แชร์

Jarak yang Tidak Terlihat

ผู้เขียน: aquarian
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-02 14:51:30

Lidya.

            Nama itu tidak benar-benar Rian ulangi, bahkan tidak ia ucapkan dalam hati. Hanya sekedar lewat sebentar, seperti catatan kecil di pinggir halaman yang belum tentu akan dibaca ulang. Rian tidak berusaha menahannya, juga tidak mencoba mengusirnya.

            Pagi itu berjalan seperti biasa. Motor diparkir di tempat yang hampir selalu sama, helm ditinggal, tas disampirkan ke bahu. Langkahnya menyusuri area sekolah dengan ritme yang sudah ia kenal luar dalam.

Dari luar, tidak ada yang tampak berubah. Hanya cara pikirannya yang sedikit bergeser.

            Rian menyapa satu dua teman dengan anggukan singkat. Tidak sedang menghindari siapa pun, juga tidak mencari. Namun kini, jika matanya menangkap sosok yang sama lagi, ia tahu ia tidak lagi melihatnya sebagai seseorang tanpa nama.

            Pelajaran berjalan seperti biasa. Guru berbicara panjang, beberapa siswa mencatat, sebagian lain menguap atau berbisik pelan. Rian mendengarkan tanpa kesulitan, tetapi di sela-sela itu.

Pikirannya menyentuh hal-hal kecil yang tidak ia rencanakan. Perpustakaan, jendela kaca, seseorang yang membaca tanpa tergesa.

            Ia berhenti menulis sejenak, lalu melanjutkan lagi, seolah jeda itu tidak berarti. Tidak ada alasan baginya untuk menahan pikiran itu. Ia tidak merasa tertarik––setidaknya tidak dalam arti yang ia kenal. Lebih seperti kesadaran baru bahwa ada sesuatu yang mulai ia perhatikan dan itu membuatnya tidak nyaman.

            Saat bel pergantian jam berbunyi, suasana kelas berubah. Kursi bergeser, suara naik, percakapan kecil bermunculan. Rian merapikan bukunya dan berdiri sebentar untuk meregangkan punggung.

            Irna menyebut namanya, mengingatkan soal urusan OSIS. Rian mengangguk tanpa bertanya.

Ia sadar, belakangan ini namanya memang lebih sering disebut. Bukan karena ingin menonjol, tetapi karena orang-orang merasa ia bisa diandalkan untuk hal-hal berkaitan dengan sekolah.

            Koordinasi. Dokumentasi. Hal-hal yang berjalan di balik layar.

            Saat istirahat, ia keluar bersama beberapa temannya. Obrolan ringan mengalir tanpa arah. Rian ikut tertawa di beberapa bagian kemudian diam di bagian lain.

Mereka melewati lorong yang sama seperti hari-hari sebelumnya––lorong yang beberapa hari lalu sempat membuatnya berhenti tanpa alasan.

            Rian tidak berniat ke perpustakaan. Ia hanya memilih jalur yang lebih sepi. Lorong dekat lapangan biasanya lengang menjelang akhir istirahat. Ia memang sering memilih jalan seperti itu––tidak terlalu ramai dan berisik.

            Langkahnya tenang, tangan masuk ke saku jaket. Matanya tidak mencari apa pun. Sampai suara itu terdengar, bunyi kertas jatuh disusul gesekan kursi yang halus. Ia menoleh, pintu perpustakaan terbuka setengah. Dari celah itu, ia melihat seseorang berdiri di antara meja dan rak buku. Beberapa lembar kertas berserakan di lantai. Buku terbuka tergeletak, terbalik.

            Dia.

            Sweater yang sama dan rambut yang sama. Tapi kali ini, tidak dalam keadaan tenang seperti biasanya.

Ada sedikit kepanikan kecil dalam gerakannya—bukan panik besar, hanya ketidaksiapan. Seperti seseorang yang terlalu tenggelam dalam bacaannya, lalu tersentak kembali ke dunia.

            Rian berhenti.

