เข้าสู่ระบบLidya.
Nama itu tidak benar-benar Rian ulangi, bahkan tidak ia ucapkan dalam hati. Hanya sekedar lewat sebentar, seperti catatan kecil di pinggir halaman yang belum tentu akan dibaca ulang. Rian tidak berusaha menahannya, juga tidak mencoba mengusirnya.
Pagi itu berjalan seperti biasa. Motor diparkir di tempat yang hampir selalu sama, helm ditinggal, tas disampirkan ke bahu. Langkahnya menyusuri area sekolah dengan ritme yang sudah ia kenal luar dalam.
Dari luar, tidak ada yang tampak berubah. Hanya cara pikirannya yang sedikit bergeser.
Rian menyapa satu dua teman dengan anggukan singkat. Tidak sedang menghindari siapa pun, juga tidak mencari. Namun kini, jika matanya menangkap sosok yang sama lagi, ia tahu ia tidak lagi melihatnya sebagai seseorang tanpa nama.
Pelajaran berjalan seperti biasa. Guru berbicara panjang, beberapa siswa mencatat, sebagian lain menguap atau berbisik pelan. Rian mendengarkan tanpa kesulitan, tetapi di sela-sela itu.
Pikirannya menyentuh hal-hal kecil yang tidak ia rencanakan. Perpustakaan, jendela kaca, seseorang yang membaca tanpa tergesa.
Ia berhenti menulis sejenak, lalu melanjutkan lagi, seolah jeda itu tidak berarti. Tidak ada alasan baginya untuk menahan pikiran itu. Ia tidak merasa tertarik––setidaknya tidak dalam arti yang ia kenal. Lebih seperti kesadaran baru bahwa ada sesuatu yang mulai ia perhatikan dan itu membuatnya tidak nyaman.
Saat bel pergantian jam berbunyi, suasana kelas berubah. Kursi bergeser, suara naik, percakapan kecil bermunculan. Rian merapikan bukunya dan berdiri sebentar untuk meregangkan punggung.
Irna menyebut namanya, mengingatkan soal urusan OSIS. Rian mengangguk tanpa bertanya.
Ia sadar, belakangan ini namanya memang lebih sering disebut. Bukan karena ingin menonjol, tetapi karena orang-orang merasa ia bisa diandalkan untuk hal-hal berkaitan dengan sekolah.
Koordinasi. Dokumentasi. Hal-hal yang berjalan di balik layar.
Saat istirahat, ia keluar bersama beberapa temannya. Obrolan ringan mengalir tanpa arah. Rian ikut tertawa di beberapa bagian kemudian diam di bagian lain.
Mereka melewati lorong yang sama seperti hari-hari sebelumnya––lorong yang beberapa hari lalu sempat membuatnya berhenti tanpa alasan.
Rian tidak berniat ke perpustakaan. Ia hanya memilih jalur yang lebih sepi. Lorong dekat lapangan biasanya lengang menjelang akhir istirahat. Ia memang sering memilih jalan seperti itu––tidak terlalu ramai dan berisik.
Langkahnya tenang, tangan masuk ke saku jaket. Matanya tidak mencari apa pun. Sampai suara itu terdengar, bunyi kertas jatuh disusul gesekan kursi yang halus. Ia menoleh, pintu perpustakaan terbuka setengah. Dari celah itu, ia melihat seseorang berdiri di antara meja dan rak buku. Beberapa lembar kertas berserakan di lantai. Buku terbuka tergeletak, terbalik.
Dia.
Sweater yang sama dan rambut yang sama. Tapi kali ini, tidak dalam keadaan tenang seperti biasanya.
Ada sedikit kepanikan kecil dalam gerakannya—bukan panik besar, hanya ketidaksiapan. Seperti seseorang yang terlalu tenggelam dalam bacaannya, lalu tersentak kembali ke dunia.
Rian berhenti.
Ia bisa saja berjalan lewat. Tidak ada yang menuntutnya masuk dan melihatnya. Tapi tubuhnya bergerak lebih dulu. Ia mendorong pintu sedikit, melangkah setengah masuk.
“Ini jatuh,” katanya pelan.
Suaranya terasa lebih pelan dari yang ia perkirakan.
Siswi itu menoleh. Gerakannya cepat, lalu berhenti.
Tatapan mereka bertemu sesaat—cukup untuk menyadari kehadiran satu sama lain.
“Oh... iya. Makasih.” Suaranya sedikit terburu, seperti tidak menduga akan ditemani.
Rian memungut satu lembar kertas di dekat kakinya, lalu menyerahkannya tanpa menyentuh tangannya. Jarak dijaga, nyaris berlebihan.
“Buku catatan?” tanyanya.
“Iya.”
