ANMELDEN. Suasana di dalam rumah itu masih terasa heboh dan berisik karena Skyler yang tiba-tiba berlutut dengan cincin di tangannya. Sebenarnya ia sudah memikirkan ini lama dan sangat matang. Makanya tadi ia meminta pendapat pada para sahabatnya, dan mereka juga mendukung untuk mengungkap kan perasaan. Namun bagi Skyler, jika hanya status pacaran itu masih sangat mudah bertengkar atau putus karena belum ada ikatan yang sah, makanya ia memilih melamar Luci. Luci sendiri masih terdiam dengan wajah bingung namun juga memerah. Ia menatap teman-teman mereka yang mengangguk mengiyakan. " Terima Ci, nanti di embat orang" ucap Ella membuat Luci tersentak dan menoleh ke arah Sacilia yang tersenyum semangat sambil merekam momen itu. " Bukannya pacar lo Cilia?" Tanya Luci menunjuk kecil ke arah Sacilia. " Aku sepupu nya kak!" Ujar Sacilia membuat Luci tersentak dan menatap Skyler. " Tapi tadi..?" Ucap Luci namun ia menggantung kalimatnya, ia ingat, Skyler tak pernah m
Kini ruangan tengah rumah Tivane itu terlihat santai dan hangat. Para member Blake heart di tambah Sacilia terlihat mengobrol santai dan sesekali bercanda lalu tertawa bersama. Awalnya Sacilia memang merasa sedikit canggung. Namun saat melihat para member Blake heart sangat ramah dan easy going, ia lambat laun juga ikut bercanda dan tertawa bersama mereka. Sementara di halaman rumah, para cowo terlihat duduk santai di sana. River dan Veros terlihat merokok di samping mereka. Rigecherta katanya tak mau lagi merokok karena ia akan menjadi calon dokter dan karena Tivane sedang mengandung. Sementara Skyler memang satu satunya yang tak merokok di antara mereka. " Guys. Gue mau nanya" ucap Skyler membuat mereka menoleh. " Kenapa? Masalah cewe?" Tebak Rigecherta membuat Skyler sedikit terkejut namun mengangguk tak mengelak. " Pantes lo akhir akhir ini kebanyakan diam sambil ngelamun. Ada apa?" Tanya River menghembuskan asap rokok dari mulutnya. " Gue sebenar
Setelah pulang dari rumah orangtua Tivane. Rigecherta kembali mengantar sang ibu ke nya. Kebetulan tadi mereka memang menggunakan taksi. Rigecherta tak mau menggunakan motor karena istri nya sedang mengandung. Mungkin jiwa protektif nya sudah mulai kumat. Setelah sampai di rumah, mereka melihat para sahabat mereka, kecuali Skyler sudah sampai di depan rumah mereka dan langsung menoleh saat taksi itu berhenti, Tivane dan Rigecherta keluar membuat mereka langsung menghampiri dengan cepat. " Vane yang di grup itu bener?" " Foto yang di grup maksudnya apa?" " Lo serius hamil?" " Gue udah mau punya ponakan ya?" Pertanyaan demi pertanyaan datang mencecar Tivane yang bahkan masih kaget saat melihat mereka sudah standby di sana dan langsung menghampiri mereka dengan pertanyaan. Kepala Tivane tiba-tiba terasa sakit karena pertanyaan yang datang beruntun itu. " Heh! Satu satu!" Tegur Rigecherta galak sambil memegangi istri nya. Mereka langsung
Rigecherta terlihat masuk ke dalam kamar kembali setelah dari apotek. Tivane terlihat bersandar malas di atas ranjang sambil memainkan handphone nya dengan wajah tak bersemangat. Begitu pintu dibuka Tivane langsung menoleh dan berbinar sat melihat Rigecherta masuk dengan kresek hitam di tangannya. " Kok lama?" Tanya Tivane duduk tegak menerima kresek yang di berikan Rigecherta padanya. " Tapi ke Alfa depan dulu beliin kamu cemilan" jawab Rigecherta membuat Tivane tersenyum manis. " Makasih sayang. Kamu perhatian banget deh." Ucap Tivane melihat beberapa snek kesukaannya di sana. " Kalo soal cek nya, biasanya yang manjur atau akurat itu pagi. Habis bangun tidur" Rigecherta duduk di pinggiran ranjang dan mengusap lembut perut Tivane. Padahal belum jelas ada atau tidak bayi di dalam, tapi entah kenapa Rigecherta merasa jika benihnya memang sedang berkembang di sana. " Utututu perhatian banget sayang aku." Gemas Tivane mengunyel pipi Rigecherta dan me
