เข้าสู่ระบบTivane dan Rigecherta sedang makan malam santai karena Chesia sudah tidur, habis mandi nyusu sampe kenyang terus lanjut ngorok di ruang tengah. Karena bayi mereka sudah tidur, waktunya untuk Rigecherta dan Tivane bermesraan bedua. Kalau Chesia masih bangun, dia pasti rewel dan tidak mau di pisahkan dari mereka. Tapi jika sudah tertidur, barulah Rigecherta dan Tivane bisa bernafas tanpa di tempelin Chesia. " Chesia nggak rewel loh di sini, dia malah anteng banget dari tadi. Padahal biasanya jam segini dia masih nangis kalau di rumah sakit" ucap Tivane sambil menyuapkan makanan dengan tenang. " Mungkin dia tau aroma rumah kita, jadi dia tenang" jawab Rigecherta juga makan dengan santai di samping Tivane. " Iya sih.. dari tadi juga aku perhatiin dia tenang banget. Pas di mandiin pun dia masih santai, biasanya pasti nangis kejer" ucap Tivane mengambil tambahan sayur untuknya. " Kamu suka sayur ya sekarang?" Tanya Rigecherta memperhatikan. " Yaa lumayan, kata Luci s
Setelah seminggu di rumah sakit itu akhirnya Rigecherta dan Tivane sudah bisa pulang dan di anjurkan untuk beristirahat di rumah. Jangan terlalu banyak aktivitas dan kegiatan dulu. Chesia, anak mereka juga sudah keluar dari ruang inkubator beberapa hari lalu. Bayi mungil itu terlihat sangat lucu apalagi saat sedang manyun seolah mencari asi Tivane. Namun jangan salah, tangisan chesia sangat keras bahkan bisa membangunkan Milenia yang tidur sudah seperti orang mati. Beberapa malam juga mereka di buat begadang karena kerewelan Chesia. " Yey.. kita bakal pulang ke rumah sayang.. sehat-sehat ya anak mami" ucap Tivane girang sambil menggendong Chesia sementara Rigecherta membawa barang mereka ke mobil Aliandra yang sudah terparkir rapi di parkiran. " Kalian beneran nggak mau nginap di rumah mama dulu? Nanti kalian kerepotan nggak ada yang bantu. Ke rumah mama dulu ya?" Bujuk Risa khawatir jika Tivane dan Rigecherta tak sanggup merawat Chesia. " It's oke ma. Sebelumny
Pernikahan River dan Ella terlihat sangat mewah dan ceria, sama persis seperti keduanya yang selalu cerah dan ceria. Bunga-bunga yang di pajang juga terlihat sangat lembut namun juga terlihat semarak. meja meja di hiasi dengan dekorasi yang megah namun tetap terasa nyaman. lampu kristal di tengah tengah ruangan itu semakin mempercantik dan semakin membuat suasana terasa hangat. milenia dan Luci terlihat sudah memakai baju Bridesmaids yang cantik berwarna ungu lilac. padahal warna baju itu adalah yang di tunggu tunggu oleh Tivane. tapi malah tidak bisa ikut dan tidak bisa menjadi Bridesmaids sahabatnya itu. milenia dan Luci perlahan naik ke atas panggung bersama pasangan masing-masing dan memberi sahabat kepada Ella dan River " Selamat atas pernikahan nya" ucap Skyler di samping Luci yang berpelukan dengan Ella dengan wajah ceria. " Makasih bro." Jawab River menjabat tangan Skyler dan memeluk singkat sahabatnya itu. " Selamat yaa.. langgeng kalian" ucap Luci
