Share

Bab 5 Bos Gila

Author: Namorae
last update publish date: 2026-06-30 19:00:05

Setelah tiga kali laporannya dikembalikan tanpa alasan yang jelas, Althea kembali berdiri di depan ruang kerja Naren Wijaya. Tangannya menggenggam map laporan itu erat.

Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seharusnya satu jam lalu ia sudah meninggalkan gedung perusahaan, tetapi sampai sekarang ia masih harus berurusan dengan bos barunya itu.

Saat hendak mengetuk pintu, suara beberapa karyawan yang masih lembur terdengar dari dekat meja mereka.

“Baru kali ini ada anak baru yang langsung lembur,” bisik salah seorang karyawan.

“Iya. Tadi aku sempat lihat Pak Naren sampai turun tangan sendiri,” sahut yang lain sambil melirik ke arah ruangan Naren.

“Serius? Padahal aku dengar beliau paling tidak suka membuang waktu.”

Langkah Althea terhenti. Ia menoleh sekilas ke arah mereka. Dahi Althea sedikit berkerut. Jadi, bukan hanya dirinya yang merasa ada yang aneh dengan perlakuan Naren hari ini?

Namun, rasa penasaran itu segera ia singkirkan. Althea menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

“Masuk.”

Mendengar suara berat dari dalam, Althea segera membuka pintu dan melangkah masuk.

“Pak Naren, laporannya sudah selesai,” ucapnya sambil meletakkan map tersebut di atas meja. "Untuk ketiga kalinya."

Suara Althea terdengar lebih tajam dari sebelumnya. Ia sudah tidak memiliki energi untuk menyembunyikan rasa kesalnya. Naren tidak memberikan tanggapan apa pun.

Pria itu hanya mengambil map tersebut, membukanya, lalu membaca beberapa halaman pertama. Althea berdiri diam di depannya, menunggu keputusan pria itu. Beberapa detik berlalu, pria itu kembali menutup mapnya.

"Saya terima, kamu bisa pulang."

Althea yang sejak tadi berdiri dengan tubuh tegang langsung terdiam.

Sesederhana itu?

Setelah seharian dibuat bolak-balik memperbaiki laporan, Naren bahkan hanya membaca beberapa halaman sebelum menyetujuinya.

“Pak Naren,” panggil Althea akhirnya. Nada suaranya terdengar menahan kesal.

Naren yang hendak kembali menatap laptop berhenti dan mengangkat alis. “Ada apa?”

Althea menggenggam jemarinya sendiri, berusaha menahan emosinya sebelum bertanya, “Kenapa baru diterima sekarang?”

Naren menatapnya beberapa detik. Wajahnya tetap tenang seolah pertanyaan itu sama sekali tidak sulit dijawab.

“Karena sekarang sudah sesuai,” jawab Naren datar.

Althea mengerutkan kening. Jawaban sesederhana itu justru membuat rasa kesalnya semakin menjadi.

“Tapi laporan ini tidak banyak berubah dari sebelumnya, Pak,” ujar Althea, kali ini tak lagi berusaha menyembunyikan keberatannya.

“Bagian yang saya minta sudah diperbaiki,” balas Naren sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi.

Althea menghembuskan napas pendek. “Tapi Bapak bahkan tidak membaca sampai selesai.”

Naren menatapnya tanpa terlihat terganggu sedikit pun. “Saya tidak perlu membaca semuanya untuk tahu apakah revisinya sudah benar.”

Althea terdiam. Ia tidak tahu harus kesal atau heran mendengar jawaban pria itu.

Sejak pagi, ia sudah membongkar ulang laporan tersebut hanya untuk memastikan tidak ada satu pun kesalahan. Sementara Naren bahkan tidak perlu membaca seluruh isinya untuk menilai pekerjaannya.

Melihat Althea yang masih berdiri di tempat, Naren melirik jam di dinding.

“Sudah lewat jam kerja, kamu mau pulang atau saya kasih kerjaan lagi?” tanya Naren sambil kembali mengambil laptopnya.

Althea mengikuti arah pandang pria itu. Baru saat itulah ia menyadari waktu sudah semakin malam.

“Saya akan pulang, permisi,” ujar Althea cepat, sebelum akhirnya melangkah meninggalkan ruangan dengan perasaan yang masih mengganjal.

Ucapan para karyawan tadi terus terngiang di kepalanya.

Kalau benar Naren memang tidak pernah membuat karyawan baru lembur seperti ini, lalu kenapa dirinya diperlakukan berbeda?

Semakin dipikirkan, semakin kuat dugaan Althea bahwa Naren memang sengaja mempersulitnya.

“Apa dia dendam sama aku gara-gara apartemen?” gumam Althea kesal.

***

Sesampainya di apartemen. Althea segera meletakkan healsnya di rak sepatu. Ia segera merebahkan dirinya di sofa. Untung, saja pria itu belum pulang. Setidaknya ia bisa menikmati apartemen itu dalam keadaan tenang.

