Mag-log inRian baru menyadari ada PR yang belum ia kerjakan ketika melihat satu per satu temannya maju ke meja guru untuk mengumpulkan buku tulis. Gerakan mereka terasa biasa, tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya tertarik kembali ke kenyataan.
Guru berdiri di depan kelas, lalu mengangkat pandangan. “Yang belum mengumpulkan, ke depan.”
Nada suaranya datar. Hanya cukup untuk membuat siapa pun yang dipanggil tidak bisa berpura-pura tidak dengar. Rian berdiri bersama tiga temannya. Mereka berjalan ke depan tanpa banyak bicara, membawa buku yang belum terisi dan alasan yang bahkan belum sempat mereka susun.
Guru menatap mereka satu per satu. Tatapan yang biasanya singkat, kini bertahan lebih lama. Ada kerutan halus di dahinya—bukan marah, lebih seperti kecewa yang tidak perlu dijelaskan.
“Kalian lupa?”
Pertanyaan sederhana. Tidak menuduh, hanya memberi ruang untuk menjawab.
Rian mengangguk kecil. Ia tahu, apa pun yang ia katakan hanya akan terdengar seperti pembelaan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak punya alasan yang cukup untuk menutupinya.
Guru itu menarik napas pendek. “Kerjakan di perpustakaan. Sekarang.”
Namun tatapan itu tertinggal lebih lama dari yang seharusnya, dan Rian merasakan sesuatu yang pelan-pelan berubah—bayangan tentang dirinya yang selama ini dianggap “aman” mulai bergeser.
Mereka berjalan keluar kelas bersama. Tiga temannya berjalan berdampingan, sementara Rian sedikit tertinggal. Langkahnya tidak jauh lebih lambat, tapi cukup untuk membuat jarak kecil terbentuk. Bukan karena takut dihukum lebih karena takut mengecewakan.
Perpustakaan siang itu relatif sepi. Rak-rak buku berdiri rapi, sunyi, seolah tidak peduli pada siapa pun yang datang. Mereka duduk, membuka buku, mencoba memulai dengan niat yang cukup. Namun niat itu tidak bertahan lama. Obrolan kecil muncul, disusul tawa yang tidak ditahan. Rian ikut tertawa, ia tidak menyadari kapan beberapa meja lain mulai terisi. Buku-buku terbuka. Suara berganti—dari bisik ringan menjadi diam yang lebih serius. Teguran itu datang tanpa nada tinggi, cukup untuk menghentikan suara mereka.
Rian menoleh dan di antara beberapa wajah yang memandang ke arah mereka, ada satu sosok yang membuat dadanya menegang. Duduk tegak. Buku terbuka di hadapan. Wajah yang tidak menunjukkan banyak hal.
Lidya.
Kesadaran itu datang terlambat. Bukan hanya penjaga perpustakaan yang melihat mereka dan untuk pertama kalinya, Rian berharap ia benar-benar tidak terlihat. Ia kembali duduk tanpa bicara. Buku yang baru setengah dikerjakan ia masukkan ke dalam tas tanpa benar-benar melihat isinya. Teguran itu sudah berlalu, tetapi rasanya tidak ikut pergi. Yang tertinggal justru hal lain.
Tatapan.
Bukan yang marah lebih seperti kesadaran diam bahwa selama ini ia diberi ruang karena dianggap tidak akan membuat masalah dan hari ini, ia membuktikan bahwa anggapan itu bisa salah. Saat ia melirik ke sudut ruangan sekali lagi, Lidya sudah kembali pada bukunya. Tidak melihat ke arahnya. Tidak menunjukkan reaksi apa pun dan entah kenapa, itu justru membuatnya merasa lebih kecil. Ia sadar, untuk pertama kalinya, bahwa keberadaannya bisa menjadi gangguan.
