Startseite / Young Adult / Romantic Purple / Perasaan yang Belum Jelas

Teilen

Perasaan yang Belum Jelas

last update Veröffentlichungsdatum: 22.05.2026 17:16:49

“Three point, Yan!”

Suara Zaki terdengar lantang di tengah lapangan. Bola melayang cepat ke arah Rian. Ia menangkapnya dengan refleks, lalu tanpa banyak berpikir langsung melepaskan tembakan dari luar garis tiga poin. Bola berputar di udara dan––masuk.

“Masuk!” teriak seseorang, disusul sorakan dan tawa yang pecah bersamaan.

Rian tersenyum tipis sambil mengepalkan tangannya, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia mencetak angka. Dadanya naik turun, napasnya masih berat, tapi ritmenya perlahan kembali teratur.

            “Gak berubah,” kata Zaki sambil menepuk punggungnya.

            “Shoot-nya masih rapi.”

Rian hanya mengangguk, lalu berjalan ke pinggir lapangan. Ia memberi isyarat pada temannya untuk menggantikan posisi, kemudian bersandar di tembok. Seragamnya sudah basah oleh keringat. Di saat seperti ini, pikirannya biasanya kembali jernih.

Permainan berhenti tak lama kemudian. Terik matahari siang membuat mereka cepat lelah. Mereka duduk bergerombol di satu sisi lapangan, botol minum berpindah tangan, beberapa langsung merebahkan diri.

Suara langkah kaki mendekat. Sekelompok siswa kelas satu datang ke lapangan. Rian melirik jam di tangannya—sudah pukul tiga sore.

“Wah, pada main basket nih,” kata Fajar sambil mengambil bola.

“A, tanding yuk. Kelas satu lawan kelas tiga, mau gak?” lanjutnya.

Zaki mengangkat kepala lebih dulu. “Boleh. Three on three aja biar cepet. Yan, main lagi ya.”

Rian menoleh, masih mencoba menstabilkan napasnya.

“Hayu, A,” kata Fajar lagi, kali ini dengan nada lebih keras.

“Nanti kalau menang, saya kenalin langsung sama Lidya.”

Suasana mendadak berubah. Beberapa kepala menoleh. Bisik-bisik kecil mulai terdengar.

“Hah? Lidya?” seseorang bersuara.

Rian terdiam sejenak.

Ada sesuatu yang langsung terasa tidak nyaman.

“Kurang keras, Jar,” sela Zaki cepat, mencoba mencairkan suasana.

“Udah, ayo mulai aja.”

Tawa kecil muncul, cukup untuk meredakan ketegangan yang sempat menggantung. Bola dipantulkan ke lantai. Permainan dimulai, kelas satu langsung menyerang. Fajar menggiring bola dengan cepat, penuh semangat.

“Oper, Jar!” teriak temannya.

Operannya terlalu tinggi. Bola hampir keluar sebelum berhasil diselamatkan. Rian memperhatikan dengan tenang. Ia tidak langsung menekan.

Serangan pertama gagal.

Zaki mengambil bola, mengoper ke Rian. Dalam satu gerakan, Rian menggiring, berhenti, lalu mengoper kembali. Ia memilih membangun permainan pelan, tidak terburu-buru.

“Main santai aja,” ujar Zaki pelan.

Rian mengangguk.

Permainan berjalan semakin cepat. Nafas mulai berat lagi, keringat kembali mengalir. Rian membaca gerakan lawan, menutup ruang, memotong jalur operan. Beberapa kali ia berhasil mencuri bola.

Di sisi lain, Fajar terlihat semakin agresif. Ia memaksakan serangan, mencoba menembus pertahanan, nyaris bertabrakan beberapa kali.

“Main yang rapi dong,” kata salah satu anak kelas satu, setengah kesal.

            Skor berjalan ketat.

Setiap poin disambut sorakan singkat. Rian mencetak angka dari jarak menengah, lalu memberi assist ke Zaki. Sampai akhirnya satu momen datang. Rian menerima bola di luar garis tiga poin. Ruang terbuka. Tubuhnya sudah hafal gerakan itu, namun kali ini, ia menahan.

Permainan berlanjut beberapa detik lagi. Nafas semua pemain terdengar jelas. Matahari mulai condong, bayangan memanjang di lapangan. Poin terakhir ditentukan dari satu serangan. Bola kembali di tangan Rian. Ia menggiring perlahan, menunggu celah. Fajar berdiri di depannya, napasnya berat, matanya fokus.

“Lewatin, Yan!” teriak Zaki.

Rian tidak menjawab. Ia bergerak ke kiri, lalu cepat beralih ke kanan. Fajar terlambat setengah langkah. Rian melompat kemudian menembak, bola masuk.

