Home / Horor / Rumah Kos Berhantu / 4. Hari yang Panjang

Share

4. Hari yang Panjang

Author: Queen Rachma
last update publish date: 2022-08-20 18:09:22

Baru saja Virza menyuap beberapa sendok ke mulutnya, punggungnya ditepuk oleh seseorang. Dia menoleh ke belakang, ternyata itu adalah Selly.

"Loh, kamu makan di sini," tanya Selly sambil tersenyum ke arah Virza.

Sebenarnya Virza masih merasa heran dengan Selly sebagai teman dalam perjalanannya karena Selly tidak membangunkannya ketika kereta sudah berhenti. Namun dia tidak ingin memperpanjang hal kecil itu lagi.

"Oh iya, Sel. Ayo ikut makan! Aku lapar sekali," ajak Virza pada Selly.

Virza berdiri dari duduknya dan mencari-cari penjual yang tadi melayaninya. Tapi dia tidak menemukan penjual itu.

"Sepertinya penjualnya sedang keluar sebentar, kamu tunggu saja ya," Ujar Virza.

"Ah tidak, aku tidak makan. Aku sudah pesan makanan di seberang sana. Aku melihatmu ke sini tadi, makanya aku segera menghampirimu untuk menyapa," kata Selly sambil tersenyum.

"Oh begitu. Oh ya kita tukar nomor telepon yuk," ajak Virza.

Akhirnya mereka berdua saling memberikan nomor telepon.

"Sepertinya makananku sudah jadi, aku ke sana dulu ya. Sampai ketemu lagi," kemudian Selly meninggalkan Virza sendirian.

Tidak berapa lama setelah Selly pergi, si penjual datang.

"Wah Ibu dari mana saja dicariin dari tadi," ujar Virza kepada si penjual.

"Ibu ada kok dari tadi di situ," katanya sambil menunjuk dapur warung itu.

"Kok aku enggak lihat Ibu disitu tadi  ya?" tanya Virza bingung. 

"Saya pikir Adik sedang telepon dengan seseorang," Kata si penjual.

Virza yang mendengar itu langsung tertawa.

"Pantas saja Ibu tidak langsung keluar ketika ada pembeli baru masuk. Jadi, Ibu mengira saya sedang teleponan?" Ujar Virza merasa geli.

"Tadi, ada teman saya di sini, saya menawarkannya untuk ikut makan. Tapi ketika saya mencari Ibu tidak ada disini," ujar Virza menjelaskan setelah dia berhenti tertawa.

"Oh begitu. Tapi saya tidak melihat ada orang lain masuk kemari," kata si penjual tersebut. 

"Masa sih Bu?" gumam Virza. 

Lalu Virza melihat ke sekeliling warung itu.

'Wajar saja si penjual tidak melihat Selly masuk tadi, mungkin ketika dia duduk di situ si penjual terhalang oleh rak kayu ini,' pikir Virza melihat rak kayu dekat tempat duduk Selly tadi.

Akhirnya Virza membayar makanannya dan setelah bertanya kepada si penjual tentang angkutan umum apa yang harus dia naiki untuk sampai ke tujuannya.

Virza langsung menuju kampusnya dengan menumpang angkutan umum.

Awalnya dia ragu karena merasa malu membawa barang-barang bawaannya yang begitu banyak. Tapi ternyata dia tidak sendiri, banyak calon mahasiswa lain yang ternyata dari luar kota juga membawa barang bawaan yang lebih banyak dari bawaannya.

Sepertinya hal itu bisa dimaklumi, karena mereka baru tiba dari luar kota, bahkan ada yang baru tiba dari luar pulau.

Ketika memasuki kampus itu, Virza merasakan ada semangat baru untuk hidupnya. Dia mencari-cari Selly ketika selesai mengurus administrasi pendaftaran. Tapi sudah satu jam dia mencari belum menemukannya juga.

Akhirnya Virza memutuskan untuk melihat gedung yang akan menjadi  tempatnya berkuliah. Sambil berpikir barangkali dia akan menemukan Selly di sana.

Setelah berpuas diri berkeliling-keliling kampus dan berkenalan dengan beberapa orang baru, dia kembali ke tempat registrasi ulang tadi. Dia ingin melihat papan pengumuman yang berisi nama-nama calon mahasiswa baru. Namun karena terlalu banyak, dan dia juga tidak mengetahui nama lengkapnya Selly, jadi Virza menyerah. Virza melihat telepon selulernya, ternyata pesannya juga belum dibalas oleh Selly. Akhirnya Virza menyerah dan memutuskan untuk melanjutkan rencananya.