Sisa pelajaran berjalan seperti biasa, tetapi Rian tidak benar-benar berada di dalamnya. Setiap kali guru mendekat, ia langsung menegakkan punggung. Bukan untuk terlihat rajin, melainkan untuk memastikan bahwa ia tidak terlihat lengah. Di sela-sela waktu, ia mendengar temannya membicarakan perpustakaan. Keluhan ringan. Tentang suasana yang tiba-tiba tegang. Tentang penjaga yang terlalu sensitif.
Rian tidak ikut menanggapi. Ia tidak ingin memastikan apakah yang mereka maksud adalah kejadian tadi. Ia menunduk, membiarkan kepalanya menyentuh meja seperti orang yang lelah. Namun pikirannya tertahan pada satu potongan: meja di sudut perpustakaan, suasana yang mendadak diam, dan tatapan yang tidak perlu kata-kata.
Ia tidak yakin mana yang lebih mengganggu—teguran itu sendiri, atau kenyataan bahwa Lidya ada di sana, menjadi saksi tanpa perlu terlibat.
Saat pulang, matahari terasa lebih terik dari biasanya. Lorong dipenuhi siswa kelas satu yang bergerak berlawanan arah. Rian berjalan dengan tas di satu bahu, pandangannya lurus ke depan. Ketika melewati area perpustakaan, langkahnya melambat sedikit. Ia tidak berniat masuk.
Beberapa siswa keluar bersamaan. Di antara mereka, Lidya berjalan sedikit di belakang. Buku dipeluk ke dada, langkahnya tetap tenang.
Rian berhenti.
Bukan untuk menyapa ataupun diperhatikan. Hanya karena jarak di antara mereka terlalu dekat untuk diabaikan.
Lidya tidak melihat ke arahnya atau mungkin melihat, tapi memilih tidak menunjukkan apa pun. Wajahnya datar nyaris dingin. Seolah kejadian di perpustakaan tadi tidak meninggalkan apa-apa.
Rian menggeser posisinya sedikit ke samping, memberi ruang. Mereka berpapasan tanpa kata. Namun setelah itu, ia menyadari sesuatu yang tidak ia rencanakan: dadanya terasa lebih berat. Bukan karena ketertarikan melainkan karena kesadaran bahwa ia telah tercatat—bukan sebagai sosok yang tenang, tetapi sebagai gangguan kecil dalam hari seseorang.
Malamnya, ia berbaring tanpa menyalakan lampu. Ia tidak benar-benar memikirkan kejadian di sekolah. Bahkan tidak memikirkan Lidya secara utuh yang tertinggal hanya satu rasa ganjil: hari ini, ia dilihat. Dan hasilnya tidak seperti yang ia bayangkan.
Selama ini, ia mengira menjaga jarak berarti tidak terlibat. Namun perlahan ia mulai menyadari—menjaga jarak juga bisa menjadi cara untuk menghindari tanggung jawab atas dirinya sendiri.