“Buat ringkasan,” lanjutnya.
Rian mengangguk. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
“Makasih ya,” kata siswi itu lagi.
Kali ini sambil merapikan kertasnya.
“Iya,” jawab Rian singkat.
Ia berbalik dan keluar, begitu sampai di lorong langkahnya terasa sedikit lebih berat. Bukan karena percakapan itu penting, tetapi karena terlalu sederhana––dan justru itu yang membuatnya terasa nyata.
Rian sadar sesuatu yang membuatnya tidak nyaman: interaksi tadi tidak memberinya jarak. Selama ini, ia terbiasa melihat tanpa dilihat balik. Tapi kali ini, keberadaannya diakui dan itu mengubah sesuatu, meski kecil.
Di kelas, ia duduk lebih diam dari biasanya. Pena bergerak, lalu berhenti. Ia menulis satu baris, lalu mencoretnya lagi—bukan karena salah, tetapi karena terasa tidak tepat.
Diki menepuk bahunya. “Yan, ke mana tadi?”
“Keliling,” jawab Rian.
“Perpus?”
Rian menoleh.
“Kenapa?”
“Enggak. Kirain aja.”
Ia menggeleng kecil. “Enggak.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong. Rian memang tidak berniat ke sana. Tapi ia tetap masuk dan perbedaan kecil itu terus mengganggunya.
Sepanjang sisa pelajaran, pikirannya kembali ke percakapan singkat tadi. Bukan pada kata-katanya, tetapi pada nadanya. Cara siswi itu melihatnya—biasa saja, tetapi cukup untuk membuatnya terasa berbeda. Seolah ia adalah seseorang yang layak dikenali.
Rian tidak tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu.
Selama ini, ia terbiasa menjaga jarak.
Dengan orang.
Dengan perasaan.
Dengan kemungkinan.
Ia tahu bagaimana caranya tidak terlibat: tidak memberi ruang, tidak menafsirkan, tidak membiarkan sesuatu tumbuh, tapi yang barusan terjadi jelas bukan sekadar lewat.
Sore harinya, ia duduk di Warzam bersama teman-temannya. Obrolan berjalan seperti biasa, melompat dari satu topik ke topik lain.
“A, mau gak dikenalin?” tanya Fajar santai.
“Hah, kenalan sama siapa?” sela Zaki.
“Itu, A. Temen sekelas saya. Yang pake sweater putih-biru.”
Suasana berubah tipis. Rian tidak langsung menjawab.
“Udah, Yan. Gas aja. Cuma kenalan doang,” kata Zaki.
Rian menarik napas kecil. “Gimana caranya?”
“Kamu juga tau,” balas Zaki. “Cepet sebelum keduluan orang lain.”
Rian mengangguk refleks. Bahkan ia sendiri tidak yakin kenapa.
Menjelang Maghrib, satu per satu motor dinyalakan. Suara mesin bercampur dengan cahaya senja yang turun perlahan. Rian berdiri, mengenakan helm, lalu menyalakan motornya. Ia tidak memikirkan percakapan itu terlalu lama. Tidak mengulang nama itu dan membayangkan apa yang akan terjadi.
Ada hal-hal yang, menurutnya, lebih aman jika dibiarkan tetap kecil.
Ia menarik gas pelan dan meninggalkan Warzam. Namun untuk pertama kalinya, ia sadar—ada satu keputusan kecil yang terasa terlalu besar untuk benar-benar diabaikan.
Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar
Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i
Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen
Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb
“Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera
Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?
“Three point, Yan!”Suara Zaki terdengar lantang di tengah lapangan. Bola melayang cepat ke arah Rian. Ia menangkapnya dengan refleks, lalu tanpa banyak berpikir langsung melepaskan tembakan dari luar garis tiga poin. Bola berputar di udara dan––masuk.“Masuk!” teriak seseorang, disusul sorakan dan
Rian baru menyadari ada PR yang belum ia kerjakan ketika melihat satu per satu temannya maju ke meja guru untuk mengumpulkan buku tulis. Gerakan mereka terasa biasa, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya tertarik kembali ke kenyataan. Guru berdiri di depan kelas, lalu mengan
Diskusi di kelas hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena gurunya belum datang, melainkan karena semua orang sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri. Buku kenangan. Kursi-kursi tidak lagi menghadap rapi ke depan. Beberapa diputar sete
Udara pagi terasa segar, menyisakan dingin dari hujan semalam. Sinar matahari menembus celah awan tipis, jatuh di rerumputan yang masih basah. Lorong sekolah dipenuhi suara langkah kaki, tawa yang bersahutan, dan aroma kertas lembap yang bercampur dengan tanah dari taman belakang.Semuanya tampak s







