LOGINParkiran bawah tanah sepi, lampu neon memantulkan garis-garis dingin di lantai beton yang rata. Langkah Ayla terdengar jelas di lorong panjang, tas masih digenggam, lututnya bergetar sedikit—bukan karena fisik, tapi sisa ketegangan rapat.
“Sudah cukup, Ayla?” suara Adrian memecah hening, berat dan tegang. Nada itu bukan hanya marah; ada kepedihan, haus, frustrasi yang lama menumpuk. Ayla menoleh, jantungnya seketika melonjak. “Tuan Adrian…” suaranya pelan, profesional, tapi tak mampu menutupi sedikit getar yang ia rasakan. Adrian melangkah mendekat cepat, menutup jalur Ayla. Dalam sekejap tubuhnya menekan Ayla ke sisi mobil, bahu Adrian lebar, 188 cm tinggi, menutupi seluruh gerak Ayla yang 168 cm dengan postur ramping tapi tegap. Tangannya meraih dagu Ayla, memaksa wajahnya menatap mata Adrian yang membara. “Kenapa kau pergi begitu saja?” desisnya, hampir berteriak tapi tetap tertahan. “Kenapa hilang begitu lama tanpa kabar?” nadanya masih menahan emosi tapi tetap membuat hati Ayla bergetar. Ayla menelan ludah, ingin menjawab, tapi kata-kata membeku. Ingatan malam itu melintas—momen saat dia harus pergi, terluka, tapi tidak bisa menjelaskan apapun. Ia menunduk, napas panjang. “Aku… harus pergi” katanya berusaha menghindar. Adrian mendengus kesal “tidak sebelum kau menjelaskan!” Katanya tegas. “Aku gak bisa Adrian…” lirih Adrian menatapnya tajam. “Tidak bisa? Tidak bisa apa, Ayla? Menjelaskan? Membiarkan aku mencari tanpa hasil?” Tangannya menekan dagunya sedikit lebih keras. “Aku sudah menahan diri bertahun-tahun, dan sekarang kau muncul, dan diam begitu saja?” Ayla menarik napas, menahan tubuhnya agar tidak terhuyung. “Adrian… lepas!” suaranya lebih tegas, menahan diri dari panik. Adrian menyipitkan mata. “Lepas? Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja? Aku ingin jawaban, Ayla. Setiap pertanyaan, aku mau kau jawab!” katanya tegas seolah tidak ingin ditolak. Ayla mengalihkan pandangan, berusaha menahan gemetar. “Aku tidak bisa… sekarang,” bisiknya, menahan air mata yang nyaris jatuh. “Kau tidak bisa atau tidak mau?” Adrian menekankan kata-katanya, hampir seperti menembus dinding pertahanan Ayla. “Kau tahu aku menunggu jawaban itu. Ayla…, Setiap malam aku mencari… mencari…” Suaranya menahan retakan emosi. Ayla menutup mata sesaat, menahan napas, kemudian mencoba mendorong bahu Adrian. “Tuan Adrian… tolong, aku harus pergi,” ia menekankan, berusaha membuat ruang di antara mereka. Adrian tertawa kecil tapi dingin, pahanya menempel ke sisi mobil, membuat Ayla tidak bisa bergerak kemanapun. “Pergi? Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja? Kau muncul dan langsung pergi? Tidak, Ayla. Tidak bisa!.” Tubuh Adrian bergerak lebih dekat, tangannya menggenggam dagu Ayla, matanya seolah ingin menembus semua rahasia yang ditutup rapat. “Kenapa kau diam? Kau pikir diam bisa menghapus kesalahanmu heh? Bisa menghapus luka yang kau tinggalkan? Heh? Jawab!” Ayla menggigit bibir, menahan tangis. “Aku diam bukan karena aku tidak peduli… aku hanya… tidak bisa menjelaskan! Please Adrian… ” Adrian menarik napas dalam, “please