Jam lima tepat, suara mobil berhenti di depan rumah. Lidya yang baru selesai bersiap menoleh ke jendela. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.“Kayaknya udah dateng,” gumam Kak Fitri dari ruang tengah sambil menyeringai.Lidya memutar mata kecil, tapi senyumnya sulit disembunyikan. Tak lama, Rian masuk dengan penampilan yang lebih rapi dari biasanya. Lidya yang baru keluar dari kamar otomatis memperlambat langkahnya saat melihatnya.“Udah lama?” Tanyanya pelan“Baru aja.”Tatapan mereka bertemu sebentar, lalu sama-sama berpaling seolah tak ingin terlihat terlalu jelas menyimpan gugup.Rian kembali menoleh ke arah orang tua Lidya.“Om, Tante... kami pergi dulu.”“Ya udah, sana,” ujar Ibunya. “Hati-hati di jalan.”“Iya, Tante.”Rian menatap Lidya. “Yuk?”Lidya mengangguk.Sebelum keluar, ia sempat memeluk Ibunya sebentar, lalu menoleh ke Ayahnya. “Aku pergi dulu ya.”Ayahnya hanya mengangguk.Mereka berjalan berdampingan menuju pintu. Saat udara sore menyambut dari luar
Pagi itu terasa berbeda. Langit membentang cerah di atas halaman sekolah, seakan ikut merayakan hari yang telah lama dinanti. Barisan kursi tertata rapi, dihiasi rangkaian bunga sederhana yang melambangkan perpisahan sekaligus awal yang baru.Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan penuh haru berpadu menjadi satu, memenuhi udara dengan perasaan yang sulit dijelaskan.Hari kelulusan.Di antara kerumunan siswa yang mengenakan pakaian terbaik mereka, Lidya berdiri tenang. Kebaya sederhana yang dikenakannya jatuh anggun, mempertegas perubahan dirinya... bukan lagi gadis dingin yang menjaga jarak, melainkan sosok yang telah belajar membuka hati.Ia menarik napas pelan.Gak kerasa... semuanya sampai di titik ini.Matanya menyapu sekeliling. Bangunan sekolah yang dulu terasa biasa kini menyimpan begitu banyak cerita––tentang perjuangan, air mata, tawa, dan pertemuan yang diam-diam mengubah hidupnya.Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.“Lidya!”Suara Laras memecah lamunannya. Gadis i
Waktu berjalan tanpa terasa. Seragam putih abu-abu yang dulu terasa baru, kini mulai akrab di tubuh Lidya. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin kamar, merapikan kerah seragam sambil menatap potongan rambut barunya.Gak kerasa udah kelas tiga lagi.Tahap terakhir sebelum meninggalkan masa sekolah.Ia memandangi bayangannya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Tidak ada lagi kegelisahan yang dulu sering muncul yang tersisa kini hanya ketenangan yang tumbuh perlahan. Dari atas meja, HP-nya bergetar pelan.Satu pesan masuk.“Ciee... yang udah kelas tiga.” SMS dari Rian.Lidya tersenyum tipis.“Iya dong.” Ketiknya singkat.Baru saja SMS itu terkirim, HP-nya berdering. Nama Rian kembali muncul di layar.“Halo?”“Masih betah di kamar? Mau berangkat jam berapa?”Lidya mengernyit kecil. “Udah mau berangkat, tapi kok––”Kalimatnya terhenti. Ia buru-buru menutup telepon dan memasukkan HP-nya ke dalam tas.Ia bergegas keluar kamar. Di ruang tamu, Rian duduk santai sambil menatapnya dengan sen
Beberapa bulan sejak mereka tak lagi berada di tempat yang sama, banyak hal mulai berubah. Ritme hari-hari tak lagi seperti dulu. Jarak, kesibukan, dan dunia baru perlahan mengambil ruang masing-masing.Namun, di antara semua perubahan itu, ada kebiasaan kecil yang diam-diam tumbuh. Rian, sebisa mungkin, akan menjemput Lidya sepulang sekolah. Tidak setiap hari tapi cukup sering untuk menjadi sesuatu yang ditunggu.Pagi ini, Lidya duduk di bangkunya dengan buku terbuka di atas meja. Matanya menghadap halaman yang sama sejak tadi, tanpa benar-benar membaca satu kata pun.Tangannya memegang HP, layar SMS dengan nama Rian masih terbuka.“Lagi apa?”Pesan itu sudah hampir sepuluh menit terkirim, tapi belum dibalas. Ia sempat ragu, lalu mengetik lagi.“Cie... yang lagi fokus belajar.”Pesan kedua terkirim.Lidya menghela napas kecil, lalu mengunci layar HP-nya.“Kenapa?”Suara Laras terdengar dari bangku sebelah.Lidya menggeleng pelan. “Gak apa-apa.”Beberapa detik kemudian, tangannya kemb
