Share

BAB 5

Author: Petra Vie
last update publish date: 2025-03-12 10:37:17

         Sore ini aku menikmati pemandangan belakang rumah, sawah yang terhampar luas warna kemerahan di langit sangat indah sekali, aku juga ditemani oleh Atma yang datang ke rumah. Hari ini benar-benar menguras energiku aku yang sedari tadi diam membuat Atma menyenggol lenganku dan menanyakan keadaanku. Atma dari tadi sibuk mengupasi buah untuk dia jadikan lotis.

“Makan ini, ada apa denganmu?” tanyanya sambil menyuapi mangga ke mulutku. “Hah...Barga, aku tidak tahu dengannya semakin lama semakin membuatku muak saja,” jawabku sambil memutar bola mataku malas.

“Aku akan menghajarnya nanti, pasti dia tidak suka aku ada di dekatmu, kan?” aku mengangguk, Atma dan Barga seringkali bertengkar mereka seperti Pakdhe Asmoro dan ayahnya Atma, Darmo.

“Tadi dia mengejarku padahal aku sudah memberi peringatan bahwa aku ingin sendiri, sampai akhirnya aku menabrak seseorang...”

“Siapa?” tanya Atma ingin tahu, tapi aku ragu-ragu untuk mengatakannya. “Danastri tidak ada rahasia di antara kita. Kamu sudah berjanji,” ucap Atma dengan penuh penekanan dan mendesakku untuk memberitahu.

“Oalah, dia akhir-akhir ini memang terlihat,” ucap Atma yang kembali sibuk mengunyah bengkoang di mulutnya setelah aku menceritakan bertemu dengan Kaningrat.

“Kamu mengetahuinya?” tanyaku yang penasaran, “Tentu saja, aku sering ke keraton mengirimkan beberapa barang ke sana.”

“Tapi apa kamu tahu rumor yang pernah beredar?” Aku mendekatkan diri ke Atma dan mengerutkan dahiku.

“Begini dulu ada rumor bahwa Raden Kaningrat pendiam karena tidak bisa berbicara. Tapi aku kemarin mendengarnya berbicara berarti gosip itu hanya kebohongan belaka,” ujar Atma sambil mengusap keringat di dahinya karena kepedesan.

“Aku baru tahu ada gosip seperti itu.”

“Tidak hanya itu, Raden Kaningrat selama ini memang tidak berada di keraton. Ku dengar dia diasingkan, entah karena apa aku juga tidak tahu, jadi banyak kegiatan yang tidak pernah dia ikuti. Hal ini membuat orang berpikir bahwa Raden Kaningrat tidak pantas untuk tinggal di istana keraton” tambah Atma membuatku bingung.

“Aneh sekali kehidupan para bangsawan itu, aku tidak bisa membayangkan diriku ada di sana.”

Atma menangguk setuju, tapi rumor yang beredar seperti dia tidak bisa bicara dan diasingkan cukup mengganggu pikiranku. Namun, dengan cepat aku mengalihkannya dengan berbicara hal lain dengan Atma. Setelah selesai menemaniku, Atma kembali pulang ke rumahnya. Seperti biasa suasana rumahku sangatlah sepi dan gelap dengan cepat aku mencari lampu penerang.

            Sebelum tidur aku melihat apakah bahan makananku masih ada, tapi sialnya tinggal sedikit yang mana aku harus pergi ke pasar besok, sedangkan uangku hanya tinggal sedikit. Kehidupan yang sulit ini sangat menekanku, aku juga berpikir tidak selamanya harus bergantung pada keluarga Atma, tapi itu salah satu caranya agar bisa bertahan hidup. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. Benar, aku masih harus menagih hutang pada seseorang.

“Suci, Suci...” tidak ada orang yang menjawabnya.

“Suci!” teriakku karena kesal dia berbohong akan membayarku kemarin, nyatanya dia tidak ada di sini.

“Hey, di mana ibumu kenapa tidak ada?” tanyaku pada Bagus, anak laki-laki Suci yang terlihat berantakan dan sudah bermain kesana kemari.

“Di rumah,” jawabnya singkat. “Tolong panggilkan, aku ada urusan dengan ibumu,” ucapku mencoba bersabar dan anak itu masuk ke dalam rumah meninggalkan temannya di luar rumah. Setelah sekian lama menunggu akhirnya Suci keluar dengan wajah sedikit tidak enak.

“Ada apa ya, Nastri?” tanyanya sambil mengikat rambutnya, aku menghela napas panjang. “Uangku, aku ingin uangku kembali. Kamu berjanji akan mengembalikannya semalam, tapi nyatanya tidak.”