Althea menatap langit-langit apartemennya sambil menghela napas panjang. Hari pertamanya bekerja di perusahaan baru benar-benar jauh dari bayangannya.

Gadis itu memang sudah tahu kalau menjadi staf analis di perusahaan besar tidak akan mudah. Namun, ia tidak pernah membayangkan bahwa tantangan pertamanya justru adalah menghadapi seorang CEO yang memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat darahnya naik.

“Kalau memang salah, bilang salahnya di mana. Jangan cuma suruh revisi,” gerutu Althea sambil memeluk bantal. “Dasar bos gila!”

Baru saja ia hendak memejamkan mata, suara pintu apartemen terbuka membuatnya langsung bangkit.

Naren masuk sambil melepas jasnya. Begitu melihat pria itu, wajah Althea yang semula lelah seketika kembali dipenuhi kekesalan.

“Kamu memang sengaja, kan?” tanyanya tanpa basa-basi.

Naren yang baru saja meletakkan jas di sofa menoleh. “Sengaja apa?”

“Membuatku lembur,” tukas Althea masih dengan wajah kesal

Naren mengerutkan kening tipis. “Aku menyuruhmu menyelesaikan pekerjaanmu.”

“Pekerjaanku sudah selesai dari tadi!” balas Althea tak mau kalah.

“Kalau begitu, kenapa harus revisi berkali-kali?”

Althea terdiam sesaat. Pertanyaan itu justru membuatnya semakin kesal. Sejak wawancara tadi pagi, Naren memang sudah membuatnya naik darah.

“Karena setiap kali aku sudah revisi, kamu tetap bilang masih ada yang kurang!” protes Althea. “Padahal yang aku ubah juga nggak jauh beda dari sebelumnya. Sebenarnya kamu benar-benar baca laporannya atau cuma cari-cari alasan buat nolak?”

Naren hanya mengangkat bahu. “Kalau kamu sudah selesai marah-marah, saya mau tidur.”

Pria itu kemudian berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

Althea langsung melongo. “Hah? Kamu malah mau tidur?”

Naren tidak menjawab dan terus melangkah.

“Jangan pergi dulu!” seru Althea sambil mengejarnya. “Aku belum selesai ngomong!”

Baru beberapa langkah, Althea mempercepat langkahnya untuk menyusul. Namun, kakinya justru menginjak ujung karpet yang terlipat.

“Ah!”

Tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan. Refleks, tangannya meraih lengan Naren, membuat pria itu ikut terhuyung.

Dalam sekejap, Althea jatuh tepat ke dada Naren.

Naren spontan meraih pinggangnya agar mereka tidak ikut terjatuh. Namun, posisi itu justru membuat Althea berakhir dalam pelukan pria tersebut.

Keduanya mendadak terdiam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 57 Kenapa?

    Naren mengangkat sebelah alisnya. Pria itu menatap Althea yang masih sibuk memperhatikan wajahnya dengan ekspresi bingung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu hingga berani menyebutnya pria galak, padahal beberapa detik sebelumnya ia masih memujinya setampan itu."Kamu mengatakan saya pria galak?" tanyanya.Althea mengerucutkan bibirnya. Ia kembali mencubit pipi Naren pelan, kemudian menggelengkan kepala dengan ekspresi kesal."Iya iya seperti pak Naren, satu satunya pria galak yang suka marah-marah. Kalau bicara sama aku, mukanya selalu kayak orang mau makan orang. Apalagi wajahnya selalu saja dingin seperti batu es. " Ia menggerakkan tangannya di depan wajah Naren, menirukan ekspresi pria itu. "Sini, sini, Althea! Kerjakan ini! Althea, masuk ke ruangan saya! Althea, kenapa kamu menghindari saya?"Lisa yang berjalan di samping mereka seketika menutup mulutnya, berusaha keras menahan tawa. Ia tidak menyangka Althea yang biasanya cukup tenang bisa menirukan atasannya dengan

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 56 Memalukan

    Helena menatapnya tidak percaya. "Kamu benar-benar akan menolak pilihan Kakek demi wanita itu?" "Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya akan menikahi Althea." "Kalau begitu, kenapa kamu terus membelanya? Apa pentingnya wanita sepertinya?" Pertanyaan itu membuat Naren terdiam sesaat. Ia sendiri belum pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada Althea. Bahkan, beberapa hari terakhir, wanita itu justru terus menghindarinya. Setiap kali Naren mencoba mendekat, Althea selalu berusaha menciptakan jarak di antara mereka, seolah-olah keberadaan dirinya adalah sesuatu yang harus dihindari. Namun, satu hal yang ia yakini adalah bahwa Althea tidak pantas menerima perlakuan seperti ini. Lagi pula wanita itu tidak pernah berbuat nekat untuk mendekatkan dirinya kepadanya, walau wnaita itu begitu cererwt tetapi bersamanya Naren bisa merasa nyaman,setidkanya ia tidak merasakan sepi lagi. "Karena saya tahu dia tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Ibu," jawabnya. "Dan s

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 55 Tidak akan menjauh!