            Ia bisa saja berjalan lewat. Tidak ada yang menuntutnya masuk dan melihatnya. Tapi tubuhnya bergerak lebih dulu. Ia mendorong pintu sedikit, melangkah setengah masuk.

            “Ini jatuh,” katanya pelan.

            Suaranya terasa lebih pelan dari yang ia perkirakan.

            Siswi itu menoleh. Gerakannya cepat, lalu berhenti.

Tatapan mereka bertemu sesaat—cukup untuk menyadari kehadiran satu sama lain.

            “Oh... iya. Makasih.” Suaranya sedikit terburu, seperti tidak menduga akan ditemani.

            Rian memungut satu lembar kertas di dekat kakinya, lalu menyerahkannya tanpa menyentuh tangannya. Jarak dijaga, nyaris berlebihan.

            “Buku catatan?” tanyanya.

            “Iya.”

“Buat ringkasan,” lanjutnya.

            Rian mengangguk. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

            “Makasih ya,” kata siswi itu lagi.

Kali ini sambil merapikan kertasnya.

            “Iya,” jawab Rian singkat.

Ia berbalik dan keluar, begitu sampai di lorong langkahnya terasa sedikit lebih berat. Bukan karena percakapan itu penting, tetapi karena terlalu sederhana––dan justru itu yang membuatnya terasa nyata.

Rian sadar sesuatu yang membuatnya tidak nyaman: interaksi tadi tidak memberinya jarak. Selama ini, ia terbiasa melihat tanpa dilihat balik. Tapi kali ini, keberadaannya diakui dan itu mengubah sesuatu, meski kecil.

            Di kelas, ia duduk lebih diam dari biasanya. Pena bergerak, lalu berhenti. Ia menulis satu baris, lalu mencoretnya lagi—bukan karena salah, tetapi karena terasa tidak tepat.

            Diki menepuk bahunya. “Yan, ke mana tadi?”

            “Keliling,” jawab Rian.

            “Perpus?”

            Rian menoleh.

“Kenapa?”

            “Enggak. Kirain aja.”

            Ia menggeleng kecil. “Enggak.”

            Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Rian memang tidak berniat ke sana. Tapi ia tetap masuk dan perbedaan kecil itu terus mengganggunya.

            Sepanjang sisa pelajaran, pikirannya kembali ke percakapan singkat tadi. Bukan pada kata-katanya, tetapi pada nadanya. Cara siswi itu melihatnya—biasa saja, tetapi cukup untuk membuatnya terasa berbeda. Seolah ia adalah seseorang yang layak dikenali.

            Rian tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu.

Selama ini, ia terbiasa menjaga jarak.

Dengan orang.

Dengan perasaan.

Dengan kemungkinan.

Ia tahu bagaimana caranya tidak terlibat: tidak memberi ruang, tidak menafsirkan, tidak membiarkan sesuatu tumbuh, tapi yang barusan terjadi jelas bukan sekadar lewat.

            Sore harinya, ia duduk di Warzam bersama teman-temannya. Obrolan berjalan seperti biasa, melompat dari satu topik ke topik lain.

            “A, mau gak dikenalin?” tanya Fajar santai.

            “Hah, kenalan sama siapa?” sela Zaki.

            “Itu, A. Temen sekelas saya. Yang pake sweater putih-biru.”

            Suasana berubah tipis. Rian tidak langsung menjawab.

            “Udah, Yan. Gas aja. Cuma kenalan doang,” kata Zaki.

            Rian menarik napas kecil. “Gimana caranya?”

            “Kamu juga tau,” balas Zaki. “Cepet sebelum keduluan orang lain.”

            Rian mengangguk refleks. Bahkan ia sendiri tidak yakin kenapa.

            Menjelang Maghrib, satu per satu motor dinyalakan. Suara mesin bercampur dengan cahaya senja yang turun perlahan. Rian berdiri, mengenakan helm, lalu menyalakan motornya. Ia tidak memikirkan percakapan itu terlalu lama. Tidak mengulang nama itu dan membayangkan apa yang akan terjadi.