“Memangnya aku meminjam uang darimu?” tanyanya seperti tidak ada urusan denganku, “Lalu yang datang ke rumahku dua hari lalu sambil menangis itu siapa? Demitmu kah? Atau sukmamu berjalan-jalan?” tanyaku tidak ingin kalah.

“Aku tidak mengerti maksudmu Danastri, untuk apa aku meminjam uang darimu?” aku mengepalkan tanganku dan menghela napas lebih panjang.

“Suci...dengarkan aku, lebih baik kamu bayar utangmu itu atau aku akan berteriak bahwa kamu suka melayani orang putih itu,” ucapku sedikit berbisik diakhir kalimat membuat perempuan di depanku memucat.

“Ah, jika mereka tahu apalagi suamimu mungkin kamu akan diseret keluar dari rumah ini.” Terlihat Suci menegang dipandangi bahwa banyak sekali orang yang berlalu lalang di depan rumahnya termasuk anaknya.

“Ehem...ehem...”

“Baiklah, baiklah aku akan membayarnya tunggu sebentar, Danastri ku mohon.” Suci berlari ke dalam rumahnya cepat dan kembali membawakan uang.

“Itu...semua utangku sudah ku bayar, tolong Danastri jangan katakan pada siapapun,” pinta Suci sambil memegangi tanganku, sedangkan aku sibuk menghitung uang yang dia berikan.

“Eum...akan aku pikirkan lagi selagi kamu tidak mencari masalah denganku,” ucapku yang kemudian pergi meninggalkan dirinya sendiri.

Tidak butuh waktu lama aku membeli bahan makanan yang kubutuhkan sampai akhirnya salah satu bahan makanan menarik perhatianku. Ikan, sudah lama sekali aku tidak memakannya tanpa lama aku mendekati penjual ikan itu, Terjo namanya. Dia sedang sibuk mengipasi dagangannya agar tidak diserang lalat.

“Ehem...Pakdhe, ikan yang itu berapa harganya?” tanyaku sambil menunjuk ikan dari laut.

“10 keping logam,” jawabnya dengan santai sambil melihat sekitar dan menawari mereka untuk datang.

“Mahal sekali, apa tidak bisa dikurangi? Aku hanya punya 4 keping logam,” pintaku sambil memelas. Kepingan logam itu hanya tinggal beberapa karena aku sudah banyak berbelanja hari ini dan lagi harus berhemat sampai mendapat gaji berikutnya.

“Kalau begitu tidak usah makan ikan, kamu pikir mudah mencarinya di tengah laut,” jelasnya sedikit tidak suka mendapatkan penawaran.

“Pakdhe....”

“Tidak bisa.”

“Pakdhe....”

“Sudah kubilang tidak bisa, jika kamu mau cari saja sendiri di laut,” ujarnya setengah mengusirku. Aku menghela napas panjang, pikiranku makan ikan dengan nasi hangat ditambah sambal lalapan pasti enak sekali, tapi sayangnya keinginanku harus sirna.

“Aku ingin ikan itu berapa harganya?” tanya seseorang yang muncul di sampingku. “Oh, ini...murah saja, Den. Ini 20 keping logam,” jawabnya dengan penuh senyuman menawarkan dagangannya.

“Hah?” ucapku tidak percaya apa yang baru saja ku dengar dan mendapat lirikan tajam dari Terjo agar diam saja. Aku tahu siapa pria ini, dia menatapku sebentar dan berhasil membuatku menunduk merasa segan berani menatapnya.

            Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantong surjan berwarna biru, aku dan Pakdhe Terjo sedikit menilik apakah dia benar-benar akan membeli ikan dengan harga yang sangat mahal. Namun, siapa sangka dia hanya memiliki 10 keping logam yang mana kepingan itu seharusnya bisa untuk membeli ikan.

“Sayang sekali, Raden anda tidak bisa membeli ikan saya. Kurang,” ucap Terjo yang tidak peduli dan memilih berbicara dengan Asih, penjual tempe.

“Pakdhe! Ini sungguh keterlaluan bagaimana bisa Pakdhe menjualnya denganku seharga 10 keping logam, tapi dengannya...maksudku dengan kalangan ningrat menjual seharga 20 keping logam. Wah, begitukah caramu mendapatkan uang?!” tanyaku yang tidak kusadari menggunakan nada tinggi dan menjadi pusat perhatian.

“Heh...wah, anak ini terlalu sering bermain dengan anak Darmo jadi ikut begajulan. Memangnya seperti ini caraku berjualan, kenapa kamu tidak suka? Pria ini memangnya keturunan ningrat? Jika benar seharusnya dia memiliki uang untuk membelinya. Dan lagi orang yang memakai surjan seperti ini belum tentu keturunan ningrat bisa saja dia hanya bangsawan biasa. Huh...” jelas Terjo membuatku hampir mengamuk.