    Naren terdiam selama beberapa detik. Rahangnya mengeras mendengar bagaimana ibunya kembali merendahkan Althea tanpa sedikit pun merasa bersalah. Bagi Helena, status sosial dan latar belakang keluarga seolah menjadi satu-satunya hal yang menentukan kelayakan seseorang untuk berada di sisi putranya. Padahal, wanita yang terus-menerus direndahkannya itu bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini. Bahkan semenjak kenal wanita itu tidak pernah merayunya. "Jadi, menurut Ibu, seseorang hanya pantas dicintai kalau dia berasal dari keluarga kaya?" tanya Naren dengan suara rendah. Helena mendengus. "Jangan memutarbalikkan ucapan Ibu! Kamu tahu betul apa yang Ibu maksud. Keluarga kita bukan keluarga sembarangan, Naren. Ada nama besar yang harus kita jaga. Ibu tidak akan membiarkan seorang wanita yang tidak jelas asal-usulnya merusak semua yang sudah kita bangun selama ini." "Merusak?" Naren mengulang kata itu dengan senyum sinis. "Apa sebenarny

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 54 Amarah

    Naren dengan langkah tegas segera melangkah memasuki rumah mewah, rumah yang selalu ia benci. Dengan tatapan tajam dan amarah yang membara ia membuka pintu rumah itu dengan kasar. Seorang wanita paruh baya yang tengah menyesap tehnya dan membaca majalah. "Ibu!" teriak Naren.Helena yang tengah menikmati tehnya seketika mengangkat kepala. Suara bentakan yang menggema di seluruh ruangan itu membuatnya terkejut hingga hampir menjatuhkan cangkir yang berada di tangannya. Ia segera meletakkan cangkir tersebut di atas meja, kemudian menoleh ke arah sumber suara.Tatapannya langsung bertemu dengan Naren yang berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu masih mengenakan pakaian kerjanya, tetapi tidak ada sedikit pun ketenangan yang tersisa di wajahnya. Rahangnya mengeras, sementara kedua matanya menatap Helena dengan sorot tajam yang seolah-olah mampu membongkar seluruh kebohongan wanita itu.Helena mengerutkan kening. Ia sama sekali tidak menyangka putranya akan datang tanpa pemberitahuan, te

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 53 Mengintai

    Althea terdiam. Pertanyaan Naren itu seketika membuat pikirannya kembali tertuju pada wanita paruh baya yang telah menawarinya uang dua ratus juta untuk menjauhi putranya. "Tidak ada," jawabnya, cepat. Naren menyipitkan mata. Ia mengenal Althea cukup lama untuk menyadari bahwa perempuan itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Lihat saya ketika menjawab pertanyaan yang saya lontarkan!" Althea terpaksa mengangkat wajahnya. Ia mencoba untuk bersikap tenang, seolah tidak ada masalah apapun. "Saya sudah menjawabnya, Pak. Apa Bapak masih tidak percaya?" "Bukan masalah percaya atau tidak. Saya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Kalau begitu, sebaiknya Bapak tidak perlu terlalu memikirkan saya." Althea berusaha mempertahankan ketenangannya. "Saya hanya bawahan Bapak. Selama saya masih mengerjakan pekerjaan dengan baik, seharusnya sikap saya di luar urusan pekerjaan tidak menjadi masalah, bukan?" Rahang Naren mengeras. Ia tidak menyukai jawaban itu, terlebih

  • Roommate: Bos, Yang Ini Kamarku!    Bab 52 Salah?

    Naren kembali menghela napas. Ia melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, berusaha mengusir perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Sungguh menyebalkan. Ia bahkan tidak pernah merasa sepusing ini hanya karena seseorang menghindarinya. "Kalau teman saya ingin memperbaiki keadaan, apa yang sebaiknya dia lakukan?" tanyanya,lagi. Robert akhirnya menundukkan kepala, menyembunyikan senyum yang semakin sulit ditahan. Ia tidak menyangka akan menyaksikan bosnya yang terkenal dingin dan tidak pernah peduli terhadap urusan pribadi orang lain justru sibuk memikirkan alasan seorang wanita menjauhinya. "Menurut saya, teman Bapak sebaiknya bertanya langsung kepada wanita itu. Daripada terus menebak-nebak, lebih baik mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi." "Bagaimana kalau wanita itu terus menghindar setiap kali dia berusaha mendekat?" "Kalau begitu, mungkin teman Bapak harus mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengannya." Naren terdiam sejenak. Ia mengang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status