Sore itu terasa tenang dan hangat. Senja perlahan turun menyisakan langit yang indah. Di trotoar jalan yang ramai oleh orang yang berlalu lalang. Terlihat Rigecherta dan Tivane sedang berjalan-jalan sambil makan eskrim berdua. Tivane beberapa kali terlihat menunjuk antusias dan terkekeh ketika melihat hal lucu menurutnya. Di sampingnya, Rigecherta menanggapi ocehan Itu dengan anggukan dan sesekali ikut menimpali sambil memperhatikan wajah Tivane yang terlihat sangat bergembira. " Aku mau cerita sama kamu" ucap Tivane sambil tetap berjalan ke arah motor Rigecherta yang terparkir tak jauh di depan mereka. " Cerita aja" jawab Rigecherta santai. " Kan aku udah sidang. Terus aku di kabarin dosennya udah bisa wisuda Minggu depan. Sumpah deg deg an banget. Tapi aku juga pengen cepat-cepat selesai. Nanti kalo ada loker. Aku bakal lamar jadi guru SMP atau SMA. Udah ada juga beberapa yang nawarin buat kerja. Tapi aku kan masih belum wisuda" cerita Tivane dengan semangat m
Kini kamar Rigecherta dan Tivane terasa hening namun hangat. Keduanya hanya diam sambil memeluk satu sama lain di atas ranjang. Tivane meletakkan kepala nya di atas dada Rigecherta, mendengarkan detak jantung Rigecherta yang seirama dengan detak jantungnya. " Suka nggak bakar-bakar hari ini?" Tanya Rigecherta memecah keheningan sembari mengelus rambut Tivane lembut. " Suka. Terus kata mereka lusa kami anak-anak Blake heart mau ke mall. Boleh kan?" Tanya Tivane menatap Rigecherta. " Kalian tuh quality time mulu. Aku nya malah di tinggal" Rigecherta mengunyel pipi Tivane dengan gemas. " Boleh yaa.. aku udah bilang iya tadi" bujuk Tivane menunjukkan puppy eyes nya. " Mulai.. mentang-mentang tau aku lemah sama puppy eyes kamu" ucap Rigecherta membuat Tivane terkekeh riang. " Jadi..? Boleh kan?" Tanya Tivane endusel ke dada Rigecherta. " Hmm..." Rigecherta pura-pura berpikir. " Ih.. kok gitu sih? Masa nggak boleh. Bolehin dong.. yayaya?!" Bujuk
Suasana di lapangan di sekolah itu terlihat riuh dengan bisik-bisik murid yang merasa tidak adil karena mereka sudah membayar tapi malah di buat begini. " Emang Bu Zakira di mana sekarang?" Tanya Skyler sambil melihat ke arah kumpulan guru berdiri tak jauh dari tempat mereka. " Itu dia. Bu Za
Masa libur semester sudah berakhir. Kini sekolah sudah mulai masuk. Maka semester ini mereka sudah mulai masuk tahun sibuk dengan ujian, praktek, try out dan lain lain. Pagi itu Tivane tampak sudah menunggu di sepan rumahnya sambil mengunyah roti dan sedang mengikat tali sepatu nya. Motor R
Di belakang sekolah tampak delapan pemuda, empat laki-laki dan empat perempuan. Mereka tampak sedang berpamitan. " Yaudah kalo gitu kami pulang dulu ya" pamit Milenia sudah melepas masker nya. " Thanks semuanya" sahut salah satu teman Milenia. Nama gadis itu adalah Luvivera, biasa di panggil
Suasana di taman kota itu terlihat sangat ramai. Apalagi di sudut Rigecherta dan lainnya sedang tertawa sehabis naik wahana dan Skyler malah pusing hampir muntah. Mereka benar benar bermain seharian. Naik beberapa wahana dan juga jajan sepuasnya sampai hari menjelang sore. " Thanks for this