apa heh?” “segala sesuatu bisa dijelaskan Ayla, pilihannya cuma 2, mau menjelaskan atau diam seperti pengecut?” katanya menekan bahkan mengiris hati wanita yang ada dihadapannya. “Sepertinya kamu memilih yang tetakhir. Hah” Ayla sempat membelalakkan mata beberapa detik, lalu ia mencoba menepis dagu Adrian, mendorong tubuhnya sekuat tenaga, tapi sia-sia. Adrian lebih besar, lebih kuat, dan emosi yang meledak memperkuat cengkeramannya. “Lepaskan!” teriak Ayla, suara hampir pecah. Mata Adrian semakin panas, daripada melepaskan Adrian malah menunduk, memberikan ciuman kasar di bibir Ayla. Bibirnya menekan, menuntut, meraup seperti haus yang tak terpuaskan. Ayla menutup rapat, menahan bibirnya. Tangannya menekan lengan Adrian, mencoba menyingkir, tapi tubuhnya tak mampu menciptakan jarak. “Ahh…” desah pendek keluar dari Ayla seperti meringis saat Adrian menggigit bibir bawahnya, memaksa sedikit celah, supaya Adrian bisa menciumnya lebih dalam. namun ia tetap melawan, menendang dan menekan untuk membuka ruang, meski sia-sia. Adrian menghela napas, menelan desahan itu, lalu menekan lagi, lebih rakus. “Kau pikir diam bisa menghindari aku?” Suaranya serak, frustrasi, haus akan jawaban, haus akan kontak itu. “Kau pikir aku bisa berdamai dengan semua ini tanpa jawabanmu?” Ayla memeringis, mendorong tubuh Adrian lagi. “Aku tidak… aku tidak bisa memberimu jawaban apapun… Adrian!” Adrian menarik sedikit, menatap mata Ayla yang menahan air mata, membaca semua ketegangan itu. “Lepas… please…” lirih. “Kenapa kamu gak bisa jawab hmm?” Suara Adrian melembut, bahkan tatapannya juga melembut sebentar. “Kenapa….?” Lebih lirih “Ay…” Panggilan itu… nada itu, itu panggilan sayang Adrian dulu padanya, Ayla sempat tertegun mendengar itu, ia menatap mata Adrian sayu, emosinya bercampur seolah memori kebersamaan mereka dipanggil ke momen itu, begitu juga Adrian. Adrian kembali meraup bibir Ayla dengan bibirnya, kali ini bukan kasar, kali ini lebih lembut, lebih… rindu. Cup…cup… cup… Lalu satu ciuman panjang yang ditahan beberapa detik Kangen banget Ay, gue kangen banget… Tapi Ayla meski dia sempat terbuai, dia tetap diam, bibirnya tetap rapat, tidak membuka, tidak menahan, hanya membiarkan Adrian selesai. Merasakan Ayla yang tidak merespon ciumannya membuat Adrian kesal, seolah hanya dia yang merindukan momen itu. Ia Menarik nafas panjang, tatapan Adrian kembali tegas dan dingin. “Aku tidak akan berhenti sampai kau buka mulutmu sendiri dan kasih penjelasan. Kalau kau tidak kasih sekarang, aku bisa tagih tiap hari” “Dan tiap tagihan tidak akan pernah mudah, Ayla.” katanya menekankan setiap katanya. Ia akhirnya melepaskan Ayla, berbalik berjalan ke mobilnya sendiri. Ayla menelan ludah, gemetar, dan menunduk. Napasnya berat, tangannya menekan bibir yang masih panas. Aroma ciuman itu menggantung di udara, bukti malam yang tidak akan mudah dilupakan. Ayla duduk di mobil, tubuhnya masih bergetar. Jantungnya berdebar tak karuan, air mata jatuh tapi ia cepat menahan diri. “Tidak… Lo gak boleh nangis, Ayla… Lo harus kuat. Lo kuat, Ayla,” bisiknya pada diri sendiri, menarik napas panjang. Adrian menghela napas panjang, menyalakan mobilnya sendiri di ujung lorong. Ia menoleh sekali, melihat Ayla duduk di mobil, wajahnya lelah, mata berkaca-kaca. “Aku… aku cuma ingin kau jujur, Ayla. Itu saja.”Pintu kantor Adrian tertutup rapat, meninggalkan ruangan sunyi. Di meja, selembar kertas lusuh tergeletak, cek yang baru ia terima. Adrian menatapnya lama, jari-jari menekuk tepi kertas, nafasnya pelan tapi tegang.