/ Young Adult / Romantic Purple / Waktu yang Tidak Disadari

공유

Waktu yang Tidak Disadari

작가: aquarian
last update 게시일: 2026-05-22 17:16:23

Rian baru menyadari ada PR yang belum ia kerjakan ketika melihat satu per satu temannya maju ke meja guru untuk mengumpulkan buku tulis. Gerakan mereka terasa biasa, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya tertarik kembali ke kenyataan.

            Guru berdiri di depan kelas, lalu mengangkat pandangan. “Yang belum mengumpulkan, ke depan.”

            Nada suaranya datar. Hanya cukup untuk membuat siapa pun yang dipanggil tidak bisa berpura-pura tidak dengar. Rian berdiri bersama tiga temannya. Mereka berjalan ke depan tanpa banyak bicara, membawa buku yang belum terisi dan alasan yang bahkan belum sempat mereka susun.

            Guru menatap mereka satu per satu. Tatapan yang biasanya singkat, kini bertahan lebih lama. Ada kerutan halus di dahinya—bukan marah, lebih seperti kecewa yang tidak perlu dijelaskan.

            “Kalian lupa?”

            Pertanyaan sederhana. Tidak menuduh, hanya memberi ruang untuk menjawab.

            Rian mengangguk kecil. Ia tahu, apa pun yang ia katakan hanya akan terdengar seperti pembelaan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak punya alasan yang cukup untuk menutupinya.

            Guru itu menarik napas pendek. “Kerjakan di perpustakaan. Sekarang.”

            Namun tatapan itu tertinggal lebih lama dari yang seharusnya, dan Rian merasakan sesuatu yang pelan-pelan berubah—bayangan tentang dirinya yang selama ini dianggap “aman” mulai bergeser.

            Mereka berjalan keluar kelas bersama. Tiga temannya berjalan berdampingan, sementara Rian sedikit tertinggal. Langkahnya tidak jauh lebih lambat, tapi cukup untuk membuat jarak kecil terbentuk. Bukan karena takut dihukum lebih karena takut mengecewakan.

            Perpustakaan siang itu relatif sepi. Rak-rak buku berdiri rapi, sunyi, seolah tidak peduli pada siapa pun yang datang. Mereka duduk, membuka buku, mencoba memulai dengan niat yang cukup. Namun niat itu tidak bertahan lama. Obrolan kecil muncul, disusul tawa yang tidak ditahan. Rian ikut tertawa, ia tidak menyadari kapan beberapa meja lain mulai terisi. Buku-buku terbuka. Suara berganti—dari bisik ringan menjadi diam yang lebih serius. Teguran itu datang tanpa nada tinggi, cukup untuk menghentikan suara mereka.

            Rian menoleh dan di antara beberapa wajah yang memandang ke arah mereka, ada satu sosok yang membuat dadanya menegang. Duduk tegak. Buku terbuka di hadapan. Wajah yang tidak menunjukkan banyak hal.

Lidya.

            Kesadaran itu datang terlambat. Bukan hanya penjaga perpustakaan yang melihat mereka dan untuk pertama kalinya, Rian berharap ia benar-benar tidak terlihat. Ia kembali duduk tanpa bicara. Buku yang baru setengah dikerjakan ia masukkan ke dalam tas tanpa benar-benar melihat isinya. Teguran itu sudah berlalu, tetapi rasanya tidak ikut pergi. Yang tertinggal justru hal lain.

            Tatapan.

            Bukan yang marah lebih seperti kesadaran diam bahwa selama ini ia diberi ruang karena dianggap tidak akan membuat masalah dan hari ini, ia membuktikan bahwa anggapan itu bisa salah. Saat ia melirik ke sudut ruangan sekali lagi, Lidya sudah kembali pada bukunya. Tidak melihat ke arahnya. Tidak menunjukkan reaksi apa pun dan entah kenapa, itu justru membuatnya merasa lebih kecil. Ia sadar, untuk pertama kalinya, bahwa keberadaannya bisa menjadi gangguan.

            Sisa pelajaran berjalan seperti biasa, tetapi Rian tidak benar-benar berada di dalamnya. Setiap kali guru mendekat, ia langsung menegakkan punggung. Bukan untuk terlihat rajin, melainkan untuk memastikan bahwa ia tidak terlihat lengah. Di sela-sela waktu, ia mendengar temannya membicarakan perpustakaan. Keluhan ringan. Tentang suasana yang tiba-tiba tegang. Tentang penjaga yang terlalu sensitif.

            Rian tidak ikut menanggapi. Ia tidak ingin memastikan apakah yang mereka maksud adalah kejadian tadi. Ia menunduk, membiarkan kepalanya menyentuh meja seperti orang yang lelah. Namun pikirannya tertahan pada satu potongan: meja di sudut perpustakaan, suasana yang mendadak diam, dan tatapan yang tidak perlu kata-kata.

