로그인Hari pertama semester dua, Rian datang lebih pagi dari biasanya. Namun pagi itu motornya tidak langsung menuju sekolah. Ia justru membelok ke arah Warzam, warung kecil yang selalu ramai oleh siswa setiap pagi.Dari kejauhan saja suasananya sudah terlihat padat. Motor terparkir rapat di depan warung. Beberapa siswa berdiri sambil mengobrol, sebagian lain duduk di bangku kayu panjang sambil menikmati sarapan seadanya.Yang membuat Rian sedikit heran, ada beberapa anak kelas satu di sana. Ia memarkir motornya di bawah pohon cengkeh, lalu berjalan mendekat.“Lah Jar, ngapain kesini pagi-pagi?” tanyanya.Fajar menoleh sambil tersenyum.“Iya A, kan semester dua kelas satu masuk pagi sekarang.”Rian mengangguk pelan. Ia baru teringat sesuatu yang pernah dikatakan Lidya beberapa waktu lalu.“Oh... pantesan,”“Kenapa gitu, A?” tanya Fajar.“Gak apa-apa, Jar.”Ia lalu ikut bergabung dengan mereka. Obrolan pagi itu ringan saja––tentang liburan yang baru selesai, tentang pelajaran yang sebentar l
HP di atas meja belajar Rian tiba-tiba bergetar. Layar yang menyala menampilkan satu nama.Lidya.Rian menatap nama itu sebentar sebelum meraih HP-nya dan mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum.”Suara Lidya terdengar dari seberang.“Wa’alaikumsalam, aku ganggu?”“Enggak,” jawab Rian santai.“Kenapa?”Ada jeda sebentar sebelum Lidya berbicara lagi.“Foto di kamera kamu kemarin banyak kan?”Rian melirik kamera yang masih tergeletak di meja sejak hari mereka ke Braga.“Gak tau.”“Kamu udah liat?”“Belum.”“Belum sama sekali?”“Belum sempet,” jawab Rian.“Kenapa?”Di seberang telepon, Lidya terdiam sesaat.“Di kameranya ada yang kamu hapus gak?”Rian mengernyit sedikit.“Enggak lah. Aku aja belum buka.”Hening beberapa detik.Di sisi lain telepon, Lidya tanpa sadar menghela napas pelan.Syukurlah.Ia sempat khawatir Rian sudah melihat semua isi kamera itu. Termasuk satu dua foto yang ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Rian.“Kenapa?” tanya Rian.“Gak apa-apa.”Nada suara Lidya kemba
Pagi itu Rian berdiri di kamar sambil memainkan HP-nya. Ia menarik napas pendek, lalu menekan nama Lidya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum diangkat.“Assalamualaikum.” Suara Lidya terdengar lebih pelan dari biasanya.“Waalaikumsalam, lagi apa?”“Lagi diem aja sih.”Rian berhenti sebentar. “Main, yuk.”“Ke mana?”“Nonton... atau ke mall gitu, Jalan-jalan.”Hening beberapa detik. Dari seberang, terdengar suara kipas angin berputar pelan.“Males ah.”Jawabannya lembut, tapi jelas.Rian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tembok.“Oh... ya udah.”Ia hampir ingin menutup telepon ketika suara Lidya menyusul cepat.“Tapi kalau kamu mau ...”Rian mengernyit. “Apa?”“Aku pengen ke tempat lain.”“Ke mana?”“Nanti aja, mau janjian dimana?”Rian tersenyum kecil.“Aku jemput ke rumah kamu aja.”“Iya.”Telepon ditutup.Rian mengambil tas selempangnya, lalu pandangannya berhenti pada kamera di meja belajar. Ia terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis. Tanpa banyak pikir, ia memasuk
Ujian semester satu baru saja selesai. Belum sempat suasana tenang, sekolah sudah kembali riuh oleh pekan olahraga antar kelas. Spanduk warna-warni tergantung di pagar, suara peluit bersahut-sahutan, dan deretan siswa memenuhi sisi lapangan.Di lorong kantin, Rendi berdiri bersama beberapa temannya. Ia melihat ke arah Laras yang sedang duduk bersama Lidya. Ia lalu menghampirinya dengan langkah santai. “Ras. Nonton ya, nanti gue tanding basket,” katanya santai, tapi suaranya cukup keras untuk didengar.Laras mengangkat wajah. “Liat nanti ya, emang lawan kelas berapa?”“Lawan tiga IPA empat.”Lidya yang sedang membuka botol minum berhenti sebentar, tangannya terdiam.Tiga IPA empat, itu kan kelas Rian.Rendi tidak menyadarinya. Ia hanya menyeringai kecil ke arah Laras, lalu melirik sekilas ke Lidya.“Jangan lupa nonton ya.”Laras menoleh ke Lidya. “Nonton yuk, Lid?”Lidya tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke lorong yang mulai dilalui para siswa. Beberapa detik kemudian, ia
Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Namun satu kalimat Hany masih tertinggal di kepala Rian. Kadang cewek juga menunggu, tapi tidak mau kelihatan menunggu.Rian berjalan ke gerbang, menyerahkan kunci motornya ke Diki. Ia berhenti di pos satpam samping gerbang sekolah, pura-pura membaca kertas pengumuman yang di tempel di kaca pos.Tak lama, suara riuh terdengar dari aula. Lidya keluar dari aula bersama Laras.Rian tidak langsung menoleh. Baru ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia membalikkan badan baru sadar ada orang di dekatnya.“Eh.”Lidya berhenti. Laras ikut menghentikan langkahnya.“Kamu belum pulang?” tanya Lidya.“Belum,” jawab Rian singkat.“Nunggu temen.”Laras menahan senyum kecil.Rian menatap Lidya sebentar.“Besok sanlatnya sore kan.”“Iya.”“Kalau pulangnya... buka bareng?”Tidak ada penjelasan, hanya kalimat sederhana yang keluar pelanLidya terdiam sebentar. “Aku izin dulu sama Papah sama Mamah ya. Nanti di kabarin lagi.”Rian mengangguk. “Iya.”Lar
Bulan Ramadan tiba, kegiatan yang biasanya belajar. Kini menjadi pesantren kilat.Lapangan sudah penuh sejak pagi. Karpet digelar memanjang dan hijab pembatas antara laki-laki dan perempuan terpasang rapi. Anak-anak duduk bersila berderet sesuai kelas. Di depan, meja panjang ditutup kain hijau. Mikrofon berdiri tegak, sesekali memantulkan suara dengung halus.Rian duduk di barisan belakang, bersama anak-anak kelas tiga. Busana muslim putihnya sedikit kusut di bagian punggung. Tangan kirinya memutar bolpoin tanpa sadar.Suara ustaz menggema pelan melalui pengeras suara.“Puasa itu bukan cuma menahan lapar...”Barisan depan duduk tegak dan tenang. Semakin ke belakang, bisik-bisik kecil mulai terdengar. Matahari mulai terasa di punggung baju putih mereka.Rian menoleh ke arah barisan siswi yang terhalang hijab pembatas. Dari balik kain itu terdengar suara berbisik dan tawa yang ditahan.“Warzam, buka bareng kapan Zak?” Bisiknya.“Belum tau euy, minggu depan kayaknya.” Jawab Zaki pelan.O