“Cek… sebuah cek” gumamnya, suara berat namun terkendali.Lucas masuk, langkah ringan tapi sigap.“Boss, semuanya oke kan?”Matt muncul di belakang, menatap cek di tangan Adrian.“Lo oke? Papa Lo ngapain?”“Ini… dia ngasih ini…”Matt mengambil kertas itu, meneliti setiap sudut.“Cek… pengirim Alaric Grady, penerima Ayla Virella. Tanda tangan terlihat asli, kertas lusuh, tanggal diterima empat tahun lalu.”“Menurut kalian… ini asli atau palsu?” suara Adrian rendah tapi menuntut jawaban.“Ini terlihat asli, Ad.”Adrian menelan ludah, tatapannya kosong sejenak.“Tapi terlihat asli nggak berarti nggak bisa dimanipulasi,” Matt menambahkan, nada seperti tertantang untuk membedah lebih jauh cek itu.Adrian menarik napas panjang, jarinya mengetuk meja perlahan, seolah mencoba menen
“Bu Ayla!” Santi langsung berseru saat melihat Ayla keluar dari ruangan Adrian.“Ya Tuhan… akhirnya ibu keluar juga.. haah” katanya seperti bernafas lega.Ia mempercepat langkah, mencoba menyamai tempo Ayla.“Aku dag-dig-dug nungguin ibu tahu... Kita kan ada janji makan sia—”“Aku ke toilet dulu, San.”Jawab Ayla datar, tanpa menoleh.Gedung Grady Group bukan ruang asing baginya, ia pernah hidup bertahun-tahun di dalam ritme kantor ini. Beberapa sudut berubah, tapi memorinya belum lapuk.Begitu masuk toilet, Ayla menaruh tas di atas wastafel lalu membasuh tangan. Air dingin tak cukup menenangkan denyut jantungnya.Deg… deg… deg.“Hahh… hhh…”Ia mengatur napas, memaksa dirinya kembali waras.“Tenang, Ayla. Tenang…”Tapi begitu ia menunduk, kilasan bibir dan tangan Adrian yang bermain di tubuhnya kembali menghantam kesadarannya.“Ugh… Ayla!”Lalu kata-kata Adrian bergema di pikirannya “kamu bahkan mencapai nipple orgasme”“OH.. my.. God ..” momen saat dia mencapai nipple orgasme itu kem
Adrian belum melepaskan hisapannya, sementara Ayla masih terengah-engah setelah merasakan sensasi yang begitu luar biasa untuk pertama kalinya.“Slurp…. Pc.. cp cp..”“Hah.. hah.. hah..”Tidak pernah dia merasakan sensasi ini bahkan dulu saat bersama Adrian, nipple orgasme tidak pernah tubuhnya berikan. “Plok..” akhirnya Adrian melepaskan hisapannya.Adrian memandang wajah Ayla yang masih Sayu dan terengah itu, jelas ada senyum kepuasan di wajah Adrian, “heh… so.. beautiful” gumamnya.“Kayaknya setelah 4 tahun, tubuhmu jadi lebih sensitif Ay,” sambungnya sambil tangannya kembali meremas penuh kedua payudara Ayla.Ayla tidak bisa menjawab, ia sendiri juga bingung dengan apa yang dilalui nya, apakah dirinya begitu merindukan sentuhan Adrian, hingga tubuhnya kewalahan menerima semua sentuhannya? Entah Ayla pun tidak tahu.“Cup…” Adrian kembali mencium bibir Ayla, lembut, penuh rindu dan ketulusan.“Mmm… cpcpcp” Ayla membalas ciumannya, membiarkan dirinya menikmati momen yang jujur sanga
