ke jenjang serius. Satu bulan penuh, waktu untuk mempersiapkan semuanya. Mulai dari dekoratif, baju pengantin, katering, sampai cincin mereka yang memilih. Kini Tivane sudah berdiri anggun dengan baju biru laut yang indah. Begitu juga dengan Ella dan Luci. Mereka akan menjadi bridesmaid hari ini. Acara akad sudah di langsungkan pagi tadi, kini tinggal acara resepsi. Milenia dan Veros sudah berdiri serasi di atas panggung dengan wajah gembira sambil menyambut tamu. " Gilaa.. gue nggak nyangka kita semua bakalan nikah gini, gue bener-bener terharu banget.. padahal dulu kita cuma ngerjain misi bareng, tapi sekarang kita malah jadi
Tivane dengan telaten menyisir rambut Kirana dan mengajak wanita itu berbincang ringan. Padahal ia tidak sedekat itu dengan Zea, tapi Tivane tetap berusaha mengimbangi obrolan itu. Kirana bahkan terlihat sedikit lebih cerah dan lebih cantik karena rambutnya sudah di rapikan dan senyum nya yang sedari tadi tak pernah luntur saat menceritakan tentang Zea. Sebenarnya Kirana tidak gila, hanya saja kondisi psikologis nya hancur karena semua datang bertubi-tubi. Kirana bahkan menggenggam tangan Tivane sedari tadi karena sedikit merasa bahagia. " Ibu mau sehat nggak?" Tawar Tivane lembut. Kirana langsung mengangguk semangat. " Mau, saya mau. Emang masih bisa? Kata dokter saya harus di sini sampai Zea keluar dari penjara" ucap Kirana membuat Tivane tersenyum lembut. " Bisa, pasti bisa. Kalau ibu udah sembuh, Zea pasti seneng banget kalau udah keluar dari penjara" ucap Tivane menyemangati. " Benar. Saya harus sembuh, saya tidak boleh membuat Zea sedih" ucap Kir
Pagi itu terasa hangat dan damai. Tivane masih betah di atas ranjangnya karena Chesia tidak rewel pagi ini. Bayi lucu itu malah sibuk dengan dunianya sendiri sambil memainkan kerincing di tangannya. Rigecherta baru terbangun juga tersenyum tipis saya melihat Chesia anteng, tidak rewel seperti biasanya. Tatapan Rigecherta berpindah pada Tivane yang terlihat berbaring dengan mata tertutup namun sesekali tetap membuka mata untuk memastikan Chesia di sampingnya aman. " Morning sayang!" Sapa Rigecherta melingkarkan tangannya di pinggang Tivane dan mengecup pipi Tivane dengan lembut. " Morning! udah bangun ya?" Tivane berbalik badan sedikit hanya untuk melihat wajah berantakan suaminya yang baru bangun itu. Rigecherta mengangguk kecil dan endusel ke leher Tivane. " Tumben Chesia nggak rewel. Biasanya udah nangis pagi-pagi" ucap Rigecherta mengelus pelan pipi anaknya yang asik sendiri itu. " Nggak tau juga, lagi kesambet mungkin" jawab Tivane terkekeh kecil saya an
Setelah acara selesai. Kini tinggal Tivane Rigecherta dan para teman mereka serta Aliandra dan Risa di sana. Ruangan masih berantakan dan terlihat bekas yang mungkin akan sangat melelahkan untuk membersihkannya. Piring-piring berserakan, juga beberapa cangkir dan bekas makan terlihat jelas di karpet itu. Melihatnya saja sudah membuat Tivane sakit pinggang apalagi harus membersihkan semuanya. " Lega nyaa.. akhirnya acaranya selesai juga" gumam River meregangkan tubuhnya. " Kayak nenek-nenek aja lo. Sini bantuin kita beresin" ucap Skyler yang sudah menyusun dan menaruh beberapa piring ke dalam ember besar. " Aduh.. bisa istirahat bentar dulu nggak? Sok rajin banget sih" decak River yang merasa tubuhnya mau rontok. " Suami gue mah emang rajin ya. Beda sama lo" ucap Luci membela membuat River mendelik dan mencibir. " Idih? Rajin? Sejak kapan tuh orang rajin? Biasanya di basecamp juga kerjaannya cuma Mabar sambil ketawa-ketawa nggak jelas liat video lucu" d
Dua hari kemudian Pagi itu terasa lebih heboh dan lebih ramai dari pada pagi sebelum nya. Rigecherta terlihat bingung untuk bersikap seperti sekarang. Lihat ke kiri ada Tivane yang menekuk wajah dengan bibir manyun lima centi. Lihat ke kanan ada Chesia yang terlihat habis menangis dengan wajah dan hidung memerah. Jika Rigecherta bergerak sedikit saja ke arah Tivane, maka Chesia di pastikan akan menangis lagi. Tapi jika Rigecherta bergerak ke arah Chesia, bisa di pastikan Tivane akan semakin menyeramkan wajahnya. Rigecherta kini di hadapkan dengan kedua pilihan sulit antara anaknya yang selalu ingin menempel padanya atau istrinya yang terlihat sudah melirik dengan mata mengilat tajam. " Sayang ini kenapa sih? Aku baru keluar dari kamar mandi loh.. nggak tau apa-apa" ucap Rigecherta lembut berusaha menenangkan suasana. " Nggak tau. Tanya aja sama putri kesayangan kamu itu. Selama kamu di kamar mandi aja dia nangis kejer nggak bisa di bujuk. Ehh pas kamu keluar
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Tivane masih berdiri di gerbang dan menatap cowok dia tas motor tersebut dengan dahi mengerut heran. Pemuda itu membuka helmnya membuat Tivane sedikit mengangguk karena ternyata pemuda itu adalah Evan. " Apa tadi?" Tanya Tivane sambil keluar dari gerbang. " Jadi itu cowok yang bikin lo bat
Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan







