تسجيل الدخول“Three point, Yan!”
Suara Zaki terdengar lantang di tengah lapangan. Bola melayang cepat ke arah Rian. Ia menangkapnya dengan refleks, lalu tanpa banyak berpikir langsung melepaskan tembakan dari luar garis tiga poin. Bola berputar di udara dan––masuk.
“Masuk!” teriak seseorang, disusul sorakan dan tawa yang pecah bersamaan.
Rian tersenyum tipis sambil mengepalkan tangannya, kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali ia mencetak angka. Dadanya naik turun, napasnya masih berat, tapi ritmenya perlahan kembali teratur.
“Gak berubah,” kata Zaki sambil menepuk punggungnya.
“Shoot-nya masih rapi.”
Rian hanya mengangguk, lalu berjalan ke pinggir lapangan. Ia memberi isyarat pada temannya untuk menggantikan posisi, kemudian bersandar di tembok. Seragamnya sudah basah oleh keringat. Di saat seperti ini, pikirannya biasanya kembali jernih.
Permainan berhenti tak lama kemudian. Terik matahari siang membuat mereka cepat lelah. Mereka duduk bergerombol di satu sisi lapangan, botol minum berpindah tangan, beberapa langsung merebahkan diri.
Suara langkah kaki mendekat. Sekelompok siswa kelas satu datang ke lapangan. Rian melirik jam di tangannya—sudah pukul tiga sore.
“Wah, pada main basket nih,” kata Fajar sambil mengambil bola.
“A, tanding yuk. Kelas satu lawan kelas tiga, mau gak?” lanjutnya.
Zaki mengangkat kepala lebih dulu. “Boleh. Three on three aja biar cepet. Yan, main lagi ya.”
Rian menoleh, masih mencoba menstabilkan napasnya.
“Hayu, A,” kata Fajar lagi, kali ini dengan nada lebih keras.
“Nanti kalau menang, saya kenalin langsung sama Lidya.”
Suasana mendadak berubah. Beberapa kepala menoleh. Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
“Hah? Lidya?” seseorang bersuara.
Rian terdiam sejenak.
Ada sesuatu yang langsung terasa tidak nyaman.
“Kurang keras, Jar,” sela Zaki cepat, mencoba mencairkan suasana.
“Udah, ayo mulai aja.”
Tawa kecil muncul, cukup untuk meredakan ketegangan yang sempat menggantung. Bola dipantulkan ke lantai. Permainan dimulai, kelas satu langsung menyerang. Fajar menggiring bola dengan cepat, penuh semangat.
“Oper, Jar!” teriak temannya.
Operannya terlalu tinggi. Bola hampir keluar sebelum berhasil diselamatkan. Rian memperhatikan dengan tenang. Ia tidak langsung menekan.
Serangan pertama gagal.
Zaki mengambil bola, mengoper ke Rian. Dalam satu gerakan, Rian menggiring, berhenti, lalu mengoper kembali. Ia memilih membangun permainan pelan, tidak terburu-buru.
“Main santai aja,” ujar Zaki pelan.
Rian mengangguk.
Permainan berjalan semakin cepat. Nafas mulai berat lagi, keringat kembali mengalir. Rian membaca gerakan lawan, menutup ruang, memotong jalur operan. Beberapa kali ia berhasil mencuri bola.
Di sisi lain, Fajar terlihat semakin agresif. Ia memaksakan serangan, mencoba menembus pertahanan, nyaris bertabrakan beberapa kali.
“Main yang rapi dong,” kata salah satu anak kelas satu, setengah kesal.
Skor berjalan ketat.
Setiap poin disambut sorakan singkat. Rian mencetak angka dari jarak menengah, lalu memberi assist ke Zaki. Sampai akhirnya satu momen datang. Rian menerima bola di luar garis tiga poin. Ruang terbuka. Tubuhnya sudah hafal gerakan itu, namun kali ini, ia menahan.
Permainan berlanjut beberapa detik lagi. Nafas semua pemain terdengar jelas. Matahari mulai condong, bayangan memanjang di lapangan. Poin terakhir ditentukan dari satu serangan. Bola kembali di tangan Rian. Ia menggiring perlahan, menunggu celah. Fajar berdiri di depannya, napasnya berat, matanya fokus.
“Lewatin, Yan!” teriak Zaki.
Rian tidak menjawab. Ia bergerak ke kiri, lalu cepat beralih ke kanan. Fajar terlambat setengah langkah. Rian melompat kemudian menembak, bola masuk.
Permainan selesai.
Rian mengambil botol minumnya, meneguk pelan. Napasnya mulai stabil. Tubuhnya lelah, tapi bukan itu yang paling terasa. Ada sesuatu yang tertinggal, bukan dari permainan. Melainkan dari satu kalimat yang tadi terucap terlalu keras.
Ia menyadari, untuk pertama kalinya, sesuatu yang seharusnya kecil kini terdengar oleh lebih banyak orang dari yang ia inginkan.
“A,” panggil Fajar.
Rian menoleh.
“Maaf ya tadi,” katanya sambil menggaruk tengkuk.
“Kekencengan ngomongnya.”
Rian mengangguk. “Santai... tapi bener ya, kenalin,” jawabnya setengah bercanda.
Fajar tersenyum lega, lalu kembali ke teman-temannya.
Lapangan mulai sepi. Satu per satu siswa beranjak pergi. Rian kembali duduk di tempatnya, bersandar ke tembok, menatap langit yang mulai berubah warna.
Sore bergerak pelan.
“Warzam yuk?” tawar seseorang.
Rian menggeleng. “Langsung pulang aja.”
Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka hanya mengangguk. Rian berjalan ke parkiran. Suara mesin motor mulai memenuhi udara. Ia mengenakan helm, lalu duduk sejenak sebelum menyalakan mesin.
Untuk pertama kalinya, ia tidak benar-benar ingin memikirkan apa pun, namun pikirannya tidak sepenuhnya diam. Ada satu hal kecil yang terus mengendap––bahwa sesuatu yang selama ini ia jaga agar tetap sunyi, perlahan mulai terdengar oleh orang lain, dan kali ini, ia tidak yakin bisa mengendalikannya seperti sebelumnya.
Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar
Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i
Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen
Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb
“Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera
Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?
Rian baru menyadari ada PR yang belum ia kerjakan ketika melihat satu per satu temannya maju ke meja guru untuk mengumpulkan buku tulis. Gerakan mereka terasa biasa, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya tertarik kembali ke kenyataan. Guru berdiri di depan kelas, lalu mengan
Diskusi di kelas hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena gurunya belum datang, melainkan karena semua orang sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri. Buku kenangan. Kursi-kursi tidak lagi menghadap rapi ke depan. Beberapa diputar sete
Lidya. Nama itu tidak benar-benar Rian ulangi, bahkan tidak ia ucapkan dalam hati. Hanya sekedar lewat sebentar, seperti catatan kecil di pinggir halaman yang belum tentu akan dibaca ulang. Rian tidak berusaha menahannya, juga tidak mencoba mengusirnya. Pagi itu berjalan sep
Udara pagi terasa segar, menyisakan dingin dari hujan semalam. Sinar matahari menembus celah awan tipis, jatuh di rerumputan yang masih basah. Lorong sekolah dipenuhi suara langkah kaki, tawa yang bersahutan, dan aroma kertas lembap yang bercampur dengan tanah dari taman belakang.Semuanya tampak s