Tidak ada kata apapun yang keluar dari mulut Ayla, hanya desahan dan nafas berat yang silih berganti.“Nghh… hah, hah”Adrian tersenyum puas melihat itu, aku tahu, kamu gak akan sanggup menahan sentuhanku sayang, begitu pikirnya sebelum dia kembali menghisap kulit putih payudara Ayla hingga meninggalkan bekas kemerahan, “slurp, pc… mmm..”Adrian mulai kembali menghisap satu pucuk payudara Ayla, masih satu payudara yang tadi, belum bergantian, payudara yang lainnya masih terus dipilin perlahan.“Ssh… aahh.. mmm.. slurp, pc.. slurp…, pc, aku lapar Ay…” katanya lanjut menaikan tempo hisapan, jilatan dan pilinannya. “Mmm… nghh… ahhh, Ad,” nafasnya sudah tidak beraturan, ia semakin merasakan sensasi basah di bawahnya, tapi dia tidak peduli, rasa ini… terlalu memabukan.“Iya sayang… mmh.. slurp… pc, slurp.. pc, cp cp cp cp..”Adrian mulai berpindah ke payudara yang satunya lagi, dan melakukan hal yang sama di sana, sementara tangan satunya kembali aktif memilin pucuk payudara satunya yang
“Nghh..” desah Ayla dengan tubuh yang mulai bergerak gelisah karena sensasi jari dan tangan Adrian yang terus bermain di pucuk payudaranya.“Lihatkan? Tubuhmu ingin lebih sayang.” “Mmm..” kepala Ayla masih menggeleng tapi jelas ekspresi nya menahan nikmatnya sensasi yang sudah lama ia rindukan juga.Bahkan kini mulai muncul pikiran untuk melepaskan bra-nya sendiri, tapi nggak, gak boleh Ay… begitu emosi dan logikanya berdebat.Adrian mencium kembali bibir Ayla, membuat Ayla melepaskan gigitan pada bibir bawahnya sendiri, dan mulai mengikuti ritme ciuman Adrian.Adrian Masih bermain di atas bra tipis itu, kadang diremas satu satu, atau ditarik pucuknya, atau dilebarkan tangannya hingga menekan kedua pucuknya seperti tadi.“Nghh…” “Mmm…”Desahan dan cecapan terdengar silih bergantian. Sepertinya logika Ayla juga mulai kalah, dia tidak menunjukan perlawanan apapun kali ini. Gelengan kepalanya sudah hilang, tangannya sudah melingkar kembali di leher Adrian.“Cpcpcp… nghh”Ditengah itu
Perlahan Adrian mendekatkan bibirnya ke bibir Ayla, dengan lembut dia meraup bibir itu, mencium, merasakan rasa yang sudah sangat dia rindukan. “Mmh…” kepala Ayla menggeleng, seperti ingin menolak, tapi bibirnya justru merespons.Bangun, Ayla… ingat Reya… suaranya di dalam kepala begitu lirih.Saat Adrian mulai menjelajah setiap sudut bibirnya lalu masuk lebih dalam, menghisap lidahnya lembut namun intens, Logika Ayla seolah hilang dalam sekejap.“Mmmh…” tangan Ayla terangkat, bukannya mendorong tapi melingkarkannya di leher Adrian.Adrian tersenyum di antara napas mereka yang berpadu, mereka saling berpagutan, meluapkan rasa yang sudah tertahan terlalu lama.Suara lembab basah pelan memenuhi ruangan itu, “Hhh…” napas Ayla terpecah, menahan antara sadar dan hanyut, sementara Adrian hanya menunduk lebih dalam, membiarkan dunia di sekitarnya lenyap.Ketika akhirnya mereka berpisah hanya untuk mencari udara, napas mereka sama-sama berat.“Ay…” suara Adrian serak, nyaris seperti desah