“Assalamu’alaikum.”“Wa’alaikumsalam,”Pintu terbuka. Ibu Lidya berdiri di ambang dengan senyum hangat. ”Eh, Rian. Masuk Nak.”“Maaf Tante, pagi-pagi udah main ke sini.”“Gak apa-apa.” Ia membuka pintu lebih lebar.“Tapi Lidya kayaknya masih tidur, belum keluar kamar soalnya. Duduk aja dulu.”“Iya, Tante.”Rian melangkah masuk ke ruang tamu. Rumah itu terasa tenang, masih menyimpan suasana pagi. Dari arah dapur terdengar suara peralatan makan beradu pelan.Belum lama ia duduk, suara langkah tergesa terdengar dari dalam.“Mah... Mamah.”Lidya muncul dengan piyama tidur, rambut pendek sebahunya masih berantakan. Matanya setengah terbuka, wajahnya masih menyisakan kantuk.Ia belum sadar ada Rian di ruang tamu.“Mah, hari ini aku mau jalan sama Rian, ya...” katanya sambil menguap kecil.Ibunya menoleh sambil menahan senyum.“Kamu tuh, udah kelas dua juga masih bangun siang. Malu loh kalau dilihat Rian.”“Gak akan lah mah, masih pagi juga.”“Nih, tolong bawa ke ruang tamu.”Ibunya menyera
Sabtu pagi, panggung, tenda, dan deretan kursi menghiasi lapangan sekolah. Kali ini semuanya terasa lebih “nyata”. Siswa putra memakai kemeja beserta jas, sedangkan siswa putri mengenakan kebaya.“Yan, foto dulu sini!” teriak Diki.Rian mendekat saling merangkul, tertawa tanpa alasan yang jelas.“Gila ya... tiga tahun gak kerasa,” gumam Hany.“Iya.”Acara berjalan khidmat. Selepas itu semua, suasana berubah menjadi lebih emosional.Rian melangkah sedikit menjauh dari keramaian. Ia berdiri menatap kelasnya. Tempat yang dulu terasa biasa... sekarang terasa berbeda.Ini terakhir...“Rian.”Rian menoleh.Lidya berdiri di sana. Seragamnya tertutup sweater putih biru, rambutnya terikat rapi dengan poni menyamping. Senyumnya kecil, tapi cukup untuk membuat Rian diam beberapa detik.Mereka berdiri berhadapan, hening hanya saling menatap“Datang jam berapa?” Kata Rian memecah keheningan.“Setengah jam yang lalu. Tadi liat kamu jalan ke sini, jadi aku susul.”Rian tersenyum.“Duduk di sana yuk?
Lidya. Nama itu tidak benar-benar Rian ulangi, bahkan tidak ia ucapkan dalam hati. Hanya sekedar lewat sebentar, seperti catatan kecil di pinggir halaman yang belum tentu akan dibaca ulang. Rian tidak berusaha menahannya, juga tidak mencoba mengusirnya. Pagi itu berjalan sep
Udara pagi terasa segar, menyisakan dingin dari hujan semalam. Sinar matahari menembus celah awan tipis, jatuh di rerumputan yang masih basah. Lorong sekolah dipenuhi suara langkah kaki, tawa yang bersahutan, dan aroma kertas lembap yang bercampur dengan tanah dari taman belakang.Semuanya tampak s
“Three point, Yan!”Suara Zaki terdengar lantang di tengah lapangan. Bola melayang cepat ke arah Rian. Ia menangkapnya dengan refleks, lalu tanpa banyak berpikir langsung melepaskan tembakan dari luar garis tiga poin. Bola berputar di udara dan––masuk.“Masuk!” teriak seseorang, disusul sorakan dan
Diskusi di kelas hari itu terasa lebih hidup dari biasanya. Bukan karena gurunya belum datang, melainkan karena semua orang sedang membicarakan sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri. Buku kenangan. Kursi-kursi tidak lagi menghadap rapi ke depan. Beberapa diputar sete