            Ia tidak yakin mana yang lebih mengganggu—teguran itu sendiri, atau kenyataan bahwa Lidya ada di sana, menjadi saksi tanpa perlu terlibat.

            Saat pulang, matahari terasa lebih terik dari biasanya. Lorong dipenuhi siswa kelas satu yang bergerak berlawanan arah. Rian berjalan dengan tas di satu bahu, pandangannya lurus ke depan. Ketika melewati area perpustakaan, langkahnya melambat sedikit. Ia tidak berniat masuk.

            Beberapa siswa keluar bersamaan. Di antara mereka, Lidya berjalan sedikit di belakang. Buku dipeluk ke dada, langkahnya tetap tenang.

            Rian berhenti.

            Bukan untuk menyapa ataupun diperhatikan. Hanya karena jarak di antara mereka terlalu dekat untuk diabaikan.

            Lidya tidak melihat ke arahnya atau mungkin melihat, tapi memilih tidak menunjukkan apa pun. Wajahnya datar nyaris dingin. Seolah kejadian di perpustakaan tadi tidak meninggalkan apa-apa.

            Rian menggeser posisinya sedikit ke samping, memberi ruang. Mereka berpapasan tanpa kata. Namun setelah itu, ia menyadari sesuatu yang tidak ia rencanakan: dadanya terasa lebih berat. Bukan karena ketertarikan melainkan karena kesadaran bahwa ia telah tercatat—bukan sebagai sosok yang tenang, tetapi sebagai gangguan kecil dalam hari seseorang.

            Malamnya, ia berbaring tanpa menyalakan lampu. Ia tidak benar-benar memikirkan kejadian di sekolah. Bahkan tidak memikirkan Lidya secara utuh yang tertinggal hanya satu rasa ganjil: hari ini, ia dilihat. Dan hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.

            Selama ini, ia mengira menjaga jarak berarti tidak terlibat. Namun perlahan ia mulai menyadari—menjaga jarak juga bisa menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab atas dirinya sendiri.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Romantic Purple   Tak Lagi Rahasia

    Hari pertama semester dua, Rian datang lebih pagi dari biasanya. Namun pagi itu motornya tidak langsung menuju sekolah. Ia justru membelok ke arah Warzam, warung kecil yang selalu ramai oleh siswa setiap pagi.Dari kejauhan saja suasananya sudah terlihat padat. Motor terparkir rapat di depan warung. Beberapa siswa berdiri sambil mengobrol, sebagian lain duduk di bangku kayu panjang sambil menikmati sarapan seadanya.Yang membuat Rian sedikit heran, ada beberapa anak kelas satu di sana. Ia memarkir motornya di bawah pohon cengkeh, lalu berjalan mendekat.“Lah Jar, ngapain kesini pagi-pagi?” tanyanya.Fajar menoleh sambil tersenyum.“Iya A, kan semester dua kelas satu masuk pagi sekarang.”Rian mengangguk pelan. Ia baru teringat sesuatu yang pernah dikatakan Lidya beberapa waktu lalu.“Oh... pantesan,”“Kenapa gitu, A?” tanya Fajar.“Gak apa-apa, Jar.”Ia lalu ikut bergabung dengan mereka. Obrolan pagi itu ringan saja––tentang liburan yang baru selesai, tentang pelajaran yang sebentar l

  • Romantic Purple   Warna yang Tertinggal

    HP di atas meja belajar Rian tiba-tiba bergetar. Layar yang menyala menampilkan satu nama.Lidya.Rian menatap nama itu sebentar sebelum meraih HP-nya dan mengangkat panggilan.“Assalamu’alaikum.”Suara Lidya terdengar dari seberang.“Wa’alaikumsalam, aku ganggu?”“Enggak,” jawab Rian santai.“Kenapa?”Ada jeda sebentar sebelum Lidya berbicara lagi.“Foto di kamera kamu kemarin banyak kan?”Rian melirik kamera yang masih tergeletak di meja sejak hari mereka ke Braga.“Gak tau.”“Kamu udah liat?”“Belum.”“Belum sama sekali?”“Belum sempet,” jawab Rian.“Kenapa?”Di seberang telepon, Lidya terdiam sesaat.“Di kameranya ada yang kamu hapus gak?”Rian mengernyit sedikit.“Enggak lah. Aku aja belum buka.”Hening beberapa detik.Di sisi lain telepon, Lidya tanpa sadar menghela napas pelan.Syukurlah.Ia sempat khawatir Rian sudah melihat semua isi kamera itu. Termasuk satu dua foto yang ia ambil diam-diam tanpa sepengetahuan Rian.“Kenapa?” tanya Rian.“Gak apa-apa.”Nada suara Lidya kemba