Permainan selesai.

Rian mengambil botol minumnya, meneguk pelan. Napasnya mulai stabil. Tubuhnya lelah, tapi bukan itu yang paling terasa. Ada sesuatu yang tertinggal, bukan dari permainan. Melainkan dari satu kalimat yang tadi terucap terlalu keras.

Ia menyadari, untuk pertama kalinya, sesuatu yang seharusnya kecil kini terdengar oleh lebih banyak orang dari yang ia inginkan.

“A,” panggil Fajar.

Rian menoleh.

“Maaf ya tadi,” katanya sambil menggaruk tengkuk.

“Kekencengan ngomongnya.”

Rian mengangguk. “Santai... tapi bener ya, kenalin,” jawabnya setengah bercanda.

Fajar tersenyum lega, lalu kembali ke teman-temannya.

Lapangan mulai sepi. Satu per satu siswa beranjak pergi. Rian kembali duduk di tempatnya, bersandar ke tembok, menatap langit yang mulai berubah warna.

Sore bergerak pelan.

“Warzam yuk?” tawar seseorang.

Rian menggeleng. “Langsung pulang aja.”

Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka hanya mengangguk. Rian berjalan ke parkiran. Suara mesin motor mulai memenuhi udara. Ia mengenakan helm, lalu duduk sejenak sebelum menyalakan mesin.

Untuk pertama kalinya, ia tidak benar-benar ingin memikirkan apa pun, namun pikirannya tidak sepenuhnya diam. Ada satu hal kecil yang terus mengendap––bahwa sesuatu yang selama ini ia jaga agar tetap sunyi, perlahan mulai terdengar oleh orang lain, dan kali ini, ia tidak yakin bisa mengendalikannya seperti sebelumnya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Romantic Purple   Tak Lagi Rahasia

    Hari pertama semester dua, Rian datang lebih pagi dari biasanya. Namun pagi itu motornya tidak langsung menuju sekolah. Ia justru membelok ke arah Warzam, warung kecil yang selalu ramai oleh siswa setiap pagi.Dari kejauhan saja suasananya sudah terlihat padat. Motor terparkir rapat di depan warung. Beberapa siswa berdiri sambil mengobrol, sebagian lain duduk di bangku kayu panjang sambil menikmati sarapan seadanya.Yang membuat Rian sedikit heran, ada beberapa anak kelas satu di sana. Ia memarkir motornya di bawah pohon cengkeh, lalu berjalan mendekat.“Lah Jar, ngapain kesini pagi-pagi?” tanyanya.Fajar menoleh sambil tersenyum.“Iya A, kan semester dua kelas satu masuk pagi sekarang.”Rian mengangguk pelan. Ia baru teringat sesuatu yang pernah dikatakan Lidya beberapa waktu lalu.“Oh... pantesan,”“Kenapa gitu, A?” tanya Fajar.“Gak apa-apa, Jar.”Ia lalu ikut bergabung dengan mereka. Obrolan pagi itu ringan saja––tentang liburan yang baru selesai, tentang pelajaran yang sebentar l

  • Romantic Purple   Warna yang Tertinggal

    HP di atas meja belajar Rian tiba-tiba bergetar. Layar yang menyala menampilkan satu nama.Lidya.Rian menatap nama itu sebentar sebelum meraih HP-nya dan mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum.”Suara Lidya terdengar dari seberang.“Wa’alaikumsalam, aku ganggu?”“Enggak,” jawab Rian santai.“Kenapa?”Ada jeda sebentar sebelum Lidya berbicara lagi.“Foto di kamera kamu kemarin banyak kan?”Rian melirik kamera yang masih tergeletak di meja sejak hari mereka ke Braga.“Gak tau.”“Kamu udah liat?”“Belum.”“Belum sama sekali?”“Belum sempet,” jawab Rian.“Kenapa?”Di seberang telepon, Lidya terdiam sesaat.“Di kameranya ada yang kamu hapus gak?”Rian mengernyit sedikit.“Enggak lah. Aku aja belum buka.”Hening beberapa detik.Di sisi lain telepon, Lidya tanpa sadar menghela napas pelan.Syukurlah.Ia sempat khawatir Rian sudah melihat semua isi kamera itu. Termasuk satu dua foto yang ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Rian.“Kenapa?” tanya Rian.“Gak apa-apa.”Nada suara Lidya kemba