Rencana selanjutnya adalah mencari tempat kos. Dia berkeliling keliling mengitari lingkungan luar kampus, untuk mencari tempat kos yang murah dan hemat. Hampir 3 jam Virza berkeliling mencari tempat kos. Namun dia belum mau menyerah, meskipun kelelahan dan lapar.

Akhirnya dia menemukan Warung Makan SEDERHANA, yang penuh dengan orang yang berjajar antri di depan pintu masuknya. Virza penasaran lalu menghampirinya. Ternyata disana ada daftar menu yang bisa dilihat oleh Virza. Dari daftar menu, Virza menilai makanan disana harganya murah.

Setelah bersabar menunggu cukup lama, akhirnya tiba waktunya Virza untuk masuk kedalam warung makan tersebut. 

"Dari mana Mas, kok bawa-bawa tas banyak sekali?" Tanya si pemilik Warung Makan SEDERHANA itu.

"Saya mahasiswa baru, Bu. Habis daftar ulang ke kampus Nusantara Merdeka. Saya mau cari tempat kost, Bu," sahut Virza menjelaskan.

Beberapa mata memandang ke arahnya. Virza berharap di antara mereka ada yang memberikan informasi kepadanya.

"Mau cari tempat kos yang seperti apa, Mas?" Tanya wanita setengah baya pemilik warung itu lagi.

Belum sempat Virza menjawab, penjual itu sibuk melayani pembelian ingin membayar.

Kini hanya tinggal Virza sendiri yang berada di warung makan itu dan dia baru saja selesai menghabiskan makan dan minumnya.

Pemilik warung itu mendekati Virza dan duduk di sampingnya.

"Oh ya Mas, namanya siapa?" Tanya pemilik warung itu.

"Nama saya Virza, Bu. Maaf kalau saya lancang, kalau Ibu sendiri namanya siapa?" Tanya Virza dengan sopan kepada wanita pemilik warung makan itu.

"Nama saya Farida, panggil saja saya Ibu Ida," jawab Ibu Ida.

"Mas Virza mau cari kamar yang seperti apa?" Tanya Bu Ida lagi.

"Yang paling murah saja Bu, yang penting dekat dengan kampus supaya tidak ada ongkos lagi," Jawab Virza sambil tertawa pelan.

Ibu Ida memperhatikan Virza dari ujung rambut sampai ujung kakinya, kemudian dia tersenyum.

"Di rumah saya sebenarnya ada satu kamar, tapi kos campuran," kata Ibu Ida.

Virza berpikir sejenak, dia ingat pesan ibunya yang selalu mengkhawatirkan dirinya.

'Kalau aku menerima tawaran Bu Ida, suatu saat kalau Ayah dan Ibu akan menjengukku, pasti mereka bisa khawatir,' pikir Virza.

"Mohon maaf Bu, kalau kost khusus putra ada?" Tanya Virza lagi.

"Kalau yang dekat sini ada, tapi bukan kamar mandi dalam," Jawab Bu Ida.

"Tidak apa-apa, Bu. Yang penting murah," sahut Virza mengulangi lagi sambil tersenyum malu.

Ibu Ida tertawa pelan.

"Biasanya anak-anak cari kosan yang bagus, supaya bisa minta uang lebih sama orang tuanya. Harga kamar sebenarnya lima ratus ribu, tapi mereka suka meminta satu juta kepada orang tua mereka. Alasannya karena fasilitasnya beda," Ibu Ida bercerita pada Virza. Bu Ida bercerita sambil tersenyum-senyum mengenang tingkah para mahasiswa di rumah kosnya. 

Virza hanya tertawa pelan menanggapinya.

"Saya kasihan dengan orang tua saya, Bu. Untuk biaya saya pergi ke sini saja mereka memaksakan diri. Saya berencana untuk kuliah sambil bekerja, agar bisa meringankan beban orang tua saya," jawab Virza malu-malu. Virza takut dianggap sok idealis atau pamer oleh Bu Ida. 

Ternyata Ibu Ida memandang Virza dengan kagum sekaligus prihatin. 