  • Romantic Purple   Hari yang Ingin Diulang

    Pagi itu Rian berdiri di kamar sambil memainkan HP-nya. Ia menarik napas pendek, lalu menekan nama Lidya. Nada sambung terdengar cukup lama sebelum diangkat.“Assalamualaikum.” Suara Lidya terdengar lebih pelan dari biasanya.“Waalaikumsalam, lagi apa?”“Lagi diem aja sih.”Rian berhenti sebentar. “Main, yuk.”“Ke mana?”“Nonton... atau ke mall gitu, Jalan-jalan.”Hening beberapa detik. Dari seberang, terdengar suara kipas angin berputar pelan.“Males ah.”Jawabannya lembut, tapi jelas.Rian duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke tembok.“Oh... ya udah.”Ia hampir ingin menutup telepon ketika suara Lidya menyusul cepat.“Tapi kalau kamu mau ...”Rian mengernyit. “Apa?”“Aku pengen ke tempat lain.”“Ke mana?”“Nanti aja, mau janjian dimana?”Rian tersenyum kecil.“Aku jemput ke rumah kamu aja.”“Iya.”Telepon ditutup.Rian mengambil tas selempangnya, lalu pandangannya berhenti pada kamera di meja belajar. Ia terdiam sesaat, kemudian tersenyum tipis. Tanpa banyak pikir, ia memasuk

  • Romantic Purple   Yang Masih Tinggal

    Ujian semester satu baru saja selesai. Belum sempat suasana tenang, sekolah sudah kembali riuh oleh pekan olahraga antar kelas. Spanduk warna-warni tergantung di pagar, suara peluit bersahut-sahutan, dan deretan siswa memenuhi sisi lapangan.Di lorong kantin, Rendi berdiri bersama beberapa temannya. Ia melihat ke arah Laras yang sedang duduk bersama Lidya. Ia lalu menghampirinya dengan langkah santai. “Ras. Nonton ya, nanti gue tanding basket,” katanya santai, tapi suaranya cukup keras untuk didengar.Laras mengangkat wajah. “Liat nanti ya, emang lawan kelas berapa?”“Lawan tiga IPA empat.”Lidya yang sedang membuka botol minum berhenti sebentar, tangannya terdiam.Tiga IPA empat, itu kan kelas Rian.Rendi tidak menyadarinya. Ia hanya menyeringai kecil ke arah Laras, lalu melirik sekilas ke Lidya.“Jangan lupa nonton ya.”Laras menoleh ke Lidya. “Nonton yuk, Lid?”Lidya tidak langsung menjawab. Pandangannya tertuju ke lorong yang mulai dilalui para siswa. Beberapa detik kemudian, ia

  • Romantic Purple   Di Balik Pagar Rumahmu

    Beberapa hari berlalu sejak percakapan itu. Namun satu kalimat Hany masih tertinggal di kepala Rian. Kadang cewek juga menunggu, tapi tidak mau kelihatan menunggu.Rian berjalan ke gerbang, menyerahkan kunci motornya ke Diki. Ia berhenti di pos satpam samping gerbang sekolah, pura-pura membaca kertas pengumuman yang di tempel di kaca pos.Tak lama, suara riuh terdengar dari aula. Lidya keluar dari aula bersama Laras.Rian tidak langsung menoleh. Baru ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, ia membalikkan badan baru sadar ada orang di dekatnya.“Eh.”Lidya berhenti. Laras ikut menghentikan langkahnya.“Kamu belum pulang?” tanya Lidya.“Belum,” jawab Rian singkat.“Nunggu temen.”Laras menahan senyum kecil.Rian menatap Lidya sebentar.“Besok sanlatnya sore kan.”“Iya.”“Kalau pulangnya... buka bareng?”Tidak ada penjelasan, hanya kalimat sederhana yang keluar pelanLidya terdiam sebentar. “Aku izin dulu sama Papah sama Mamah ya. Nanti di kabarin lagi.”Rian mengangguk. “Iya.”Lar

  • Romantic Purple   Tentang Kepastian

    Bulan Ramadan tiba, kegiatan yang biasanya belajar. Kini menjadi pesantren kilat.Lapangan sudah penuh sejak pagi. Karpet digelar memanjang dan hijab pembatas antara laki-laki dan perempuan terpasang rapi. Anak-anak duduk bersila berderet sesuai kelas. Di depan, meja panjang ditutup kain hijau. Mikrofon berdiri tegak, sesekali memantulkan suara dengung halus.Rian duduk di barisan belakang, bersama anak-anak kelas tiga. Busana muslim putihnya sedikit kusut di bagian punggung. Tangan kirinya memutar bolpoin tanpa sadar.Suara ustaz menggema pelan melalui pengeras suara.“Puasa itu bukan cuma menahan lapar...”Barisan depan duduk tegak dan tenang. Semakin ke belakang, bisik-bisik kecil mulai terdengar. Matahari mulai terasa di punggung baju putih mereka.Rian menoleh ke arah barisan siswi yang terhalang hijab pembatas. Dari balik kain itu terdengar suara berbisik dan tawa yang ditahan.“Warzam, buka bareng kapan Zak?” Bisiknya.“Belum tau euy, minggu depan kayaknya.” Jawab Zaki pelan.O

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status