Ruangan Tivane dan Rigecherta tak pernah sepi lagi setelah keduanya sadar, mereka selalu bercanda dan bercerita sambil pegangan tangan atau peluk-pelukan. Padahal tulang rusuk Rigecherta belum pulih sepenuhnya, tapi ia sedari tadi malah tak bisa diam dan sekalinya diam malah meluk Tivane. " Kalian pengen ketemu baby kalian nggak?" Tanya Milenia sambil makan buah yang ada di sana. " Mau banget. Tapi gue belum di bolehin jalan-jalan. Rige juga belum di bolehin banyak gerak sama dokter." Keluh Tivane. Padahal ia sudah sangat ingin bertemu dengan anaknya, tapi kata dokter tunggu dia sehat sedikit lagi. " Heleh. Jangan banyak gerak, kalian dari tadi aja nggak bisa diam, gue yang cape liat kalian mesra-mesraan dari tadi. Btw gue udah mau pengangkatan lohh" beritahu Milenia semangat. " Serius? Lo bakal naik gaji dong... Wah.. keren" puji Tivane berbinar, mungkin ia ikutan merasa hebat saat melihat sahabatnya yang satu jurusan juga dengannya akan pengangkatan jadi PNS. "
Setelah Rigecherta siuman, Tivane tak henti hentinya tersenyum cerah dan mengoceh sambil berbaring bersandar pada dada Rigecherta. Rigecherta dengan penuh sayang membelai rambut Tivane dan tetap membiarkan wanita itu berbicara karena ia juga merindukan ocehan Tivane. Rigecherta hanya akan menimpali sesekali dan mengangguk sambil menciumi ubun-ubun Tivane. " Sumpah ya, aku beneran kesel banget tau nggak. Mana kamu kebantingnya di depan mata aku lagi, gimana aku nggak syok coba, refleks lari lah, eh.. malah ikutan pingsan karna pendarahan." Oceh Tivane dengan tangan tetap memeluk Rigecherta dengan posessive. " Yang penting sekarang kita sama-sama sehat, sama-sama masih bisa sender-senderan." Ucap Rigecherta membuat Tivane mengangguk kecil. " Bener. Serius deh, baru dua hari nggak ketemu sama kamu rasanya udah kangen banget. Jangan pernah tinggalin aku ya.." ucap Tivane mendongak menatap wajah Rigecherta. " Nggak bakal pernah, janji. Janji seumur hidup" ucap Rigeche
Tivane duduk santai sambil bersandar di ranjang nya dengan wajah di tekuk masam. Ia sangat ingin bercerita dan mengobrol, tapi tidak ada teman nya untuk mengoceh. Biasanya ia akan mengoceh pada bayi di dalam perutnya, namun sekarang bayi itu sudah lahir, mana mereka nggak bisa ketemu lagi. Kalau bayi itu ada di gendongan Tivane sudah pasti ia akan mengoceh panjang lebar pada bayinya. Tivane meraih kotak makeup nya dari nakas dan mulai berdandan santai. Namun hasilnya malah sangat cantik membuat Tivane terpana. "Woow.. cakep banget, kenapa pas gue nggak pengen ngapa-ngapain malah cakep gini" gerutu Tivane seorang diri dan Muali selfie dengan berbagai gaya. Ia menoleh pada Rigecherta dan mulai tersenyum jahil. Perlahan ia mendekat lalu mulai mengaplikasikan makeup pada suaminya itu. "Wih.. ganteng banget.. kayak Gege China campur oppa Korea gitu" pekik Tivane gemas melihat hasil karyanya dan mulai memotret suaminya dari beberapa sudut. " Baguss.. foto berdua a
Tivane masih berdiri di gerbang dan menatap cowok dia tas motor tersebut dengan dahi mengerut heran. Pemuda itu membuka helmnya membuat Tivane sedikit mengangguk karena ternyata pemuda itu adalah Evan. " Apa tadi?" Tanya Tivane sambil keluar dari gerbang. " Jadi itu cowok yang bikin lo bat
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa
Hari ini kampus trilogi itu terlihat sangat ramai oleh para Maba, juga para orang tua dan dosen yang bertugas berkumpul di lapangan kampus itu. Acara penyambutan mahasiswa baru universitas mengadakan hang out yang vibes nya seperti study tour karena akan di bawa ke daerah terpencil namun indah
Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in