  • Romantic Purple   Hari yang Ingin Diulang

    Pagi itu Rian berdiri di kamar sambil memainkan HP-nya. Ia menarik napas pendek, lalu menekan nama Lidya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum diangkat.“Assalamualaikum.” Suara Lidya terdengar lebih pelan dari biasanya.“Waalaikumsalam, lagi apa?”“Lagi diem aja sih.”Rian berhenti sebentar. “Main, yuk.”“Ke mana?”“Nonton... atau ke mall gitu, Jalan-jalan.”Hening beberapa detik. Dari seberang, terdengar suara kipas angin berputar pelan.“Males ah.”Jawabannya lembut, tapi jelas.Rian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tembok.“Oh... ya udah.”Ia hampir ingin menutup telepon ketika suara Lidya menyusul cepat.“Tapi kalau kamu mau ...”Rian mengernyit. “Apa?”“Aku pengen ke tempat lain.”“Ke mana?”“Nanti aja, mau janjian dimana?”Rian tersenyum kecil.“Aku jemput ke rumah kamu aja.”“Iya.”Telepon ditutup.Rian mengambil tas selempangnya, lalu pandangannya berhenti pada kamera di meja belajar. Ia terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis. Tanpa banyak pikir, ia memasuk

  • Romantic Purple   Yang Masih Tinggal

    Ujian semester satu baru saja selesai. Belum sempat suasana tenang, sekolah sudah kembali riuh oleh pekan olahraga antar kelas. Spanduk warna-warni tergantung di pagar, suara peluit bersahut-sahutan, dan deretan siswa memenuhi sisi lapangan.Di lorong kantin, Rendi berdiri bersama beberapa temannya. Ia melihat ke arah Laras yang sedang duduk bersama Lidya. Ia lalu menghampirinya dengan langkah santai. “Ras. Nonton ya, nanti gue tanding basket,” katanya santai, tapi suaranya cukup keras untuk didengar.Laras mengangkat wajah. “Liat nanti ya, emang lawan kelas berapa?”“Lawan tiga IPA empat.”Lidya yang sedang membuka botol minum berhenti sebentar, tangannya terdiam.Tiga IPA empat, itu kan kelas Rian.Rendi tidak menyadarinya. Ia hanya menyeringai kecil ke arah Laras, lalu melirik sekilas ke Lidya.“Jangan lupa nonton ya.”Laras menoleh ke Lidya. “Nonton yuk, Lid?”Lidya tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke lorong yang mulai dilalui para siswa. Beberapa detik kemudian, ia

  • Romantic Purple   Di Balik Pagar Rumahmu

    Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Namun satu kalimat Hany masih tertinggal di kepala Rian. Kadang cewek juga menunggu, tapi tidak mau kelihatan menunggu.Rian berjalan ke gerbang, menyerahkan kunci motornya ke Diki. Ia berhenti di pos satpam samping gerbang sekolah, pura-pura membaca kertas pengumuman yang di tempel di kaca pos.Tak lama, suara riuh terdengar dari aula. Lidya keluar dari aula bersama Laras.Rian tidak langsung menoleh. Baru ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia membalikkan badan baru sadar ada orang di dekatnya.“Eh.”Lidya berhenti. Laras ikut menghentikan langkahnya.“Kamu belum pulang?” tanya Lidya.“Belum,” jawab Rian singkat.“Nunggu temen.”Laras menahan senyum kecil.Rian menatap Lidya sebentar.“Besok sanlatnya sore kan.”“Iya.”“Kalau pulangnya... buka bareng?”Tidak ada penjelasan, hanya kalimat sederhana yang keluar pelanLidya terdiam sebentar. “Aku izin dulu sama Papah sama Mamah ya. Nanti di kabarin lagi.”Rian mengangguk. “Iya.”Lar

  • Romantic Purple   Tentang Kepastian

    Bulan Ramadan tiba, kegiatan yang biasanya belajar. Kini menjadi pesantren kilat.Lapangan sudah penuh sejak pagi. Karpet digelar memanjang dan hijab pembatas antara laki-laki dan perempuan terpasang rapi. Anak-anak duduk bersila berderet sesuai kelas. Di depan, meja panjang ditutup kain hijau. Mikrofon berdiri tegak, sesekali memantulkan suara dengung halus.Rian duduk di barisan belakang, bersama anak-anak kelas tiga. Busana muslim putihnya sedikit kusut di bagian punggung. Tangan kirinya memutar bolpoin tanpa sadar.Suara ustaz menggema pelan melalui pengeras suara.“Puasa itu bukan cuma menahan lapar...”Barisan depan duduk tegak dan tenang. Semakin ke belakang, bisik-bisik kecil mulai terdengar. Matahari mulai terasa di punggung baju putih mereka.Rian menoleh ke arah barisan siswi yang terhalang hijab pembatas. Dari balik kain itu terdengar suara berbisik dan tawa yang ditahan.“Warzam, buka bareng kapan Zak?” Bisiknya.“Belum tau euy, minggu depan kayaknya.” Jawab Zaki pelan.O

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status