"Baiklah akan saya tunjukkan, di belakang warung makan ini ada dua rumah, coba kamu tanya apa ada kamar kosong yang tersedia. Setahu saya dua rumah itu biaya sewa kamarnya murah-murah. Kalau belum ada yang tersedia, Mas Virza bisa kost di tempat saya dulu sampai dapat kamar disitu," kata Bu Ida lagi dengan ramah.

"Wah terima kasih banyak Bu, atas informasinya. Saya coba kesana dulu, nanti saya kabari Ibu Ida lagi," sahut Virza dengan senang.

Setelah membayar makanan dan minumannya Virza bergegas membawa barang-barangnya ke rumah yang ditunjukkan oleh Ibu Ida.

Sekarang Virza sudah berada di depan dua rumah yang dimaksud oleh Bu Ida. Virza melihat ke arah rumah itu dan membandingkannya. Setelah beberapa saat kemudian, Virza memilih rumah yang lebih baik keadaannya untuk pertama dia datangi.

Virza mencoba mengetuk berkali-kali rumah kos itu namun tidak ada yang menyahut atau membukakan pintu. Virza masih ingin bersabar untuk menunggu, dia berharap akan ada pemilik atau anak kos yang keluar masuk di rumah kos itu. Namun tidak ada yang berlalu lalang selama  menunggu 1 jam, akhirnya Virza merasa putus asa.

Terpaksa dia harus menuju yang kedua. Tempatnya tidak lebih baik dari rumah kos pertama yang dia datangi tadi. Sesaat dia memandangi rumah kos itu. Ternyata ada papan namanya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Rumah Kos Berhantu   45. Nama yang Hilang

    “Kalau dokumen itu berisi bukti kematian Mira, mengapa Mira sendiri memperingatkan Virza agar enggak mempercayainya?”Pertanyaan itu terus berputar di kepala Virza bagaikan gaung lonceng kematian yang tak kunjung reda. Dia berdiri kaku di depan tangga Rumah Kos 103, menatap anak tangga terakhir yang dipercaya menjadi lokasi mengerikan tempat Mira jatuh dan meregang nyawa bertahun-tahun lalu.Selly berdiri di sampingnya dengan wajah yang memucat kaku, memancarkan pendar gaib yang menyebarkan hawa membekukan. “Aku juga enggak mengerti,” kata Selly dengan nada suara melayang pelan, menyuarakan kebingungan yang sama.“Berarti kita harus menemukan dokumen itu,” tegas Virza seraya mengepalkan tangannya di udara untuk menguatkan tekadnya.

  • Rumah Kos Berhantu   44. Orang yang Tidak Pernah Pergi

    Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab. Pertanyaan Virza masih menggantung di udara, menciptakan atmosfer psikologis yang kian menekan dada setiap jiwa di ruangan tersebut.Siapa pemilik sebenarnya Rumah Kos 13? Pertanyaan itu berputar-putar di dalam benak Virza bagaikan teror yang menuntut keadilan.Ibunya berdiri kaku di dekat jendela yang berdebu tebal, menatap lurus ke arah halaman luar yang gelap gulita. “Orang itu enggak pernah tinggal di sini sebagai penghuni,” bisik ibunya dengan suara bergetar lemah.“Lalu bagaimana dia bisa menguasai rumah ini?” cecar Virza mendesak penjelasan logis di balik konspirasi tersebut.“Dengan menggunakan nama orang lain,” sahut ibunya si

  • Rumah Kos Berhantu   43. Mereka yang Memilih Diam

    “Orang yang paling enggak pernah kamu curigai.”Kalimat itu membuat Virza tidak bergerak sedikit pun di tempatnya berdiri, seolah paku-paku gaib mendadak menancap kuat menembus kedua alas kakinya. Hawa dingin yang membelit ruangan terasa kian mencekat, menyedot habis keberanian yang tersisa dalam dadanya.Ibunya berdiri mematung di anak tangga bawah dengan wajah pucat pasi dan air mata yang terus menetes. Selly berada tepat di belakang tubuh Virza dengan aura membeku yang menebarkan teror purba, sementara Pak Darma duduk terkulai di lantai kayu berselimut debu. Raka menundukkan kepalanya dalam-dalam di bawah temaram pendar lampu neon yang berkedip ganjil, seolah menunggu penghakiman atas dosa masa lalu.Tidak ada satu pun yang berani berbicara memecah kesunyian m