            Ada hal-hal yang, menurutnya, lebih aman jika dibiarkan tetap kecil.

            Ia menarik gas pelan dan meninggalkan Warzam. Namun untuk pertama kalinya, ia sadar—ada satu keputusan kecil yang terasa terlalu besar untuk benar-benar diabaikan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Romantic Purple   Tak Lagi Rahasia

    Hari pertama semester dua, Rian datang lebih pagi dari biasanya. Namun pagi itu motornya tidak langsung menuju sekolah. Ia justru membelok ke arah Warzam, warung kecil yang selalu ramai oleh siswa setiap pagi.Dari kejauhan saja suasananya sudah terlihat padat. Motor terparkir rapat di depan warung. Beberapa siswa berdiri sambil mengobrol, sebagian lain duduk di bangku kayu panjang sambil menikmati sarapan seadanya.Yang membuat Rian sedikit heran, ada beberapa anak kelas satu di sana. Ia memarkir motornya di bawah pohon cengkeh, lalu berjalan mendekat.“Lah Jar, ngapain kesini pagi-pagi?” tanyanya.Fajar menoleh sambil tersenyum.“Iya A, kan semester dua kelas satu masuk pagi sekarang.”Rian mengangguk pelan. Ia baru teringat sesuatu yang pernah dikatakan Lidya beberapa waktu lalu.“Oh... pantesan,”“Kenapa gitu, A?” tanya Fajar.“Gak apa-apa, Jar.”Ia lalu ikut bergabung dengan mereka. Obrolan pagi itu ringan saja––tentang liburan yang baru selesai, tentang pelajaran yang sebentar l

  • Romantic Purple   Warna yang Tertinggal

    HP di atas meja belajar Rian tiba-tiba bergetar. Layar yang menyala menampilkan satu nama.Lidya.Rian menatap nama itu sebentar sebelum meraih HP-nya dan mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum.”Suara Lidya terdengar dari seberang.“Wa’alaikumsalam, aku ganggu?”“Enggak,” jawab Rian santai.“Kenapa?”Ada jeda sebentar sebelum Lidya berbicara lagi.“Foto di kamera kamu kemarin banyak kan?”Rian melirik kamera yang masih tergeletak di meja sejak hari mereka ke Braga.“Gak tau.”“Kamu udah liat?”“Belum.”“Belum sama sekali?”“Belum sempet,” jawab Rian.“Kenapa?”Di seberang telepon, Lidya terdiam sesaat.“Di kameranya ada yang kamu hapus gak?”Rian mengernyit sedikit.“Enggak lah. Aku aja belum buka.”Hening beberapa detik.Di sisi lain telepon, Lidya tanpa sadar menghela napas pelan.Syukurlah.Ia sempat khawatir Rian sudah melihat semua isi kamera itu. Termasuk satu dua foto yang ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Rian.“Kenapa?” tanya Rian.“Gak apa-apa.”Nada suara Lidya kemba

  • Romantic Purple   Hari yang Ingin Diulang

    Pagi itu Rian berdiri di kamar sambil memainkan HP-nya. Ia menarik napas pendek, lalu menekan nama Lidya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum diangkat.“Assalamualaikum.” Suara Lidya terdengar lebih pelan dari biasanya.“Waalaikumsalam, lagi apa?”“Lagi diem aja sih.”Rian berhenti sebentar. “Main, yuk.”“Ke mana?”“Nonton... atau ke mall gitu, Jalan-jalan.”Hening beberapa detik. Dari seberang, terdengar suara kipas angin berputar pelan.“Males ah.”Jawabannya lembut, tapi jelas.Rian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tembok.“Oh... ya udah.”Ia hampir ingin menutup telepon ketika suara Lidya menyusul cepat.“Tapi kalau kamu mau ...”Rian mengernyit. “Apa?”“Aku pengen ke tempat lain.”“Ke mana?”“Nanti aja, mau janjian dimana?”Rian tersenyum kecil.“Aku jemput ke rumah kamu aja.”“Iya.”Telepon ditutup.Rian mengambil tas selempangnya, lalu pandangannya berhenti pada kamera di meja belajar. Ia terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis. Tanpa banyak pikir, ia memasuk