“Kenapa kamu mau marah denganku? Sudah ku katakan jika kamu mau ambil saja di laut tidak akan ada yang memarahimu itupun kalo kamu bisa kembali dengan selamat,” tambahnya, sebelum aku mengeluarkan kata-kata pria itu sudah menarikku untuk pergi menjauh.

“Ku doakan ikanmu tidak ada yang membeli dan membusuk!” teriakku yang menendang tiang penyangga terpal dan membuatnya terjatuh menutupi dagangannya serta Terjo terjebak di dalam terpal.

“Danastri! Bocah edan! Kembali kemari!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Romansa Rapshodi   BAB 60

    Mataku mengerjap beberapa kali kurasakan hawa sekitarku menjadi lebih dingin dari sebelumnya, tanganku berusaha menghangatkan lenganku, bulan purnama terlihat jelas di mataku seperti memberikan peringatan bahwa hari masih gelap. Aku juga baru menyadari diriku pingsan sebentar, tangan kiriku terangkat ke atas sampai satu kunang-kungan hinggap di telunjukku. Pendengaranku menangkap sesuatu yang tidak jauh dari tempat diriku berbaring."Kita harus mendapatkannya," ucap seseorang.Sial mereka belum juga pergi, batinku. Dengan susah payah aku merangkak mencoba menjauh berharap mereka tidak akan menemukan keberadaanku. Aku mencoba berdiri dan berjalan sambil memegang lenganku yang terkena panah, rasanya sangat sulit berjalan di keadaan seperti ini apalagi cahaya bulan sedikit tertutup awan. Telingaku sayup-sayup masih mendengar prajurit keraton kebingungan mencariku."Harusnya dia mati, mungkin saja terjatuh ke sungai," keluh orang mengendarai kuda putih. "Kita tetap harus me

  • Romansa Rapshodi   BAB 59

    Kakiku melangkah mundur mencoba dan berlari secepatnya meninggalkan orang-orang keraton yang bisa mengejarku atau lebih tepatnya menangkapku untuk diseret ke keraton. Suara teriakan di gelapnya malam memacu adrenalinku untuk segera menghindari mereka. Sesekali aku menengok ke arah belakang di mana dua di antara mereka menunggang kuda, membuatku memaksakan diri agar cepat berlari. Sialnya, jubah yang ku kenakan basah membuat pergerakanku tidak terlalu lincah."Berhenti! ku perintahkan berhenti sekarang!" ucap salah satu di antara mereka yang tidak menunggang kuda."Beraninya menguping pembicaraan kami!" teriak salah satunya, "Kita harus menangkapnya apapun yang terjadi," timpal temannya yang setia mengejarku."Sialan, kenapa jadi seperti ini?" keluhku sendiri dan aku menyesal keluar sekarang. "Semuanya jangan sampai kehilangan orang itu!" Derap langkah suara kuda seperti ada tepat persis di belakangku, di gelapnya malam dengan cahaya bulan remang-remang dan suara hewan yan

  • Romansa Rapshodi   BAB 58

    Sudah beberapa hari ini aku menunggu kabar dari Atma yang entah kemana bocah itu pergi dan tidak kunjung kembali, sedangkan Raden Kaningrat juga dua hari ini tidak terlihat. Perasaanku benar-benar tidak bisa tenang, sejak malam kemarin aku gelisah memikirkan mereka. Bayang-bayang buruk menghinggapi pikiranku, tapi ku enyahkan dan berdoa agar tidak terjadi hal-hal buruk menimpa mereka."Mbak, kenapa?" tanya Damar yang melihatku bolak balik di area dapur saat malam. "Aku hanya haus saja," jawabku bohong, dia terlihat masih mengantuk dan mengucek matanya berulang kali."Ah, begitu. Cepatlah istirahat, Mbak hari masih malam," ujarnya yang kembali ke kamarnya meninggalkan diriku sendiri.Aku menggenggam tanganku sendiri erat-erat, "Tidak bisa, sepertinya terjadi sesuatu di sana," gumamku sendiri dan menatap sekelilingku yang sepi ditemani suara jangkrik di luar. Ku lihat Denastri yang tertidur dengan pulas saat diriku mengambil tas dan jubah. Ku yakinkan diriku semuanya akan