  • Rumah Kos Berhantu   42. Nama yang Kembali

    “...kamu harus tahu siapa ibumu sebenarnya.”Suara perempuan itu masih menggema merindingkan bulu kuduk di dalam setiap sudut Rumah Kos 103, memantul di antara dinding-dinding papan tua yang bergetar pelan. Hawa dingin yang kian menggebu merayapi pelipis dan tengkuk, seakan-akan kebenaran yang tertutup rapat kini memaksa keluar memburu kesadaran siapapun di ruangan itu.Virza berdiri kaku di ruang depan dengan napas tercekat berat di tenggorokannya. Kartu identitas kusam yang ditemukannya di dalam kotak besi masih terikat erat dalam cengkeraman jemarinya yang dingin memutih.Di sebelahnya, Selly menatap ke arah deretan anak tangga kayu dengan raut wajah yang sepenuhnya diselimuti ketakutan mutlak. Mata arwah itu membelalak lebar, memancarkan keriupan teror yang b

  • Rumah Kos Berhantu   41. Pilihan di Rumah Nomor 103

    Gelap.Virza masih menggenggam kartu identitas itu dengan jemarinya yang bergetar kaku di tengah kepungan gulita. Dia tidak melihat seluruh namanya, hanya beberapa huruf tercetak samar yang tertangkap oleh memori visualnya. Namun sesuatu di dalam dirinya yang teramat dalam mengatakan bahwa kartu tersebut sangat penting bagi hidupnya.“Selly,” panggil Virza dengan suara bergetar menahan gejolak teror yang merayapi dadanya.Tidak ada jawaban dari kegelapan yang membisu di sekitarnya.“Kenapa aku enggak boleh melihatnya?” cecar Virza lagi seraya memajukan langkahnya dengan ragu di atas lantai kayu yang dingin.Suara Selly terdengar dari

  • Rumah Kos Berhantu   40. Orang yang Menjaga Rumah

    Virza masih memegang laporan kematian Mira ketika suasana ruang depan berubah. Udara mendadak menjadi dingin, merayap pelan dari celah-celah papan kayu tua. Dingin itu tidak bertiup dari jendela, melainkan seolah menyembur langsung dari balik kedalaman dinding Rumah Kos 103.Ajie berdiri di samping meja kayu dengan wajah yang mendadak pucat pasi. Pendar redup lampu gantung membiaskan keheningan mencekam yang menekan dada mereka berdua. Nama yang tertera pada lembaran kusam di tangan Virza masih terbaca amat jelas di tengah ketegangan yang kian menghebat.Orang yang menandatangani laporan kematian Mira adalah orang yang selama ini mengurus Rumah Kos 103. Virza menatap Ajie lurus-lurus, mencoba menuntut kejelasan dari fakta yang baru saja terkuak di depan mata mereka.“M

  • Rumah Kos Berhantu   3. Sosok 'Teman' di Perjalanan

    Virza membalas pesan dari kawan-kawannya di telepon seluler miliknya sambil menghampiri ayahnya yang sedang menonton TV. Virza duduk di samping ayahnya. Dia menoleh ke arah wajah ayahnya. Virza sudah biasa melihat wajah ayahnya yang dingin, namun sikap diam Dedy kali ini terasa berbeda buat Virza.

  • Rumah Kos Berhantu   7. Virza Punya Teman dan … 'Teman'?

    Pemuda itu menoleh pada Virza dan dia tersenyum lagi. Virza langsung membalas senyumnya. "Kamu anak baru ya? Nama kamu siapa?" Pemuda itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu dia mengulurkan tangannya pada Virza. "Namaku Andra," dia memperkenalkan dirinya saat jabatan tangannya disambut oleh Vir

  • Rumah Kos Berhantu   6. Malam Pertama Jadi Anak Kos

    Baru saja Virza mengunci pintu rumahnya, dari balkon atas ada yang memanggilnya. "Virza, mau ke mana, Za?" Suara itu akrab di telinga Virza. Virza menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak melihat siapa-siapa. Virza langsung mendongakkan kepalanya mencari siapa yang memanggilnya. Ternyata Ajie yan

  • Rumah Kos Berhantu   5. Rumah Kos Murah

    Ketika sampai di depan Rumah Kos itu. ~ Rumah Kos 103 ~ Begitulah yang tertulis di papan itu. Lalu Virza melihat ke sekeliling rumah itu, ternyata tidak ada orang yang bisa dijadikannya untuk tempat bertanya. Virza memutuskan untuk duduk di teras rumah itu. "Hai, kamu cari siapa?" Tanya sese

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status