  • Romantic Purple   Yang Masih Tinggal

    Ujian semester satu baru saja selesai. Belum sempat suasana tenang, sekolah sudah kembali riuh oleh pekan olahraga antar kelas. Spanduk warna-warni tergantung di pagar, suara peluit bersahut-sahutan, dan deretan siswa memenuhi sisi lapangan.Di lorong kantin, Rendi berdiri bersama beberapa temannya. Ia melihat ke arah Laras yang sedang duduk bersama Lidya. Ia lalu menghampirinya dengan langkah santai. “Ras. Nonton ya, nanti gue tanding basket,” katanya santai, tapi suaranya cukup keras untuk didengar.Laras mengangkat wajah. “Liat nanti ya, emang lawan kelas berapa?”“Lawan tiga IPA empat.”Lidya yang sedang membuka botol minum berhenti sebentar, tangannya terdiam.Tiga IPA empat, itu kan kelas Rian.Rendi tidak menyadarinya. Ia hanya menyeringai kecil ke arah Laras, lalu melirik sekilas ke Lidya.“Jangan lupa nonton ya.”Laras menoleh ke Lidya. “Nonton yuk, Lid?”Lidya tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke lorong yang mulai dilalui para siswa. Beberapa detik kemudian, ia

  • Romantic Purple   Di Balik Pagar Rumahmu

    Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Namun satu kalimat Hany masih tertinggal di kepala Rian. Kadang cewek juga menunggu, tapi tidak mau kelihatan menunggu.Rian berjalan ke gerbang, menyerahkan kunci motornya ke Diki. Ia berhenti di pos satpam samping gerbang sekolah, pura-pura membaca kertas pengumuman yang di tempel di kaca pos.Tak lama, suara riuh terdengar dari aula. Lidya keluar dari aula bersama Laras.Rian tidak langsung menoleh. Baru ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia membalikkan badan baru sadar ada orang di dekatnya.“Eh.”Lidya berhenti. Laras ikut menghentikan langkahnya.“Kamu belum pulang?” tanya Lidya.“Belum,” jawab Rian singkat.“Nunggu temen.”Laras menahan senyum kecil.Rian menatap Lidya sebentar.“Besok sanlatnya sore kan.”“Iya.”“Kalau pulangnya... buka bareng?”Tidak ada penjelasan, hanya kalimat sederhana yang keluar pelanLidya terdiam sebentar. “Aku izin dulu sama Papah sama Mamah ya. Nanti di kabarin lagi.”Rian mengangguk. “Iya.”Lar

  • Romantic Purple   Tentang Kepastian

    Bulan Ramadan tiba, kegiatan yang biasanya belajar. Kini menjadi pesantren kilat.Lapangan sudah penuh sejak pagi. Karpet digelar memanjang dan hijab pembatas antara laki-laki dan perempuan terpasang rapi. Anak-anak duduk bersila berderet sesuai kelas. Di depan, meja panjang ditutup kain hijau. Mikrofon berdiri tegak, sesekali memantulkan suara dengung halus.Rian duduk di barisan belakang, bersama anak-anak kelas tiga. Busana muslim putihnya sedikit kusut di bagian punggung. Tangan kirinya memutar bolpoin tanpa sadar.Suara ustaz menggema pelan melalui pengeras suara.“Puasa itu bukan cuma menahan lapar...”Barisan depan duduk tegak dan tenang. Semakin ke belakang, bisik-bisik kecil mulai terdengar. Matahari mulai terasa di punggung baju putih mereka.Rian menoleh ke arah barisan siswi yang terhalang hijab pembatas. Dari balik kain itu terdengar suara berbisik dan tawa yang ditahan.“Warzam, buka bareng kapan Zak?” Bisiknya.“Belum tau euy, minggu depan kayaknya.” Jawab Zaki pelan.O

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status