  • Romansa Rapshodi   BAB 57

    Aku menikmati waktuku selama bersama Raden Kaningrat, tanganku tergerak untuk mengelus wajahnya yang mana kepalanya ditidurkan di pangkuanku. Semilir angin menerpa wajah kami, tapi tiba-tiba aku teringat Atma. Laki-laki itu belum kembali sampai sekarang, Raden Kaningrat seperti bisa membaca isi pikiranku.“Aku sudah bertemu dengan Atma beberapa waktu lalu dia baik-baik saja, Danastri.” Mata Atma mengecek sekelilingnya yang sepertinya desa itu baik-baik saja tidak ada penjaga keraton seperti terakhir kali dia lihat. Langkahnya dengan mantap bergerak maju untuk pergi ke rumah, pikirannya hanya ingin sampai di rumah memakan masakan ibunya dan tentu saja jika sempat dia akan pergi menemui gadisnya.“Aa-“ Tubuh Atma diseret dan diperintahkan untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Di balik rumah milik seseorang, Atma diminta untuk mengikuti seseorang.“Masuk... cepat masuk,” pinta orang itu dan Atma menurut memasuki rumah seseorang yang terlihat sangat megah dan dia tahu

  • Romansa Rapshodi   BAB 56

    Pagi-pagi buta aku mengantarkan Atma ditemani oleh Damar setelah dia dipaksa untuk bangun oleh Atma, cukup berat langkahku untuk melepaskan Atma kembali ke rumah bukan karena aku tidak nyaman di sini, hanya saja aku takut jika terjadi hal-hal buruk di sana karena kami sama sekali tidak tahu kondisi di sana seperti apa. Aku ingin sekali pergi bersamanya, untuk pertama kalinya Atma tidak ada di sisiku. Aku sempat membujuk Atma berulang kali agar aku bisa ikut, tapi laki-laki itu jelas melarangku untuk pergi.“Nah, sudah sampai. Aku harus pergi sekarang,” ucap Atma yang berdiri di pinggir sungai yang kering. Dari raut wajahnya bisa ku lihat dia sangat senang untuk kembali ke rumah.“Tolong jaga adikku, Damar. Pastikan dia aman dan baik-baik saja,” lanjutnya sambil menepuk pelan laki-laki yang ada di sebelahku. “Hahaha, tentu saja dia itu keluargaku tidak mungkin aku membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tenang saja, Mbak Danastri.”Aku mengangguk tapi dengan wajah lesu menatap

  • Romansa Rapshodi   BAB 55

    Selama aku di sini mereka menceritakan tentang kehidupan bapak yang membuatku kagum padanya, bapak terlahir dari kaum priyayi yang menjunjung tinggi rasa tolong menolong pada orang lain. Bahkan bapak dari umur belasan tahun sudah belajar meracik obat-obatan dan mencoba untuk merantau. Saat bapak tidak ada keluarga ini baru mengetahui kabarnya satu bulan kemudian, dan mereka membujuk ibu untuk ikut tinggal bersama, tetapi ibuku memilih untuk tetap tinggal di desanya. Terkadang aku bahagia bisa di sini menikmati waktu bersama keluargaku sepanjang waktu, tetapi tetap saja ada pikiran yang mengganjal di otakku tentang kehidupan orang-orang di desaku. Jujur saja aku juga merindukan Raden Kaningrat bagaimana keadaan mereka sekarang di sana apakah baik-baik saja.“Mbak, apa yang menganggu pikiranmu itu?” tanya Damar setelah aku ikut membantunya berkeliling mengobati orang-orang.“Ah, tidak ada. Hanya sedikit lelah saja,” jawabku singkat. Jika dilihat disandingkan wajahku, Damar,

  • Romansa Rapshodi   BAB 18

    Mata bapak benar-benar menyalang bak orang yang sudah di luar kendali emosinya dan berjalan cepat meninggalkan Manik dan Atma. Di satu sisi diriku yang masih terluka menyusul kepergian bapak tanpa memedulikan suara Manik dan Atma, kali ini tidak bisa dibiarkan bapak benar-benar akan mengamuk.“Atma

  • Romansa Rapshodi   BAB 17

    “Hah? Tiba-tiba sekali kamu bertanya seperti itu?” gumamnya yang menaikkan kakinya di kursi panjang sambil membaringkan tubuh mengamati langit-langit rumah.“Jawab saja, kalau bisa siapa orangnya,” pintaku yang mendapat tatapan keheranan. “Tentu saja pernah, aku ini normal....denganmu,” ucapnya ent

  • Romansa Rapshodi   BAB 16

    Gema suara penonton dan suara gamelan terdengar jelas di penjuru keraton bahkan selama acara perayaan ulang tahun ini, semua masyarakat diizinkan untuk menonton. Kini di ruangan tempat kami para penari sedang bersiap terlihat sibuk membenahi riasan. Aku menatap sesuatu yang ada di tanganku sampai,

  • Romansa Rapshodi   BAB 15

    Rasanya sangat sulit untuk bernapas di sini bahkan saat ini aku bisa mendengar degup jantungku yang berpacu dengan cepat. Dua orang di depanku tidak mengeluarkan sepatah katapun membuat napasku tercekat. Tanpa kusadari aku sudah merapal doa agar terbebas dari situasi yang sangat tidak menguntungkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status